
“Selamat pagi! Eomma, mana susuku?”
“Aleyna, jangan berteriak-teriak. Eomma sudah menyiapkannya di meja makan.”
Luciana menoleh sebentar kearah putrinya lalu kembali melanjutkan kegiatan masaknya yang hampir selesai. Ibu muda itu dengan lincah bergerak kesana kemari untuk mengambil bahan-bahan masakan yang telah ia siapkan di atas kontainer dapur.
Sementara itu, Aleyna dengan wajah cerianya segera berjalan menuju meja makan untuk mengambil segelas susunya dan juga semangkuk sereal yang telah disipkan Luciana untuknya. Gadis kecil itu kemudian berjalan menuju ruang tengah untuk menonton kartun kesukaanya sebelum paman Jihoo menjemputnya untuk pergi ke sekolah.
“Paman tampan?”
Aleyna menghentikan langkahnya di depan sofa ruang tengah ketika ia melihat Joey sedang duduk di atas sofa itu sambil mengacak-acak rambutnya yang terlihat sangat berantakan.
“Ahh... Aleyna?” tanya Joey tidak yakin. Ia merasa masih mengalami hangover. Dan sedikit linglung dengan keberadaanya sekarang. Ditambah lagi kepalanya juga sangat sakit, seperti ia baru saja dihantam oleh sebuah benda keras yang sangat berat.
“Kenapa paman di sini?” tanya Aleyna ingin tahu. Gadis kecil itu duduk dengan manis di sofa single yang letaknya tak jauh dari sofa putih panjang yang ditempati Joey, lalu dengan santai gadis kecil itu mulai memasukan sesendok sereal kedalam mulutnya yang lebar.
“Paman juga tidak tahu. Dimana ibumu?” tanya Joey sambil mengerang kecil. Ia sepertinya harus menemui Luciana untuk menanyakan apa yang terjadi padanya semalam karena seingatnya ia sedang menegak vodka di bar miliknya, lalu ia mendapatkan gangguan dari seorang pelacur yang sangat memuakan untuknya. Setelah itu... ia tidak tahu lagi apa yang terjadi padanya. Tapi samar-samar ia masih bisa mengingat suara seperti pecahan kaca dan teriakan orang-orang disekitarnya.
“Eomma di dapur, sedang memasak.” beritahu Aleyna. Dengan kepalanya yang masih sedikit
berdenyut, Joey segera bangkit berdiri dan berjalan menuju dapur yang ditunjukan Aleyna sebelumnya. Saat ini ia sangat membutuhkan Luciana untuk menjelaskan semua hal yang ia lewatkan semalam. Mungkin semalam ia telah melakukan hal-hal gila hingga menyebabkan Luciana datang untuk menolongnya. Tapi kenapa harus Luciana? Dari sekian banyak orang yang bisa membantunya, kenapa Luciana yang harus membantunya? Dua hari yang lalu ia telah membuat kesalahan fatal dengan menghakimi Luciana sesuka hatinya. Dan sekarang, ia justru dibuat berhutang budi karena wanita itu yang ternyata menolongnya dari sesuatu yang tidak ia ketahui semalam.
“Oh, kau sudah bangun. Minumlah, ini bisa meredakan sedikit sakit kepala yang kau alami.”
Luciana meletakan segelas teh hangat dan sebutir obat sakit kepala di atas meja bar di dapurnya. Wanita itu kemudian kembali berkutat dengan masakannya tanpa mempedulikan perubahan ekspresi wajah Joey cukup gusar karena ia seolah-olah mengabaikan pria itu dan hanya berkonsentrasi pada masakannya.
“Apa yang terjadi padaku semalam?” tanya Joey dingin sambil menegak obat yang diberikan Luciana. Saat ini ia tak memiliki pilihan lain selain meminum obat itu karena semakin lama kepalanya semakin berdenyut menyakitkan hingga ia ingin sekali melepas kepalanya untuk sementara. Tapi ketika ia kemudian beralih pada Luciana untuk menunggu jawaban dari wanita itu, ia justru hanya mendapatkan jawaban singkat yang sangat menyebalkan.
“Kau mabuk.”
“Lalu? Aku tahu aku mabuk semalam, dan mungkin aku telah membuat kekacauan hingga akhirnya kau dipanggil untuk mengakhiri kekacauan yang kubuat.”
“Nah, bahkan kau sudah mengerti tanpa harus kujelaskan.” ucap Luciana acuh sambil mencicipi sup dagingnya yang telah matang. Wanita itu dengan acuh tak acuh berjalan kesana kemari, melewati Joey yang sejak tadi terus menatapnya tajam sambil menunjukan ekspresi menuntut penjelasan yang sangat kentara di wajahnya. Jika Joey bukan tipe pria sabar, mungkin ia akan langsung menarik Luciana kasar, mendudukan Luciana di sebelah kursinya, dan membentak wanita itu karena sikapnya yang sangat menjengkelkan.
“Tapi kenapa kau yang datang untuk membawaku pulang dari bar itu?”
“Kenapa? Aku sendiri juga tidak tahu. Pukul setengah satu aku mendapatkan telepon dari seorang pegawai bar yang terdengar panik. Ia mengatakan padaku jika kau mengamuk dan tidak bisa ditenangkan. Sejujurnya aku sangat malas untuk mendatangimu di sana, mengingat kita sama sekali tidak memiliki hubungan apapun. Aku mengatakan pada pegawai itu jika ia salah sambung dan menyuruhnya untuk menghubungi istrinya atau kerabatnya yang lain, tapi pegawai itu mengatakan jika nomor ponselku yang berada di urutan teratas dalam daftar
panggilan keluar, sehingga ia hanya bisa menghubungiku. Ngomong-ngomong, apa kau tidak menyimpan nomor ponsel istrimu atau nomor ponsel seseorang yang bekerja di rumahmu, supirmu mungkin atau bibi Jang.” ucap Luciana menelisik. Joey terlihat merenung sejenak untuk mengingat-ingat isi dari ponsel hitamnya yang memang tidak tersedia nomor Jihyun.
“Aku meninggalkan ponsel pribadiku di mobil. Di ponsel hitam itu aku memang hanya menyimpan nomor ponselmu dan nomor ponsel semua klienku. Kau tahu bukan, aku tidak suka mencampuradukan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan.”
“Oh, jadi kau selama ini menganggapku sebagai rekan kerja.”
Luciana terlihat cukup kecewa, entah karena apa. Namun ia segera mengalihkan rasa kecewa itu dengan memeluk Aleyna yang tiba-tiba masuk kedalam dapur sambil menggendong tas sekolahnya.
“Eomma, paman Jihoo sudah datang. Aleyna berangkat sekolah sekarang.” pamit gadis kecil itu lucu. Joey mengamati interaksi antara ibu dan anak itu dalam diam sambil membayangkan posisinya jika menjadi ayah dan memiliki seorang putri yang akan berangkat ke sekolah.
__ADS_1
“Paman, Aleyna pergi dulu. Sampai jumpa.”
Tanpa diduga Aleyna menghampirinya dan memberikan satu pelukan kecil di kakinya yang tinggi. Pria itu kemudian membungkukan tubuhnya, mengusap kepala Aleyna lembut dan memberikan satu kecupan ringan di pipi Aleyna sebagai tanda perpisahan sebelum berangkat sekolah. Joey tersenyum kecil memperhatikan langkah kecil Aleyna yang mulai menjauh dari pintu dapur, dan ia sedikit terharu pada gadis kecil itu karena telah membuat angan-angannya menjadi kenyataan.
“Apa kau ingin mandi? Semalam aku terpaksa mengganti kemejamu dengan baju tidur milik Aaron karena pakaianmu kotor terkena alkohol. Jika kau ingin mandi, aku akan meminjamkan pakaian milik Aaron yang masih tertinggal di sini.”
“Tidak usah, aku akan mandi di rumah.”
Luciana mengedikan bahu acuh lalu berjalan begitu saja melewati Joey untuk mengambil bekas gelas kotor dan piring kotor milik Aleyna di ruang tengah. Namun Joey langsung mencegahnya dengan mencekal pergelangan tangan Luciana erat hingga mau tidak mau Luciana menghentikan langkahnya untuk memuaskan permintaan Joey.
“Luciana...”
“Hmm, ada apa? Oya, jika kau ingin makan, aku sudah menyiapkan sarapan di meja makan.”
“Bukan, duduklah. Aku ingin berbicara denganmu.”
Joey mendorong Luciana untuk duduk di atas kursi di sebelahnya, lalu dengan tatapan intens pria itu menatap kedua manik mata Luciana sambil tetap menggenggam erat pergelangan tangan Luciana.
“Kenapa kau melakukan ini padaku? Bukankah aku telah menyakitimu?”
Luciana menghembuskan napas pelan dan balas menatap tatapan tajam Joey yang sejak tadi diarahkan kepadanya. Sejak tadi sebenarnya ia sadar jika pria itu pasti sedang membahas masalah ini, namun ia sengaja berpura-pura bertingkah menyebalkan karena ia malas membahas hal itu. Ia telah melupakan semua kejadian menyakitkan dua hari yang lalu, dan hanya menganggapnya sebagai cobaan hidup yang harus ia lewati. Lagipula semua yang dikatakan Joey tentangnya dua hari yang lalu adalah sebuah fakta, jadi tidak seharusnya ia membenci pria itu karena telah menyakitinya.
“Aku masih memiliki hati. Aku tidak mungkin mengabaikanmu begitu saja karena aku jelas-jelas mengenalmu, meskipun hubungan kita sebagai klien dan konselor telah berakhir.”
“Ceritakan padaku apa yang terjadi padamu selama ini? Buat aku mengerti agar aku tidak salah paham padamu.”
“Apa yang ingin kau dengar dariku? Bukankah kau sudah mengetahuinya?” ucap Luciana getir sambil menyingkirkan tangan Joey pergelangan tangannya. Wanita itu lantas memilih untuk menghadap kearah kanan, dimana sekarang ia tidak perlu berhadapan dengan tatapan sendu Joey yang membuat hatinya terasa bergetar.
“Perselingkuhan. Rein berselingkuh dengan Lee Yeon Ju dan menghamili Yeon Ju ketika usia pernikahan kami baru menginjak enam bulan. Dan masalah yang kami alami sama seperti yang sedang kau alami sekarang dengan istrimu. Aku dan Rein terlalu sibuk dengan dunia kami masing-masing hingga pada akhirnya Rein menjalin hubungan dengan lawan mainnya dalam sebuah drama. Saat aku tahu kau memiliki permasalahan yang hampir sama denganku, aku langsung berpikir untuk membantumu karena aku tidak ingin orang lain juga bernasib sama sepertiku. Kau tahu, aku sebenarnya bukanlah seorang konselor yang sempurna. Aku juga memiliki banyak
kekurangan yang sama seperti orang lain, tapi aku selalu berusaha untuk menjalankan pekerjaanku sebaik mungkin agar orang lain tidak perlu bernasib sama sepertiku. Karena aku tahu bagaimana rasanya berada di posisi itu. Apalagi setelah aku bercerai dengan Rein, beberapa media terus memberitakanku. Para fans Rein yang tidak suka denganku menjadikan skandal itu sebagai senjata untuk menyakitiku, sehingga mereka sering membuat masalah hingga aku mengalami stress dan depresi. Tapi untung saja aku bisa melewatinya dengan lancar.”
“Lalu bagaimana dengan Aleyna? Ia bukan anak kandungmu dan Rein?”
“Bukan. Aleyna bukanlah anakku dan Rein. Aleyna adalah putri dari mantan klienku yang bunuh diri setelah melahirkan Aleyna.” Jawab Luciana santai. Joey mengernyitkan dahinya dan mulai merubah pemikirannya perlahan-lahan mengenai Luciana. Selama dua hari ini ia terus merasa bersalah pada Luciana, namun ia berusaha membohongi dirinya sendiri dengan mengatakan semuanya baik-baik saja hingga pada akhirnya ia melarikan semua kepenatannya pada alkohol. Tapi nyatanya Luciana bukanlah wanita yang seburuk itu. Luciana adalah seoran konselor yang sangat baik dengan hati yang terbuat dari emas karena seluruh kebaikan dan juga kesabarannya selama ini.
“Bagaimana bisa klienmu bunuh diri dan memberikan Aleyna padamu?”
“Klienku, saat itu ia datang padaku dalam keadaan hamil sembilan bulan setelah diceraikan oleh suaminya tiba-tiba. Wanita itu dengan buliran air mata menceritakan padaku mengenai sikap suaminya yang berubah beberapa hari terakhir sebelum memutuskan untuk menceraikannya, padahal mereka saat itu sedang menunggu kelahiran putri pertama mereka. Setelah mendengar ceritanya dan melihat adanya tanda-tanda bahwa ia akan melakukan percobaan bunuh diri, selama dua minggu penuh aku mengawasinya. Aku terus memantaunya dengan sering mendatangi apartemennya atau mengajaknya makan di luar sambil mengobrol. Karena saat itu aku baru saja
bercerai dengan Rein, kami menjadi lebih mudah akrab. Kami berdua saling menguatkan satu sama lain dan ia perlahan-lahan juga mulai melupakan masalahnya. Kemudian saat ia melahirkan, ia terlihat begitu berbinar-binar
sambil menunjukan putri kecilnya yang sangat menggemaskan. Tapi beberapa hari kemudian aku tidak mendatanginya karena aku sedang disibukan dengan pekerjaanku di pusat rehabilitasi untuk orang-orang depresi yang saat itu kebetulan sedang mengalami lonjakan pasien. Selama seminggu aku terus berada di pusat
rehabilitasi itu untuk menolong orang-orang yang mengalami depresi agar mereka tidak melakukan hal-hal nekat seperti bunuh diri atau melukai orang lain. Namun keesokan harinya, aku dikejutkan dengan kedatangan dua orang polisi yang mengatakan padaku jika klienku itu telah meninggal karena bunuh diri. Tentu saja saat itu aku tidak percaya, karena selama ini aku mengira ia telah melupakan kesedihannya dan mulai bisa menatap masa depannya setelah putrinya lahir. Tapi aku lupa jika motivasi seperti itu bisa hilang begitu saja jika seseorang dalam keadaan terpuruk. Namun yang menjadi masalah berikutnya adalah karena wanita itu memberikan putrinya padaku. Aku yang saat itu baru saja terlilit masalah pasca perceraianku dengan Rein langsung menolak mentah-mentah permintaan wanita itu yang dituliskan di dalam surat wasiatnya. Selama satu minggu aku tidak mau mengambil bayi itu di rumah sakit dan mengabaikan panggilan dari rumah sakit atau pihak kepolisian. Tapi kemudian aku menjadi tidak tega ketika di hari ke delapan aku pergi ke rumah sakit dan melihat bayi itu sedang menangis di dalam dekapan perawat yang selama ini menjaganya. Bayi mungil itu terlihat rapuh dan sangat membutuhkan perlindungan untuk menjaga tubuh kecilnya yang rapuh. Akhirnya aku membulatkan tekad untuk mengambil hak
asuh Aleyna dan menganggap Aleyna sebagai putriku sendiri seperti apa yang tertulis di dalam surat wasiat.”
__ADS_1
Tanpa sadar Joey meremas telapak tangan Luciana yang tergolek begitu saja di atas meja. Semua yang diceritakan Luciana terasa begitu menohoknya karena selama ini ia telah berpikiran buruk pada Luciana. Ia menghakimi Luciana hanya karena cerita sepihak yang ia dengar dari istrinya.
“Aku merasa buruk karena pernah menghakimu secara sepihak.” kekeh Joey hambar. Luciana hanya mampu menatap Joey dengan senyum kecil memaklumi sambil membalas remasan tangan Joey di telapak tangan kirinya.
“Tidak masalah, kau bukan orang pertama yang melakukannya. Tapi karena semua hal itu, sekarang aku justru merasa lebih kuat dan lebih siap untuk menghadapi segala tantangan besar di masa depan.”
“Lalu bagaimana dengan Aaron?”
“Ahh..
kenapa sekarang justru aku yang berada di posisi klien? Huh, menyebalkan.”
Dengus Luciana kesal.
“Ceritakan saja, aku akan menjadi pendengar yang baik.” ucap Joey setengah memaksa. Akhirnya Luciana memutuskan untuk menceritakan masa lalunya dengan Aaron karena ia sendiri sepertinya sedang membutuhkan seorang teman untuk berbagi keluh kesah karena masalah pelik yang ia hadapi akhir-akhir ini.
“Sebenarnya aku dan Aaron masih saling mencintai dan kami tidak ingin berpisah.”
“Lalu? Kurasa kalian memang masih saling mencintai dan saling membutuhkan satu sama lain.” komentar Joey. Hal itu ia katakan karena ia melihat sendiri bagaimana interaksi Aaron dan Luciana ketika berciuman beberapa hari yang lalu.
“Aaron menceraikanku setelah ia positif didiagnosa mengalami kelainan hormon dan tidak bisa memiliki anak. Selama ini Aaron bekerja sebagai teknisi yang mengharuskannya harus terkena paparan radiasi. Sebenarnya cukup berat untuk memutuskan hal itu, tapi Aaron bersikeras untuk berpisah karena ia tahu aku sangat ingin hamil dan memiliki anak dari rahimku sendiri.”
“Maafkan aku, aku pernah berburuk sangka padamu.”
Tiba-tiba Joey mengucapkan permintaan maaf yang sangat tulus dan membuat Luciana terhanyut akan ketulusan yang terpancar dari wajah pria di depannya.
“Aku sudah memaafkanmu.”
“Kalau begitu mulai sekarang kau harus menjadi konselorku lagi. Aku membutuhkanmu. Dua
hari ini aku mendapatkan masalah dan aku terus uring-uringan karena aku tidak bisa mencari jalan keluar untuk masalahku sendiri. Aku membutuhkanmu untuk keluar dari masalahku yang rumit ini.” mohon Joey dengan wajah memelas. Luciana tertawa terbahak-bahak menertawakan wajah menyedihkan Joey yang sangat jauh dari sikap Joey selama ini yang terkenal angkuh yang menyebalkan.
“Kenapa tertawa? Aku benar-benar membutuhkan bantuanmu.”
“Ya Tuhan, kau terlihat tidak pantas dengan wajah seperti ini.”
Luciana tanpa sadar mencubit pipi Joey dan menggoyang-goyangkannya ke kanan dan ke kiri hingga Joey terpaksa harus mendorong Luciana agar menjauh darinya.
“Berhentilah bersikap kekanakan dan jadilah seorang konselor yang profesional. Ingat kode etik profesimu, kau tidak boleh menyakiti klienmu seperti ini.”
“Huh, dasar manja! Aku sama sekali tidak menyakitimu, aku hanya mencubitmu.” ucap Luciana membela diri. Joey tetap saja mendengus kesal dan menjauhkan tangan-tangan Luciana dari wajahnya yang hendak mencubitnya lagi.
“Jauhkan tanganmu atau aku akan menggigitnya!” ancam Joey sungguh-sungguh. Luciana tertawa terbahak-bahak menanggapi ancaman Joey, dan secepat kilat ia mencubit pipi Joey sebelum ia berlari meninggalkan dapur dengan suara teriakan Joey yang menggelegar di belakangnya.
“Awas kau Luciana Im!”
-00-
__ADS_1
Ruangan itu temaram dengan satu penerangan yang berasal dari lampu tidur yang terpasang di sudut dinding. Seorang wanita dengan rambut bergelombang sepunggung tampak memandang sendu foto seorang pria yang merupakan mendiang kakak kandungnya yang telah meninggal empat tahun yang lalu.
“Kevin, aku pasti akan menemukannya. Aku pasti akan menemukan putrimu yang hilang dan membawanya kembali ke rumah kita di Amerika.”