Kontratransferensi

Kontratransferensi
I Got Love (Eighty Six)


__ADS_3

            Irene memandang bayinya dalam diam sambil mengelus rambut coklat lembut itu perlahan. Ingatan beberapa saat yang lalu ketika Suho menemaninya berjuang untuk melahirkan Lee Hyura kembali berputar-putar di dalam kepalanya dan membuatnya ingin menangis.


           Siang ini tak ada siapapun yang menemaninya di rumah sakit. Ayahnya dan Kim Soohyun pergi entah kemana setelah mereka berhasil mengusir Lee Suho dengan tidak manusiawi. Dan Jessica juga belum memunculkan batang hidungnya hingga saat ini sejak ia melahirkan Hyura dua jam yang lalu. Padahal ia pikir hubungan mereka sudah lebih dekat dari sekedar hubungan sepasang sahabat, ia sudah menganggap Jessica seperti saudara kandungnya sendiri. Tapi... mungkin saja wanita berambut blonde itu sedang sibuk untuk mengurus pesta pernikahannya yang akan diadakan minggu depan, sehingga ia cukup maklum jika Jessica tidak datang untuk menjenguknya hari ini.


            “Lee Hyura..”


            Irene bergumam pelan pada bayinya yang sedang asik menghisap putingnya dengan kuat. Irene mengamati wajah bayinya lekat-lekat dan ia langsung menemukan Suho kecil pada wajah bayinya. Ia pikir kening dan hidung Hyura sangat mirip dengan Suho. Dan kemiripan-kemiripan itu pasti akan terus bertambah seiring dengan usia Hyura yang akan bertambah besar. Mungkin suatu saat Irene akan menemukan sifat kekanakan Suho ada di dalam diri Hyura atau sikap lembutnya yang tidak pernah ia lupakan dari Suho. Meskipun setelah menikah dengan Yuri, Suho sering menunjukan sisi kejamnya yang selama ini selalu ia sembunyikan.


Irene Pov


            Lee Hyura..


            Betapa aku sangat beruntung karena memiliki bayi manis itu di dalam pelukanku. Dia adalah satu-satunya penghubungku dengan Suho oppa. Dan Lee Hyura adalah satu-satunya replika Suho oppa yang dapat kumiliki seutuhnya tanpa takut akan kehilangannya. Tapi meskipun begitu hidupku tidak akan pernah sempurna tanpa


kehadirannya. Kehidupan kami tidak akan pernah lengkap tanpa kehadiran sosok Lee Suho sebagai ayah dari Lee Hyura, dan pria yang akan selalu memandangku dengan penuh cinta.


            Tiba-tiba aku teringat akan janjiku pada Kim Soohyun. Setelah ini kami akan menikah. Rasanya aku belum siap, aku tidak akan pernah siap untuk menikah dengan Kim Soohyun karena aku tidak pernah menginginkannya. Hatiku sampai kapanpun hanya tertaut pada Suho oppa. Dan mengetahui sebuah kebenaran jika ia telah bercerai dengan Yuri membuatku sangat lega. Setidaknya aku masih memiliki harapan untuk bersamanya, meskipun kecil. Sangat kecil! Tapi mengingat ayahku yang sangat membencinya hingga benar-benar benci, membuatku menjadi pesimis seketika.


Tok tok tok


            Aku mendongakan kepalaku ke arah pintu ketika aku mendengar suara ketukan pintu yang cukup nyaring ditengah suasana hening yang tercipta di dalam kamar ini. Dengan suara pelan dan sedikit serak aku mempersilahkan sang pengetuk untuk masuk.


            “Hai..”


            Aku menegang seketika ketika melihatnya sedang menyunggingkan senyum manis ke arahku sambil membawa sebuket bunga mawar putih yang cantik. Dia ternyata datang kembali untukku, untuk kami.


            “Bagaimana keadaanmu sekarang, apa kau sudah merasa lebih baik? Maaf, aku telah mengacaukan saat-saat kelahiranmu yang menegangkan dengan membuat keributan di luar ruang bersalin dan di dalam ruang bersalin. Sebenarnya aku sangat ingin menemanimu setelah Hyura lahir, tapi ayahmu dan Kim Soohyun melarangku, hingga aku harus menunggu mereka benar-benar pergi sebelum aku memutuskan untuk datang


ke sini lagi. Aku hanya tidak ingin membuat keributan. Aku lelah, Irene.” keluh Suho oppa sambil menghela napas pelan.


            Aku tersenyum kecil dan kembali sibuk mengelus rambut Hyura yang halus. Untuk saat ini aku merasa sedikit aneh ketika berinteraksi dengan Suho oppa tanpa adanya adu mulut atau pertengkaran kecil yang sudah kami alamai selama hampir sebelas bulan terakhir ini. Tapi itu bukan berarti aku tidak senang dengan sikap lembut yang ditunjukan oleh Suho oppa, aku justru sangat senang hingga merasa bingung bagaimana harus menyikapinya.


            “Boleh aku menggendongnya?”


            Tiba-tiba Suho oppa sudah berdiri di sebelahku sambil menatapku dengan wajah memohon. Ia tampak ingin merasakan bagaimana hangatnya mendekap Hyura yang sangat kecil. Karena merasa ia adalah ayah Hyura, aku pun memberikan Hyura padanya dan ia dengan sangat hati-hati langsung membawa Hyura ke dalam dekapannya yang nyaman. Sekilas ketika melihat kebersamaan mereka, aku ingin menangis. Bagaimana mungkin aku tidak ingin menangis jika kedekatan mereka benar-benar tidak bisa berbohong jika mereka adalah ayah dan anak. Tapi sayangnya kedekatan itu setelah ini akan digantikan dengan pria lain yang jelas-jelas bukan ayahnya, pria asing yang tidak memiliki ikatan darah apapun dengan Hyura.


            “Kapan kau akan menikah?”


            Mendengar pertanyaan itu rasanya aku tidak mampu untuk menjawab. Tapi Suho oppa sejak tadi terus menatap wajahku dan seakan-akan ia sedang menunggu jawabanku yang sebenarnya sama sekali tidak akan memuaskannya.


            “Aku tidak tahu.”


            Akhirnya hanya jawaban itu yang mampu kukatakan pada Suho oppa karena pada kenyataanya aku memang tidak tahu. Aku sendiri justru bimbang dengan keputusanku sendiri dan merasa ingin menariknya. Tapi aku tidak yakin apakah aku bisa semudah itu menariknya, mengingat ayah yang sangat menyukai Kim Soohyun dan sangat membenci Suho oppa.


            “Kurasa ini memang sedikit aneh, Rene, tapi kau terlihat lebih diam setelah melahirkan Hyura, apa kau merasa sakit?”


            Suho oppa kini duduk tepat di atas ranjangku dan saat ini kami sedang berhadap-hadapan satu sama lain. Mungkin sepuluh bulan yang lalu posisi seperti ini akan menjadi posisi yang sangat rawan untuk melakukan adu mulut, namun sekarang, posisi ini benar-benar membuatku gugup.

__ADS_1


            “Mungkin aku hanya lelah.” jawabku apa adanya. Suho oppa menggenggam tanganku lembut dan mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya. Ia pasti juga sama bimbangnya denganku!


            “Saat melihatmu melahirkan Hyura dan saat melihat Hyura lahir, aku merasa ingin menangis. Kilasan kejadian sepuluh bulan yang lalu saat aku berlaku kasar padamu membuatku sangat menyesal dan merasa aku adalah pria yang paling jahat sedunia. Lalu aku sadar jika aku memang tidak pantas untukmu. Kau seharusnya mendapatkan pria yang lebih baik dariku, seperti Kim Soohyun. Tapi melepasmu dan Hyura untuk pria itu... rasanya sulit. Kalian terlalu berarti bagiku, dan dengan bodohnya aku hampir melepaskan kalian. Tapi sungguh, saat itu aku sedang dalam keadaan emosi. Aku bingung, aku kalut, dan hatiku memberontak. Ketika melihatmu datang di acara pernikahanku dengan Yuri, aku begitu terkejut sekaligus gugup. Saat itu aku seperti tertangkap basah sedang berselingkuh darimu, padahal jelas-jelas hubungan kita sudah berakhir sebelumnya, dan...”


            “Hanya oppa yang menganggapnya berakhir, aku tidak pernah.” potongku cepat. Enak saja ia menganggap jika hubungan kami telah berakhir, sedangkan sejak dulu tidak pernah ada kata putus diantara kami.


            “Ya, kau benar. Kita memang tidak pernah mengucapkan hal itu, tapi kepergiaanmu ke Amerika dan sulitnya berkomunikasi denganmu membuatku beranggapan jika kita telah berakhir. Dan sejujurnya aku sakit ketika mengingat hal itu. Satu-satunya alasan orangtuaku menjodohkanku dengan Yuri adalah agar aku terbebas dari patah hatiku dan bisa hidup normal bersama seorang wanita yang dapat mengurusku dengan baik. Tapi ternyata mencintai wanita lain yang baru kau kenal selama tiga bulan tidak semudah mencintai seorang wanita yang kau kenal sejak bertahun-tahun lamanya. Aku tidak bisa mencintai Yuri, aku selalu memikirkanmu dan bayangan percintaan kita yang panas. Bahkan hanya untuk sekedar menyentuh Yuri, aku sama sekali tidak bergairah. Saat itu aku benar-benar marah dan merasa kalut dengan diriku sendiri, karena aku ternyata tidak bisa menjalankan sebuah komitmen yang kupilih dan justru mendambakan wanita lain. Lalu kau sering datang ke kantorku dan menggodaku, membuatku melampiaskan semua rasa marah yang seharusnya kutujukan pada diriku sendiri padamu. Sebenarnya aku tidak pernah membencimu ataupun Hyura, bahkan perkataan menyakitkanku tentang mengakui Hyura sebagai anak, itu hanyalah salah satu emosi terpendamku karena aku sebenarnya saat itu ingin merasa bahagia, tapi di satu sisi aku sedang menyakiti hati seorang wanita yang tidak bersalah. Dan saat itu pikiranku juga kacau karena Yuri baru saja menemukan testpack milikmu di dalam saku jasku.”


            “Ya, itu masa lalu yang menyakitkan. Sejujurnya bukan hanya oppa saja yang kalut, saat itu aku juga kalut. Bagaimanapun aku telah menghancurkan masa depanku sendiri dan membuat ayahku marah hanya untuk mengemis cinta pada kekasihku sendiri. Padahal selama aku menjalankan studiku di sini, aku telah berjanji pada diriku sendiri aku akan memberikan yang terbaik untuk ayah dan tidak mengecewakannya. Tapi tiba-tiba aku merasa begitu marah dan ingin memilikimu lagi ketika melihatmu menikah dengan Yuri. Perasaanku saat itu benar-benar menggebu-gebu hingga aku tidak menggunakan akal sehatku untuk memikirkan semua risiko dari perbuatan yang aku lakukan. Tapi sudahlah, bukankah itu hanya masa lalu? Kita harus melupakan masa lalu dan hanya menatap masa depan bersama Hyura, bagaimanapun dia adalah anak kita yang harus kita lindungi, meskipun takdir tidak membawa kita untuk bersama sekalipun dan membentuk sebuah ikatan keluarga yang suci.”


            Aku mencium kening Hyura lembut sambil mengelus pipi putriku yang sedang tertidur. Melihatnya Hyura yang sedang memejamkan mata, mau tidak mau mengingatkanku pada mata teduh Suho oppa yang juga akan memejam damai seperti yang Hyura lakukan saat ini. Hyura benar-benar replika Suho oppa, dan hal itu akan membuatku semakin sulit untuk berpindah mencintai Kim Soohyun.


            “Apa kau akan memberiku kesempatan jika aku akan memperjuangkanmu?”


            Kata-kata itu, kata-kata itu adalah kata-kata yang paling ingin kudengar sejak dulu. Tapi meskipun Suho oppa baru mengucapkannya sekarang, aku tetap akan mengangguk antusias dengan penawarannya karena aku memang butuh diperjuangkan. Aku belum bisa menerima Kim Soohyun sebagai calon suamiku.


            “Memperjuangkanku? Kau benar-benar ingin melakukannya?”


            “Sangat. Jika kau mengijinkannya, aku pasti akan melakukannya untukmu dan Hyura. Aku tidak bisa melepaskan kalian untuk pria lain. Meskipun ayahmu sangat membenciku, aku akan berusaha untuk mendapatkan hatinya. Dan aku akan berusaha untuk menjadi pria yang bertanggungjawab.”


            Tanpa aba-aba, aku langsung menarik kerah kemejanya dan ******* bibirnya lembut penuh perasaan. Meskipun awalnya Suho oppa terkejut dengan tindakanku, tapi pada akhirnya ia juga mengikuti permainan bibirku dengan membalas lumatanku dengan sangat lembut. Rasanya sudah lama sekali kami tidak saling berbagi perasaan cinta yang menggebu-gebu seperti ini. Aku merasa seperti kembali ke zaman-zaman high school ketika benih-benih cinta itu baru saja tumbuh. Ahh.. aku belum ingin kehilangan momen ini.


            Suho oppa melepaskan ciuman kami terlebihdahulu ketika Hyura sedikit menggeliat di tengah-tengah kami. Tapi kami tetap menyatukan kening kami masing-masing sambil merasakan deru nafas kami yang memburu setelah ciuman penuh emosi kami. Aku lalu menatap manik matanya dalam sambil mengusap pipinya lembut.


            “Perjuangkan kami, perjuangkan aku dan Hyura agar kami bisa bersamamu, oppa.” bisikku tepat di depan bibirnya. Suho oppa tersenyum penuh kebahagiaan di depanku dan langsung mengecup keningku dengan lembut. Tapi tiba-tiba kegiatan kami terinterupsi oleh kedatangan Jessica yang berisik.


            “Darimana saja kau, aku sudah menunggumu sejak tadi.” rengekku manja. Jessica menampakan wajah bersalahnya padaku sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


            “Maaf, aku harus menjemput adikku dulu di bandara, ia baru saja datang dari Korea.”


            “Benarkah? Lalu dimana adikmu sekarang?”


            Aku melongokkan kepalaku ke arah pintu untuk menemukan adik Jessica, tapi sejauh yang kulihat, aku hanya menemukan lorong rumah sakit yang kosong tanpa ada siapapun yang berdiri di sana.


            “Tunggu, ia sedang... itu dia!”


            Tiba-tiba seorang wanita cantik dengan tubuh yang lebih tinggi dari Jessica masuk ke dalam kamarku. Wanita itu menyapaku ramah dan bergegas berjalan ke arahku dan juga Jessica.


            “Selamat atas kelahiran bayimu Irene eonni, aku benar-benar tidak menyangka jika akan bertemu denganmu secara langsung seperti ini.”


            “Jung Hana..”


            Hana menoleh pada Suho oppa dan melambaikan tangan ringan padanya. Entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi Suho oppa terlihat terkejut dengan kedatangan adik Jessica.


            “Terkejut melihatku? Kalau begitu kau harus meminta penjelasan pada eonniku yang menyebalkan ini.” ucap Jung Hana sambil menyikut pinggang Jessica pelan. Jessica tampak meringis kecil sambil menggaruk tengkuknya gugup.


            “Aku memang sengaja meminta Hana untuk menemuimu dan memprovokasimu karena aku gerah ketika mendengar cerita dari Chan jika kau sangat pasif dan cenderung putus asa untuk mendapatkan Irene, jadi.. aku minta maaf jika kau tidak nyaman dengan hal itu.”

__ADS_1


            “Aku tidak masalah dengan hal itu, dan kau sekarang bisa melihat hasil dari rencanamu.” jawab Suho oppa santai sambil mengendikan bahunya acuh. Aku kemudian sibuk mengobrol dengan Jessica mengenai rencana pernikahan wanita itu yang akan dilaksanakan seminggu lagi. Lalu tiba-tiba Suho oppa memberikan Hyura padaku dan meminta ijin untuk pulang ke Korea karena ia telah meninggalkan banyak pekerjaan di sana. Namun sebelum Suho oppa benar-benar pergi, ia sempat berbisik jika ia akan terus menghubungiku dan menjalin hubungan dengan baik, meskipun pada akhirnya kami tidak bisa bersama.


            “Jadi kalian sudah berbaikan?” goda Jessica dengan senyum geli sambil meminta Hyura dari gendonganku. Aku memberikan Hyura padanya dan berusaha untuk bersikap netral, meskipun jantungku sedang berdegup kencang sekarang.


            “Menurutmu begitu? Tapi sepertinya kami biasa saja.”


            “Ck dasar kau ini, aku tahu jika sekarang kau tengah berbunga-bunga di lubuk hatimu yang paling dalam. Apalagi sekarang kalian telah memiliki Lee Hyura, ahhh... kehidupan kalian sudah lebih dari sempurna sekarang.” ucap Jessica heboh sambil menimang-nimang Hyura pelan. Aku mendengus kesal dengan reaksinya sambil menyandarkan punggungku pada sandaran blangkar.


            “Memangnya kau mendukungku jika aku kembali pada Suho oppa dan meninggalkan sepupumu yang selama ini selalu tulus mencintaku itu? Kuyakin kau tidak akan pernah melakukannya.” cibirku telak padanya. Tapi Jessica langsung menatap manik mataku dalam sambil menganggukan kepalanya sungguh-sungguh.


            “Aku akan mendukungmu, sangat! Meskipun hal itu berarti menyakiti sepupuku sendiri, aku rasa tidak masalah. Soohyun masih bica mencari wanita lain yang lebih baik darimu di luar sana, sedangkan kau, kau tidak mencintai Soohyun, dan kehidupan tanpa cinta itu sangat mengerikan.” ucap Jessica menakut-nakuti. Aku menjauhkan wajahnya pelan dari wajahku dan segera mengambil Hyura dari gendongannya. Jessica, ia benar-benar wanita yang tak terduga.


            “Kupikir apa yang kau katakan benar, tapi aku hanya akan melakukan apa yang menurut ayahku baik, jadi jika ayahku memintaku untuk menikah dengan Kim Soohyun, aku akan melakukannya.” ucapku santai. Namun dibalik itu semua aku menjerit. Tentu saja apa yang dikatakan Jessica benar, jika kehidupan tanpa cinta itu sangat


mengerikan. Tapi satu-satunya hal yang ingin kulakukan sekarang adalah membalas kebaikan ayahku selama ini. Sudah cukup aku menyakiti ayahku dengan tindakan gegabah seperti kemarin. Sekarang saatnya bagiku untuk menjadi gadis penurut dan gadis kebanggaan keluarga Shin.


Irene pov end


            Jessica terlihat prihatin ketika Irene telah memutuskan pilihannya. Ia tahu jika Irene pasti juga merasa sulit untuk menerimanya. Tapi mau bagaimana lagi, ikatan diantara mereka memang sudah retak, akan sulit untuk disatukan. Dan sebagai seorang sahabat, ia hanya akan mendukung apa yang dilakukan Irene.


            “Hai, selamat siang.”


            Kim Soohyun tiba-tiba muncul dari balik pintu sambil tersenyum manis ke arah Irene. Irene melambaikan tangannya pada Kim Soohyun dan Hana langsung membantu Soohyun yang sedang kerepotan membawa sebuah parsel besar di tangannya.


            “Selamat sayang atas kelahiran bayimu, aku turut bahagia atas kebahagiaanmu.”


            Kim Soohyun mengecup puncak kepala Irene lembut sambil mengelus kepala Hyura yang sedang tertidur nyaman di dalam dekapan ibunya. Tak  sengaja ekor mata Soohyun menatap sebuah buket bunga yang tergletak di atas meja kecil disamping Irene. Pria itu mengambilnya sambil mengamatinya dalam diam.


            “Bunga yang cantik.” komentar Kim Soohyun santai. Jessica yang berada di sebelahnya langsung merebut bunga itu sambil memamerkannya dengan penuh kesombongan.


            “Tentu saja, ini bunga dariku. Bukankah bunga ini cantik sepertiku?”


            “Ck, kau berisik sekali Jessica Jung. Kenapa kau tidak seperti adikmu yang manis itu.” dengus Kim Soohyun sebal dan berhasil membuat Irene tertawa renyah karena tingkah dua sepupu aneh itu.


            “Jika kalian terus berisik, Hyura bisa bangun. Sebaiknya kalian pergi saja, aku ingin istirahat.”


            Irene meletakan Hyura di dalam box bayi dan ia mulai mengambil ancang-ancang untuk tidur. Sedangkan Jessica dan Kim Soohyun hanya dapat saling menatap satu sama lain sambil memasang wajah bodoh karena mereka pikir Irene hanya bercanda.


            “Dia benar-benar tidur?”


            “Ini semua gara-gara suara berisikmu. Kalau begitu aku akan kembali ke kantor sekarang, aku tidak mau semakin mengganggunya di sini.”


            Kim Soohyun kemudian mengambil jas hitamnya yang tersampir di atas sofa dan segera berjalan menghampiri Irene yang sedang memejamkan matanya.


            “Aku tahu kau belum tidur, nanti malam aku akan datang lagi untuk menjengukmu. Selamat tidur calon istriku.” bisik Kim Soohyun pelan sambil mengecup pipi Irene lembut. Sedangkan Jessica terlihat ingin muntah melihat sepupunya yang tiba-tiba berubah menjadi pria romatis, padahal selama ini ia selalu bersikap kekanakan di depannya.


            “Kau tidak berpamitan padaku? Oh.. itu menyakitkan sekali, sepupu.” sindir Jessica sinis. Namun Kim Soohyun tetap tidak mempedulikan Jessica dan pergi begitu saja sambil melambaikan tangannya santai.

__ADS_1


            “Sampai jumpa sepupu berisik.”


__ADS_2