
Pria itu menatap rumah besar bergaya klasik di depannya dengan dahi berkerut. Rumah dengan kebun
yang sangat terawat dan suara anak kecil yang sedang bermain di dalam sana mengingatkan pria itu pada masa kecilnya dulu. Sambil mengamati rumah itu, ia menoleh sebentar kearah istrinya yang masih memastikan riasan wajahnya yang menurut pria itu sama sekali tidak ada masalah.
“Ini rumahnya?”
“Sepertinya begitu. Persis seperti yang terlihat di peta.” ucap pria itu sambil menunjuk hamparan peta yang terpampang di layar ponselnya.
“Rumahnya besar sekali, oppa.”
“Sepupuku bukan orang sembarangan, Yul. Ingat, dia adalah pemilik maskapai penerbangan terbesar di Seoul.”
“Ya, aku ingat. Kau telah memberitahuku lebih dari ratusan kali saat pesta pernikahan kita beberapa bulan
yang lalu.” ucap wanita itu terkekeh dan mengecup tangan suaminya lembut. Pria itu lantas menjalankan mobilnya lebih dekat kearah pagar besi yang menjulang tinggi di depannya, dan mulai berbicara pada seorang penjaga rumah yang baru saja berlari dari dalam posnya.
“Apa benar ini rumah Joey Lee?”
“Benar tuan.”
“Aku Lee Suho, sepupu jauh Joey.”
“Aah... silahkan masuk, tuan. Tuan Joey telah menunggu di dalam.”
Dengan menggunakan remote control yang tergantung di pinggangnya, pria paruh baya itu membukakan pintu pagar untuk Suho yang sedang terkagum-kagum dengan rumah megah milik sepupunya.
“Selera rumahnya tidak main-main.” bisik Yuri yang sama-sama terperangah dengan suaminya. Suho kemudian segera menginjak pedal gasnya dan mulai menyusuri halaman luas mansion milik Joey yang begitu asri karena dipenuhi oleh berbagai macam pohon. Di tengah-tengah taman, Suho dapat melihat sebuah air mancur besar yang di bawahnya berisi kolam dengan ikan-ikan berukuran besar yang jumlahnya sangat banyak. Lalu di tengah taman, ia dapat melihat dua orang anak kecil sedang berlari-lari bersama seorang wanita yang merupakan pengasuhnya. Kedua anak kecil itu tampaknya tidak menyadari jika rumah mereka baru saja kedatangan tamu yang sangat istimewa pagi ini.
“Kurasa waktu itu Joey dan istrinya tidak mengajak anak-anak mereka untuk menghadiri pesta pernikahan kita.” Suho berbisik pelan di samping istrinya sambil menggandeng tangan wanita itu untuk masuk ke dalam mansion yang pintunya telah dibuka lebar-lebar.
__ADS_1
“Mereka lucu sekali. Kuharap Tuhan segera memberikan malaikat-malaikat yang lucu untuk keluarga kecil kita.” ucap Yuri penuh arti. Sementara itu, Suho hanya mampu tersenyum tipis dan tidak lagi mengeluarkan suara untuk istrinya. Kali ini ia sedang tidak ingin dibebani oleh apapun yang menyangkut kehidupan pribadi mereka yang sedikit sulit akhir-akhir ini.
“Lee Suho, akhirnya kau datang juga.” sambut Joey hangat dan langsung memeluk sepupu jauhnya itu erat. Di belakangnya Luciana juga melakukan hal yang sama pada Yuri, lalu bergantian dengan Suho. Binar-binar kebahagiaan tampak jelas di matanya saat melihat Suho dan Yuri yang akhirnya datang ke rumah mereka.
“Ini sulit dipercaya.” ucap Luciana takjub. “Joey oppa hampir tidak pernah menceritakan padaku jika ia masih memiliki seorang sepupu jauh yang begitu manis seperti kalian.”
“Aku bahkan baru mengetahuinya beberapa bulan yang lalu sebelum kau bekerja di rumah sakit. Suho adalah cucu dari adik kakek Lee. Seingatku dulu kakek Hanseol menikah dengan wanita Jeolla, sehingga kami jarang sekali bertemu dan setelah itu hubungan kami menjadi seperti putus begitu saja. Apalagi sejak kematian kedua orangtuaku. Silsilah keluarga di keluarga Lee semakin tak kasat mata dan hampir hilang.” cerita Joey
sedikit mengenang. Suho tampak maklum melihat sepupunya yang sudah bertahun-tahun hampir melupakannya. Andai saja mereka tidak dipertemukan dalam sebuah acara pelelangan untuk kepentingan amal, mereka berdua pasti masih menjadi pihak-pihak yang sama-sama asing saat ini.
“Silahkan duduk. Aku akan mengambil minuman dan beberapa makanan di dapur.”
“Tidak perlu repot-repot.” Yuri dan Suho kompak memperingatkan Luciana yang telah berubah heboh untuk menyambut kedatangan satu-satunya keluarga yang dimiliki Joey.
“Kalian memang harus mendapatkan sambutan yang meriah dari kami. Nah, itu anak-anakku, Aleyna dan Lucas.”
“Beri salam pada paman Suho dan bibi Yuri.”
Aleyna dengan sopan membungkukan tubuhnya dan tersenyum malu-malu saat bertatapan dengan kedua tamu istimewa ayahnya.
“Kau meninggalkan adikmu?”
“Lucas terlalu lama.” gerutu Aleyna dengan wajah lucu.
“Kau manis sekali. Aku suka rambut panjangnya.” puji Yuri yang langsung mengelus rambut Aleyna kagum.
“Eomma yang selalu merawatnya.”
“Luciana memang sangat perhatian pada setiap kebutuhan anak-anaknya. Walaupun ia bekerja di rumah sakit, tapi aku selalu mengingatkannya untuk tidak melupakan tugasnya sebagai ibu.”
__ADS_1
“Rumah sakit?”
“Luciana bekerja sebagai dokter jiwa.” jelas Joey ringan. Tak lama setelah pembicaraan mereka, sang nyonya rumah datang dengan senampan makanan dan minuman. Diletakannya gelas keramik berisi teh itu dengan hati-hati ke atas meja, lalu dua piring kue buatan rumah turut ditata rapi di samping gelas keramik yang berisi teh.
“Silahkan dimakan. Buatanku dan Aleyna pagi ini.
Aleyna langsung menunjukan wajah malu-malu karena ibunya baru saja memperkenalkan hasil masakannya pada paman dan bibinya.
“Kelihatannya enak. Kau pasti koki yang hebat.” puji Yuri sambil mengambil salah satu pai buah mini yang telah dihidangkan oleh Luciana.
“Bagaimana perjalanan bulan madu kalian? Ahh... aku selalu iri dengan pasangan-pasangan muda yang terlihat manis seperti kalian.”
Luciana mulai membuka percakapan dengan obrolan basa-basi yang seharusnya terdengar biasa untuk kedua pengantin baru itu, namun nyatanya reaksi yang mereka tunjukan terlihat berbeda. Joey yang tidak terlalu banyak bicara, hanya menyunggingkan senyum tipis, tanda ia tidak ingin membahas masalah bulan madu mereka. Sedangkan Yuri yang sedang menggigit pai buahnya penuh nikmat, tiba-tiba terlihat kaku dan seperti baru saja memakan pil pahit, wajahnya berubah getir.
“Kami belum pergi kemanapun sejauh ini. Suho oppa masih memiliki banyak pekerjaan.”
“Ahh begitu ya. Tidak apa-apa, lebih baik kalian selesaikan dulu urusan pekerjaan kalian sebelum memutuskan untuk pergi berbulan madu. Jangan sampai kalian sepertiku.” Luciana terlihat melirik Joey sengit saat pria itu justru menunjukan wajah penuh cengiran yang sangat kontras dengan milik istrinya. “Kami berbulan madu di tengah-tengah kesibukannya mengurus bisnis. Jadi bisa kau bayangkan sendiri bagaimana kesalnya aku yang sering ditinggal untuk meeting dari pagi hingga sore. Kami seperti bukan sedang berbulan madu saat itu.” kenang Luciana dengan mimik wajah lucu.
“Yah... mau bagaimana lagi, bisnis tetaplah bisnis. Sebenarnya aku ingin menunda urusan pekerjaan itu, tapi ternyata semuanya harus segera dilakukan, sehingga aku terpaksa meninggalkannya di hotel saat aku sedang sibuk.”
“Kemarin kami memang menikah disaat kondisi perusahaan sedang sibuk. Ada tender baru yang harus kutangani hingga bulan depan. Dan aku telah meminta pengertian dari Yuri untuk hal itu.” Suho memberikan elusan lembut di jari-jari istrinya yang terjalin di atas pahanya. Dan wanita itu langsung tersenyum hangat kearah suaminya yang sedang menatapnya dengan penuh cinta.
“Setelah semua pekerjaan itu selesai, kalian harus mengambil jeda untuk program bayi.” saran Luciana saat ia melihat betapa inginnya Yuri memiliki anak. Wanita itu sebentar saja telah akrab dengan Lucas yang biasanya begitu enggan untuk bertemu dengan orang baru.
“Aku tidak terburu-buru.” jawab Suho cepat.
“Tapi istrimu sangat menginginkannya.”
“Dia memang menyukai anak-anak.” jawab Suho lagi terlihat enggan. Luciana kemudian memutuskan untuk tak lagi membahas masalah anak di hadapan Suho. Pria itu sepertinya memang belum ingin menimang bayi dalam waktu dekat. Atau mungkin Suho masih ingin menghabiskan waktunya untuk mengenal Yuri lebih dekat karena setahu Luciana, mereka berdua menikah karena perjodohan.
__ADS_1