Kontratransferensi

Kontratransferensi
Case Four: Obsessed (Seventy Five)


__ADS_3

            Keesokan harinya Yuri terduduk di atas ranjang spa dengan kepala yang berdenyut dan juga mata yang berputar-putar. Wanita itu mencoba menfokuskan pandangannya pada suasana disekitarnya yang sepi. Ia kemudian mencoba turun dari atas ranjangnya sambil mencari pelayan wanita yang kemarin memberikan servis treatmen kepadanya.


            “Jam berapa ini, kenapa tidak ada yang membangunkanku?”


            Yuri bergumam panik pada dirinya sambil mengamati jam dinding yang menunjukan angka delapan. Dengan panik ia segera menggunakan sandalnya dan bergegas pergi dari ruang spa tanpa mempedulikan pelayan hotel yang mungkin akan mencarinya. Lagipula ia juga merasa kesal pada petugas spa itu yang tidak membangunkannya dan justru membiarkannya terlelap hingga pagi hari. Padahal kemarin adalah malam pertama yang seharusnya ia habiskan bersama Suho. Tapi karena ia terlalu asik dengan treatamen spa spesial yang disediakan oleh pihak hotel ia justru melewatkan malam indah itu dengan sia-sia.


            “Ck, lama sekali liftnya.” gumam Yuri gusar. Wanita itu menunggu lift turun sambil mengetuk-etukan ujung sandalnya pada lantai marmer yang berada di bawahnya. Terlihat monitor lift sedang berhenti di lantai tujuh, lantai dimana kamarnya berada. Ia pun mencoba untuk lebih bersabar dengan mensugesti dirinya sendiri jika Suho tidak akan marah karena kepergiannya yang tiba-tiba semalam dan tidak kembali hingga keesokan harinya.


Ting


            Yuri mendesah lega ketika akhirnya lift itu telah berhenti tepat di lantai satu. Tak berapa lama pintu lift itu terbuka dan menampilkan sosok Irene yang terlihat sudah rapi dengan kemeja formal dan juga rok pendek selutut.


            “Shin Irene.. kau Shin Irene bukan?” tanya Yuri antusias dengan wajah sumringah. Irene tersenyum tipis pada Yuri dan memberikan jalan untuk Yuri agar dapat masuk ke dalam lift.


            “Senang bertemu lagi denganmu Lee Yuri.”


            “Kau juga menginap di hotel ini, kupikir kau tinggal di Seoul.”


            “Aku memang tinggal di Seoul, tapi semalam aku memiliki urusan penting di sini, sehingga aku memutuskan untuk menginap. Maaf tapi aku harus segera pergi. Sampai jumpa di lain waktu, semoga harimu menyenangkan.”


            Yuri melambaikan tangan pada Irene ramah sebelum Irene benar-benar pergi meninggalkannya. Melihat Irene, ia merasa iri dengan kesempurnaan yang dipancarkan oleh wanita itu. Betapa ia sangat ingin memiliki pribadi yang menarik seperti Irene agar banyak pria yang menyukainya. Tapi cepat-cepat pikiran itu ditepisnya karena ia harus segera pergi untuk menemui suaminya yang mungkin saat ini sedang menunggunya dengan khawatir di kamar mereka.


-00-


            Suho membuka matanya perlahan karena cahaya matahari yang menerobos masuk melalui jedela kamarnya yang terbuka lebar. Di liriknya sebelah ranjangnya yang telah kosong dan rapi, padahal satu jam yang lalu ia masih merasakan kehadiran Irene di sana, bahkan ia sempat memeluk wanita itu erat sebelum ia kembali memejamkan matanya karena lelah.


            Dengan langkah berat, Suho mulai bangkit dari ranjangnya untuk mencuci muka dan membersihkan diri di kamar mandi. Rasanya semalam ia begitu menikmati permainan panasnya dengan Irene, meskipun semua itu memang di bawah pengaruh obat perangsang yang dimasukan Irene ke dalam minumannya, tapi ia merasa tidak seperti itu. Ia merasa menikmatinya dan ia masih mengingatnya dengan jelas hingga sekarang, bagaimana lembutnya kulit Irene atau bagaimana desahan nikmat wanita itu yang mengalun merdu di telinganya. Tapi ia tidak boleh membiarkan hal itu terus bersarang di dalam otaknya karena apa yang ia lakukan dengan Irene semalam hanyalah kegiatan bersenang-senang yang tidak memiliki makna apapun. Ia tidak boleh membiarkan Irene menang dan menguasi pikirannya yang selama ini memang selalu dipenuhi oleh bayangan wanita itu. Yang harus ia tanamkan saat ini di dalam kepalanya adalah wajah Yuri dan sebuah fakta jika ia telah menjadi suami dari wanita yang bernama Kwon Yuri.


Cklek


            Suho menoleh cepat pada pintu utama yang tiba-tiba dibuka oleh seseorang. Ia pun segera berjalan cepat menuju pintu depan untuk melihat siapa lagi yang telah masuk ke dalam kamarnya, karena sejak kedatangan Irene semalam, ia merasa sedikit paranoid dengan siapapun yang berusaha masuk ke dalama kamarnya.


            “Yuri, kau darimana saja?”  

__ADS_1


            Suho menghampiri Yuri dan memeluk wanita itu erat. Yuri meneguk ludahnya gugup sambil membalas pelukan Suho yang begitu erat di punggungnya.


            “Oppa maafkan aku, aku membuatmu khawatir.” ucap Yuri merasa bersalah. Suho melepaskan pelukannya pada Yuri dan mengamati tubuh Yuri lekat-lekat dari ujung kepala hingga ujung kaki untuk memastikan jika wanita yang saat ini telah berstatus sebagai istrinya itu dalam keadaan yang baik-baik saja.


            “Tidak apa-apa, yang penting kau kembali dalam keadaan baik-baik saja. Tapi kemana saja kau semalam, aku mencarimu kemana-mana dan mengkhawatirkan keadaanmu sepanjang malam.”


            “Aku... aku semalam tertidur di ruang spa. Sepertinya aku sangat lelah hingga aku tertidur dengan pulas di sana ketika petugas spa memberiku treatmen yang sangat menyenangkan dan juga nyaman. Sekali lagi aku minta maaf oppa, aku janji tidak akan melakukannya lagi.”


            Suho tampak berpikir sejenak ketika mendengar semua cerita yang dipaparkan oleh Yuri padanya. Dan dari semua cerita itu ia langsung menarik kesimpulan jika apa yang terjadi padanya kemarin adalah serangkaian rencana licik yang sedang dijalankan oleh Irene. Wanita itu pasti telah melakukan sesuatu untuk membuat Yuri menghilang semalam, sehingga ia dapat mendekatinya yang sedang dibutakan oleh kabut gairah.


            Mulai sekarang ia harus selalu berhati-hati dengan sikap Irene karena wanita itu jelas-jelas sedang mencoba untuk mendapatkan hatinya kembali, meskipun tak dapat dipungkiri jika separuh hatinya saat ini masih dimiliki oleh Irene. Tapi ia sudah memutuskan untuk menikah dengan Yuri dan meninggalkan masa lalunya yang menyakitkan dengan Irene. Jadi apapun yang terjadi ia tidak boleh goyah dan masuk ke dalam perangkap yang telah dibuat oleh Irene.


            “Oppa, apa kau baik-baik saja?”


            “Ya aku baik-baik saja, lebih baik kau segera bersiap karena hari ini kita akan pulang ke rumah.”


            Yuri tampak kecewa dengan keputusan Suho yang akan membawanya ke rumah. Padahal hari ini ia ingin menghabiskan waktu bersama Suho karena semalam ia gagal mendapatkannya. Tapi pada akhirnya ia memilih pasrah dan mengikuti semua perintah Suho, karena tak ada gunanya juga ia menolak jika Suho sudah memutuskan kehendaknya.


-00-


belum berhasil mendapatkannya. Meskipun Irene beberapa kali mengancam akan memberikan video panas mereka pada Yuri, namun Suho selalu berhasil menggagalkan niat busuk Irene untuk menghancurkan rumah tangganya. Seperti yang dilakukan Irene dua hari yang lalu. Wanita itu dengan nekat mendatangi Yuri di butiknya untuk mendekati Yuri dan mengatakan pada Yuri apa yang sebenarnya terjadi pada saat malam pengantin mereka. Tapi saat itu Suho berhasil membuat Yuri pergi sebelum Irene datang ke butiknya, sehingga Irene tidak bisa bertemu dengan Yuri dan membeberkan semua rahasia panas mereka.


Tok tok tok


            Lamunan Suho seketika buyar ketika ia mendengar suara pintu yang diketuk cukup keras dari luar. Suho pun segera mempersilahkan sang pengetuk untuk masuk ke dalam ruangannya.


            “Ya silahkan masuk.” ucap Suho tanpa melihat tamunya yang masuk ke dalam ruangannya. Setelah beberapa saat barulah Suho mendongakan kepalanya untuk melihat sang pengetuk yang sejak tadi tidak mengatakan sepatah katapun.


            “Selamat siang tuan Lee.” sapa Irene ramah yang terkesan dibuat-buat. Suho menghembuskan napasnya gusar dan tampak tak mau repot-repot untuk mempersilahkan Irene duduk. Tapi Irene dengan sendirinya justru mendaratkan tubuhnya di atas kursi empuk yang berada di depan meja kerjanya.


            “Mau apa kau datang ke kantorku? Apa kau ingin mengacaukan hidupku lagi dan mengusik Yuri?” tanya Suho sakarstik. Irene tersenyum manis sambil melipat tangannya di atas meja. Ternyata pria tampan yang ada di depannya ini cukup pintar untuk membaca niat hatinya yang memang ingin menghancurkan kehidupan rumah tangganya.


            “Apa wajahku terlihat sejahat itu? Tapi sepertinya kau memang benar, aku memang datang ke sini untuk mengusikmu.” jawab Irene santai dan tanpa dosa. Suho pun segera bangkit dari kursinya dan ia tiba-tiba menarik tangan Irene kasar untuk keluar dari ruangannya.

__ADS_1


            “Lee Suho, lepaskan tanganmu dari tanganku!” bentak Irene tak terima dan langsung menghempaskan tangan kekar itu begitu saja dari pergelangan tangannya.


            “Aku saat ini sedang tidak memiliki waktu untuk bermain-main denganmu, jadi lebih baik kau segera pergi dari kantorku!” usir Suho kasar dan kembali menyeret Irene untuk keluar dari ruangannya. Irene meronta-ronta kesakitan di dalam cekalan tangan Suho sambil mencoba untuk memukul dada Suho yang keras. 


           “Aku bisa keluar sendiri dan kau tidak perlu menyeretku seperti ini!” bentak Irene tak mau kalah. Tapi seakan Suho tuli dengan semua teriakan Irene, Suho terus menyeret tangan Irene dan melemparkan Irene begitu saja di depan pintu ruangannya. Irene tersungkur cukup keras di atas lantai sambil meringis nyeri pada lututnya yang langsung menghantam lantai terlebihdahulu. Tapi Suho benar-benar sudah kehabisan kesabaran untuk menghadapi semua tingkah Irene, sehingga ia tidak memiliki cara lain selain memberikan perlakuan kasar pada Irene untuk mengusir wanita itu dari hidupnya.


            “Pergi dari kantorku dan jangan pernah coba-coba untuk menampakan dirimu kembali atau aku akan mengambil tindakan keras padamu. Aku akan melenyapkanmu dari dunia ini jika kau terus mencoba untuk menghancurkan hidupku.” ancam Suho kasar dan segera membanting pintu ruangannya keras. Irene yang masih dalam posisi terduduk di atas lantai hanya mampu memberikan tatapan penuh dendam pada pintu kayu yang saat ini sudah tertutup rapat. Meskipun pria itu telah memperlakukannya dengan kasar, ia bersumpah tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan Suho kembali ke dalam pelukannya.


-00-


            Yuri menatap semua masakan yang telah ia tata di atas meja dengan perasaan puas. Sore ini ia telah berencana untuk memasakan hidangan spesial untuk Suho agar mereka dapat menghabiskan malam ini dengan saling berbicara satu sama lain terkait sikap Suho yang selama dua bulan ini terasa aneh. Sebagai seorang wanita, ia merasa jika Suho sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Bahkan ia merasa aneh dengan sikap Suho yang


selama ini tidak mau berhubungan suami istri dengannya dan hanya memeluknya dengan erat sepanjang malam. Pernah suatu hari ia berusaha untuk menanyakan hal itu pada Suho, tapi pria itu justru mengatakan jika ia sedang lelah sehingga ia tidak berminat untuk melakukan hal itu bersamanya. Tapi kejadian itu sudah lama berlalu, tapi hingga saat ini pun Suho seperti masih enggan untuk melakukan kewajibannya sebagai suami. Pria itu sama sekali tidak pernah menyentuhnya dan pasti akan langsung tidur ketika ia pulang dari kantor larut malam.


            Samar-sama Yuri mendengar suara deru mesin mobil yang cukup berisik dari garasi di samping rumahnya. Yuri pun bergegas untuk menyambut suaminya yang saat ini sedang berjalan masuk ke dalam rumahnya.


            “Oppa, akhirnya kau pulang juga. Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu.”


            Suho tersenyum manis pada Yuri dan mengelus puncak kepala wanita itu pelan.


            “Terimakasih, aku akan langsung makan sekarang.” ucap Suho sambil melepaskan jas hitam yang dikenakannya. Yuri mengambil alih jas itu dan segera melatakannya di kamar mereka sementara Suho mencuci tangan di dapur.


            “Oppa tunggulah di ruang makan, aku akan meletakan jas ini di kamar.”


            Suho menganggukan kepalanya dan segera melangkahkan kakinya dengan ringan menuju ruang makan.


            Sementara itu Yuri mulai menaiki satu per satu anak tangga yang akan membawanya menuju kamarnya dan Suho. Hari ini ia merasa tidak sabar untuk makan malam bersama Suho dan membicarakan semua hal yang selama ini mungkin telah disembunyikan Suho darinya.


            Yuri pun mengibaskan jas hitam Suho sebentar sebelum menyimpannya di dalam lemari mereka. Namun tiba-tiba ia melihat sesuatu yang terlempar keluar dari dalam saku jas milik Suho. Benda itu terlempar cukup tinggi ke udara dan jatuh tepat di bawah kakinya. Dengan penasaran Yuri segera memungut benda itu dan melihatnya dengan seksama.


            “Testpack...”


            Yuri bergumam pelan sambil mengamati sebuah testpack yang menunjukan dua garis merah di permukaanya. Tiba-tiba berbagai macam pikiran buruk berkelebatan di dalam kepalanya terkait perilaku aneh Suho selama ini. Ia takut jika ternyata Suho telah memiliki wanita lain di luar sana yang lebih berarti darinya.

__ADS_1


            “Aku harus segera mengklarisifikasinya dengan Suho oppa.” ucap Yuri penuh tekad sambil memasukan testpack itu ke dalam saku baju rumahnya. Ia pun bergegas untuk turun ke ruang makan dan berencana akan menanyakan perihal testpack itu setelah mereka menyelesaikan makan malam mereka, karena ia tidak ingin makan malam yang telah ia rencanakan rusak hanya karena sebuah testpack yang mungkin tidak sengaja berada di dalam saku jas Suho.


__ADS_2