
Irene menutup pintu utama pelan dan langsung berbalik untuk masuk ke kamarnya. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba saja ia berjengit kaget ketika menemukan Suho sedang menatapnya aneh dari ujung anak tangga terbawah.
“Oh kau membuatku terkejut. Sejak kapan oppa berada di sana?” tanya Irene penuh selidik ketika Suho sedang berjalan ke arahnya. Pria itu mengendikan bahu pelan sambil menatap Irene penuh arti.
“Sejak kau bersama Kim Soohyun.”
“Jadi...”
“Maaf, tapi aku tak sengaja melihatnya. Aku hanya ingin melihat Hyura, apa aku boleh ke kamarnya?”
Irene menghela napas pelan dan langsung berjalan mendahului Suho menuju kamar Hyura. Rasanya ia sedikit malu karena baru saja tertangkap basah sedang berciuman dengan Kim Soohyun. Tapi sudahlah, bukankah Lee Suho sudah melihatnya? Lalu untuk apa ditutup-tutupi lagi.
“Biasanya Hyura akan bangun saat tengah malam untuk minum susu, jadi mungkin kau akan bertemu dengannya jika kau beruntung.” ucap Irene ringan sambil membuka kamar Hyura.
Aroma khas bayi dan dekorasi khas bayi yang lucu langsung memenuhi indra Suho ketika pertama kali ia masuk ke dalam kamar anaknya. Ini adalah kali pertama ia masuk ke dalam kamar Hyura karena dulu ia langsung kembali ke Korea setelah Irene melahirkan.
“Kau yang mendekorasinya sendiri?”
“Tidak. Ayah, Soohyun oppa, dan Jessica cukup banyak membantu untuk membuat kamar ini. Justru mereka yang lebih antusias daripada aku, karena saat itu aku mudah sekali lelah.” cerita Irene mengenang masa lalu. Suho masih tampak takjub dengan kamar anaknya yang cukup cantik. Tapi yang menjadi pusat perhatiannya sejak tadi adalah box bayi berwarna kayu yang berada di tengah ruangan. Sejak tadi ia merasa jika penghuni dari box itu sedang memanggil-manggilnya untuk mendekat dan memeluknya. Ia merasa sangat gugup sekarang.
“Lihat, dia sedang membuka mata. Halo baby girl, lihatlah siapa yang datang.” sapa Irene lembut pada Hyura yang sedang menguap lebar. Wanita itu kemudian meraih Hyura ke dalam dekapannya dan menunjukannya pada Suho.
“Halo sayang, appa datang untukmu.”
Saat melihat wajah Suho, tiba-tiba Hyura tersenyum cukup manis sambil bersandar pada dada ibunya yang nyaman. Dan hal itu tak pelak membuat Suho tersenyum bahagia dengan kehangatan yang melingkupi hatinya.
“Senyumnya benar-benar manis, seperti senyummu.”
“Hmm, benarkah? Kupikir ia memiliki senyummu karena Jessica dan ayahku sendiri juga mengatakan hal itu.” ucap Irene tak yakin. Suho kemudian meminta Hyura dari Irene dan pria itu langsung sibuk berinteraksi dengan Hyura, meninggalkan Irene dengan segala rasa haru yang melingkupi hatinya. Selama ini ia selalu bermimpi untuk melihat interaksi antara Suho dan Hyura. Dan akhirnya Tuhan mengabulkannya setelah selama lebih dari dua bulan ia meminta.
“Rene, sepertinya dia haus.”
__ADS_1
Suho memberikan Hyura pada Irene kembali untuk diberi ASI. Dan seakan sudah mengetahui posisinya. Suho langsung berbalik memunggungi Irene dan memutuskan untuk duduk di belakang tubuh Irene dengan posisi saling memunggungi.
“Rene, apakah sulit mengurus Hyura sendiri selama ini?” tanya Suho membuka percakapan. Irene tertegun sejenak ketika mendengar pertanyaan Suho yang sedikit terselubung itu.
“Tidak, karena Hyura adalah anak yang baik, dia jarang menyusahkanku. Karena itu aku tidak menyewa jasa babysitter untuk membantu mengurus Hyura. Jika Hyura sudah berumur lebih dari tiga tahun, mungkin aku bisa meninggalkannya untuk bekerja.”
“Jadi hingga tiga tahun ke depan kau tidak akan menghandle perusahaan?”
“Tidak. Lagipula ayah juga mendukung keputusanku agar Hyura mendapatkan kasih sayang penuh dari ibunya hingga usia tiga tahun. Lalu setelah itu aku akan memasukan Hyura ke sekolah pertama agar ia bisa berinteraksi dengan dunia luar dan belajar untuk mandiri.”
Suho tertegun sejenak mendengar jawaban Irene. Ternyata Irene sudah sejauh itu merancang masa depan untuk Hyura. Jadi kehadirannya pun juga tidak terlalu penting sepertinya.
“Kau sudah merencanakan semuanya dengan matang. Aku senang mendengarnya.”
Tiba-tiba saja Irene berbalik setelah ia selesai memberi makan Hyura. Setelah minum cukup banyak ASI dari ibunya Hyura tampak belum ingin memejamkan mata dan justru terlihat lebih aktif. Mungkin malam ini ia ingin menghabiskan waktu bersama ayahnya.
“Kau ingin menggendongnya lagi.”
Irene mengangsurkan Hyura pada Suho sambil mengelap sisa ASI yang tumpah di sudut bibir Hyura.
“Terimakasih, kuharap kehadiranku tidak menjadi perusak hubunganmu dan Soohyun karena ia sepertinya tidak menyukaiku.”
“Soohyun oppa sebenarnya adalah pria yang baik, ia hanya sedikit cemburu padamu.” komentar Irene ringan sambil memberikan mainan boneka kelinci pada Hyura. Irene pun memainkan boneka itu di depan Hyura dan berhasil membuat Hyura tertawa lebar dengan suara yang membuat hati siapa saja menjadi menghangat, termsuk Suho.
“Kenapa dia sangat manis. Jika ia terus seperti ini, aku akan memilih untuk pindah ke sini dan tidak akan kembali ke Korea.” uuap Suho sambil menciumi pipi berisi Hyura yang lembut.
“Kalau begitu tinggalah di sini bersamaku dan Hyura.”
Spontan Irene mengucapkan hal itu dan berhasil membuat Irene cukup terkejut dengan ucapannya sendiri. Ia tidak bermaksud mengatakan hal itu dan membuat Suho salah paham dengan maksud ucapannya.
“Maksudku kau bisa pindah ke New York dan membuka cabang perusahaan di sini.” ralat Irene cepat. Melihat hal itu Suho langsung tersenyum geli karena Irene terlihat sangat lucu saat sedang gelagapan dan tersipu malu.
__ADS_1
“Kupikir tawaranmu itu sedikit berbahaya untukku. Jika aku tinggal di sini, Kim Soohyun pasti akan menghajarku hingga babak belur. Malam ini saja ia terus menerus memberikan tatapan penuh peringatan padaku.” ucap Suho terkekeh. Irene pun ikut tertawa bersama Suho sambil bermain-main bersama Hyura.
Malam ini mereka berdua sibuk bercanda dan menggoda satu sama lain dengan perasaan lepas. Rasanya mereka seperti kembali ke masa lalu saat mereka masih memiliki ikatan dan dapat saling bercanda satu sama lain. Dan kenangan itu membuat mereka kembali merasa memiliki satu sama lain, meskipun mungkin hal itu hanya untuk malam ini.
-00-
“Selamat pagi eomma.”
Irene membuka matanya pelan sambil mencoba untuk menyesuaikan pandangan matanya dengan cahaya silau yang merambat dari celah-celah jendela kamarnya. Semalam ia tidur terlalu larut karena asik mengobrol dengan Suho di kamar Hyura, sehingga pagi ini ia sedikit kesiangan untuk bangun. Tapi ia langsung membuka matanya lebar ketika ia sadar jika saat ini Lee Suho sedang berdiri di depan ranjangnya sambil menggendong Hyura yang sedang bermain-main dengan jarinya.
“Sejak kapan ia bangun? Maaf aku kesiangan.”
Irene bergegas beranjak dari ranjangnya sambil menggulung rambutnya tinggi-tinggi sebelum ia mencuci wajahnya di kamar mandi.
Setelah segar, Irene kemudian meminta Hyura dari Suho, namun Suho langsung menolaknya dan menyuruh Irene untuk memasak makanan karena ia sangat lapar.
“Lebih baik kau memasakan sesuatu untukku. Selama Hyura tenang, aku bisa mengurusnya.”
“Baiklah. Ayo ke dapur.”
Mereka berdua berjalan beriringan menuju dapur dengan Suho yang sesekali bermain dengan Hyura. Dan kedekatan mereka pagi ini mau tidak mau membuat Irene ingin merubah keputusannya. Ia ingin bersama Suho dan Hyura!
“Ayah pulang."
Suara tuan Shin yang menggema di ruang tamu membuat Irene cepat-cepat menyingkirkan angan-angan indahnya dari dalam kepalanya. Ia kemudian berjalan ke depan untuk menemui sang ayah yang baru saja kembali dari perjalanan bisnisnya ke Texas.
“Ayah, akhirnya kau pulang juga.”
Tuan Shin memeluk Irene hangat dan langsung membeku di tempat ketika melihat Suho yang muncul dari dapur. Namun Irene langsung menenangkan ayahnya dan berbisik jika Suho datang hanya untuk melihat Hyura, bukan untuk macan-macam dengannya.
“Selamat datang tuan Shin, maafkan saya karena saya datang kembali ke sini.” ucap Suho dengan wajah kikuk. Tuan Shin hanya memandang Suho dengan tatapan tak bersahabat, dan setelah itu ia langsung berlalu menuju kamarnya. Pria paruh baya itu sepertinya benar-benar membenci Suho hingga ia merasa enggan untuk bertatapan terlalu lama dengan Suho.
__ADS_1
“Maafkan ayahku, ia tidak bermaksud seperti itu. Ayah hanya belum terbiasa dengan kehadiranmu, perlahan-lahan ayah pasti akan menerimamu.”
“Tidak masalah, aku memang pantas untuk mendapatkannya.” ucap Suho tanpa ekspresi dan langsung berlalu pergi keluar dari kediaman keluarga Shin. Sedangkan Irene hanya mampu menatap Suho penuh penyesalan dari balik punggung tegapnya yang sudah menghilang dibalik pintu besar rumahnya.