
Suho menggandeng tangan Yuri lembut untuk duduk di salah satu kursi kosong yang berada di ujung ruangan. Sejak tadi mereka terus menyapa para tamu hingga kaki mereka merasa lelah karena mereka terus berdiri sambil mengumbar senyum manis mereka pada siapapun yang mereka temui.
“Oppa, apa kau ingin minum? Aku akan mengambil minuman di sana.” tunjuk Yuri pada sebuah meja panjang yang berisi beraneka macam minuman. Lee Suho meneguk ludahnya penuh minat ketika sepasang matanya menatap deretan minuman dingin berbagai warna dengan tampilan yang sangat menggiurkan.
“Tolong ambilkan aku satu, maaf karena aku tidak bisa menemanimu mengambil minuman.”
“Tidak masalah, kau tunggu saja di sini, aku akan segera kembali.”
Yuri beranjak pergi sambil menjinjing tutunya sedikit ke atas. Suho pun menyandarkan punggung lelahnya sambil menatap ratusan tamu undangan yang sedang menikmati hidangan terbaik yang disediakan oleh hotel bintang lima miliknya. Rasanya ia sedikit tidak percaya jika pada akhirnya ia akan menikah dengan seorang wanita seperti Yuri, wanita lembut yang sejak tiga bulan ini sering mengisi hari-harinya.
Perkenalan mereka bermula ketika mereka sama-sama menghadiri sebuah acara amal yang diadakan oleh salah satu badan amal nasional yang berada di Korea. Saat itu Yuri datang sebagai perwakilan dari ayah dan ibunya yang kebetulan tidak bisa hadir. Saat itu mereka sempat mengobrol sebentar karena kedua orangtua mereka ternyata saling mengenal satu sama lain. Lalu tiga hari kemudian orangtua Suho mencoba menjodohkan Suho dengan Yuri karena mereka pikir Suho selama ini tidak pernah menunjukan tanda-tanda jika ia tertarik dengan seorang wanita. Karena terus didesak orangtuanya, akhirnya Suho menyerah dan memilih untuk mengikuti saran dari kedua orangtuanya. Selama tiga bulan Suho mencoba mengenal Yuri lebih dalam dan berusaha untuk menerima Yuri sebagai calon istrinya, meskipun rasanya itu sangat sulit, mengingat hatinya selama ini selalu dipenuhi oleh nama kekasihnya yang sudah lama pergi tanpa memberikan kabar.
“Huh...” Suho menghembuskan napasnya kasar dan mencoba untuk melupakan bayang-bayang sang kekasihnya yang masih terus berputar-putar di dalam kepalanya.
“Lee Suho ssi...”
Suho mendongakan kepalanya dan mematung di tempat ketika ia melihat sosok Irene telah berdiri di depannya dengan gaun berwarna pink segar selutut yang tampak pas di tubuhnya. Wanita itu menggunakan riasan tipis yang terlihat cantik di usianya yang semakin matang. Untuk sesaat Suho cukup terpesona dengan perubahan fisik Irene yang terlihat semakin dewasa dan cantik. Namun kekaguman itu segera lenyap setelah ia melihat sebuah cincin putih bertahtakan berlian kecil yang melingkar di jari manisnya. Dia sudah menikah!
“Shin Irene, apa kabar?”
Irene tersenyum tipis dan mengambil tempat di sebelah Suho yang kosong. Tatapan mata mereka saling beradu satu sama lain dengan kilatan masa lalu yang terlihat membara di kedua mata mereka, karena mereka memiliki masa lalu yang belum terselesaikan!
“Aku sangat baik, long time no see. Aku tak menyangka jika kau akan menikah secepat ini. Aku baru saja kembali dari Amerika, dan aku menerima sebuah kartu undangan yang ditujukan untuk ayahku. Jujur aku merasa terkejut.”
Suho mencoba menelisik ke dalam mata cemerlang Irene yang terlihat dingin. Tatapan mata itu kini benar-benar berbeda dengan tatapan mata Irene yang dikenalnya lima tahun yang lalu.
“Aku memang mengundang perusahaan ayahmu karena beberapa kali kami terlibat kerjasama.” ucap Suho apa adanya.
“Ya aku tahu. Pernikahanmu mengingatkanku pada seseorang, seseorang yang pernah berjanji akan menikahiku dan membuatkanku sebuah pesta yang sangat mewah.” cerita Irene ringan, namun Suho dapat mendengar jelas adanya nada ironi disetiap kalimat yang dilontarkan Irene. Wanita itu jelas-jelas sedang menyindirnya.
“Oh, itu berarti sebentar lagi kau akan menyusulku.”
“Hmm, mungkin.”
Keduanya terdiam cukup lama, saling mengenang masa lalu masing-masing yang penuh kenangan dan penuh kebahagiaan. Namun sayangnya kenangan itu tak bertahan lama dan hanya sebuah kenangan masa-masa remaja yang dipenuhi roman picisan.
__ADS_1
“Oppa, ini minumanmu.”
Irene mendongak dan menatap Yuri yang sedang mengulurkan sebuah gelas berisi cairan berwarna hijau terang yang terlihat sangat menggiurkan. Dengan penuh sukacita Suho menerimanya dan langsung meneguk isinya hingga tandas. Sensasi dingin cairan itu mengalir di tenggorokannya dan berhasil mengurangi ketegangan yang terjadi akibat kemunculan Irene yang tak pernah diduganya.
“Oh maaf, apakah kau salah satu teman Suho oppa?”
Irene tersenyum lembut pada Yuri setelah ia menyunggingkan senyum tipis penuh makna yang dilayangkan pada Suho.
“Ya, aku adalah salah satu teman Suho oppa saat senior high school, lebih tepatnya Suho oppa adalah seniorku. Perkenalkan, aku Shin Irene.” ucap Irene ramah. Suho tampak menatap Irene penuh antisipasi karena ia tahu jika Irene tidak benar-benar ingin berkenalan dengan Yuri, tapi mungkin ingin menghancurkan Yuri.
“Wahhh... aku senang mengenal salah satu teman Suho oppa, aku Kwon Yuri, ah.. tapi sekarang mungkin namaku Lee Yuri.”
Yuri terlihat ramah dan begitu polos di mata Irene, padahal wanita itu sedang berhadapan dengan seorang wanita yang memiliki seribu satu niat busuk di dalam kepalanya untuk menyingkirkan Yuri dari sisi Suho. Apalagi mendengar wanita itu menyebutkan marga barunya, membuatnya merasa ingin benar-benar menyingkirkan Yuri untuk selamanya dari Suho karena seharusnya marga itu tersemat di depan namanya, bukan di depan nama Yuri yang notabenenya adalah wanita ingusan yang baru saja mengenal Suho.
“Nama yang cantik, betapa aku juga sangat menginginkan hal yang sama denganmu.”
“Kau adalah wanita yang cantik, sebentar lagi kau pasti akan segera menyusul kami untuk menikah dan memiliki keluargamu sendiri yang penuh cinta.”
Yuri tampaknya tidak terlalu memahami maksud ucapan Irene sebenarnya, sehingga ia tidak pernah membayangkan jika apa yang dimaksud oleh wanita berwajah tenang di depannya adalah untuk merebut Suho dari sisinya. Tapi berbeda dengan Yuri, Suho sangat tahu apa yang tersirat dibalik kata-kata Irene yang tenang namun penuh dengan maksud terselubung itu, dan sebelum Irene berkata lebih jauh mengenai hubungan mereka di masa lalu, ia harus cepat-cepat menjauhkan Yuri dari Irene.
Yuri melihat arah telunjuk Suho yang sedang menunjuk sepasang pria dan wanita setengah baya dengan stelan mahal yang baru saja masuk ke dalam ball room. Wanita yang ditunjuk Suho tampak tersenyum pada Yuri sambil melambai lembut pada keponakannya yang sedang berbahagia.
“Irene maafkan aku, sepertinya aku harus menemui paman dan bibiku yang baru saja tiba dari Kanada, apa kau tak keberatan jika aku pergi sekarang?”
“Oh tentu, aku sama sekali tidak keberatan, kau harus segera menemui paman dan bibimu serta memberikan pelukan selamat datang pada mereka karena mereka telah tiba dengan selamat di Korea. Dan mengenai pernikahanmu, aku turut bahagia, semoga kehidupan rumah tanggamu berjalan lancar.” ucap Irene terdengar tulus. Yuri menganggukan kepalanya penuh terimakasih dan segera pergi meninggalkan Suho dan Irene yang masih bertahan dengan sinyal-sinyal kebencian di kepala mereka.
“Yuri adalah wanita yang polos dan ceria, terlihat seperti bukan tipemu.”
Suho menatap Irene penuh permusuhan dan jelas tidak suka dengan sikap terang-terangan Irene yang ingin merusak kebahagiaannya dengan Yuri.
“Jangan pernah mengganggu Yuri atau kehidupan rumah tanggaku, karena kupastikan kau akan sangat menyesal jika melakukannya. Aku tidak akan tinggal diam dengan segala kelicikan yang sedang kau pikirkan saat ini.” ancam Suho dengan suara rendah. Irene tersenyum simpul sambil mendorong bahu Suho yang sedikit condong padanya. Ia tidak mau terlihat sedang menggoda suami wanita lain di hari pernikahannya, atau lebih tepatnya belum.
“Apa kau takut dengan kedatanganku ke Korea? Huh, kupikir kau adalah pria tangguh yang penuh keberanian untuk memperjuangkan cintamu, tapi nyatanya kau langsung goyah hanya dengan satu godaan. Jadi kita lihat saja apakah kau bisa menghalangiku untuk menghancurkan rumah tanggamu yang penuh tipuan itu?”
“Kau tidak harus menyeret Yuri ke dalam masa lalu kita karena semuanya telah berakhir. Keputusanmu saat itu untuk meninggalkanku ke Amerika sudah kuanggap sebagai keputusan untuk berpisah, jadi jangan pernah berharap untuk kembali padaku dan melanjutkan kisah cinta yang sudah lama kandas ditelan waktu.”
__ADS_1
Irene mengepalkan tangannya marah di belakang tubuhnya. Pria yang saat ini sedang berdiri di depannya bukan lagi pria penuh cinta yang dikenalnya dulu. Pria itu saat ini telah berubah menjadi orang lain yang jelas-jelas sudah menolak kehadirannya. Pria itu telah melupakan masa lalu mereka dan segala cerita manis yang pernah mereka buat dulu.
“Jadi kau menyalahkanku atas berakhirnya hubungan kita yang tidak jelas ini? Bukankah aku sudah mengatakannya padamu jika aku ingin fokus pada pendidikanku selama di Amerika, kenapa kau tega menyakitiku? Kau membuatku kecewa dengan keputusanmu? Dan diantara kita belum ada kata putus sekalipun, jadi kau masih tetap milikku.”
“Huh, bagiku kepergianmu ke Amerika adalah tanda bagi berakhirnya hubungan kita. Apa kau ingat jika aku pernah mengatakan padamu jika aku tidak bisa menjalin hubungan jarak jauh dengan wanita manapun, jadi jangan pernah berharap untuk kembali lagi padaku setelah apa yang telah kau lakukan selama ini.”
Suho memberikan penekanan pada kalimat terakhirnya sebelum ia berjalan pergi meninggalkan Irene dengan berbagai macam kebencian yang bersarang di hatinya.
“Ini belum berakhir Lee Suho, aku akan membuatmu mencintaiku lagi, bahkan bertekuk lutut untukku.” geram Irene penuh janji sambil menatap punggung tegap Suho yang telah menjauh.
-00-
Irene menatap kosong pada jalanan basah di luar hotel tempat ia menginap. Seorang pelayan dengan seragam hitam putih datang menghampirinya sambil membawa secangkir coklat panas yang tercium begitu harum di indera penciumannya. Irene kemudian mengucapkan terimakasih pada sang pelayan sambil menyunggingkan senyum manisnya yang akhir-akhir ini jarang ia tunjukan pada siapapun.
“Terimakasih.”
Setelah pelayan itu pergi Irene kembali memandang kosong pada pemandangan di luar hotel yang tampak lembab dengan titik-titik air hujan yang masih turun membasahi bumi. Sejenak Irene berpikir jika suasana di luar sangatlah pas untuk berbagi kehangatan dan saling memeluk satu sama lain di atas ranjang.
Lee Suho....
Satu nama itu terlintas di benaknya dengan berbagai macam spekulasi yang bersarang di dalam kepala cantiknya. Sore ini hujan turun membasahi Seoul, dan sore ini acara pernikahan Yuri dan Suho telah selesai dilaksanakan. Irene tiba-tiba merasa ngeri dengan pikirannya yang membayangkan Suho dan Yuri sedang melakukan malam pertama mereka dengan intim di tengah suasana gerimis yang sangat pas di luar sana. Cepat-cepat Irene meraih ponsel putihnya yang tergeletak di atas meja untuk menghubungi seseorang. Ia tidak mau apa yang ia bayangkan menjadi kenyataan. Ia belum siap untuk memberikan Suho pada siapapun. Ia harus melakukan sesuatu.
“Halo, apa kau sudah melakukan apa yang sudah kuperintahkan?”
“............”
“Bagus. Jangan biarkan wanita itu pergi kemanapun, alihkan perhatiannya dan buat ia sibuk, aku akan mengurus sisanya.” ucap Irene puas dengan senyum kemenangan. Saat ini anak buahnya sedang mengurus Yuri yang sedang melakukan paket treatmen yang telah ia siapkan untuk menjauhkan Yuri dari Suho. Dan sekarang adalah saat yang tepat untuk menyeret Suho ke dalam jebakannya.
“Setelah ia rileks, berikan ia obat tidur dengan dosis tinggi, buat ia terus tertidur hingga esok hari.”
“Baik nona, akan saya lakukan.”
Setelah sambungan terputus, Irene segera memasukan ponsel putihnya ke dalam clutch bagnya dan segera pergi menuju president suit room yang berada di lantai teratas hotel yang sedang ia tempati. Ia akan menemui kekasihnya.
“I’m coming for you Lee Suho....”
__ADS_1