
“Oh Ya Tuhan!”
Luciana memekik kaget saat ia menemukan punggung seorang wanita sedang duduk di dalam ruangannya. Padahal ini masih pagi. Praktiknya baru akan dimulai tiga puluh menit lagi. Namun secara ajaib wanita itu telah berada di ruangannya dengan tubuh kaku seperti patung.
“Permisi, kurasa anda datang terlalu pagi. Jam praktikku baru dimulai tiga puluh menit lagi, dan kuyakin kau belum melakukan administrasi di meja resepsionis.”
Luciana tak bisa menyembunyikan suara gusarnya yang bernada sedikit kasar. Rasanya wanita itu telah lancang masuk ke dalam ruangannya tanpa seizin darinya. Mulai besok ia harus meminta petugas kebersihan untuk tidak membuka pintu ruangannya sebelum ia benar-benar datang, karena ia khawatir seseorang bisa menyelinap masuk ke dalam ruangannya dan mencuri data-data penting milik pasiennya.
“Tidak ada waktu lagi, aku memiliki jadwal penerbangan pukul sepuluh.”
Sekilas Luciana melirik jam di tangannya yang sedang menunjukan angka setengah delapan. Memang tidak akan sempat jika wanita itu menunggunya tiga puluh menit lagi. Jarak antara Hallym Hospital dan Bandara Incheon cukup jauh, membutuhkan waktu satu jam saat jalanan sedang macet seperti hari ini.
“Baiklah, kali ini aku akan memakluminya.”
Luciana tidak memiliki pilihan lain selain melayani wanita itu. Apalagi dilihat dari gelagatnya, wanita itu seperti menyimpan beribu-ribu masalah di pundaknya. Belum lagi dengan kondisi perutnya yang membuncit, hal itu membuat Luciana teringat pada mendiang ibu kandung Aleyna yang dulu kondisinya tak jauh berbeda dari kondisi wanita cantik di depannya ini.
“Shin Irene.”
“Apa?”
Bahkan Luciana baru meletakan tasnya, namun wanita itu tiba-tiba saja telah menyebutkan namanya di depan Luciana.
__ADS_1
“Namaku Shin Irene, usiaku dua puluh tiga.”
“Tunggu sebentar, akan kutulis identitasmu di sini.” ucap Luciana sambil menarik buku catatan pasien miliknya yang selalu tersimpan rapi dalam laci mejanya. Sambil mencatat nama wanita itu, mata bulat Luciana sesekali melirik gerak gerik Irene yang terlihat seperti patung. Wanita itu tak bergerak, tangannya tersimpan rapi di atas pahanya, lalu tatapan matanya lurus ke depan, namun dengan pandangan kosong yang tidak benar-benar fokus.
“Aku mencintai kekasihku. Dan aku sangat ingin bersamanya hingga aku rela mengandung anaknya tanpa ikatan pernikahan. Tapi kekasihku telah menikah dengan wanita lain lima bulan yang lalu. Aku mencintainya. Sangat mencintainya!” ucap wanita itu dengan suara tajam dan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
Luciana sungguh bingung dengan kondisi pasien barunya yang tiba-tiba saja datang dan bercerita ketika ia belum mempersilahkan wanita itu untuk bercerita. Tapi ia benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa, selain tetap mendengarkan wanita itu bercerita dan menunggu apa yang sebenarnya diinginkan oleh wanita itu.
“Maaf nona, sebenarnya apa yang benar-benar kau inginkan dari mendatangiku di sini? Kau ingin aku memberimu saran, atau kau....”
“Aku ingin mengetahui pendapatmu, dokter Lucine.” potong wanita itu cepat dengan mimik datar. “ Haruskah aku memperjuangkan cintaku untuk kelangsungan hidup bayi ini, ataukah aku harus menghilang untuk selama-lamanya dari pria itu.”
“Tu tunggu! Aku tidak bisa memberikan jawaban tanpa mengetahui permasalahmu, nona.” Luciana tiba-tiba berubah kaku. Kata-kata wanita itu sungguh membangkitkan pengalaman traumatisnya di masa lalu. Ia tidak ingin menjadi penyebab dari menghilangnya nyawa seseorang. Ia tidak ingin wanita itu mati sia-sia hanya karena sebuah cinta.
Suara merdu musik klasik terdengar begitu indah di setiap penjuru ball room hotel bintang lima yang megah. Seorang wanita dengan gaun putih yang cantik dan seorang pria dengan tuksedo yang gagah terlihat sedang bersuka cita merayakan pesta pernikahan mereka. Ratusan tamu undangan yang datang memenuhi ball room terlihat begitu bahagia atas kebahagiaan sepasang pengantin yang siang ini resmi menjadi sepasang suami istri di hadapan Tuhan.
Irene tersenyum sinis melihat pasangan pengantin itu sambil memegang gelas winenya. Dari lantai dua ball room Irene dapat melihat pancaran bahagia yang dikeluarkan oleh sang pengantin. Namun ia merasa hal itu bukan pancaran kebahagiaan yang sesungguhnya karena ia merasa yakin jika dirinyalah sumber dari kebahagiaan sang pengantin pria.
“Shin Irene, apa yang kau lakukan disini? Kukira kau tidak akan datang untuk menyaksikan mantan kekasihmu menikah dengan wanita lain. Atau mungkin sebenarnya ia masihlah kekasihmu?”
Irene tersenyum sinis pada sang wanita yang siang ini telah memprovokasinya. Ia tahu Jessica sebenarnya hanya ingin menaburkan garam di atas luka hatinya. Tapi tentu saja ia tidak akan termakan oleh provokasi itu dengan mudah karena ia sudah menyiapkan berbagai macam rencana untuk mengembalikan semua kebahagiaannya.
__ADS_1
“Hmm.. aku hanya ingin melihat bagaimana pesta pernikahannya berlangsung, mengingat dulu ia juga pernah menjajikan hal yang sama padaku. Sebuah pesta pernikahan yang indah dengan ribuan tamu undangan yang turut berbahagia atas kebahagiaan kami. Tapi... sudahlah, itu hanya masa lalu. Bukankah yang terpenting adalah masa depan, aku tidak peduli dengan masa lalu.” jawab Irene santai sambil menyesap winenya anggun.
Jessica tampak sedikit kesal karena rencananya untuk memprovokasi Irene gagal. Sejak dulu ia memang tidak pernah menyukai Irene karena Irene selalu mendapatkan apa yang ia inginkan, perhatian dari guru, prestasi, bahkan Irene mendapatkan cinta dari pria yang sangat disukainya, Lee Suho. Tapi sekarang ia bersyukur karena ternyata Irene juga tidak bisa mendapatkan Lee Suho untuk menjadi miliknya, jadi kedudukan mereka sekarang sama. Atau mungkin dirinya merasa jauh di atas angin karena pada dasarnya ia tidak perlu merasa sakit seperti Irene karena kekasihnya atau mantan kekasihnya itu kini telah menjadi milik wanita lain.
“Baiklah kalau begitu kita lupakan saja pasangan yang sedang berbahagia itu, jadi apa sekarang kau sudah memiliki kekasih?”
Tiba-tiba Jessica melambai pada seorang pria yang sedang berjalan ke arahnya sambil membawa sepiring kue di tangannya. Pria itu tersenyum manis ke arah Jessica ketika wanita itu melambaikan tangan ke arahnya dan menyuruhnya untuk mendekat.
“Hai, maaf aku terlalu lama. Kue ini sepertinya adalah sang primadona dalam pesta ini.” ucap pria itu mencoba melucu sambil mengendikan bahunya pada sepotong kue yang berada di dalam piringnya. Irene sama sekali tidak tertarik dengan pria aneh yang baru saja dipanggil Jessica. Namun dalam hati Irene sudah menduga jika Jessica pasti akan memamerkan pria itu sebagai kekasihnya.
“Irene, perkenalkan dia adalah Kim Soohyun, kekasihku.” ujar Jessica berlebihan sambil bergelayut manja di lengan pria itu. Irene melirik sekilas pria itu tanpa minat sambil menyunggingkan senyum separuh yang tampak sinis.
“Oh, syukurlah jika kau memiliki kekasih, kukira kau tidak akan dilirik oleh pria manapun.”
Kim Soohyun terlihat terkikik sedikit, namun ia segera menormalkan ekspersi wajahnya setelah Jessica terlihat memberengut pada pria itu.
“Ck, kau memang menyedihkan Shin Irene. Kau sengaja mengolokku di depan kekasihku karena kau tidak ingin terlihat menyedihkan di pesta pernikahan mantan kekasihmu bukan? Hahaha, kau memang wanita yang malang, Shin Irene.”
Irene menatap Jessica datar dengan ekspresi wajah yang tak terbaca. Wanita itu bisa saja membalas Jessica dan membuat wanita itu menyesal karena perbuatan kurang ajarnya, tapi ia tidak akan melakukan hal itu di sini, di pesta pernikahan kekasihnya, atau mungkin sekarang telah berubah menjadi mantan kekasihnya, karena hari ini ia hanya ingin menjadi wanita terakhir yang memberikan selamat pada Lee Suho atas pernikahannya dan membuat pria itu kembali melihatnya. Seperti dulu saat mereka masih bersama dan saling mengikrarkan janji satu sama lain untuk kehidupan impian mereka.
“Begitukah? Terimakasih Jessica karena kau telah memperjelas statusku sebagai wanita malang yang menyedihkan.” ucap Irene dingin dan tanpa ekspersi. Jessica tersenyum puas sambil mengamit lengan Kim Soohyun untuk mengajak pria itu bersalaman dengan sang pengantin.
__ADS_1
“Kalau begitu kami akan turun untuk bertemu dengan pengantin kita yang berbahagia. Apa kau ingin bergabung bersama kami untuk bertemu Lee Suho dan Kwon Yuri?” tawar Jessica lembut. Irene hanya menggeleng pelan sambil mempersilahkan Jessica untuk pergi terlebihdahulu. Lagipula ia juga tidak sudi untuk turun ke sana bersama Jessica. Lebih baik ia turun sendiri dan memberikan ucapan selamat secara pribadi pada Lee Suho.
“Kau duluan saja, karena aku akan menjadi wanita terakhir yang memberikan selamat pada pasangan bahagia itu.” ucap Irene penuh makna sambil menerawang jauh pada mantan kekasihnya yang sejak tadi tak henti-hentinya mengumbar senyum pada setiap tamu undangan bersama dengan istrinya, Kwon Yuri.