Kontratransferensi

Kontratransferensi
Case Three: Stockholm Syndrome (Sixty Four)


__ADS_3

        Yoona turun dari mobil mewah yang dikemudikan Donghae sambil berdecak kagum pada rumah mewah yang menjulang tinggi di depannya. Wanita itu sejak menjejakan kakinya di halaman rumah Donghae yang luas tak henti-hentinya bergumam pelan dan juga terkagum-kagum pada rumah Donghae yang mewah. Sementara itu, Donghae tampak tidak suka dengan sikap norak Yoona yang dinilainya terlalu berlebihan.


            “Ayo masuk.”


            “Paman, ini rumah paman? Bagus sekali.”


            Donghae menolehkan kepalanya ke belakang sambil mendengus kesal ketika Yoona tak kunjung mengikutinya dan justru sibuk mengagumi rumahnya yang besar. Pria itu dengan gusar menarik tangan Yoona kasar dan segera menyeret tubuh Yoona untuk masuk ke dalam rumahnya.


            “Kau tidak perlu bersikap berlebihan seperti itu, ini hanya sekedar rumah, bukan surga!”


            “Tapi rumah paman sangat indah seperti surga, apa paman hidup sendiri di dalam rumah ini?” tanya Yoona penuh ingin tahu. Donghae memilih diam dan tidak mau menjawab pertanyaan Yoona lebih jauh karena ia yakin wanita itu pasti akan semakin mengorek hal pribadinya jika ia memberikan jawaban pada wanita itu.


            Ketika mereka tiba di ambang pintu, seorang pria tua dengan seragam hitam putih datang menghampiri Donghae sambil membungkukan tubuhnya dalam. Pria itu menatap Yoona bingung dan seketika menatap wajah Donghae untuk meminta jawaban atas kemunculan Yoona yang tiba-tiba.


            “Dia adalah Yoona, ibu dari anakku. Ia akan tinggal di sini selama masa kehamilannya, jadi perlakukan dia dengan baik. Penuhi semua kebutuhannya dan jangan sampai terjadi sesuatu padanya, karena hal itu akan berpengaruh pada calon anakku. Apa kau mengerti?”


            “Saya mengerti tuan.” ucap pria tua itu penuh hormat. Ia kemudian beralih pada Yoona yang sejak tadi hanya diam sambil menatap seisi rumah milik Donghae dengan mata yang berkilat-kilat kagum.


            “Selamat pagi nona, perkenalkan saya adalah Kang Junpyo, kepala pelayan di rumah tuan Donghae. Selama di sini nona akan dilayani oleh nyonya Jang Sunmi dan Kim Hara, mereka adalah pelayan yang bertugas untuk menemani anda.”


            “Selamat pagi, aku Im Yoona, salam kenal.” ucap Yoona ramah sambil membungkukan tubuhnya sopan pada pelayan-pelayan itu. Donghae memberi isyarat pada tuan Kang untuk mengikutinya ke dalam ruang pribadinya, sedangkan Yoona langsung ia serahkan pada nyonya Jang dan Hara untuk diantarkan ke kamarnya.


            “Mari nona saya antarakan ke kamar anda.”


            “Tapi, paman mau pergi kemana?”

__ADS_1


            “Bukan urusanmu, beristirahatlah di kamarmu.” ucap Donghae dingin dan langsung berlalu begitu saja tanpa memperhatikan raut wajah Yoona yang berubah mendung.


-00-


            Yoona memandangi bintang-bintang dari balkon kamarnya sambil bertopang dagu. Wanita itu saat ini memikirkan banyak hal di dalam kepalanya. Dan sekarang ia merasa merindukan ayahnya. Sudah dua minggu ia tidak bertemu ayahnya. Pasti sekarang ayahnya sedang mengkhawatirkannya karena ia tiba-tiba diusir dan tidak pernah memunculkan batang hidungnya lagi. Tapi jika ia datang untuk menemui ayahnya, ia takut eommanya akan kembali membentaknya dan mengucapkan berbagai kata-kata kasar yang menyakitkan hati, ia merasa trauma atas hal itu. Apalagi sekarang ia tengah mengandung, eommanya jelas-jelas akan semakin mencercanya dengan


berbagai kata-kata kasar karena ia langsung hamil dalam kurun waktu dua minggu. Mengingat hal itu rasanya Yoona ingin menangis dan juga berteriak bahagia. Tak pernah ia duga jika kehidupannya akan langsung berubah begitu saja hanya dalam waktu dua minggu. Bahkan ia tidak pernah berpikir jika ia akan mengandung anak dari seorang pria tua yang memiliki kekayaan sangat berlimpah seperti ini.


            “Apa yang kau lakukan di sana?”


            Suara bass itu mengagetkan Yoona dan membuat Yoona langsung menoleh ke arah sumber suara. Di ambang pintu Yoona dapat melihat Donghae sedang melihatnya dengan wajah datar, dan setelah itu Donghae berjalan menghampirinya yang sedang berdiri di depan pagar pembatas balkon.


            “Aku sedang melihat bintang. Apa yang paman lakukan di sini?”


            “Melihat kondisimu dan juga calon anakku.” Jawab Dongghae datar dan terkesan ketus. Yoona memilih untuk mengabaikan Donghae dan kembali terlarut dalam kegiatannya mengamati bintang. Lagipula Donghae juga selalu memasang wajah garang yang membuatnya takut, sehingga ia tidak terlalu suka berlama-lama berinteraksi dengan Donghae.


            Yoona menoleh ke arah Donghae dengan wajah yang tidak mengerti. Ia merasa semua keperluannya telah dipenuhi oleh nyonya Jang dan juga Hara, karena sejak tadi dua pelayannya itu begitu gigih untuk memberikannya ini dan itu meskipun ia tidak memintanya.


            “Maksud paman? Kurasa nyonya Jang dan Hara telah memberikan semuanya.” jawab Yoona apa adanya. Donghae tampak tidak puas dengan jawaban Yoona, namun ia enggan bertanya lebih lanjut dan memilih diam. Rasanya berada di sebelah gadis kecil yang sedang mengandung anaknya sangat aneh dan tidak wajar. Seharusnya saat ini posisi mereka memang sebagai keponakan dan paman, atau yang lebih manusiawi adalah adik dan kakak, bukan sebagai calon ayah dan ibu. Tapi bagaimanapun juga ini adalah yang terbaik untuk dirinya agar ia bisa segera memiliki calon penerus untuk seluruh harta kekayaanya. Dan lagi-lagi ia harus mengesampingkan usia!


            “Paman, rumah paman besar dan luas, apa paman suka tinggal di sini?”


            Perlu beberapa saat bagi Donghae untuk menjawab pertanyaan itu, pasalnya selama ini ia jarang tinggal di rumah. Baginya rumah hanyalah tempat singgah untuk sekedar melepas penat dan juga mengerjakan tugas-tugas kantor yang tertunda, jadi ia merasa tidak memiliki rasa apapun terhadap rumah ini.


            “Aku tidak tahu, lalu bagaimana denganmu?”

__ADS_1


            “Aku, aku senang tinggal di sini. Rumah ini luas dan besar. Dulu aku selalu bermimpi untuk tinggal di rumah sebesar ini. Meskipun saat itu aku jelas tidak akan mungkin memilikinya karena ayahku hanya seorang pegawai kantor biasa yang kemudian mendapat PHK karena penyakit stroke yang menyerangnya dan membuatnya lumpuh. Tapi sayangnya rumah ini sedikit sepi, paman harus memiliki banyak anak untuk meramaikan rumah ini.” ucap Yoona dengan nada santai. Donghae menatap Yoona dengan tatapan aneh yang sulit ia artikan, ia pikir Yoona adalah gelandangan yang sebatang kara.


            “Kau memiliki keluarga?”


            “Tentu saja, apa paman pikir aku terlahir begitu saja tanpa seorang ayah dan ibu?” tanya Yoona tergelak. Donghae merasa bodoh sekarang karena baru saja bertanya pada seorang gadis kecil yang begitu polos seperti Yoona.


            “Kukira kau adalah gelandangan yang sebatang kara, karena Henry tidak pernah mengatakan padaku jika kau memiliki keluarga.” jawab Donghae santai tanpa memikirkan perasaan Yoona.


            “Aku memiliki ayah dan ibu, tapi ibuku mengusirku karena aku tidak mengerjakan perintahnya. Saat itu aku sedang tidak enak badan, kemudian aku memutuskan untuk tidur sebentar sebelum mengerjakan pekerjaan rumahku. Tapi entah kenapa sore itu eomma pulang dalam keadaan yang begitu kacau. Ia marah padaku dan mengusirku dari rumahnya dengan kata-kata yang menyakitkan. Lalu terakhir yang kuingat sebelum berakhir di rumah sakit adalah aku kedinginan di depan sebuah toko dan semuanya menjadi gelap. Mungkin saat itu aku pingsan.”


            Donghae benar-benar dibuat terkejut dengan cerita masa lalu Yoona yang kelam. Ia merasa memiliki kesamaan nasib dengan Yoona, mereka sama-sama dikecewakan oleh ibu mereka yang seharusnya menjadi sosok lemah lembut dan juga peyanyang. Tapi melihat Yoona yang bercerita dengan begitu tenang, ia merasa jika gadis itu sama sekali tidak memiliki emosi terhadap ibunya. Padahal ia sendiri sejak dulu, selalu merasa marah dan ingin sekali membunuhnya karena sikap kejam ibunya yang rela meninggalkan keluarganya demi pria lain yang merupakan cinta sejatinya.


            “Apa kau membenci ibumu?”


            “Tidak. Saat aku ingin membencinya, aku selalu ingat akan perjuangannya untuk melahirkanku dan membesarkanku, jadi aku tidak akan membencinya. Lagipula eomma seperti itu karena himpitan ekonomi yang mencekik kehidupan kami. Appa mengalami stroke di usia kerja, lalu tiba-tiba ia diPHK dan kami tidak memiliki pemasukan lain selain dari pekerjaan appa, padahal appa membutuhkan banyak biaya untuk pengobatannya, sehingga eomma harus menjadi tulang punggung keluarga dengan menjadi penyanyi di sebuah bar. Sebenarnya aku ingin membantu eomma dan bekerja, tapi aku tidak lulus high school. Aku keluar sebelum sempat melaksanakan ujian, sehingga aku tidak memiliki ijazah high school.”


            “Kau memiliki kehidupan yang rumit, tapi kau bisa menjalaninya dengan penuh semangat. Kau pasti adalah gadis yang kuat. Bahkan aku mungkin tidak bisa melakukannya sama sepertimu. Pantas jika Henry begitu kagum denganmu dan memintaku untuk selalu melindungimu dengan adanya bayi itu.” 


           “Hoaaamm..”


            Tiba-tiba Yoona menguap lebar dengan mata berair yang hampir mentes dari sudut matanya. Donghae kemudian mendorong Yoona untuk masuk ke dalam kamarnya dan tidur. Lagipula ini sudah sedikit larut, dan ia tidak ingin Yoona kelelahan yang akan berakibat pada terganggunya tumbuh kembang bayinya.


            “Cepat tidur, aku tidak mau perkembangan anakku terganggu karena ibunya suka tidur larut malam.”


            Yoona terkikik geli ketika Donghae mendorongnya ke atas ranjang dan menyelimutinya hingga sebatas dagu. Sekarang ia benar-benar mirip seperti anak kandung Donghae.

__ADS_1


            “Selamat malam paman, jangan lupa istirahat agar paman juga tidak kelelahan.”


            Setelah itu Yoona segera memejamkan matanya dan mulai hanyut ke dalam alam mimpi. Sedangkan Donghae yang masih setia berdiri di depannya hanya mampu memandang Yoona datar dengan segala pikirannya tentang sosok Yoona yang banyak belum ia ketahui.


__ADS_2