Kontratransferensi

Kontratransferensi
Kontratransferensi Case One: The Whispers (Fourty Two)


__ADS_3

            “Kuucapkan selamat datang di Hallym Hospital, dokter Luciana. Aku senang akhirnya kau dapat bergabung bersama kami di sini.”


            “Ah... kau terlalu berlebihan dokter Oh, justru aku yang seharusnya berterimakasih karena kau masih memberikanku kepercayaan untuk berkarir di sini.”


            “Aku percaya bahwa kau memiliki kemampuan yang sangat baik di bidang konseling. Dan karena Joey adalah sahabat baikku, aku merasa yakin jika kau adalah orang yang tepat, dokter Luciana. Mari kuantar ke ruangan barumu.”


            Aku tersenyum lembut pada dokter Oh Sehun dan segera mengikuti langkah kakinya menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang cukup ramai hari ini. Tepat satu tahun enam bulan aku beristirahat dari dunia konseling. Rasanya ini masih seperti mimpi karena akhirnya aku dapat kembali ke duniaku yang sesungguhnya. Dunia yang penuh dengan masalah, namun dunia yang mengasikan. Tentu saja kalian masih ingat dengan kisahku, aa... maksudku tentang kehancuran karirku karena aku terlibat skandal perselingkuhan dengan CEO perusahaan penerbangan paling disegani di Seoul. Sejak berita itu terkuak, kariku yang selama ini cemerlang, hancur begitu saja tanpa sisa. Aku dipaksa untuk meninggalkan rutinitasku sebagai konselor dan hanya menjadi ibu rumah tangga di dalam istana megah milik Joey. Awalnya aku merasa itu menyenangkan. Tidak bisa kupungkiri jika aku sangat menikmati peranku sebagai ibu rumah tangga untuk mengurus dua anakku, Aleyna dan Lucas, lalu tentu saja ayah dari anak-anakku, Joey. Tapi dua bulan terakhir ini aku merasa aneh dengan hidupku. Aku mulai merindukan saat-saat aku menjadi konselor dan bertemu dengan pasien-pasienku yang aneh. Lalu aku mulai merengek-rengek pada Joey untuk menggunakan kekuasaanya agar aku dapat kembali berkarir setelah semua masalah yang dulu menimpaku berakhir. Dan setelah melalui serangkaian negosiasi yang alot dengan Joey, akhirnya suami tampanku itu mengijinkanku untuk kembali menjadi konselor. Namun kali ini aku tidak bekerja di bawah naungan biro konsultasi milik negara, melainkan di sebuah rumah sakit milik salah satu rekan Joey oppa yang sangat baik hati karena mau menerimaku setelah aku pernah tersandung beberapa skandal yang sangat mencoreng nama baik siapapun, khususnya aku dan keluargaku. Jadi intinya hari ini adalah hari pertamaku bekerja di Hallym Hospital, sebuah rumah sakit besar yang menangani berbagai penyakit. Rumah sakit ini tidak mengkhususkan pada satu penyakit,  namun mereka merawat semua pasien dengan berbagai keluhan, salah satunya adalah pasien dengan gangguan jiwa. Yeah, di sini aku bekerja di divisi penyakit jiwa yang dipimpin langsung oleh dokter Oh Sehun. Selain aku dan dokter Oh Sehun, ada dua dokter lain yang sama-sama bekerja di bidang ini, dokter Kim Yuna, dan dokter Moon Ayana. Tapi untuk hari ini aku belum bertemu dengan dua dokter itu karena dokter Moon sedang mengambil cuti pasca melahirkan, sedangkan dokter Kim Yuna, hari ini bukan jadwalnya praktik, sehingga aku belum bisa bertemu dengan dokter cantik itu hari ini.


            “Nah, ini ruanganmu, dokter Lucine. Bersebelahan dengan milik dokter Kim Yuna.” tambah dokter Oh sambil menarik kenop pintu di depannya. Bau pengharum ruangan yang begitu menyegarkan langsung menyerbu ke dalam penciumanku setelah dokter Oh menarik kenop pintu itu beberapa detik yang lalu. Aku menyukai ruanganku, dan aromanya. Ini adalah perpaduan antara aroma citrus dan sebuah kesterilan. Maksudku aroma karbol yang digunakan oleh rumah sakit ini tetap tidak bisa menyaingi pengharum ruangan beraroma citrus yang dipasang di dalam ruanganku dengan sangat banyak oleh pihak rumah sakit, jadi kedua aroma itu yang kini mendominasi dengan sama kuatnya di dalam ruanganku.


            “Ruangan yang bagus, terimakasih dokter Oh.”


            “Syukurlah jika kau menyukainya. Kau bisa mengatur barang-barangmu hari ini, dan besok aku akan mengantarmu untuk berkeliling rumah sakit karena hari ini aku memiliki jadwal untuk melakukan penyuluhan ke beberapa tempat.”


            “Oh begitu. Aku bisa berkeliling sendiri jika kau sibuk, dokter Oh. Tapi untuk permulaan, bolehkah aku meminta daftar pasien gangguan jiwa di rumah sakit ini? Aku ingin melihat riwayat mereka sebentar sebelum aku mungkin akan membantu mereka melakukan konseling besok.”


            “Oh tentu saja, kau bisa ikut ke ruanganku untuk mengambilnya.” ucap dokter Oh dengan senyuman. Kami kemudian berjalan beriringan menuju ruangannya yang terletak di blok lain. Saat kami sedang sibuk bercakap-cakap, tak sengaja ekor mataku menangkap siluet tubuh seorang wanita yang sedang duduk sendiri di pinggir taman. Aku lalu menghentikan langkahku, merasa sedikit tergelitik dengan wanita itu, dan dokter Oh juga ikut menghentikan langkahnya di sebelahku.


            “Siapa wanita itu?”


            “Wanita yang duduk di sana?” tanya dokter Oh mencoba lebih detail. Aku mengangguk mengiyakan dan kembali mengamati wanita itu dari kejauhan. Seperti ada sebuah magnet yang menarikku agar mendekat pada wanita itu, meskipun aku belum pernah bertemu dengannya.


            “Namanya Kang Yeri, dia telah dirawat selama sepuluh tahun di sini.”


            “Selama itu?” tanyaku prihatin. Aku tak menyangka jika wanita itu telah menderita gangguan jiwa cukup lama. Dan itu akan menjadi penyakit seumur hidupnya karena tidak pernah ada obat untuk penyakit gangguan jiwa.


            “Dia menderita gangguan jiwa saat berusia tiga belas tahun. Dulu Yeri adalah pasien kakakku, tapi sekarang menjadi pasienku karena kakakku memutuskan untuk menetap di California.”


            “Apa yang terjadi pada Yeri?” tatapan mataku masih tak beralih sedikitpun dari tubuh Yeri, yang meskipun tidak berbeda dari wanita normal lainnya, tapi aku melihat adanya kerapuhan di sana. Tatapan matanya yang kosong dan mengarah ke langit membuatku ingin sekali mendekatinya, merangkulnya, dan melakukan apapun untuk membuatnya merasa tidak sendiri.

__ADS_1


            “Pelecehan seksual saat usianya tiga belas tahun. Dia pasti sedang bermain-main lagi dengan dunia khayalannya di sana.”


            Seperti mengerti dengan arah tatapan mataku, dokter Oh Sehun menjelaskan jika Yeri sering melamun sendiri di pinggir taman untuk bermain dengan teman khayalnya. Seorang pria bernama  Lee Jaebum adalah pria yang selama ini selalu menjadi teman untuk jiwa rapuh Kang Yeri.


            “Ia baru saja kabur dari rumah sakit ini beberapa hari yang lalu, dan melukai ibunya.” beritahu dokter Oh. Kami melanjutkan langkah kami menuju ruangan dokter Oh, dan terpaksa membuatku meninggalkan Kang Yeri yang masih setia duduk di sana sambil menatap langit.


            “Kondisinya separah itu hingga ia membahayakan orang lain?”


            “Itu pertama kalinya Kang Yeri menyakiti orang lain, biasanya ia tidak pernah seperti itu. Apalagi ia sangat


mencintai ibunya. Hanya saat bersama ibunya Yeri terlihat seperti wanita normal pada umumnya. Sesuatu terjadi padanya beberapa minggu terakhir ini, dan aku belum bisa mengoreknya lebih lanjut darinya karena ia menjadi sangat tertutup padaku akhir-akhir ini.”


           “Mungkin ia mendapatkan bisikan.” Tiba-tiba saja aku memiliki jawaban untuk keanehan yang ditunjukan Kang Yeri. Dan tentu saja hal itu membuat dokter Oh mengernyit heran karena bingung.


            “Kau bilang ia memiliki teman khayalan, jadi mungkin saja ia mendapatkan bisikan dari teman khayalannya yang bernama Lee Jaebum itu. Kau tahu kan jika pasien skizofrenia sering mengalami waham dan delusi ketika serangan itu terjadi pada mereka.”


            Terlalu banyak membicarakan Kang Yeri membuatku tidak sadar jika kami telah sampai di dalam ruangan dokter Oh. Aku lalu menerima buku besar yang disodorkan oleh dokter Oh dan mengucapkan terimakasih atas kebaikannya hari ini. “Sekali lagi terimakasih atas kebaikanmu dokter Oh, aku akan berusaha bekerja sebaik mungkin di sini.” ucapku penuh janji. Entah ini terlihat berlebihan atau tidak, tapi aku telah bertekad pada diriku sendiri agar aku dapat bekerja dengan sungguh-sungguh di rumah sakit ini.


            “Aku senang dapat membantumu, dokter Lucine.” balas dokter Oh sambil melirik jam tangannya. Ia lalu mengangkat kepalanya, dan sedikit menunjukan wajah tidak enaknya padaku. “Sepertinya aku harus pergi sekarang, kuharap kita dapat mengobrol lebih banyak lagi lain waktu.”


            “Tentu, kapanpun kau ingin mengobrol denganku, kau tahu dimana harus mencariku, dokter Oh. Semoga beruntung dengan pekerjaanmu hari ini.” ucapku mengantar kepergian dokter Oh yang terlihat terburu-buru. Setelah dokter itu benar-benar menghilang di tikungan lorong rumah sakit, aku segera melangkahkan kakiku menuju ruanganku. Sedikit waktu yang kumiliki hari ini akan kugunakan untuk membaca buku tebal ini sampai habis.


-00-


            Pukul dua siang, aku merentangkan tanganku ke atas dan membuat gerakan perenggangan untuk meredakan rasa pegal yang saat ini menderaku. Lebih dari dua jam aku duduk di ruangan ini untuk membaca riwayat pasien-pasien gangguan jiwa yang ditangani oleh dokter Oh. Dan ternyata beberapa dari mereka memiliki riwayat yang cukup mencengangkan. Terkadang aku merasa miris saat melihat orang-orang seperti itu karena gangguan jiwa yang mereka alami tidak serta merta disebabkan oleh mereka sendiri.


            “Hai...”


            “Oppa!” Hampir saja aku melempar buku tebal ini kearah pintu saat seseorang yang ternyata adalah Joey oppa tiba-tiba masuk untuk mengagetkanku.

__ADS_1


            “Kejutan!” ucapnya dengan wajah yang dipaksakan. Aku tahu jika Joey oppa sangat buruk dalam hal memberi kejutan. Perlu kalian tahu, ia adalah salah satu pria yang paling tidak romantis sepanjang masa.


            “Apa yang kau lakukan di sini oppa?”


            “Mengejutkanmu tentu saja, apa lagi?” Ia terlihat sedikit gusar dengan pertanyaanku. Ditangannya kulihat ia membawa sebuah kotak besar dengan pita cantik dari sebuah toko kue ternama di Seoul. Jadi ia memang ingin memberiku kejutan hari ini? Ya ampun, manis sekali suamiku ini.


            “Apa itu untukku?” Aku menatap berbinar-binar kue coklat kesukaanku yang telah diletakan Joey oppa di atas mejaku. Meskipun aku tahu jika kue itu memang untukku, tapi aku ingin membuatnya terlihat sedikit lebih manis dengan menambahkan sedikit basa basi sebelum aku mengeksekusi kue itu ke dalam mulutku.


            “Tentu saja. Selamat untuk kembalinya kau menjadi konselor hari ini.” Joey oppa memberikanku kecupan lembut di pipi dan ia tampak begitu bangga saat melihat ruang praktikku, juga meja praktikku yang telah dilengkapi dengan papan namaku di atasnya.


            “Terimakasih untuk semua hal yang kau berikan padaku hingga detik ini, aku mencintaimu.” balasku sambil


memeluknya. “Apa kau juga berniat untuk menjemputku? Jam praktikku selesai pukul dua, jadi aku bisa pulang sekarang.”


            Joey oppa melepaskan pelukanku, lalu ia membantuku mengambil tasku dan segera menuntunku untuk keluar dari ruanganku yang nyaman ini. “Kalau begitu ayo kita pulang. Lucas dan Aleyna pasti merindukanmu.”


            “Hmm... aku juga sangat merindukan mereka. Ini pertama kalinya aku meninggalkan Lucas untuk bekerja.” ucapku di sepanjang lorong rumah sakit yang mulai sepi siang ini. Para pasien mungkin sedang beristirahat di kamar mereka saat ini, sehingga suasana di lorong ini terlihat sangat berbeda dari terakhir kali saat aku berjalan bersama dokter Oh.


            “Apa kau sudah mulai menerima pasien hari ini?” tanya Joey oppa ketika kami melintasi taman yang memisahkan antara gedung rumah sakit dan taman parkir. Dari kejauhan aku melihat sosok Kang Yeri yang sedang berdiri di tengah taman sambil berbicara pada seseorang yang tak kasat mata dengan wajah yang terlihat begitu berbinar-binar.


            “Ada apa?” Joey oppa menghentikan langkahnya saat aku berhenti sejenak untuk menatap Kang Yeri dari kejauhan. Aku lalu menunjuk kearah Kang Yeri yang masih berdiri di tengah taman menggunakan daguku. Dan seperti mengerti arti isyarat yang kuberikan, Joey oppa langsung menolehkan kepalanya kearah Kang Yeri dan bertanya padaku mengenai wanita itu.


            “Dia pasien pertama yang membuatku merasa tergelitik pada cerita masa lalunya.”


            Setelah kami berdiri cukup lama di sana, aku memutuskan untuk meninggalkan Kang Yeri dengan aktivitasnya dan melangkah menuju taman parkir yang sudah terlihat di depan mata. Sambil berdeham, aku bercerita pada Joey oppa mengenai Kang Yeri yang mengalami gangguan jiwa karena peristiwa pelecehan seksual yang pernah dialaminya saat remaja. “Itu sungguh miris, saat melihat jiwa seseorang rusak karena perbuatan orang-orang jahat yang tak bertanggungjawab di luar sana.”


            “Seperti inilah dunia, kejam dan tak berperasaan. Kita harus selalu melindungi anak-anak kita dari orang-orang jahat di luar sana.”


            “Yah, kau benar. Dunia ini kejam, dan aku tidak ingin anak-anakku merasakan kekejamannya.” ucapku setengah berbisik sambil menatap Joey oppa sungguh-sungguh. Aku yakin pria hebat di depanku ini pasti dapat melindungi kami dengan seluruh kelebihan yang ia miliki. Dan sejak aku mengucapkan janji suci itu di altar, aku selalu yakin jika Joey tidak akan pernah membiarkan keluarganya dilukai sedikitpun oleh orang lain.

__ADS_1


__ADS_2