
Suasana di dalam mobil itu terlihat hening. Baik Joey maupun Luciana, keduanya sama-sama tidak tertarik untuk memulai pembicaraan atau sekedar mengatakan sesuatu untuk mengusir suasana hening yang melingkupi mereka. Luciana yang sedang berkonsentrasi pada jalanan di depannya tampak tak ambil pusing dengan keheningan yang ada, karena baginya itu lebih baik daripada ia harus memulai sebuah percakapan yang hanya akan berakhir dengan adu mulut sengit diantara keduanya. Seperti yang terjadi lima belas menit yang lalu, sebelum ia menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumahnya, ia lagi-lagi terlibat adu mulut dengan Joey hanya karena masalah sepele. Pria itu bersikeras memintanya untuk mengantarnya ke kantor, padahal pria itu tahu jika ia sudah terlambat bekerja karena sesi “curhat” mereka yang cukup lama beberapa jam yang lalu. Tapi pada akhirnya ia memilih untuk mengalah dan mengantarkan Joey menuju kantornya, karena mobil milik pria itu masih berada di bar.
Sementara Luciana sedang sibuk menyetir, Joey terlihat sedang sibuk berpikir, melamunkan berbagai macam hal yang terasa seperti potongan film yang rumit untuknya. Baru saja ia mendengarkan cerita mengenai masa lalu Luciana yang baginya terasa menyedihkan. Ia merasa wanita itu cukup malang dengan masa lalunya yang rumit. Dan parahnya, ia justru mempeparah kerumitan hidup wanita itu dengan menghujaninya dengan kata-kata kasar dua hari yang lalu. Rasanya ia sangat menyesal telah menghakimi Luciana sesuka hatinya, sedangkan ia tidak pernah tahu permasalahan apa yang sebenarnya terjadi pada Luciana. Ia seperti ditampar oleh wanita itu karena nyatanya ia selama ini sangatlah lemah dan terlalu manja. Ia tidak bisa menyelesaikan sendiri masalahnya dengan Jihyun, dan hanya bisa merengek-rengek pada Luciana agar wanita itu mencarikan solusi untuk
masalahnya. Sedangkan Luciana, wanita itu begitu hebat. Ia bisa mencari sendiri jalan keluar atas seluruh masalah peliknya. Dan yang terpenting, Luciana tidak pernah merengek-rengek sepertinya pada orang lain.
“Kapan aku bisa melakukan sesi konseling lagi?” tanya Joey memecah suasana hening diantara mereka. Luciana menoleh sekilas kearah Joey, lalu ia berpikir sejenak untuk menentukan waktu yang tepat bagi Joey melakukan sesi konseling.
“Mungkin lusa. Jadwalku tidak terlalu padat di hari Kamis.” ucap Luciana kalem. Wanita itu terlihat membelokan setir kemudinya kedalam area parkir kantor jasa penerbangan milik Joey dan memberikan tatapan pada Joey untuk segera turun dari mobilnya.
“Kau mengusirku?” tanya Joey kesal ketika ia sadar dengan arti tatapan Luciana yang seakan-akan ingin agar ia cepat-cepat keluar dari mobil hitamnya.
“Jika kau sadar, maka sebaiknya kau segera keluar. Jangan lupa untuk mengambil mobilmu di bar, karena aku tidak mau kau repotkan lagi dengan segala tingkah manjamu yang merepotkan itu.”
“Mobilku sudah tiba di sana sejak tiga puluh menit yang lalu. Kau kalah cepat.” ejek Joey menyebalkan sambil menunjuk mobil sport putihnya yang memang benar-benar sudah terparkir di area parkir khusus dengan tulisan “CEO Lee”.
“Jadi kau sudah mengambil mobilmu dari bar? Lalu untuk apa kau merengek-rengek padaku untuk mengantarmu ke kantor. Lagipula aku memang bodoh, seharusnya pria kaya sepertimu tidak akan benar benar tidak bisa pergi ke kantor tanpa mobil. Bukankah kau bisa meminta supirmu untuk menjemputmu? Atau meminta para bawahanmu untuk melakukan sesuatu untukmu?” sungut Luciana kesal. Wanita itu benar-benar merasa emosi setelah menyadari kebodohannya karena mau menuruti permintaan Joey.
“Kau memang bodoh, kenapa kau mau menuruti permintaanku begitu saja? Tadinya aku berencana meminta supir pribadiku untuk menjemputku jika kau menolak permintaanku yang ke tiga kalinya. Tapi karena kau bersedia melakukannya, aku langsung membatalkan niatku untuk memanggil supir pribadiku. Jadi kau sendiri yang bodoh.”
“Keluar! Cepat keluar sekarang juga. Aku benar-benar muak denganmu. Aku sudah terlambat.” marah Luciana sambil mendorong tubuh Joey keluar dari mobilnya. Wanita itu membuka paksa sabuk pengaman yang masih melilit tubuh Joey, lalu mendorong pria itu sekuat tenaga dengan seluruh kekuatannya hingga Joey hampir terjungkal jatuh dari kursi mobil Luciana yang cukup tinggi.
“Kau gila! Aku akan turun sekarang!” Bentak Joey kesal. Pria itu juga terlihat emosi sambil menepuk-nepuk jas hitamnya yang sebenarnya sama sekali tidak kotor. Ia kemudian membanting pintu mobil Luciana keras-keras dan menggerutu kesal sepanjang jalan menuju kedalam kantornya yang menjulang tinggi di depannya.
“Joey!”
Joey menoleh kebelakang. Ia melihat Spencer sedang melambaikan tangan kearahnya sambil menunjukan senyum gusinya yang lebar. Dengan malas pria itu menghentikan langkahnya sebentar dan memutuskan untuk menunggu Spencer hingga mendekat kearahnya.
“Kau darimana saja? Semalam Jihyun menghubungiku dan terus menanyakan keberadaanmu.” tanya Spencer sambil menatap atasannya itu dengan tatapan menyelidik. Joey terlihat malas membahas masalah itu dan segera berjalan lurus menuju lift khsus yang berjarak lima meter di depannya. Lagipula ia sedang malas membahas masalah Jihyun. Selama ini wanita itu selalu bebas pergi kemanapun sesuka hatinya tanpa mau memberitahu dimana keberadaanya. Jadi ia sebenarnya juga tidak wajib melaporkan dimana keberadaanya semalam. Ia bebas pergi kemanapun, seperti Jihyun yang bebas melakukan apapun sesuka hatinya.
“Ai, aku sedang berbicara padamu.”
“Aku malas membahas Jihyun. Kau tahu, ia yang sering meninggalkanku. Jadi jangan salahkan aku jika aku merasa bosan dan memilih untuk bersenang-senang di luar rumah.”
“Jadi kau memiliki wanita simpanan sekarang? Kau bermain-main di belakang Jihyun?” tanya Spencer menyelidik. Joey mendelik tajam kearah Spencer dan segera melangkah masuk kedalam lift khusus miliknya yang langsung diikuti Spencer di sampingnya.
“Atas dasar apa kau mengatakan hal itu?”
“Aku melihatmu datang bersama seorang wanita. Dan penampilanmu saat ini menunjukan jika kau baru saja menginap di rumah seseorang tanpa membawa pakaian ganti.”
Joey lalu melirik setelan jas yang ia kenakan dan juga kemeja biru muda yang saat ini melekat di tubuhnya. Memang semua yang kenakan saat ini adalah milik Aaron. Ia tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan pakaian milik Aaron karena ia tidak memiliki waktu untuk kembali ke rumah. Percakapan mereka mengenai masa lalunya maupun Luciana pagi ini cukup mengasyikan hingga pada akhirnya ia tidak sadar jika ia telah menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk sebuah cerita tak menyenangkan di masa lalu.
“Wow, aku terkesan dengan kemampuan analisis yang kau miliki.” komentar Joey singkat. Spencer mendengus gusar dan mencoba kembali mengorek informasi mengenai keberadaan Joey semalam.
“Karena aku pernah mengalaminya sebelum menikah dengan Alice. Sekarang katakan padaku, kemana saja kau semalam dan apa kau pergi menghabiskan waktu bersama seorang wanita?”
“Menurutmu? Aku hanya pergi untuk mengobrol dengan teman lama. Lagipula untuk apa Jihyun
menerormu untuk menanyakan dimana keberadaanku? Bukankah selama ini ia juga tidak pernah peduli padaku?” tanya Joey dengan nada menyebalkan. Spencer rasanya ingin sekali meninju wajah Joey atau menampar wajah Joey agar pria itu segera sadar jika sejak tadi ia sedang mengharapkan sebuah jawaban serius dari pria bermarga Lee di sampingnya ini.
“Sebenarnya aku tidak tahu apa yang sedang terjadi padamu dan Jihyun, tapi sebagai seorang teman aku ingin tahu dimana keberadaanmu semalam karena aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. Jika saat ini kau sedang berencana untuk melakukan sebuah perselingkuhan di belakang Jihyun, lebih baik kau segera kembali ke jalurmu, karena aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa rumah tangga sahabatku.”
“Wow, itu sangat menyentuh. Terimakasih Spenc atas nasihat yang kau berikan. Tapi aku sama sekali tidak berencana untuk melakukan perselingkuhan. Aku hanya pergi ke bar, mengobrol dengan teman lama hingga aku lupa waktu karena terlalu asyik berbagi pengalaman dengannya. Wanita yang kutemui semalam, ia sangat menarik. Ia adalah teman mengobrol yang asyik. Dan kurasa wanita itu dapat memahamiku, sehingga aku merasa nyaman ketika bersamanya.”
Spencer mengernyitkan alisnya sambil menatap penuh selidik kearah Joey. Ia pikir sahabatnya itu pagi ini sedikit aneh dengan wajah datarnya yang juga menyiratkan banyak misteri. Ditambah lagi kedatangannya pagi ini bersama seorang wanita yang sama sekali tidak dikenalnya, membuatnya sibuk berspekulasi buruk
mengenai hubungan sahabatnya dengan wanita itu. Terlebih lagi Joey adalah tipe pria yang sangat sulit untuk menjalin kedekatan dengan seorang wanita. Jadi rasanya aneh jika tiba-tiba Joey mengatakan jika semalam ia pergi mengobrol bersama dengan seorang teman lama. Apalagi teman lama yang dimaksud Joey adalah seorang teman wanita. Pasti telah terjadi sesuatu antara Joey dan wanita itu yang tidak ia ketahui selama ini. Mungkinkah Joey sudah mulai bosan dengan hubungan rumah tangganya dengan Jihyun yang memang monoton itu, tanpa gairah ataupun letupan cinta yang selama ini sering ia lihat diantara keduanya bila ia bertemu dengan pasangan Lee itu.
“Apa kau mulai bosan dengan Jihyun?” Tanya Spencer sekali lagi, berusaha mengorek informasi sedalam dalamnya dari sang sahabat yang sejak tadi sibuk berkelit. Atau sebenarnya itu bukan sebuah bentuk penghindaran? Entahlah, Spencer juga tidak mengerti dengan jalan pikiran Joey yang cukup rumit itu.
“Bosan? Sepertinya belum. Jihyun masihlah wanita yang mengisi ruang di hatiku saat ini. Aku hanya jenuh dengan kegiatannya yang sering meninggalkanku sendirian di rumah.
__ADS_1
“Jadi kau memutuskan untuk mencari pelarian dengan wanita lain? Kau menduakan Jihyun?” tanya Spencer heboh yang berhasil memancing perhatian para dewan direksi yang kebetulan sedang berdiri di depan lift ketika lift terbuka di lantai tiga puluh.
“Kecilkan suaramu!” Geram Joey kesal.
“Selamat pagi direktur Lee.” sapa orang-orang itu ramah. Joey mengangguk kecil pada mereka dan segera berjalan tenang menuju ruangannya yang berada di ujung lorong.
“Ai! Tunggu, aku belum selesai.” Kejar Spencer di belakangnya. Spencer hari ini terlihat begitu mengganggu seperti lalat bagi Joey. Dan ingin rasanya pria aristrokat itu menendang Spencer jauh-jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
“Ada apa lagi?”
“Aku masih penasaran dengan wanita asing tadi, ceritakan padaku. Aku janji tidak akan mengadukannya pada Jihyun.”
“Kau pikir aku akan takut pada Jihyun? Bahkan jika kau mengadukannyapun, aku tidak masalah. Wanita itu adalah konselorku.”
“Apa?”
Spencer memekik terkejut dengan gaya berlebihan yang membuat Joey menjadi malas. Ia sudah bisa memprediksi jika Spencer pasti akan bertingkah berlebihan, seolah-olah ia baru saja mendapatkan musibah mengerikan dalam hidupnya. Padahal itu hanya sekedar Luciana, konselor yang akan membimbingnya keluar dari masalah rumit yang ia ciptakan sendiri.
“Konselor? Kau mendatangi konselor?”
Dan setelah itu seisi ruangan Joey langsung dipenuhi dengan suara tawa Spencer yang benar-benar menyebalkan. Sekarang pria itu sangat yakin untuk segera menendang pantat Spencer dari ruangannya karena pria itu benar-benar sudah tidak bisa dipertahankan lagi di dalam ruangannya. Semakin lama Spencer berada di dekatnya, maka ia akan semakin gila dengan sikap Spencer yang sangat mengganggu bak lalat pagi ini.
“Kau puas menertawakanku? Sekarang pergilah! Aku sibuk.”
“Sejak kapan seorang Joey mendatangi seorang konselor? Kau seperti sedang menjilat ludahmu sendiri Ai.” ejek Spencer dengan wajah puas.
“Aku tidak peduli! Sekarang keluarlah, aku sudah mengetahui semuanya bukan?”
“Belum, aku masih ingin mendengar apa alasanmu hingga akhirnya memutuskan untuk mendatangi konselor? Apa kau sudah mulai gila?”
“Aku akan menceritakannya nanti. Bahkan aku juga akan mengenalkanmu pada Luciana.”
“Luciana? Jadi nama konselor itu Luciana? Hmm, menarik. Ini adalah kali pertama aku melihatmu menjalin hubungan dengan wanita lain disaat kau telah berkomitmen.”
“Jadi kau merasa seperti itu? Padahal aku tidak mengatakan apapun mengenai perselingkuhan. Tapi baiklah, aku akan menunggumu menceritakan semuanya. Sampai jumpa.”
Spencer berjalan cepat menuju pintu keluar ruangan Joey sambil meringis kecil pada sahabatnya yang sejak tadi terus melemparkan tatapan dingin menusuk yang sangat mengerikan. Mungkin jika Spencer tidak segera keluar dari ruangannya, Joey akan benar-benar menendang pria itu dari ruangannya karena sikap cerewet Spencer yang benar-benar kelewat batas.
Setelah Spencer pergi, Joey benar-benar bisa bernapas lega sambil mengeluarkan ponsel putihnya dari dalam saku jasnya. Entah kenapa pagi tadi ia menemukan ponsel putih itu berada di dalam saku celana hitamnya, bukan di dalam mobilnya seperti yang ia katakan pada Luciana tadi padi. Tapi memang ponsel putih itu ia temukan dalam keadaan off karena ia tidak ingin Jihyun mengganggunya semalam yang sedang pusing dengan berbagai masalah kantornya dan juga karena rasa bersalahnya pada Luciana. Ia sadar jika salah satu pemicu kesemerawutan hidupnya dua hari yang lalu adalah karena ia dihantui oleh perasaan bersalahnya pada Luciana.
Sayang, kau dimana?
Sayang, apa kau lembur di kantor? Kenapa kau tidak pulang? Aku mengkhawatirkanmu.
Joey, aku akan pergi ke New York untuk menghadiri fashion week selama satu minggu. Jangan merindukanku. Hahaha
Joey membaca sederet pesan yang dikirimkan Jihyun padanya sambil tertawa hambar. istrinya bahkan hanya mengiriminya tiga pesan yang diakhiri dengan kalimat pemberitahuan jika ia akan pergi ke New York selama satu minggu. Itu hebat! Ia merasa benar-benar ditinggalkan sekarang. Ia merasa sendiri dan juga tak dianggap. Tak seharusnya Jihyun pergi begitu saja disaat keberadaanya belum jelas. Bagaimana jika ia ternyata sedang bersama wanita lain di sebuah hotel? Pemikiran itu tiba-tiba muncul begitu saja di kepalanya dan membuatnya semakin miris. Mungkin Jihyun tidak akan peduli jika ia pada akhirnya berselingkuh dengan wanita lain karena wanita itu tidak pernah memikirkannya. Lee Jihyun hanya memikirkan karirnya sendiri tanpa pernah memikirkan perasaan suaminya yang begitu tertekan dengan hidupnya.
-00-
“Ahh.. dimana kertas itu berada?”
Seorang wanita berambut coklat panjang terlihat sibuk membolak-balik semua tumpukan map di mejanya sambil berdecak kesal karena sejak tadi ia tidak bisa menemukan kertas putih miliknya yang tiba-tiba raib. Padahal beberapa hari yang lalu ia masih melihat kertas itu di atas meja setelah ia membacanya untuk mencari tahu dimana keberadaan anggota keluarganya yang menghilang.
“Miss Jessica...”
Suara cempreng seorang gadis kecil tiba-tiba mengagetkan Jessica. Mau tidak mau Jessica harus menghentikan kegiatannya sejenak untuk menyambut sang tamu yang kebetulan berkunjung ke ruangannya.
“Aleyna, kau belum pulang sayang?” Tanya Jessica ramah pada Aleyna yang sedang menggendong tas bergambar tinker bell di pundaknya. Gadis kecil berambut panjang itu lantas menggelengkan kepalanya sambil menatap Jessica dengan mata bulatnya yang menggemaskan.
“Hari ini eomma yang akan menjemput Aleyna, dan mungkin eomma akan sedikit terlambat karena eomma sibuk.”
__ADS_1
“Memangnya apa pekerjaan eomma Aleyna?” tanya Jessica penasaran. Wanita yang baru saja menjadi guru sejak dua minggu yang lalu itu memang belum terlalu mengenal latar belakang orangtua muridnya secara keseluruhan. Hanya beberapa orangtua murid yang sering mengantar putra putrinya ke sekolah yang dihafal oleh Jessica. Sedangkan Aleyna, selama ini gadis kecil itu selalu terlihat datang atau pulang dengan orang yang berbeda, membuat Jessica tidak mengetahui siapa orangtua Aleyna yang sesungguhnya.
“Eomma adalah seorang konselor. Eomma pernah mengatakan pada Aleyna jika pekerjaan eomma adalah menolong orang-orang yang bersedih. Kata paman Jihoo, eomma sering membuat orang-orang merasa lebih baik dengan pelukan dan kata-kata eomma yang lembut.” cerita Aleyna dengan wajah polos. Seketika Jessica ingin tertawa dan mencubit pipi Aleyna yang chubby karena gadis kecil itu benar-benar menggemaskan.
“Wahh, eomma Aleyna pasti orang yang baik. Lalu apa pekerjaan ayah Aleyna?” tanya Jessica lagi sambil mendudukan Aleyna di atas sofa di ruangannya. Mengobrol bersama Aleyna tiba-tiba terasa lebih menyenangkan daripada ia harus pusing-pusing memikirkan kertas wasiat milik mendiang kakaknya yang telah meninggal empat tahun yang lalu.
“Appa? Aleyna tidak tahu apa pekerjaan appa, tapi appa sering pergi jauh untuk menyelesaikan pekerjaanya. Ngomong-ngomong, apa yang miss Jessica lakukan di sini? Miss Jessica tidak pulang?”
Jessica lantas menoleh kearah meja kerjanya dan juga lemarinya yang tampak berantakan. Hari ini rencananya ia akan mendatangi petugas catatan sipil untuk mencari dimana keberadaan kakak iparnya yang menghilang saat sedang mengandung. Padahal saat itu kakaknya mengatakan jika kemungkinan kakak iparnya akan melahirkan dan menetap di Seoul setelah perceraian mereka yang mendadak.
“Miss Jessica sedang mencari kertas milik miss Jessica yang hilang. Apa Aleyna melihatnya? Beberapa hari yang lalu bukankah Aleyna bermain bersama Nana di sini sebelum paman Aleyna menjemput Aleyna. Apa Aleyna mengingatnya?”
Gadis kecil itu menggeleng kecil pada guru barunya dan membuat Jessica seketika mendesah kecewa. Padahal ia sangat berharap Aleyna mungkin membawanya karena saat itu Aleyna dan Nana sedang bermain-main melipat kertas dengan kertas-kertas origami yang ia sediakan di atas meja, sementara ia menyelesaikan lembar evaluasi milik murid-muridnya.
“Seperti apa kertasnya? Nanti Aleyna akan mencarinya di rumah miss.”
“Kertas itu berwarna putih dan ada banyak tulisan tangan di dalamnya dan juga foto. Foto kakak miss Jessica dan istrinya.”
“Nanti Aleyna akan meminta eomma untuk membantu mencarinya di rumah. Ahh, itu eomma!”
Tiba-tiba Aleyna melompat berdiri ketika melihat Luciana sedang melongokan kepalanya di ambang pintu sambil tersenyum manis pada Jessica.
“Selamat siang, maaf aku terlambat menjemput Aleyna.” ucap Luciana di ambang pintu dengan wajah menyesal. Pagi ini ia terlambat datang ke kantornya karena harus mengantar Joey ke kantornya. Dan saat ia menginjakan kaki di ruangannya, ia telah ditunggu oleh tiga pasien yang akan berkonsultasi padanya. Sehingga pada akhirnya ia tidak menjemput Aleyna tepat waktu.
“Tidak apa-apa. Aleyna justru menemani saya di sini. Perkenalkan, saya guru baru Aleyna. Jessica Jung.”
“Oh, aku eommanya Aleyna, Luciana Im.”
Kedua wanita muda itu lantas saling berjabat tangan dan saling melemparkan senyum satu sama lain.
“Kau bukan orang Korea? Wajahmu seperti orang Amerika.” terka Luciana sambil mengamati wajah Jessica yang sedikit tersipu.
“Ah tidak juga, eomma saya adalah orang Korea. Tapi ayah saya adalah orang Amerika. Jadi wajah saya memang tidak terlihat terlalu oriental.”
“Oh, pantas. Kalau begitu kami permisi, terimakasih telah menemani Aleyna hingga aku datang.”
Luciana menundukan tubuhnya sedikit di depan Jessica dan langsung menggandeng tangan Aleyna untuk mengikutinya menuju mobil yang terparkir di depan gedung sekolah Aleyna yang besar.
“Eomma, aku lapar.”
“Eomma juga, ayo kita makan siang di restoran.”
Drrt drrt drrt
Tiba-tiba Luciana merasakan ponselnya bergetar. Dengan cepat ia segera mengangkatnya dan menempelkan benda persegi itu di samping telinganya.
“Apa? Kau ingin menyusahkanku lagi?” tanya Luciana ketus. Pria di ujung sana lantas langsung mendengus kesal dengan kalimat sapaan Luciana yang sangat kasar itu.
“Aku hanya ingin mengajakmu makan siang. Kenapa kau senang sekali berburuk sangka padaku?” dengus Joey kesal. Luciana yang sedang mendengarkan ucapan Joey juga ikut mendengus karena pria itu selama ini selalu merepotkannya hingga ia tidak bisa sedikit saja tidak berburuk sangka pada pria itu.
“Bagaimana mungkin aku tidak berburuk sangka padamu jika kau selalu membuat sulit hidupku. Aku sedang bersama Aleyna sekarang, jadi aku akan mengajak Aleyna jika kau mengajakku untuk makan siang.”
“Tidak masalah. Datanglah bersama Aleyna, itu justru akan lebih menyenangkan. Restoran jepang di Ilsandong, aku menunggumu di sana.”
“Baiklah, aku akan segera kesana bersama Aleyna. Sampai....”
Klik
“Sial!” Umpat Luciana kesal. Baru saja ia akan mengakhiri sambungan teleponnya dengan pria itu, tapi Joey sudah terlebihdulu memutuskan sambungan teleponnya disaat ia belum selesai berbicara.
“Ada apa eomma?”
__ADS_1
“Tidak apa-apa. Ayo kita pergi, paman Joey telah menunggu kita.”
“Paman Joey? Asyikk.. paman Joey!” teriak Aleyna heboh. Luciana menggelengkan kepalanya tak habis pikir melihat tingkah Aleyna yang sangat antusias hanya karena akan bertemu dengan pria menyebalkan macam Joey. Semoga saja siang ini mereka benar-benar hanya akan makan siang, tanpa pertengkaran atau adu mulut yang menyebalkan seperti biasanya.