Kontratransferensi

Kontratransferensi
I Never Knew I Had a Choice


__ADS_3

Brugg


Joey mendorong tubuh Luciana ke atas sofa, lalu ia menghimpit tubuh mungil itu dengan tubuhnya yang berotot sambil menatap wanita itu memuja dengan kedua mata yang telah dibutakan oleh kabut gairah. Berhari-hari tidak bertemu Luciana dan menyentuh Luciana, membuat jiwa pria itu benar-benar kelaparan dan ingin sekali segera memakan Luciana yang terlihat begitu menggairahkan di bawahnya. Berkali-kali Joey terlihat menggeram untuk menahan hasratnya sambil menenggelamkan wajahnya di dalam cerukan leher Luciana yang selalu menjadi tempat favoritnya sebelum melakukan kegiatan inti yang lebih panas.


            “Tunggu..”


            “Ada apa sayang? Kau membuatku hampir gila karena selama satu minggu ini aku tidak menyentuhmu. Dan sekarang kau menghentikanku yang sedang turn on, yang benar saja?” tanya Joey gusar. Pria itu mengacak rambutnya frustrasi dan membuang asal dasi hitamnya yang terasa mencekik tenggorokannya yang telah terbakar api gairah.


            “Tunggu, aku harus mengatakan ini padamu.” ucap Luciana bersungguh-sungguh sambil menahan dada bidang Joey yang hampir meringsek di atas tubuhnya. Namun ketika tangan Joey mulai membuka kancing-kancing kemejanya dengan terburu-buru, wanita itu membiarkan saja dan tidak mencegahnya.


            “Apa kau tahu jika Aleyna tahu?”


            “Aku tidak mengerti apa yang kau maksud Luciana? Bisakah kau tidak bermain teka teki seperti itu dan hanya mengatakan yang sebenarnya? Tubuhku sudah sangat sakit karena terlalu lama menahan siksaan ini. Bahkan sejak kita berada di restoran, aku sudah merasakan gairah ini.” Keluh Joey frustrasi.


            “Aleyna tahu kau pernah tidur di kamarku?”


            “Lalu? Biarkan saja, bukankah Aleyna senang bila aku di sini.” jawab Joey penuh percaya diri. Luciana berdecak sengit kearah pria itu, lalu menahan tangan Joey yang hampir meloloskan kemejanya yang telah terbuka sempurna kancing-kancingnya.


            “Ayolah Luciana, apa kau senang melihatku tersiksa?”


            “Aleyna mengadukannya pada Karen dan Aaron. Mereka berdua kemudian semakin curiga pada


hubungan kita sejak Aleyna menceritakan semua kebiasaanmu yang sering datang berkunjung. Aku merasa menjadi seorang wanita murahan sekarang.” keluh Luciana sedih. Joey membanjiri Luciana dengan kecupan-kecupan kecil di wajah wanita itu, lalu pria itu menatap kedua mata Luciana intens dengan tatapan memuja.


            “Kau bukan wanita murahan, kau wanita sangat hebat dan juga tangguh Luci. Sifatmu itulah yang membuatku sangat tergila-gila padamu hingga aku berpaling dari Jihyun. Jadi tolong jangan merendahkan dirimu sendiri seperti itu, aku mencintaimu.”


            Setelah itu Joey langsung membungkam bibir Luciana yang menggoda dengan bibirnya dan membuat kemeja Luciana asal ke atas lantai dengan gerakan yang terburu-buru. Seluruh tubuhnya kini terasa sakit karena ia terlalu lama menahan semua gairahnya sejak beberapa jam yang lalu ketika berada di restoran. Belum lagi


selama empat hari ini ia tidak bertemu Luciana karena wanita itu terus bersikukuh dengan keyakinan kolotnya jika ia harus kembali lagi bersama Jihyun. Jelas-jelas hal itu tidak akan pernah bisa ia lakukan semenjak ia mengenal Luciana dan menaruh perasaan lebih pada wanita itu. Kini keberadaan Jihyun disekitarnya benar-benar tak berarti dan hanya sekedar status. Dan ia sendiri tidak tahu, sampai kapan ia akan bertahan seperti ini bersama Luciana karena ia sendiri tidak mau hidup dengan kebohongan seperti ini terus menerus. Ia ingin mengikat Luciana dan memiliki Luciana untuk dirinya sendiri, tanpa ada pria lain yang akan mengusik wanitanya, seperti Aaron.


Ting tong


“Shit!”


            Joey mengumpat keras sambil mencumbu setiap inci tubuh Luciana ketika bel pintu rumah wanita itu berbunyi nyaring dan mengusik kegiatan panas mereka. Padahal tinggal sedikit lagi ia akan mencapai klimaksnya, namun dengan kejamnya sang tamu yang saat ini sedang berdiri di depan pintu rumah Luciana itu justru mengganggu kegiatan panasnya bersama Luciana yang baru setengah jalan.


Ting tong


“Tamu sialan!” maki Joey kesal tanpa peduli pada suara bel yang lagi-lagi berbunyi keras di tengah-tengah suasana sunyi di sore hari yang syahdu. Luciana yang sebenarnya juga merasa terganggu mencoba untuk menghentikan Joey yang sepertinya tidak mau menjeda permainan panas mereka hanya untuk menemui sang tamu yang mungkin saja sedang membawa berita penting untuknya.


            “Joey, kita bisa lanjutkan nanti. Please.” Mohon Luciana sambil mendorong dada Joey. Joey terlihat enggan untuk meninggalkan tubuh nikmat Luciana, dan justru memberikan satu kissmark lagi di rahang Luciana yang sebelumnya belum ia tandai.


            “Kita sudah half naked Luc, abaikan saja.”


            “Bagaimana jika tamu itu membawa kabar penting. Aku harus...”


Tok tok tok tok!!


“Luci, buka pintunya, ini aku. Luci! Luciana!”


Tok tok tok tok!!


“Aaron oppa!” seru Luciana tertahan. Wanita itu langsung memaksa Joey bangkit dan ia segera mengambil sisa-sisa pakainnya yang terlihat lusuh di atas lantai. Pria itu tidak boleh melihatnya sedang berduaan bersama Joey di rumahnya atau kecurigaan pria itu selama ini akan membuatnya dalam masalah besar.


            “Oppa cepat pakai pakaianmu, Aaron oppa datang.” seru Luciana panik sambil memasang asal kemejanya dan juga rok span pendeknya. Joey yang melihat Luciana tampak panik hanya mengedikan bahunya acuh, dan justru membantu Luciana mengancingkan satu persatu kancing kemejanya tanpa mempedulikan dirinya sendiri yang belum memakai bajunya.


            “Aku akan menunggu di kamarmu. Dan kau, cepat usir pria sialan itu dari sini.”

__ADS_1


            “Ck, jangan kasar begitu pada Aaron oppa. Ia mungkin hanya mengkhawatirkan keadaanku setelah Aleyna pergi ke Amerika. Apa aku sudah terlihat rapi? Ahh, kissmark ini!” dengus Luciana tertahan sambil menggosok-gosok bekas ciuman Joey yang terlihat sangat ungu di dagunya. Jika Aaron melihat itu, ia pasti akan sangat curiga dan mulai mengintrogasinya seperti kemarin.


            “Biarkan saja. Biarkan pria itu tahu jika ia sedang mengganggu kegiatan panas kita.”


           “Ck, kau gila! Kenapa kau menjadi kekanakan seperti ini? Sini biar kuhapus bekas lipstikku, kau terlihat sangat hot dengan lipstik-lipstik ini.” ucap Luciana sambil mengelap sisa-sisa lipstik merahnya di sudut-sudut bibir Joey. Pria itu terkekeh pelan dengan sikap panik Luciana, ia lalu  merapatkan pinggang gadis itu kearahnya dan terlihat sibuk mengamati raut wajah Luciana yang terus berubah-ubah di depannya.


            “Kau terlihat menggemaskan saat sedang panik.”


            “Jangan menggodaku Joey, aku sedang panik. Cepat bawa semua barangmu ke atas. Dasi, jas, celana, kemeja, kaos kaki, ikat pinggang.... ya Tuhan, kenapa banyak sekali barang-barangmu yang berceceran, bahkan milikku tidak sebanyak ini.” keluh Luciana sambil memunguti barang-barang milik Joey satu persatu di atas lantai. Sedangkan sang pemilik barang tampak tak peduli dan hanya menatap Luciana santai sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Oh, dan jangan lupakan bagaimana penampilan menggoda Joey yang hanya menggunakan celana pendek tanpa mengenakan sehelai benangpun untuk menutupu tubuh bagian atasnya. Mereka benar-benar hampir menuju ke inti permainan ketika Aaron datang dan mengacaukan segalanya.


            “Kau yakin tidak ada yang tertinggal? Tapi kuharap ada satu barangku yang tertinggal agar Aaron sadar jika ia sedang mengganggu sepasang manusia yang sedang kelaparan.”


            “Tidak ada, aku sudah mengambilnya semua.”


            “Sampai jumpa sayang, aku menunggumu di atas untuk sesi kedua permainan panas kita.” kerling Joey menggoda dengan gaya menjijikan. Luciana hampir saja tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan CEO aneh yang biasanya selalu tampil galak itu. Namun ia segera membekap mulutnya saat ia sadar jika saat ini Aaron sedang


menunggunya di luar dengan perasaan gelisah.


Cklekk


“Aaron oppa?” sapa Luciana pura-pura terkejut. Wanita itu menatap Aaron intens dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu mempersilahkan Aaron untuk masuk kedalam rumahnya yang sudah terlihat lebih rapi setelah ia melakukan sesi pembersihan kilat beberapa detik yang lalu.


            “Aku hampir saja mendobrak pintu rumahmu jika kau tidak membukanya. Aku khawatir padamu.” ucap Aaron bersungguh-sungguh dengan tatapan intens. Ditatap seperti itu, Luciana menjadi salah tingkah sambil memilin jari-jarinya gugup.


            “Aku baik-baik saja oppa, masuklah.”


            Luciana menyingkirkan tubuhnya ke samping lalu mengekor di belakang Aaron ketika pria itu berjalan menuju sofa ruang tamunya yang sempat ia gunakan untuk bergumul bersama Joey.


            “Duduklah di sana oppa, disana lebih nyaman sepertinya.” Ucap Luciana beralasan. Ia sedikit melirik sangsi sofa ruang tamunya yang berukuran panjang di depannya. Kasihan jika Aaron harus duduk di sana dengan bekas-bekas percintaanya dengan Joey.


            “Maaf,


aku tidak bisa mengantarmu untuk mengantar Aleyna ke bandara pagi tadi. Ada meeting penting dengan dewan direksi untuk membahas masalah proyek selanjutnya.” mulai Aaron dengan wajah bersalah. Luciana tersenyum lembut kearah Aaron, lalu menggelengkan kepalanya pelan sabagai jawaban bahwa ia baik-baik saja dengan hal itu.


            “Tidak masalah oppa, aku tahu kau sibuk. Aleyna menitipkan salam cium untukmu.”


            “Oh ya? Kalau begitu kau harus menciumku, bukankah Aleyna menitipkannya padamu.” ucap Aaron bercanda. Tiba-tiba terdengar bunyi benda jatuh dari lantai atas yang membuat Aaron mengerutkan keningnya curiga kearah Luciana.


            “Apa itu Luc? Kau mendengar suara benda jatuh itu bukan?”


            “Aa apa? Oh.. itu pasti kucing tetangga yang sedang melompat ke balkon rumahku, itu sudah biasa terjadi.” Jawab Luciana gugup sambil tertawa kaku di depan Aaron. Wanita itu sedikit melirik keatas, lebih tepatnya kearah kamarnya sambil membatin kesal pada si pembuat ulah, Lee Joey.


            Sial!


Apa yang dilakukan Joey di atas? Apa ia ingin membunuhku?


            “Luc, aku melihat mobil milik Joey di depan, tapi aku tidak melihat mobilmu? Dimana mobilmu?”


            “Aap apa? Bisa kau ulangi oppa?” Tanya Luciana tergagap. Ia yang sebelumnya masih berkonsentrasi pada sumpah serapahnya untuk Joey, tiba-tiba harus dibuat mati kutu oleh pertanyaan telak Aaron yang belum ia siapkan jawabannya. Ia lupa jika mobil milik Joey dengan sangat jelas berada di halaman rumahnya tanpa berdampingan dengan mobilnya seperti biasa.


            “Mobilku... mobilku rusak. Seseorang menabrak bemper mobilku hingga harus dibawa ke bengkel. Kemudian Joey menawarkan mobilnya untuk kugunakan sementara waktu karena kebetulan ia akan pergi ke luar negeri beberapa hari kedepan.”


       “Kau kecelakaan?” tanya Aaron khawatir. Pria itu telah berdiri dari duduknya untuk mengecek keadaan Luciana. Namun lagi-lagi suara berisik dari lantai dua menghentikan aksi Aaron dan membuat pria itu mau tidak mau menatap curiga kearah lantai dua rumah Luciana yang mencurigakan.


            “Abaikan saja oppa, kucing milik Mirae memang sering datang ke rumahku untuk bermain bersama Aleyna. Dan karena Aleyna hari ini tidak ada, mungkin kucing itu merasa kesal.” Ucap Luciana terdengar konyol. Rasanya Luciana ingin mengurung Joey di kamarnya, lalu mengikatnya dengan kuat di atas ranjangnya agar pria itu tidak membuat keributan dan membuat Aaron curiga seperti ini. Ia hampir mati gugup di sini karena ulah pria kekanakan itu dengan segala sifat cemburunya dan juga posesifnya yang berlebihan.


        “Oh, kupikir kau sedang menyembunyikan seseorang di kamarmu.” canda Aaron dengan tawanya yang menggelegar. Sedangkan Luciana hanya mampu tertawa gugup untuk mengimbangi tawa Aaron yang keras. Andai pria itu tahu jika ucapannya barusan memang benar-benar terjadi.

__ADS_1


          “Luci...”


        “Ada apa?”


         “Milik siapa ini?”


            Aaron tiba-tiba menarik sesuatu dari lipatan sofanya dan mengangkat benda itu tinggi-tinggi kearah Luciana. Sebuah kaus kaki pria berwarna abu-abu dengan garis merah yang melintang di tengahnya terlihat begitu mencolok dan mencurigakan di mata Aaron. Pria itu lalu mengangkat alisnya bingung sambil menuntut jawaban dari Luciana yang sedang memutar otak untuk mengarang cerita.


        “Hah, oo oh.. itu pasti milik Jihoo yang tertinggal. Kau tahu sendiri kan jika Jihoo sering datang untuk mengantar Aleyna ke sekolah. Terkadang ia lupa memakai kaus kakinya lagi setelah melepasnya. Lalu dengan jahil Aleyna sering menyembunyikan itu di sana, di dalam lipatan sofa.” bohong Luciana gugup.


        Sialan kau Joey! Aku yakin telah memberikan kaos kaki itu padanya. Atau ia pasti sengaja meninggalkannya di sana untuk membuatku mati perlahan-lahan di tangan Aaron. Awas kau Joey!


            Luciana hampir saja mengeluarkan umpatan kasarnya untuk Joey jika ia tidak segera sadar jika saat ini di depannya Aaron masih menatapnya dengan tatapan menyelidik yang sangat mengganggu. Sadar atau tidak, pria itu pasti bisa merasakan gelagat aneh yang ditunjukan Luciana. Karena wanita itu sore ini memang terlihat lebih gugup dari biasanya.


            “Kupikir ini milik Joey yang tertinggal. Saat aku datang ke sini, aku sempat berpikir jika Joey juga ada di sini karena aku melihat mobilnya di depan.”


            “Ayolah oppa, kenapa oppa terus mencurigaiku seperti itu? Aku tidak mungkin mengambil tindakan gegabah dengan membiarkan Joey bertamu di rumahku disaat Aleyna sedang pergi ke Amerika, menurutku itu terlalu beresiko. Dan lagi, bukankah oppa ke sini untuk membicarakan masalah Aleyna, jadi sebaiknya kita lupakan saja masalah Joey yang tidak penting itu.”


            “Kau benar. Untuk apa kita membahas Joey, itu bukan urusanku. Jadi, bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kau masih merasa sedih dengan kepergian Aleyna?” tanya Aaron lembut. Luciana kemudian menggeleng kecil kearah Aaron sambil memberikan senyuman menenangkan jika ia baik-baik saja. Sejujurnya setelah ia menangis di


pundak Joey dan menghabiskan waktunya hari ini bersama Joey, ia tidak lagi merasakan kesedihan itu. Sekarang ia merasa lebih baik dan mulai ikhlas dengan kepergian Aleyna untuk bertemu dengan kelurganya di Amerika.


            “Setelah semuanya berhasil kulewati, kurasa kepergian Aleyna ke Amerika tidak seburuk itu. Aku mulai bisa menerimanya dengan lapang dada. Lagipula Aleyna akan segera kembali setelah bertemu dengan neneknya, jadi aku tidak perlu memusingkan apapun.”


            “Aku senang mendengarnya. Kau memang seharusnya seperti itu. Aleyna pasti akan segera kembali dan berkumpul lagi bersamamu. Bukankah hak asuh Aleyna masih menjadi milikmu?”


            “Ya, hak asuh Aleyna masih menjadi milikku dan keluarga Aleyna sepakat untuk tidak memintanya dariku. Menurut mereka Aleyna memang lebih baik tinggal bersamaku karena selama ini aku juga telah membesarkannya seperti putri kandungku sendiri. Oya, aku akan mengambilkan minum untuk oppa. Tunggu sebentar.”


            Luciana segera bangkit berdiri dan meninggalkan Aaron sendiri dengan kedua alis yang saling tertaut satu sama lain. Dengan mata menyipit, ia kemudian mendongak keatas sambil mengamati setiap sudut rumah Luciana yang terasa berbeda sore ini. Ia merasa seperti ada seseorang yang saat ini sedang memperhatikannya dari


sudut tergelap rumah Luciana di lantai atas.


-00-


Brakk


            Joey membanting tumpukan buku-buku tebal milik Luciana dengan sengaja ketika ia mendengar Luciana justru sedang asik bercakap-cakap dengan mantan suaminya di ruang tamu. Pria itu dengan gusar memperhatikan setiap interaksi Luciana dan Aaron yang semakin lama semakin membuat hatinya panas karena Luciana tak kunjung mengusir pria itu dan justru mengajaknya mengobrol di bawah sana.


           “Apa ia sengaja ingin membuatku tersiksa seperti ini?” keluh Joey sambil berbaring telentang di atas ranjang lembut Luciana. Pria itu, masih hanya dengan selembar celana pendek yang menggantung di pinggangnya terlihat mulai bosan dan ingin mengusir Aaron dengan caranya sendiri. Ia benar-benar tidak sabar dengan cara kerja Luciana yang justru memancing-mancing pria itu agar tetap mengobrol dengannya tanpa mempedulikan kesakitan yang sedang ia rasakan saat ini.


        “Sial! Berapa lama lagi aku harus menanggung siksaan ini?” umpat Joey kesal. Ia kemudian bangkit berdiri dari posisi rebahannya dan kembali membanting salah satu buku tebal milik Luciana untuk memberikan peringatan pada Luciana jika saat ini ia tengah dilanda rasa sakit yang luar biasa karena ulah wanita itu. Dengan gusar ia kemudian meraih salah satu celana piyama di dalam lemari Luciana, lalu menggunakannya secepat kilat sebelum ia memutuskan untuk turun ke dapur. Ia tiba-tiba merasa haus dan membutuhkan sesuatu untuk mendinginkan tubuhnya. Lagipula baru saja ia mendengar jika Luciana sedang pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman untuk Aaron, sehingga ia bisa menemui wanitanya di sana untuk memberikan peringatan pada wanita itu.


        “Luciana...”


        Luciana terkesiap kaget ketika tiba-tiba Joey muncul di dapurnya sambil meligkarkan salah satu lengannya untuk menarik pinggangnya. Wanita itu dengan gusar segera menyingkirkan tangan berotot itu dari pinggangnya dan mulai berkonsentrasi pada kopi susunya untuk Aaron.


            “Berapa lama lagi aku harus menahan siksaan ini Luc? Kau sengaja melakukannya?”


            “Kenapa kau berisik sekali sekali? Kau sengaja ingin membunuhku dengan sikap kekanakanmu tadi? Jangan membuat keributan lagi dan aku akan membuat Aaron secepatnya pergi dari sini.”


            “Janji?” tanya Joey mesra dengan wajah yang mulai didekatkan kearah Luciana untuk mengecup pipi wanita itu dengan keucupan basah andalannya.


            “Aku janji. Ini tidak akan lama. Kau bisa menjadi pria manis kali ini?” tanya Luciana seperti sedang memperlakukan seorang bocah kecil. Joey mengangguk geli melihat ekspresi Luciana, lalu ia memberikan satu kecupan singkat di bibir Luciana sebelum membiarkan Luciana pergi menemui Aaron.


Plakk


        “Ingat janjimu Luc.” sebelum Luciana pergi, Joey sempat memberikan satu pukulan pelan di pantat Luciana sambil menyeringai seksi. Sedangkan Luciana hanya mendengus sebal sambil memberikan pria itu tatapan tajam

__ADS_1


__ADS_2