
“Bagaimana abeoji, apa Irene akan kembali?”
Tuan Shin membalikan tubuhnya dari jendela besar yang berhadapan dengan pemandangan ramai kota New York. Pria setengah baya itu lantas meletakan ponselnya di atas meja dan menghampiri pria muda yang sebentar lagi akan menjadi menantunya.
“Tenanglah Soohyun-ah, Irene akan pulang lusa.”
“Benarkah? Aku merasa tidak sabar untuk bertemu dengannya lusa, ia pasti akan terkejut saat bertemu denganku.” ucap Kim Soohyun penuh misteri. Tuan Shin menaikan alisnya sekilas dan mengendikan bahunya tidak peduli, menurutnya ia tidak perlu lagi ikut campur terlalu dalam pada permasalahan putrinya atau calon menantunya karena ia yakin mereka pasti dapat menemukan titik tengah untuk hubungan mereka.
“Abeoji harap kau akan menerima Irene apa adanya karena saat ini ia sedang mengandung bayi dari pria lain.”
“Abeoji tenang saja, aku akan menerima Irene apa adanya dan akan membahagiakan Irene dengan sepenuh hati.” ucap Kim Soohyun penuh janji dengan senyum manis yang terukir di wajahnya.
-00-
“Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba ingin bertemu dengan Suho?”
Luciana hanya tertegun di dalam mobil tanpa menghiraukan pertanyaan dari Joey. Sejak kemunculan wanita itu di rumah sakit tiga hari yang lalu, ia sama sekali tidak bisa hidup tenang. Setiap detik di rumah sakit ia habiskan untuk mencari tahu kondisi wanita itu jika ia sedang tidak memiliki pasien. Kekhawatiran itu terus muncul di hatinya kalau-kalau wanita itu memutuskan untuk melakukan bunuh diri karena terlalu frustrasi dengan masalahnya. Namun hingga sejauh ini Luciana masih bisa bernapas legas karena ternyata wanita bernama Shin Irene itu belum mengakhiri hidupnya.
“Akhir-akhir ini kau aneh. Bahkan kau tiba-tiba memintaku untuk mencari data penerbangan atas nama Shin Irene. Sebenarnya ada apa, sayang?” tanya Joey lembut. Saat ini mereka masih berada di halaman parkir perusahaan milik Suho. Luciana belum ingin melangkahkan kakinya keluar dari dalam mobil. Ia masih memikirkan banyak hal di dalam kepala cantiknya.
“Kau bisa menemukan jawabannya dari sepupumu, oppa. Ayo kita masuk!”
Joey benar-benar tak habis pikir dengan sikap aneh Luciana akhir-akhir ini. Wajahnya terus murung sejak tiga hari yang lalu, tapi wanita itu tidak mau mengatakan apapun padanya setiap kali ia melayangkan pertanyaan mengenai penyebab kemuraman wajahnya. Lalu semua wajah muramnya diperjelas dengan sikap anehnya yang tiba-tiba memaksanya untuk mencari tahu jadwal penerbangan seorang wanita bernama Shin Irene yang selama ini tidak pernah dikenalnya sama sekali.
“Aku sangat terkejut saat tiba-tiba Joey hyung memberitahuku jika kalian akan datang berkunjung.”
Suho membuka pembicaraan begitu mereka duduk di atas sofa putih yang berada di dalam ruang kerja Suho. Sekilas Luciana melihat ruang kerja Suho begitu berantakan. Kertas-kertas terlihat berserakan di atas meja, laptop yang dibiarkan terbuka di atas meja tamu, dan penampilan sang pemilik ruangan yang juga sama buruknya dengan ruangannya. Ini aneh, pikir Luciana mulai curiga. Ia lalu mulai mengaitkan semua hal yang dilihatnya dari Suho dengan kondisi rumah tangga pria itu.
“Bagaimana kabar Yuri?”
“Baik.” jawab Suho kaku. Luciana tersenyum simpul dibalik wajah misteriusnya. Jelas semua ini memang ada kaitannya dengan Shin Irene. Tampaknya wanita itu berhasil pergi dari kehidupan Suho, namun bukan berarti wanita itu pergi tanpa meninggalkan kekacauan.
“Kurasa Yuri sedang tidak baik-baik saja, benar begitu Lee Suho?”
“Lucine, ada apa?” desak Joey yang mulai sadar akan gelagat aneh istrinya. Namun sang istri masih saja bersikap mengintimidasi pada Suho, membuat pria tampan itu merasa tidak nyaman dan mencoba mencari-cari topik lain yang bisa menyelamatkannya.
“Kalian ingin minum apa? Aku akan meminta sekretarisku untuk membuatkannya.”
“Tidak perlu repot-repot, kami ke sini hanya ingin mengetahui kabar Yuri dan wanita malang itu.”
“Siapa?” tanya Suho mengernyit.
“Shin Irene.”
Suho merasa kepalanya baru saja dihantam sesuatu benda keras yang tak kasat mata. Tiba-tiba kepalanya pening, dan tubuhnya menjadi limbung saat nama itu mulai disebut-sebut lagi di kantornya. Ia bahkan telah berhasil melewatkan tiga hari tanpa menyinggung nama Shin Irene di dekatnya. Namun semua usahanya untuk mengenyahkan Irene sia-sia saat tiba-tiba istri dari sepupunya itu mulai membahasnya dengan terang-terangan di depan wajahnya.
“Apa wanita licik itu mendatangimu juga?”
__ADS_1
Suho langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi marah. Ia begitu benci saat wanita itu berhasil memporak-porandakan hidupnya satu demi satu dengan seluruh sikap ularnya yang mengerikan.
“Siapa itu Shin Irene?” tanya Joey kebingungan. Ia adalah satu-satunya orang di ruangan itu yang tidak mengerti apapun terkait masalah yang dimiliki Suho dan juga sikap aneh istrinya.
“Mantan kekasih Suho. Dia mengandung anakmu, Lee Suho.”
“Darimana kau mengetahuinya?”
“Itu tidak penting kurasa.” balas Luciana sinis. “Yang perlu kau lakukan adalah memperbaiki semuanya. Apa kau tidak merasa kasihan pada anakmu yang nantinya akan terlahir tanpa ayah?”
“Dia akan menikah dengan pria pilihan ayahnya.” ucap Suho getir. Kedua matanya sontak memerah dan nyaris menumpahkan air mata saat ia tak lagi bisa menutupi sakit hatinya setelah kepergian Irene. “Irene kembali ke New York dan sebentar lagi ia akan menikah.” erang Suho frustrasi.
“Bagaimana dengan Yuri?”
“Kami bercerai. Ia melayangkan gugatan cerai setelah ia mengetahui semua kebenarannya.”
“Oh Ya Tuhan, wanita malang.” gumam Luciana prihatin. Sekarang ia seperti memiliki tanggungjawab untuk mengembalikan keutuhan kisah cinta Suho karena bagaimanapun dua orang itu telah melibatkannya secara tak langsung. Andai ia tidak mencoba mengabaikan masalah ini, mungkin ia bisa menolong pria itu lebih cepat dari dugaannya.
“Irene menemuiku sebelum pergi. Ia sangat mencintaimu.”
“Aku tahu. Ia sangat mencintaiku hingga ia rela melakukan apapun untuk merebutku dari Yuri.”
“Kau juga sangat mencintainya.” ucap Luciana lebih seperti menuduh. Ia sangat yakin jika tuduhannya ini tidak akan meleset karena dari apa yang terlihat, Lee Suho juga sama hancurnya seperti Irene.
“Kurasa untuk sekarang hal itu tidak lagi berguna.”
“Kejarlah Irene! Ini masih belum terlambat untuk memperbaiki semuanya.”
“Aku tidak yakin.” jawab Suho dengan wajah sedih. “Ayahnya pasti sangat membenciku karena aku telah merusak putrinya. Dan ia telah mengambil keputusan untuk menikah dengan pria lain. Jadi aku tidak akan mengusik kehidupannya.”
“Ck, kau lemah! Kau pria yang lemah Lee Suho!”
“Tidak! Kau tidak tahu apa-apa tentang aku, Lucine.” desis Suho marah. Luciana tersenyum senang dibalik sikap menantangnya. Berurusan dengan orang-orang keras kepala memanglah sulit. Dan salah satu taktik yang perlu ia lakukan adalah memancing amarah mereka untuk keluar.
“Aku tahu. Kau pria lemah yang bersembunyi dibalik kesalahan orang lain. Kau akan meyakinkan dirimu sendiri jika semua itu bukan karena salahmu, padahal nyatanya kau juga turut andil di dalamnya. Kau lebih senang melemparkan kesalahan pada orang lain agar kau tidak perlu merasa dihakimi oleh dirimu sendiri. Pengecut!” maki Luciana keras. Suho hampir saja menerjang Luciana jika Joey tidak segera menahan lengan Suho dan menyadarkan pria itu jika wanita yang akan ia sakiti adalah istrinya.
“Aku menghormatinya sebagai istrimu hyung, tapi jika ia terus melemparkan provokasi semacam itu, aku tidak akan segan-segan untuk membalas.”
“Kalau begitu kau akan berurusan denganku.” balas Joey tak mau kalah. Dua pria itu saling bertatapan dengan sengit. Sementara Luciana hanya meluruskan kaki pegalnya dengan santai di atas sofa tanpa ingin repot-repot memisahkan dua pria itu. Apa yang lebih menarik dari melihat perselisihan dua orang kakak beradik yang hanya bertindak karena ego primitif mereka semata. Joey mencoba melindungi istrinya di hadapan Suho,
sedangkan Suho sedang mencoba melindungi harga dirinya yang sedang dicabik-cabik oleh Luciana tanpa ampun.
“Jadi Lee Suho....” ucap Luciana lambat-lambat untuk memancing perhatian Suho agar teralih padanya lagi. “Kusarankan padamu agar segera mengambil penerbangan ke New York. Suamiku akan mengatur semuanya kapanpun kau siap.” lanjut Luciana santai sambil melemparkan kerlingan nakal kearah Joey.
-00-
“Selamat datang di New York Shin Irene!”
__ADS_1
Irene bergumam pelan pada dirinya sendiri setelah ia turun dari pesawat bersama dengan penumpang yang lain. Sambil menarik dua kopornya, Irene mulai berjalan menyusuri gerbang kedatangan untuk mencari sang supir atau ayahnya yang mungkin datang untuk menjemputnya. Tapi tiba-tiba ia melihat seorang pria paruh baya sedang melambai kearahnya dengan senyum teduh yang selama ini selalu ditunjukan padanya. Dengan cepat Irene segera berjalan menghampiri pria itu dan memeluknya dengan erat serta penuh kerinduan.
“Ayah, akhirnya aku bisa memeluk ayah lagi.”
Tuan Shin membalas pelukan Irene dengan hangat sambil mengusap punggung putrinya lembut. Lalu saat Irene melepaskan pelukannya, tuan Shin mengelus perut buncit Irene dengan penuh kelembutan dan senyum yang terkembang di wajahnya.
“Berapa usianya sekarang?” tanya tuan Shin masih dengan mengelus perut buncit Irene. Irene tersenyum pada ayahnya dan menjawab pertanyaan ayahnya dengan malu-malu.
“Sekitar lima bulan dua minggu, sebentar lagi ayah akan memiliki seorang cucu perempuan.” ucap Irene memberitahu. Tuan Shin langsung tersenyum sumringah dan semakin mengelus perut Irene intens. Meskipun putrinya mengandung anak dari seorang pria yang tak bertanggungjawab, bukan berarti tuan Shin akan membenci Irene dan calon cucunya. Tuan Shin justru sangat bahagia karena sebentar lagi ia akan menjadi seorang kakek dan bisa menghabiskan masa tuanya dengan bermain-main dengan sang cucu.
“Ayah sangat senang karena sebentar lagi ayah akan memiliki seorang cucu yang pasti akan sama cantiknya dengan putri ayah, kau harus selalu menjaga kandunganmu.”
“Tentu ayah. Selama di Korea aku rajin pergi ke dokter kandungan untuk mengecek kondisinya dan memantau tumbuh kembangnya. Dan syukurlah, sejak trimester ke tiga aku sudah tidak mual-mual lagi, ia bayi yang sangat pengertian.” cerita Irene antusias. Tuan Shin tersenyum bahagia dan ikut merasakan kebahagiaan yang dipancarkan oleh Irene.
Selama ini ia selalu berusaha menjadi sosok ayah dan juga ibu bagi Irene setelah istrinya bercerai dengannya sepuluh tahun yang lalu. Tapi untungnya Irene sendiri adalah anak yang tidak merepotkan, ia tahu bagaimana posisi ayahnya sebagai single parent dan juga seorang pemimpin perusahaan, sehingga selama hidup Irene tidak pernah menyusahkannya. Hanya saja ia sangat menyayangkan sikap Irene yang selama ini tidak pernah memberitahukan perihal hubungannya dengan Suho yang selalu disembunyikan. Andai saja sejak awal Irene berkata jujur padanya jika ia memiliki seorang kekasih, mungkin Irene tidak akan menanggung beban seberat ini karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Tapi ia tidak mau menyalahkan Irene atau memarahi Irene karena perbuatan nekat wanita itu yang menghancurkan masa depannya sendiri.
Sebagai orangtua, tuan Shin justru berusaha mencarikan seorang calon suami yang tepat untuk Irene dan mau menerima Irene apa adanya bersama dengan calon anaknya. Dan untung saja tuan Shin menemukan Kim Soohyun yang merupakan rekan bisnisnya selama berada di New York.
Pertama kali tuan Shin menawarkan putrinya pada Kim Soohyun, pria itu dengan semangat langsung menerimanya dan bersedia untuk menjadi pendamping Irene. Padahal saat itu tuan Shin hanya sekedar ingin memperkenalkan Irene dan belum membahas mengenai pernikahan atau semacamnya. Namun Kim Soohyun dengan cepat justru meminta pada tuan Shin untuk menjadikan Irene sebagai calon istrinya. Lalu beberapa hari setelahnya, tuan Shin mulai menghubungi Irene dan meminta Irene untuk pulang agar dapat bertemu dengan calon suaminya. Lagipula Kim Soohyun adalah pria mapan dan memiliki latar belakang keluarga yang baik, sehingga tuan Shin langsung menyetujui permintaan Kim Soohyun untuk menjadikan Irene sebagai istrinya.
“Ayah turut bahagia jika kau bahagia nak.”
Irene tersenyum lembut pada ayahnya dan merasa matanya kini telah berkaca-kaca. Betapa ia sangat beruntung memiliki seorang ayah yang begitu pengertian dan mau berjuang untuk kebahagiaannya. Meskipun ibunya telah lama pergi meninggalkannya, tapi ia merasa masih memiliki sosok ibu hingga saat ini karena ayahnya memainkan perannya dengan baik. Dan sekarang ia menyesal karena telah mengecewakan ayahnya dengan mengejar cintanya yang berakhir sia-sia.
“Paman, maaf aku terlalu lama.”
Tiba-tiba seorang pria tampan muncul dari balik tubuh tuan Shin sambil tersenyum sungkan pada tuan Shin. Pria itu kemudian berbalik dan tersenyum pada Irene dengan senyum lembutnya yang menenangkan.
“Apa kabar Shin Irene.”
“Kau, kekasih Jessica?” tanya Irene tak percaya. Tuan Shin mengangkat alisnya bingung dengan reaksi putrinya yang sepertinya telah mengenal Kim Soohyun.
“Oh, sebenarnya aku bukan kekasih Jessica, aku adalah sepupu Jessica.” balas Kim Soohyun lancar dan terdengar jujur. Irene mendengus dalam hati, mencibir Jessica yang benar-benar tidak ingin kalah darinya hingga rela menyeret sepupunya untuk menjadi kekasih gadungannya.
“Kalian sudah saling mengenal?”
Akhirnya tuan Shin angkat bicara setelah sebelumnya ia memberikan kesempatan pada putrinya untuk berkenalan dengan Kim Soohyun.
“Kami pernah bertemu sebelumnya di pesta pernikahan temanku di Korea, dan saat itu ia memperkenalkan dirinya sebagai kekasih teman lamaku.”
“Bukan aku yang memperkenalkan diri, tapi Jessica.” koreksi Kim Soohyun cepat. Irene tampak tak peduli dan hanya memasang wajah malas. Sedangkan tuan Shin hanya menganggukan kepalanya mengerti dan tidak ingin terlalu ikut campur dalam masalah anak muda yang selalu membingungkan itu.
“Kalau begitu mari kita lanjutkan percakapan ini di rumah, lagipula ayah yakin kau pasti merasa lelah, nak.” ucap tuan Shin pada Irene. Irene mengangguk sekilas dan segera menarik dua kopornya yang berada di samping kanan dan kirinya. Namun dengan sigap Kim Soohyun langsung mengambil alih kopor itu sambil tersenyum manis pada Irene.
“Biar aku saja yang membawanya.”
“Terserah.” jawab Irene acuh dan langsung menyusul ayahnya untuk berjalan beriringan. Sedangkan Kim Soohyun tampak tersenyum aneh dengan berbagai macam rencana di kepalanya untuk menaklukan hati Irene.
__ADS_1