Kontratransferensi

Kontratransferensi
I Never knew I had a Choice (Therty Two)


__ADS_3

            “Makanlah, wajahmu terlihat pucat.”


            Luciana menggeleng kecil tanpa daya sambil mengaduk-aduk makanannya tanpa minat. Setelah menangis cukup lama di area parkir kantornya, Joey memutuskan untuk membawa Luciana pergi ke sebuah restoran agar Luciana dapat menenangkan dirinya pasca kejadian tidak menyenangkan yang baru saja terjadi. Mobil milik Luciana yang mengalami kerusakan cukup parah di bagian depannya telah diurus oleh salah satu anak buah Joey untuk diperbaiki. Tapi sepertinya Joey akan membelikan Luciana mobil baru karena pria itu langsung menghubungi sekretarisnya untuk mengirimkan sebuah mobil ke alamat rumah Luciana. Sayangnya semua hal-hal yang dilakukan Joey tidak bisa mengembalikan kondisi Luciana seperti semula karena wanita itu masih memikirkan Aleyna. Sejak tadi, setiap Joey mengajaknya berbicara Luciana hanya menanggapinya dengan gumaman kecil atau suara tenggorokan yang sangat dibenci Joey. Pria itu benar-benar tidak suka melihat Luciana dalam kondisi terpuruk seperti ini. Ia lebih suka melihat Luciana yang cerewet dan galak daripada Luciana yang pendiam dan hanya menatapnya dengan tatapan sayu tanpa cinta.


            “Aku akan menyuapimu jika kau tidak mau makan.” ancam Joey sungguh-sungguh. Pria itu terlihat sudah kehilangan kesabarannya pada Luciana karena wanita itu begitu keras kepala dan kekanakan. Selain itu Luciana juga belum menceritakan apapun perihal Aleyna dan dimana keberadaan gadis kecil itu saat ini. Sejak tadi ia


hanya sibuk menerka-nerka tentang apa yang terjadi pada Luciana dan Aleyna beberapa hari ini.


            “Aku bukan anak kecil tuan Lee, aku bisa makan sendiri.”


            “Tunjukan padaku jika kau memang bisa makan sendiri. Aku sudah tidak sabar melihatmu yang terus murung seperti ini. Ayo makan.”


            Dengan penuh kelembutan Joey menyuapkan sesendok nasi kedalam mulut Luciana dan menunggu dengan sabar hingga Luciana benar-benar menelan makanannya. Melihat Luciana yang tampak murung seperti itu, hati Joey merasa tercubit. Selama ini Luciana selalu berhasil mengatasi masalahnya dengan baik. Dan jika Luciana bersikap sangat menyedihkan seperti ini, itu berarti masalah yang menimpanya sangat sulit dan rumit.


            “Kau belum menceritakan padaku apa yang terjadi padamu. Tapi sebelumnya aku ingin bertanya, mengapa kau sangat sulit untuk dihubungi? Apa kau tahu, aku sangat merindukanmu.” ucap Joey pelan sambil mengecup punggung tangan Luciana lembut. Ketika kulit tangannya bersentuhan dengan kulit tangan Luciana, Joey merasa


benar-benar bahagia dan lega. Ia pikir Luciana akan sungguh-sungguh dengan ucapannya yang menyuruhnya untuk menjauh dari kehidupannya. Tapi syukurlah, Luciana masih mau menerima kehadirannya dan perasaan wanita itu padanya hingga sejauh ini belum berubah. Mereka berdua masih sama-sama saling membutuhkan, dan ia sangat senang mengetahui hal itu, sehingga mereka dapat saling melengkapi.


            “Aku hanya ingin membiasakan diriku agar tidak terlalu dekat denganmu. Aku juga ingin membiasakan dirimu agar tidak bergantung padaku karena saat ini Jihyun telah kembali. Kau seharusnya kembali ke kehidupan lamamu bersama Jihyun. Sayangnya aku ternyata tidak sekuat itu. Saat tidak bertemu denganmu, aku merasa sangat merindukanmu dan ingin sekali pergi menemuimu di kantor. Tapi, karena aku bukan tipe wanita pemberani yang tangguh, maka aku tidak pernah datang ke kantormu untuk bertemu denganmu.”


            “Kenapa kau harus mendorong dirimu sendiri untuk melakukan sesuatu yang tidak kau sukai? Lagipula aku tidak keberatan jika kau sering-sering datang ke kantorku karena aku pun juga sangat merindukanmu. Justru aku akan sangat bad mood dan uring-uringan sepanjang hari saat kau tidak ada di sisiku. Bahkan semalam aku membentak-bentak Jihyun dan memberinya sedikit syok terapi karena sifat kurangajarnya yang sama sekali tidak menghormatiku sebagai suami. Kau tahu, setelah kembali dari New York, Jihyun terus menggodaku dengan pakaian-pakaian mininya yang seksi. Ia pikir aku akan tergoda dengan mudah saat ia memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah itu. Huh, ia benar-benar bodoh dan justru terlihat seperti seorang jalang di mataku. Pakaian mini yang digunakan Jihyun justru membuat gairahku turun, dan melihatmu dengan pakaian lengkap yang sopan ini justru membuat gairahku memuncak. Sebenarnya apa yang telah kau lakukan padaku Luciana? Kenapa aku bisa sangat tergila-gila padamu seperti ini, hmm?” tanya Joey terdengar frustrasi sambil menyentuh dagu Luciana agar

__ADS_1


mendongak kearahnya. Joey perlahan-lahan memajukan wajahnya dan mengecup bibir Luciana lembut  dengan lumatan-lumatan kecil yang begitu menyiksa bagi Luciana. Ia merasa seluruh tubuhnya saat ini sedang menggeliat bangun setelah lebih dari empat hari mereka tidak saling bergumul, mencari kehangatan dan kenikmatan satu sama lain seperti sebelumnya.


            “Cukup tuan Lee, kau membuatku semakin tersiksa dengan ciumanmu.” bisik Luciana terengah-engah setelah pergulatan panjang mereka. Joey tersenyum menggoda kearah Luciana, pria itu kemudian menyapukan ibu jarinya kearah bibir Luciana dan bengkak lalu mendekatkan wajahnya sambil berbisik.


            “Ingin mencari kamar nona? Atau kita lakukan di sini saja?”


Plakk


            Luciana memukul lengan Joey kencang dan langsung memalingkan wajahnya yang merona kearah lain. Pria itu benar-benar selalu berhasil menggodanya dengan kata-katanya yang vulgar, namun mampu menggetarkan hatinya hingga berdebar kencang.


            “Kenapa kau memukulku? Kau telah kembali menjadi Luciana yang galak, hmm.”


bersungut-sungut. Wanita itu masih terlihat malu dengan godaan Joey yang sagat vulgar itu. Ia kemudian mencoba menyembunyikannya dengan mulai memakan makanannya yang telah mendingin sejak tadi.


            “Berikan padaku, aku akan menyuapimu lagi.”


            “Aku bisa makan sendiri. Apa kau pikir aku seorang balita?”


            “Sepertinya iya. Ahh... kau menggemaskan sekali Luciana.” goda Joey genit sambil mencubit kedua pipi Luciana hingga memerah. Sebentar saja ruangan itu telah dipenuhi oleh suara teriakan Luciana yang melengking dan suara tawa Joey yang sangat lepas. Pria itu kali ini benar-benar tertawa tanpa beban di depan Luciana


karena hatinya kini merasa lebih lega setelah bertemu dengan sumber kebahagiaanya.

__ADS_1


            “Beberapa hari yang lalu aku melihatmu berpelukan dengan Aaron. Apa kau sedang melanggar janjimu Luciana? Ingat perjanjian kita di Busan?”


            “Apa? Kapan? Hey, kenapa kau langsung berubah dingin setelah tertawa terbahak-bahak? Mentalmu benar-benar tidak sehat tuan Lee.” dengus Luciana. Wanita itu terlihat mengelus pipinya beberapa kali yang terasa sakit akibat cubitan Joey yang tidak main-main.


            “Aku datang ke rumahmu beberapa hari yang lalu, untuk memastikan kau baik-baik saja dan untuk bertemu Aleyna, tapi setelah aku tiba di sana, aku justru mendapatkan kejutan darimu. Kau berpelukan dengan Aaron di dalam ruang tamu sambil bergelung manja di dadanya.”


            “Huh, aku tidak bergelung manja seperti yang kau lihat. Saat itu aku sedang sedih, dan Aaron datang untuk menghiburku. Kau tahu, keluarga kandung Aleyna datang. Ia tiba-tiba datang setelah empat tahun lamanya ia tidak mencari Aleyna.”


            “Jadi, ini yang kau maksud dengan kehilangan Aleyna? Aleyna sekarang bersama keluarganya?”


            “Sekarang Aleyna sedang pergi ke Amerika untuk bertemu dengan neneknya. Jadi permasalahan yang terjadi pada klienku empat tahun yang lalu ternyata hanya sebuah kesalahpahamana. Suami dari Jung Nicole, ayah dari Aleyna, ternyata menceraikan istrinya karena pria itu sakit. Ia menyembunyikan penyakitnya pada istrinya dan


memilih untuk menanggung semua kesakitan itu sendiri tanpa memberitahukan pada siapapun. Kemudian pria itu menulis sebuah surat wasiat pada adiknya untuk mencari anak dan istrinya yang berada di Korea. Tapi karena suatu hal, wanita itu tidak segera mencari Aleyna dan ibunya di Korea, tapi justru menundanya hingga empat tahun kemudian.”


            “Lalu saat ia tiba di sini ternyata ibu kandung Aleyna telah meninggal karena bunuh diri dan hak asuh Aleyna berada di tanganmu, begitu?” lanjut Joey menyimpulkan. Luciana mengangguk lesu di depan Joey dan ia tiba-tiba merasa sedih lagi saat mengingat Aleyna. Padahal gadis kecilnya baru saja pergi satu jam yang lalu, namun sekarang ia sudah merindukannya dan ingin sekali mendengar suaranya yang menggemaskan. Ingin rasanya ia menarik semua kata-katanya pada Jessica dan tidak mengijinkan Aleyna untuk pergi ke Amerikan bersama wanita itu. Sayangnya ia bukan jenis wanita egois yang akan tega membiarkan seorang nenek hidup menderita karena tidak bisa bertemu dengan cucunya yang selama ini telah ia cari-cari. Ditambah lagi saat ini nenek Aleyna sedang menderita penyakit jantung. Rasanya pasti akan sangat menyedihkan jika hingga akhir hidupnya ia tidak bisa bertemu dengan cucu yang telah ia cari-cari selama ini.


            “Apa kau ingin aku mengantarmu pergi ke Amerika? Kita bisa pergi sekarang jika kau mau?”


            “Tidak, itu tidak perlu. Biarkan Aleyna mengenal keluarganya di sana. Lagipula bibinya Aleyna berjanji akan memulangkan Aleyna satu minggu lagi setelah ia puas bertemu dengan neneknya. Jadi yang perlu kulakukan sekarang adalah belajar untuk hidup tanpanya. Aku pasti bisa, iya kan? Hanya satu minggu, aku akan hidup tanpa Aleyna hanya satu minggu.” ucap Luciana mengulang-ulang kalimatnya untuk menyemangati dirinya sendiri. Joey lalu membawa Luciana kedalam pelukannya dan memeluk wanita itu hangat dengan penuh kasih sayang. Tak pernah terbayangkan dibenaknya jika ia akan melihat sisi rapuh Luciana seperti ini. Ia pikir Luciana akan selalu terlihat kuat dan tegar seperti apa yang selalu ia lihat selama ini. Namun sebagai seorang konselor, wanita itu tetaplah manusia biasa yang tidak akan luput dari masalah. Ada kalanya wanita itu juga akan terpuruk, dan kemudian membutuhkan kehadiran orang lain untuk membuat keadaanya menjadi lebih baik.


            “Kau tenang saja, aku akan selalu berada di sampingmu. Aku janji.”

__ADS_1


__ADS_2