Kontratransferensi

Kontratransferensi
I Never Knew I Had a Choice (Thirty Five)


__ADS_3

        “Shit! Kau puas!”


            Joey mendorong tubuh Jihyun keras begitu mereka memasuki ruangannya yang sunyi. Wanita berambut coklat itu lantas tersenyum sinis kearah Joey sambil mencoba untuk membelai wajah Joey, namun tangan kanannya berhasil ditangkis oleh Joey dengan kasar.


            “Sangat puas sayang, aku puas melihat tatapan penuh kesakitannya yang begitu menyedihkan. Itu adalah balasan yang setimpal untuknya karena ia telah menggoda milikku.” ucap Jihyun santai sambil menyilangkan kedua tangannya. Aura keegoisan dan kelicikan terlihat begitu pekat menyelimuti wajahnya yang sedang menyunggingkan senyum kemenangan. Akhirnya ia berhasil membuat Joey bertekuk lutut di kakinya lagi seperti dulu. Dan ini semua berkat kerja kerasnya selama lebih dari satu minggu ini.


            “Kau picik Jihyun! Sangat picik! Aku tidak mengira aku pernah mencintai seorang wanita jahat dan licik sepertimu. Aku menyesal telah menikahimu selama ini.”


            “Ckckckk.. sayang, jangan mengungkit-ngungkit masa lalu yang tidak bisa kau ubah sama sekali. Selamanya kau akan terikat denganku sebagai suamiku, jadi nikmati saja kehidupanmu yang indah ini. Dan kau juga harus ingat jika aku bisa melakukan apapun untuk mencelakai wanita jalangmu itu.” ancam Jihyun sungguh-sungguh. Joey menatap Jihyun tajam dan segera mengusir wanita itu sejauh-jauhnya dari kantornya. Ia benar-benar muak dan benci dengan dirinya sendiri yang selalu tidak berdaya di bawah kuasa Jihyun. Bahkan saat ini pun ia juga tidak bisa berbuat apapun untuk menjauhkan Luciana dari kesedihan yang telah ia janjikan dulu. Justru ia sendiri yang telah membuat wanita itu bersedih hingga hancur berkeping-keping karena perbuatan jahatnya.


            “Keluar dari ruangaku! Dan jangan harap kau akan mendapatkan cintaku seperti dulu, karena semua itu telah mati. Ingat itu baik-baik!” teriak Joey marah. Jihyun hanya menatap sekilas wajah suaminya yang sedang dilingkupi aura gelap dan mengerikan itu. Namun ia tak sedikitpun menunjukan ketakutan. Ia justru menyeringai licik kearah suaminya sambil memainkan kuku merahnya yang cantik dengan wajah sok innocentnya yang membuat Joey muak.


            “Baiklah suamiku, tidak masalah. Asalkan aku tetap memiliki ragamu, itu sudah cukup.” balas Jihyun santai dan segera berjalan pergi meninggalkan ruangan milik suaminya yang panas.


            Suara heels dan lantai keramik putih yang ia pijaki terdengar begitu dominan ketika langkah kaki Jihyun membawa tubuhnya untuk berjalan pergi, keluar dari gedung raksasa milik suaminya. Pandangan matanya yang lurus ke depan, serta dagunya yang terangkat sempurna membuat aura mendominasi yang ia miliki semakin terpancar keluar. Namun dibalik sikap dingin dan sikap liciknya yang tunjukan saat ini, tersembunyi perasaan pedih yang menyayat hatinya. Ia sungguh sakit saat melihat suaminya justru memilih wanita lain yang tidak sebanding dengannya untuk menggantikan posisinya di hatinya. Padahal selama ini ia telah berusaha untuk menjadi wanita yang sempurna di mata suaminya agar pria itu tidak berpaling sedikitpun darinya. Namun karena ambisinya itu, ia justru harus kehilangan cinta suaminya yang begitu besar padanya. Joey lebih memilih wanita lain yang bisa memberikannya kehangatan, bukan memberikannya kesempurnaan. Dan hal itulah yang terus menerus diingat oleh Jihyun hingga rasanya ia ingin meledak. Ia ingin menumpahkan seluruh amarahnya pada semua orang dan


menyalahkan semua orang atas kesialan yang ia alami saat ini. Seharusnya saat itu ia tidak lalai dan menganggap Joey tidak akan pernah berpaling darinya, karena kenyataanya pria tetaplah pria. Mereka tidak bisa hanya diberikan


kesempurnaan, tapi lebih dari itu, mereka membutuhkan kehangatan. Mereka membutuhkan perasaan dihormati, dan mereka membutuhkan perasaan dihargai. Hal itulah yang mungkin tidak suaminya dapatkan darinya, sehingga pria itu memilih untuk berpaling pada wanita lain yang sebelumnya adalah konselornya sendiri.


Trekk


            Jihyun menghentikan langkahnya di depan lift ketika heels sepuluh sentinya menginjak sesuatu dan hampir saja membuatnya terjatuh karena tidak seimbang. Namun sebelum hal itu terjadi, ia cepat-cepat berpegangan pada pinggiran lift sambil memungut benda putih panjang yang saat ini tengah terinjak oleh heels hitamnya


            “Ini... pasti milik jalang itu.” gumam Jihyun kecil sambil menatap test pack putih yang menampilkan dua garis merah di layarnya. Sekarang ia benar-benar merasa tak memiliki harapan lagi untuk kembali mendapatkan cinta dari suaminya, karena jika pria itu tahu yang sebenarnya, ia jelas-jelas akan langsung dibuang begitu saja dari kehidupannya. Sejujurnya tak ada alasan sedikitpun bagi pria itu untuk memperhatankannya karena ia jelas-jelas tidak akan memberikan apapun untuk pria itu. Sedangkan Luciana, wanita itu telah berhasil memberikan kehangatan, kebahagiaan, dan sekarang seorang keturunan. Luciana telah berhasil mewujudkan keinginan terbesar suaminya untuk menjadi seorang ayah. Jadi ia sebenarnya telah kalah telak dari wanita itu, kecuali dalam satu hal. Kelicikan! Wanita itu jelas tidak memiliki kelicikan yang sama seperti dirinya, sehingga ia dapat memanfaatkan kelicikan yang ia miliki untuk tetap mempertahankan Joey di sisinya.


-00-


            “Arrghhh sialan! Brengsek!”


Braakkk


Prangg


Pyarr

__ADS_1


            Joey mengamuk membabi buta dan menyapu habis seluruh barang-barangnya di atas meja hingga hancur berkeping-keping di atas lantai. Seluruh berkas-berkas penting, ponsel, dan seluruh barang-barang berharganya ia sapu bersih dari atas mejanya hingga meja itu benar-benar kosong dan bersih. Pria itu kemudian mendudukan


dirinya kasar di atas kursi kebesarannya sambil memijit pelipisnya yang terasa berdenyut sakit saat ini. Sungguh hatinya merasa sakit saat melihat Luciana dengan penuh luka menangis di depannya dan menatapnya dengan tatapan sengit yang dipaksakan. Kata-katanya hari ini, pasti telah menyakiti wanita itu dengan sangat dalam. Namun semua ini harus ia lakukan jika ia tidak ingin wanita itu terluka. Semalam Jihyun mengancamnya. Setelah wanita itu menunjukan foto-foto bukti perselingkuhannya, wanita itu mengancam akan membunuh Luciana jika ia tidak menuruti keinginannya untuk menjauh dari wanita itu. Akhirnya dengan terpaksa ia menyetujui permintaan Jihyun untuk menjauhi Luciana dengan syarat, wanita itu tidak akan mengusik kehidupan Luciana yang damai. Sayangnya menjauh dari kehidupan Luciana bukanlah sesuatu yang mudah. Ia terlanjur terbiasa dengan kehidupan bersama Luciana, sehingga semua ini juga sangat menyakitkan untuknya. Ia sakit saat melihat Luciana terduduk kaku di atas lantai sambil mencengkeram perutnya. Ia sakit saat melihat Luciana merintih kesakitan. Dan ia


sakit saat ia tidak bisa membela wanita itu di depan orang-orang yang memberikan tatapan mencemooh padanya. Andai waktu dapat diputar, ia tidak ingin datang ke kantor Luciana untuk melakukan sesi konseling, dan ia tidak ingin mengenal Luciana agar ia tidak perlu menyakiti hati wanita yang sangat tulus mencintainya itu.


            “Aaarrgghh sialan!”


Brakk


            Joey melemparkan satu lagi barangnya yang telah lama ia sembunyikan di dalam laci mejanya sejak ia mulai mengenal Luciana dan mencintai wanita itu, foto pernikahannya dengan Jihyun.


            “Joey? Astaga!”


            Spencer melongok dari ambang pintu dan langsung terlihat syok ketika melihat ruangan milik sahabatnya yang terlihat hancur seperti baru saja diterjang oleh angin topan yang dahsyat. Melihat Joey yang sedang dilanda kekacauan itu membuat Spencer prihatin dan memutuskan untuk masuk kedalam untuk menenangkan hati sang sahabat yang sedang dilanda kekacauan.


            “Kau memiliki masalah? Dengan Jihyun?” tanya Spencer terdengar bodoh. Seharusnya sebagai seorang sahabat ia sudah bisa menebaknya karena Joey tidak pernah terlihat sekacau ini jika bukan karena Jihyun penyebabnya.


            “Wanita itu benar-benar picik. Ia sengaja mengancam akan melukai Luciana jika aku kembali berselingkuh darinya. Dan karena ancamannya itu, hari ini aku harus mengakhiri hubunganku dengan Luciana. Bisa kau bayangkan bagaimana terlukanya dia saat aku mengatakan kalimat laknat itu padanya. Aku sakit Spenc! Bukan


            “Setelah mendengar cerita darimu, aku justru merasa bingung sekarang. Menurutmu aku harus berdiri dimana? Di sisimu, Jihyun, atau Luciana? Kalian bertiga sama-sama memiliki sisi positif dan negatif kalian masing-masing, jadi aku sama sekali tidak memiliki solusi untuk kalian.”


            “Kau tidak perlu berdiri di pihak manapun Spenc, hanya keluarkan saja pendapatmu untuk masalahku. Cepat atau lambat aku jelas akan mengambil tindakan tegas untuk menghentikan Jihyun dari rencana gilanya. Namun untuk saat ini aku masih belum bisa, karena aku perlu mempersiapkan banyak hal untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Aku harus memastikan Luciana dalam keadaan aman disaat aku akan memberikan pelajaran untuk Jihyun. Wanita itu sekarang telah berubah menjadi lebih berbahaya dari yang kukenal dulu. Ia bisa melakukan apapun untuk menghancurkan Luciana. Termasuk melaporkan Luciana pada dewan elit di kantornya agar mencabut hak praktiknya dan juga jabatannya saat ini.”


            “Wow, aku tidak menyangka jika semua ini menjadi serumit itu. Kupikir selama ini Jihyun adalah wanita yang manja dan tak sekuat yang kau katakan barusan.


            “Aku juga tidak menyangka Spenc. Ia sepertinya telah mengetahuinya sejak lama, tapi ia selalu berpura-pura tidak tahu selama ini. Kemarin ia menunjukan padaku foto-foto lamaku saat bersama Luciana dan beberapa foto baruku bersama Luciana yang baru diambil kemarin siang. Jadi menurutku selama ini ia telah mengetahuinya, hanya saja ia selalu bersabar demi keberhasilan rencananya yang licik.”


           Joey mengacak frustrasi rambutnya, lalu menyilangkan tangannya angkuh sambil berpikir keras untuk menghentikan rencana Jihyun. Mungkin langkah pertama yang harus ia ambil saat ini adalah menempatkan beberapa anak buahnya untuk mengawasi Luciana. Ia harus selalu memastikan Luciana aman sebelum ia melangkah menuju rencana berikutnya.


            “Jujur, aku merasa kasihan pada Luciana yang harus terkena imbas dari permasalahan rumah tanggamu dan Jihyun. Di satu sisi Luciana adalah korban, namun di sisi lain ia juga menjadi tersangka karena ia telah terlibat dalam hubungan terlarang yang seharusnya tidak terjadi diantara kalian. Menurutku jika kau bisa menemui Luciana secara diam-diam, kau harus menjelaskan semua permasalahan ini padanya agar ia tidak perlu menanggung rasa sakit yang telah kau torehkan padanya. Setidaknya kau harus memutuskan hubungan kalian dengan alasan yang lebih logis agar ia tidak terus berprasangka buruk padamu. Dan untuk Jihyun, kau harus lebih berhati-hati padanya karena ia tipe wanita yang nekat.”


            “Aku tidak bisa bertemu dengan Luciana, karena Jihyun telah menempatkan banyak mata-mata di sekitarku. Mungkin kau yang selama ini selalu baik di depanku, adalah salah satu mata-mata yang digunakan oleh Jihyun untuk mengorek kehidupanku lebih jauh.”


            “Kenapa kau berpikiran seperti itu?” tanya Spencer terlihat tersinggung. Pria bergusi pink itu langsung mengernyit tidak suka sambil mendengus sebal. Tujuannya datang ke ruangan Joey pagi ini bahkan telah dilandasi oleh niat tulus untuk membantu sahabat baiknya agar dapat keluar dari masalahnya. Dan dengan teganya Joey

__ADS_1


justru menuduhnya sebagai salah satu mata-mata yang dibayar oleh Jihyun. Hebat!


            “Jangan tersinggung. Apapun bisa terjadi Spenc. Jika kau melihat foto-foto yang Jihyun berikan padaku, sebagian foto-foto itu diambil saat aku berada di sebuah privat room di sebuah restoran atau saat aku berada di rumah Luciana. Entah bagaimana Jihyun mendapatkannya, tapi ia benar-benar pintar dalam mengungkap sebuah


kebohongan yang selama ini telah kututupi dengan rapat.”


            “Baiklah, aku akan berpura-pura tidak tersinggung dengan tuduhanmu. Tapi aku ingin tahu, bagaimana perasaanmu pada mereka saat ini? Bagaimana perasaanmu untuk Jihyun dan bagaimana perasaanmu untuk Luciana? Mana yang lebih kau pilih diantara keduanya?”


            Joey terdiam sejenak setelah mendapatkan pertanyaan yang cukup rumit dari Spencer. Sebenarnya ia telah memiliki jawaban yang mantap untuk pertanyaan itu. Hanya saja ia merasa jawaban itu akan terdengar sangat tidak bijaksana untuk dikatakan. Ia jelas memilih Luciana. Namun ia tidak bisa melupakan Jihyun begitu saja setelah lebih dari empat tahun mereka hidup bersama dalam sebuah ikatan pernikahan. Tanpa sadar Joey meraba dada kirinya untuk merasakan detak jantungnya yang akan berpacu cepat setiap kali ia memikirkan Luciana. Hatinya


yang selama ini beku, perlahan-lahan mulai menghangat karena sikap Luciana selama ini. Luciana adalah wanita pertama yang membuatnya sadar jika ia adalah seorang kepala keluarga yang seharusnya dihormati. Dan Luciana jugalah yang memberikan perhatian tulus ketika ia sedang membutuhkan teman untuk mencurahkan seluruh permasalahannya. Meskipun saat itu Luciana melakukannya karena tuntutan pekerjaan. Namun semakin lama peran Luciana sebagai seorang konselor tidak lagi mendominasi. Perhatian Luciana menjadi lebih tulus dan intens di minggu ke dua pasca perkenalan mereka. Dan perlahan-lahan cintanya untuk Jihyun mulai luntur begitu saja karena ketulusan yang diberikan oleh Luciana selama ini.


            “Menurutmu? Kurasa tanpa bertanya sekalipun, kau telah mengetahui jawabannya dude.”


            “Memang, tapi aku hanya ingin memastikan dari mulut besarmu sendiri. Kau lebih memilih Jihyun atau Luciana?”


            “Luciana.” jawab Joey tegas. Spencer refleks menghembuskan napas berat sambil menggerak-gerakan jari telunjuknya kearah Joey seperti seseorang yang sedang memberikan tuduhan.


            “Sudah kuduga. Luciana memang wanita yang saat ini berada di hatimu.”


            “Kurasa hubunganku dengan Jihyun tidak bisa dipertahankan lagi. Kami sudah benar-benar menjauh satu sama lain semenjak ia memutuskan untuk berkarir dan mulai mengabaikan keberadaanku. Aku ingin menceraikan Jihyun.”


            “Apa? Kau gila! Kau tidak bisa mengambil keputusan sepihak seperti itu dan merugikan


Jihyun. Meskipun aku tahu bagaimana sikap Jihyun selama ini, tapi bukan berarti kau bisa mengambil keputusan gegabah untuk menceraikannya saat ini. Apa yang dilakukan Jihyun pada Luciana saat ini adalah akibat dari perbuatanmu, jika kau tidak bermain api di belakangnya, maka ia tidak akan mengambil tindakan nekat untuk mencelakai Luciana. Pikirkanlah alasan yang lebih logis untuk menceraikan Jihyun? Setidaknya kau jangan menambah daftar musuh yang nantinya justru akan mengusik kehidupanmu bersama Luciana, jika pada akhirnya kau memutuskan untuk hidup bersama Luciana.”


            Joey menggeleng-gelengkan kepalanya pusing dan hanya mampu bersandar pada kursinya dengan perasaan bimbang. Apa yang dikatan Spencer padanya barusan memang benar, ia seharusnya tidak langsung mengambil keputusan sepihak untuk menceraikan Jihyun. Tapi melihat bagaimana kelakuan Jihyun akhir-akhir ini membuatnya geram dan juga kesal. Wanita itu, meskipun ia tahu jika suaminya telah berselingkuh, tapi ia tidak mencoba untuk introspeksi diri atas seluruh kesalahannya. Ia justru sibuk mencari-cari kesalahan orang lain dan melakukan banyak rencana jahat untuk menyakiti orang lain yang sebenarnya hanya korban dari perbuatannya yang egois selama ini. Jadi Joey merasa sudah benar-benar jengah dan tidak memiliki jalan lain selain akan menceraikan Jihyun untuk bisa hidup bersama Luciana. Sekali-sekali ia ingin egois untuk kebahagiaannya sendiri. Lagipula Tuhan hanya memberikannya hidup sekali, akan sangat disayangkan jika ia tidak memanfaatkannya dengan baik. Dan lagi, saat ini ia sangat berharap pada Tuhan supaya Luciana tiba-tiba mengandung anaknya, agar ia semakin memiliki alasan yang logis untuk menceraikan Jihyun.


            “Hey, bagaimana? Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?”


            “Aku tidak tahu.” jawab Joey frustrasi. Kentara sekali jika pria itu saat ini sedang bimbang dengan segala permasalahan hidupnya yang pelik. Belum lagi ia harus segera menyelesaikan tugas-tugasnya yang menumpuk karena perusahaanya bulan depan akan melakukan ekspansi ke negara Amerika Selatan dan beberapa negara terpencil di sana agar maskapai penerbangannya semakin berkembang pesat. Sayangnya saat ini moodnya untuk menyelesaikan tugas-tugas itu telah menguap bersama dengan kepergian Luciana dari kantornya. Bahkan ia sendiri tidak yakin apakah ia bisa segera melanjutkan pekerjaanya yang tertunda atau tidak karena seluruh berkas-berkasnya kini telah berceceran di atas lantai bersama dengan ponsel yang hancur, laptop yang hancur, dan berbagai barang-barang elektroniknya yang penting.


            “Kurasa saat ini aku akan menyelesaikan masalah perusahaanku terlebihdahulu. Lihat, aku justru semakin memperparah masalahku dengan menghancurkan mereka semua.” tunjuk Joey pada barang-barangnya yang tergolek tak berdaya di atas lantai. Spencer yang melihat itu hanya tersenyum miris kearah sahabatnya, ia lalu memberikan tepukan kecil sebagai bentuk penyemangat agar sahabatnya itu senantiasa diberi kesabaran untuk seluruh masalahnya.


            “Selamat bekerja bung, aku akan mendukungmu dari belakang.”

__ADS_1


__ADS_2