
Donghae bersandar pada sandaran blangkar sambil menatap nyalang pada pemandangan membosankan di depannya. Sudah tiga hari ini ia dirawat di rumah sakit, dan ia merasa bosan. Selama ini ia tidak pernah mengalami sakit parah yang mengharuskannya berbaring seperti orang lumpuh di rumah sakit, sehingga pengalamannya kali ini benar-benar membuatnya bosan dan ingin segera kembali beraktivitas dengan segala kesibukannya yang melelahkan.
“Kapan aku bisa keluar dari tempat terkutuk ini?” tanya Donghae dingin pada Henry ketika dokter pribadinya datang untuk mengecek keadaanya pagi ini.
“Kau bisa pulang jika keadaanmu sudah benar-benar baik. Lagipula kenapa kau tidak nikmati saja waktu santaimu di sini. Bukankah selama ini kau jarang mengambil libur?” ucap Henry santai. Donghae sudah terlihat bersungut-sungut dan ingin melempar Henry dengan vas bunga agar kepala pria itu dapat berpikir dengan jernih.
“Sialan kau! Kau pikir aku suka mengambil liburan dengan terjebak di tempat seperti ini, lebih baik aku menghabiskan waktuku untuk menangani puluhan proyek daripada harus bertingkah seperti pria cacat seperti ini.”
“Santai Hae, kau benar-benar seperti wanita PMS. Ngomong-ngomong bagaimana dengan penjahat-penjahat yang menembakmu kemarin, apa mereka sudah tertangkap?” tanya Henry mengganti topik. Setelah pria itu menuliskan hasil pemeriksaannya, ia memutuskan untuk mengambil tempat di sebelah Donghae untuk sedikit bercakap-cakap dengan Donghae terkait pelaku penembakan yang berbuat ulah di dalam bar milik sahabatnya itu.
“Para ******** itu, tentu saja mereka sudah membusuk di penjara. Anak buahku sudah membereskan mereka saat itu juga. Ternyata mereka hanyalah kumpulan orang-orang miskin yang ingin mengeruk sedikit hartaku. Sayangnya salah satu dari mereka melakukan hal bodoh dengan melepaskan tembakan asal-asalan yang berakhir dengan bersarangnya peluru mereka di dadaku, sehingga mereka tidak jadi mendapatkan apapun selain kesengsaraan di dalam penjara karena aku telah mengerahkan seorang pengacara terbaik agar mereka, para ******** itu, benar-benar membusuk di penjara. Dan sejujurnya dengan adanya insiden itu aku juga dapat mengetahui topeng kebusukan Lee Jonghyun, karena ternyata dia benar-benar rekan bisnis yang sangat mengecewakan. Aku sudah menyebarkan berita kebusukannya pada seluruh pebisnis di Korea, kujamin setelah ini dia tidak akan mendapatkan proyek apapun dari mereka.” ucap Donghae berapi-api dengan seringaian licik di wajahnya.
Henry memandang sahabatnya dengan perasaan ngeri yang tiba-tiba menguar dari tubuhnya. Tak bisa ia pungkiri jika Donghae adalah seorang pebisnis yang sangat berpengaruh di Korea dan di beberapa negara lain di luar negeri. Berani berbuat macam-macam dengannya, maka sama saja menggali kuburanmu sendiri. Tapi yang tak habis pikir, kenapa ia bisa menjalin persahabatan dengan Donghae? Kenapa ia bisa bertahan bersama dengan seorang teman yang sangat kejam dan berkuasa seperti Lee Donghae?
“Hey, apa kau mendengarkanku?”
“Apa?”
Henry berseru bingung sambil menatap Donghae tak mengerti. Pria itu tampak meringis kecil sambil meminta Donghae untuk mengulangi ucapannya.
“Ck, dasar! Jadi begini, selama aku dirawat di rumah sakit, tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Aku merasa, aku tidak bisa hidup dengan pola seperti ini seumur hidupku. Meskipun aku sebenarnya sangat menikmati kehidupanku ini, tapi ada saatnya aku membutuhkan seseorang untuk berdiri di sampingku dan menjadi pewaris dari semua asetku. Aku ingin memiliki seorang anak.”
“Apa! Kau ingin memiliki seorang anak? Lelucon macam apa ini. Bukankah selama ini kau selalu bangga dengan gelar bujangan paling diinginkan di Korea, kupikir kau tidak akan pernah berpikir untuk menikah dan memiliki anak-anak yang lucu untuk menemani masa tuamu. Apa kau baru saja mengalami cedera kepala?” tanya Henry dengan gelak tawanya yang menyebalkan. Rasanya kedua tangan Donghae sudah gatal untuk menghajar wajah Henry yang kurangajar itu. Tapi sayangnya saat ini ia sangat membutuhkan bantuan Henry. Hanya Henry yang bisa mewujudkan keinginannya untuk mendapatkan seorang anak yang dapat meneruskan perusahaanya.
“Memangnya apa salahnya jika memiliki seorang anak. Sekarang usiaku sudah tiga puluh delapan tahun, sudah sepantasnya aku memikirkan untuk memiliki seorang penerus. Dan ngomong-ngomong soal menikah, aku sama sekali tidak berniat untuk menikah, karena aku hanya menginginkan seorang anak.”
“Lalu bagaimana caranya kau akan memiliki anak jika kau tidak menikah? Apa kau ingin melahirkan anakmu sendiri.” ucap Henry tak habis pikir. Donghae mendengus kesal di sebelah Henry dan mulai meragukan kemampuan sahabatnya yang seharusnya berotak jenius itu.
“Kupikir kau benar-benar dokter yang sangat bodoh! Kau, carikan aku seorang wanita yang bisa menampung benihku dan melahirkan anakku! Kau bisa menggunakan teknik inseminasi buatan pada wanita itu, sehingga aku tidak perlu menghamilinya apalagi menikahinya untuk memiliki anak.”
“Kau gila! Kau pikir di dunia ini ada wanita yang seperti itu. Jika kau menginginkan wanita yang tidak mau kau nikahi tapi bersedia mengandung anakmu, kau hanya akan mendapatkan seorang ******* yang tak berkualitas. Mereka tidak akan bisa melahirkan seorang keturunan Lee yang benar-benar sesuai dengan keriteriamu.”
__ADS_1
“Maka dari itu aku memintamu untuk mencarikanku wanita baik-baik. Aku tidak mau anakku lahir dari seorang *******. Aku hanya ingin anakku lahir dari seorang wanita baik-baik dan masih suci.” ucap Donghae dengan nada ponggah. Mendengar hal itu rasanya Henry sudah ingin mengangkat tangannya untuk menyerah. Lagipula kemana ia harus mencari wanita baik-baik yang hanya bersedia untuk menjadi wadah bagi penerus seorang Lee Donghae. Di dunia ini tidak ada wanita yang mau diperlakukan dengan tidak terhormat seperti itu. Bahkan meskipun Donghae berani membayar dengan harga tinggi sekalipun, ia tidak yakin jika ada seorang wanita yang bersedia melakukan hal itu untuk Donghae.
“Aku tidak yakin apakah aku bisa menemukan wanita seperti itu atau tidak. Lagipula kenapa kau tidak mencoba untuk membangun sebuah rumah tangga? Kupikir itu akan bagus untuk dirimu dan bisa mengatasi rasa kesepianmu selama ini. Jika kau memiliki istri, kau akan disambut dengan penuh cinta setelah pulang kerja, kau juga akan dilayani setiap saat. Aku yakin kehidupanmu akan jauh lebih indah jika kau memiliki seseorang yang akan selalu berada di sisimu. Kau pasti akan bahagia, Hae.” ucap Henry sungguh-sungguh. Namun ucapan Henry itu justru membuat wajah Donghae kian murung dan mendung. Pria itu jelas tidak suka dengan nasihat yang diberikan oleh Henry.
“Kehidupan seperti itu hanya akan kau temukan di dalam buku dongeng anak-anak. Bahkan ayahku yang sangat hebat itu, tidak mampu mewujudkannya dengan segala kekuasaan yang ia miliki. Saat aku berusia empat tahun, ibuku pergi meninggalkan ayahku dengan pria lain yang merupakan cinta sejatinya. Wanita brengsek itu
meninggalkanku sendirian dengan luka menganga dan hati penuh kebencian pada sosok yang dinamakan ibu. Bahkan sampai sekarang aku berharap untuk tidak pernah mengetahui ibuku jika wanita itu hanya datang untuk membawa kebencian di hatiku.”
Donghae menceritakan masa kecilnya yang menyakitkan dengan aura menyeramkan yang menguar dari dalam dirinya. Setiap masa lalu menyakitkan yang ditorehkan ibunya benar-benar telah mengubah sosok polos anak kecil yang suci menjadi sosok anak kecil yang penuh dendam. Bahkan Donghae saat berusia tujuh tahun sudah berambisi untuk membunuh ibu kandungnya. Tapi keinginan itu berhasil ia cegah karena pengasuhnya yang sangat baik hati senantiasa memberinya nasihat untuk menjadi pria yang baik. Meskipun pada akhirnya ia tetap tumbuh menjadi pria brengsek, tapi setidaknya ia belum membunuh ibu kandungnya, meskipun ia sangat ingin melakukannya.
“Pengalaman masa kecilmu mungkin memang tidak menyenangkan. Tapi kenapa kau tidak mencobanya sekali untuk membuktikan sugestimu itu jika wanita adalah makhluk yang jahat, bukan makhluk yang membawa cinta. Kupikir kehidupanmu tidak akan sama dengan ayahmu. Kau membawa garis takdir sendiri dari Tuhan.” nasihat Henry bijak. Tapi sepertinya Donghae sudah benar-benar menutup hatinya dan memilih untuk tidak mendapatkan nasib sial seperti ayahnya, meskipun hal itu belum tentu akan terjadi pada dirinya.
“Terserah apa katamu, tapi aku benar-benar tidak ingin memiliki ikatan dengan wanita manapun. Dan yang kuinginkan saat ini hanyalah seorang putra yang dapat mewarisi semua aset-aset milikku. Jadi apa kau bisa melakukannya?”
Henry menghembuskan nafasnya pelan dan akhirnya ia mengangguk. Persahabatannya dengan Lee Donghae sudah lama terjalin, dan ia tidak mungkin bisa mengabaikan keinginan Donghae begitu saja. Bagaimanapun pria itu sudah banyak membantunya, dan ia merasa harus membalas kebaikan Donghae salama ini.
“Aku akan mencobanya. Beristirahatlah, aku akan datang lagi pukul tujuh untuk mengecek kondisimu.” ucap Henry pelan sebelum pergi meninggalkan Donghae sendiri di dalam kamarnya dengan segala kebosanan yang mencekik sang penghuni kamar.
“Tunggu!”
“Kau dokter kandungan, bukan? Kenapa kau bisa menjadi dokter pria itu?”
“Aku dokter pribadinya. Hal seperti itu bisa dilakukan di rumah sakit ini asalkan pihak yang menginginkan dokter untuk menjadi dokter pribadinya telah menandatangi surat kuasa berstampel hukum. Sudah bertahun-tahun aku menjadi dokter pribadi Donghae. Jadi apapun penyakit yang diderita Donghae, aku adalah dokter utama yang akan menanganinya. Dan jika ia membutuhkan penanganan dokter lain, aku yang akan merekomendasikan dokter lain padanya.”
Luciana mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. “Kau bisa lanjutkan ceritamu sekarang.”
Donghae berjalan terburu-buru ke dalam rumah sakit setelah ia mendapatkan panggilan dari Henry terkait wanita yang akan mengandung anaknya. Ini sudah seminggu sejak ia keluar dari rumah sakit dan akhirnya Henry mengabarkan jika ia telah menemukan wanita yang tepat untuk menjadi ibu dari anaknya. Ia pun segera datang ke rumah sakit meskipun ia tengah berada di dalam meeting penting dengan kliennya. Lagipula yang terpenting saat ini adalah calon keturunannya, meeting dan uang miliaran won tidak akan ada gunanya jika ia tidak memiliki penerus untuk mewarisinya.
“Dimana wanita itu?”
Donghae langsung menyerbu masuk ke dalam ruangan Henry dan memberondong pria itu dengan pertanyaannya yang bernada kaku dan dingin. Henrypun menatap Donghae dengan sedikit gusar dan menyuruh Donghae untuk duduk terlebihdahulu sebelum mengatakan berita gembira yang dibawanya.
__ADS_1
“Duduklah, ada banyak hal yang ingin kuberitahu padamu.”
Donghae pun segera mengambil tempat di depan Henry dengan wajah tak sabar yang tercetak jelas di wajahnya.
“Jadi dimana wanita itu? Aku ingin melihatnya.”
“Tenanglah Hae, aku pasti akan membawamu untuk melihat calon ibu dari anakmu. Tapi sebelum kau melihatnya, kau harus mendengarkan semua penjelasan yang akan kupaparkan padamu setelah ini. Penjelasan ini akan berguna untukmu selama kau menjaga ibu dari anakmu, jadi kau harus mendengarkannya baik-baik.”
“Cepat jelaskan, aku tidak punya banyak waktu.”
Henry mulai membuka map biru yang berisi data-data milik wanita yang akan mengandung anak Donghae. Semua data yang berada di dalam map itu merupakan data yang telah ia kumpulkan selama seminggu ini. Mulai dari riwayat kesehatan, riwayat kesuburan, dan riwayat trauma yang mungkin dialami oleh wanita itu. Dan setelah memeriksanya, Henry merasa yakin jika wanita itu adalah wanita yang tepat untuk mengandung penerus Lee Donghae.
“Jadi aku telah melakukan pemeriksaan padanya selama seminggu ini, dan dari hasil pemeriksaan yang kudapatkan, wanita ini sangat sehat secara fisik dan psikis, ia hanya memiliki penyakit darah rendah ringan yang tidak akan berpengaruh banyak terhdapa dirinya jika ia mengandung. Dan yang terpenting ia juga masih perawan, ia belum tersentuh oleh pria manapun, jadi kupikir dia sangat cocok untuk menjadi ibu dari anakmu Hae.”
Donghae mengangguk-anggukan kepalanya mengerti dan mulai terlihat serius untuk mendengarkan penjelasan lebih lanjut dari Henry.
“Dimana kau menemukan wanita itu? Siapa namanya dan bagaimana keluarganya. Apa ia akan bersedia begitu saja untuk mengandung anakku?” tanya Donghae bertubi-tubi. Henry terlihat bingung untuk menjawab pertanyaan Donghae karena pria itu langsung membombardirnya dengan beberapa pertanyaan sekaligus.
“Sebenarnya aku baru mengetahui namanya dua hari yang lalu setelah ia benar-benar sadar dari masa kritisnya. Wanita itu kutemukan tergeletak di pinggir jalan dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Wajahnya pucat dan ia hampir mati membeku di tengah cuaca Korea Selatan yang sangat ekstrim. Ia bernama Im Yoona dan wanita itu berumur delapan belas tahun.”
“Sialan kau! Kau ingin membuatku terlihat seperti pedofil ******** yang menghamili seorang gadis ingusan. Aku tidak mau jika wanita itu yang akan menjadi ibu dari anakku, cari saja wanita lain.” tolak Donghae mentah-mentah. Henry mengerutkan alisnya kesal sambil memandang Donghae tidak setuju. Mencari wanita dengan kriteria tinggi seperti permintaan Donghae sangat sulit. Dan mendapatkan Yoona sebagai satu-satunya kandidat yang akan mengandung anak Donghae merupakan sebuah keajaiban yang mungkin tidak akan pernah ia temukan di lain waktu, jadi mau tidak mau Donghae memang harus menerimanya.
“Dia adalah satu-satunya wanita yang memenuhi kriteria yang kau buat, jadi terima saja. Toh gadis muda atau tua sama saja, yang penting mereka bisa mengandung anakmu dengan selamat hingga waktu persalinan tiba. Jadi terima saja wanita itu. Lagipula ia juga memiliki wajah manis dan mata bulat yang cantik, anakmu pasti akan terlahir dengan wajah sempurna yang diwarisi dari kedua orangtuanya.” ucap Henry setengah memaksa.
Donghae mendengus kesal dengan penawaran dari Henry yang cukup menggiurkan itu. Meskipun ia memang tidak setuju dengan gadis itu, tapi apa yang dikatakan oleh Henry benar. Usia bukanlah alasan untuk menolak wanita itu, selama ia bisa hamil dan melahirkan anaknya, maka semuanya tidak jadi masalah. Sekarang yang harus ia pastikan adalah, apakah gadis itu bersedia untuk mengandung anaknya?
“Baiklah, kurasa usia bukan masalah. Lalu apakah ia bersedia untuk mengandung anakku? Jika kau sudah memanggilku untuk datang, seharusnya wanita itu benar-benar bersedia. Aku tidak menerima penolakan atau harapan palsu.” ucap Donghae ketus.
“Aku.... belum menanyakan hal itu secara langsung, tapi sepertinya ia akan setuju. Ia wanita sebatang kara yang tidak memiliki tempat tinggal. Kemarin saat aku datang untuk menanyakan beberapa hal pribadi, ia tampak begitu gelisah dengan kehidupannya karena ia tidak memiliki uang sepeserpun untuk hidup. Bahkan ia sempat memohon padaku untuk membiayai biaya rumah sakitnya terlebihdahulu dan ia berjanji akan menggantinya setelah ia mendapatkan pekerjaan. Tapi aku belum mengiyakan permintaanya karena kurasa hal itu akan sangat berguna untuk rencanamu mendapatkan keturunan, jadi bagaimana? Apa kau bersedia menggunakan wanita itu dan menampungnya?”
Donghae bangkit dari tempat duduknya sambil menatap Henry dengan sikap congkak.
__ADS_1
“Aku ingin melihat wanita itu terlebihdahulu. Aku tidak mau membeli kucing dalam karung.” ucap Donghae penuh kuasa dan langsung dibalas Henry dengan anggukan meyakinkan.
“Aku akan mengantarmu untuk melihatnya sekarang.”