
“Apa belum ada tanda-tanda dari istriku?”
“Maaf tuan, kami masih dalam tahap pencarian. Saat ini kami sedang melacak keberadaan tuan Kim Yunho karena menurut dugaan kami saat ini nona Yuna sedang bersama dengannya.”
Changmin mendengus gusar dengan hasil pencarian yang sangat lambat itu. Sudah lebih dari seminggu ia menunggu kabar mengenai Yuna, namun hasil yang ia dapat selalu nihil. Padahal petunjuk mengenai Yuna sekarang sudah lebih jelas diketahui setelah ia mendapatkan informasi dari pihak rumah sakit jika pasien terakhir yang ditangani Yuna dalah Kim Yunho. Dan ia pikir saat ini Yuna memang sedang diculik oleh pria itu karena ternyata Yunho memiliki riwayat sakit jiwa yang parah. Namun anehnya, jika Yunho adalah pria yang diceritakan oleh ibu Yuna, seharusnya Yuna tidak menerima pria itu sebagai pasiennya. Bukankah Yuna takut pada Yunho? Tapi jika Yunho adalah mantan kekasih Yuna, seperti dugaannya selama ini, bisa saja menghilangnya Yuna adalah sebuah kesengajaan karena wanita itu ingin kabur bersama pria yang ia cintai.
“Tuan, mungkin anda bisa menemui tuan Lee Hyukjae karena menurut data milik kami, tuan Kim Yunho adalah sepupu dari tuan Lee Hyukjae.”
Changmin tampak tidak fokus ketika petugas polisi itu memberikan sebuah kertas berisi alamat rumah dan kantor milik Lee Hyukjae. Sejak tadi ia terlalu banyak berspekulasi tentang menghilangnya Yuna hingga ia lupa jika saat ini ia sedang di markas kepolisian Seoul.
“Baiklah, aku akan mencoba menemui Lee Hyukjae. Terimakasih atas informasinya.”
Changmin langsung bergegas pergi menuju alamat kantor milik Lee Hyukjae seperti yang tertera jelas di dalam kertas. Ia pikir tidak ada salahnya pergi ke kantor sepupu Yunho karena mungkin pria itu bisa memberikan sedikit petunjuk untuknya. Lagipula ia sudah cukup pusing dengan kasus menghilangnya Yuna karena setiap malam ia selalu berpikiran buruk mengenai Yuna. Ia takut jika ternyata Yuna sebenarnya telah meninggalkannya bersama pria lain. Selama itu ia tidak pernah tahu bagaimana perasaan Yuna untuknya. Setiap ia menyatakan cintanya, Yuna tidak pernah benar-benar menanggapi pernyataan cintanya dengan serius, seperti hanya dirinya saja yang memiliki perasaan itu, sedangkan Yuna, ia tidak pernah tahu bagaimana perasaan wanita itu padanya.
“Permisi, bisa aku bertemu dengan Lee Hyukjae?”
Ketika tiba di gedung pencakar langit milik Pentagon Corps, Changmin langsung melesat begitu saja ke meja resepsionist untuk menanyakan dimana keberadaan Lee Hyukjae. Ia bahkan tidak memarkirkan mobilnya dengan benar hingga harus mendapatkan teguran dari petugas keamanan. Namun ia tidak peduli. Ia hanya terus berlari menuju meja resepsionist dengan harapan agar segera menemukan Yuna.
“Itu tuan Lee Hyukjae.” tunjuk wanita muda itu. Seketika Changmin menoleh ke kanan dan ia langsung menemukan seorang pria berjas hitam yang sedang berjalan dikelilingi oleh orang-orang berjas yang sama-sama seorang eksekutif muda.
“Apa anda telah membuat.... tuan! tuan! kau tidak bisa bertemu tuan Lee tanpa membuat janji. Tuan!”
Tanpa menghiraukan panggilan dari petugas resepsionist itu, Changmin langsung berlari kearah Hyukjae yang sebentar lagi akan melangkah masuk ke dalam lift.
“Tuan Lee Hyukjae!” teriak Changmin nyaring. Orang-orang yang berada di sekitar loby langsung menoleh kearah Changmin dengan tatapan aneh. Namun Changmin sama sekali tidak peduli dan ia hanya terus berlari untuk mengejar Hyukjae yang agaknya tidak terlalu menghiraukannya.
“Tuan Lee tunggu, aku ingin membicarakan masalah Kim Yunho.”
Seketika pintu lift itu terbuka dengan Hyukjae yang langsung menatap datar dengan gaya angkuh khas seorang CEO.
“Masuklah.”
Dengan napas memburu, Changmin segera masuk ke dalam lift itu bersama dengan beberapa pria berjas yang tampak kaku. Mereka dengan terang-terangan melirik pakaian Changmin yang tampak lusuh dan dipenuhi keringat karena seharian ini ia telah pergi kesana kemari untuk mencari petunjuk mengenai keberadaan Yuna.
__ADS_1
“Maaf, apa kau benar sepupu dari Kim Yunho?”
“Kita akan membahasnya di ruanganku.”
Changmin mengangguk mengerti dan langsung membungkam bibirnya rapat-rapat. Mungkin ia memang harus menunggu sedikit lebih lama untuk mendapatkan informasi yang ia inginkan. Tapi ia berharap Hyukjae benar benar akan memberinya informasi mengani Yunho atau dimanapun keberadaan pria itu karena ia sudah tidak sabar untuk membawa Yuna kembali ke dalam pelukannya.
-00-
Yuna terlihat lelah sambil memandangi jam dindingnya yang sebentar lagi bergerak ke angka tiga. Siang ini
seharusnya ia memiliki janji makan siang bersama Yunho. Tapi entah kenapa hingga tiga jam lamanya ia menunggu di restoran tempat mereka berjanji untuk bertemu, pria itu tak kunjung datang juga. Bayang-bayang buruk yang sejak tadi ditepisnya mulai berlomba-lomba masuk ke dalam otaknya hingga ia merasa semakin panik. Tak biasanya Yunho mengingkari janji seperti ini. Jika memang ia datang terlambat, biasanya Yunho akan menghubunginya terlebih dahulu agar ia tidak khawatir.
“Permisi, apa kau akan memesan makanan sekarang?”
Entah sudah berapa kali pelayan itu datang ke meja Yuna untuk menanyakan makanan yang akan dipesan Yuna. Sayangnya kali ini Yuna kembali menggelengkan kepalanya sambil menatap getir pada wanita itu.
“Maaf pria yang kutunggu belum datang, bisakah kau memberiku sedikit waktu.” ringis Yuna kecil. Ia sebenarnya cukup malu pada pelayan itu, namun ia tidak bisa berbuat apapun karena hingga detik ini Yunho belum juga datang ke restoran itu.
“Yuna...”
Yuna menoleh cepat kearah sumber suara sambil tersenyum senang. Akhirnya pria yang ia tunggu sejak tadi datang juga. Namun bukanya duduk di sebelah Yuna, Yunho justru langsung menarik tangan Yuna dan pergi begitu saja dari restoran itu.
“Yunho hentikan, kenapa kita pergi dari sini? Pelayan itu menatapku dengan tatapan galak, Yunho!”
Yuna berteriak gusar sambil menghentikan langkah Yunho yang lebar-lebar. Namun seperti tuli, Yunho justru terus menyeretnya ke dalam mobil dan membanting keras-keras pintu itu hingga Yuna berjengit kaget di dalam mobil.
“Apa-apaan kau ini? Seenaknya saja datang dan menyeretku pergi. Aku telah mengubungimu hingga beratus-ratus kali, tapi semuanya selalu berakhir dengan suara operator. Dan sekarang kau justru mempermalukanku seperti ini.” omel Yuna panjang lebar. Yunho masih tetap bergeming di tempatnya sambil mengemudikan mobilnya dalam diam. Ia sepertinya tak berminat untuk meladeni Yuna. Namun semakin dibiarkan, wanita itu justru semakin berisik di sampingnya dan membuatnya kehilangan konsentrasi untuk mengemudikan mobilnya.
“Kau sudah selesai?” tanya Yunho datar.
“Sudah. Sebenarnya ada apa denganmu Yunho, kau tidak pernah seperti ini sebelumnya.”
“Ponselku mati, aku tidak bisa menghubungimu untuk membatalkan acara makan siang kita karena aku ada urusan mendadak dengan klienku.”
__ADS_1
Yuna berdecak jengkel mendengar alasan itu. Sungguh ia merasa malu pada pelayan tadi karena Yunho langsung menariknya begitu saja tanpa memberinya kesempatan untuk sekedar meminta maaf pada pelayan yang telah puluhan kali menawarkan makanan padanya.
“Tidak seharusnya kau langsung menarikku seperti ini, aku malu pada pelayan itu.”
“Abaikan saja.” jawab Yunho dingin. Entah kenapa aura Yunho hari ini sedang buruk. Pria itu tampak sangat dingin dan juga kasar, suatu hal yang sangat jarang terlihat dari Yunho sejak ia tinggal bersama Yuna.
“Ada apa denganmu hari ini, kau tidak seperti Yunho yang kukenal?”
“Memangnya kau benar-benar mengenalku?” tanya Yunho datar. Pria itu masih tetap terpaku pada jalanan di depannya tanpa sedikitpun menoleh pada Yuna. Ia seperti sedang memiliki masalah yang serius, dan dugaan Yuna masalah itu masih berkaitan dengan percakapan mereka tadi malam.
“Apa kau marah karena aku menanyakan masa laluku padamu? Ayolah Yunho, aku tidak bermaksud menuduhmu berbohong. Aku tahu kau mungkin sedang melindungiku dari sesuatu yang buruk di masa lalu.”
“Sudah berapa kali kukatan, aku tidak mau membahas masa lalu. Lebih baik kau hilangkan seluruh prasangkamu itu dan diam.”
Yunho berseru kasar dengan rahang yang terlihat mengeras. Sedangkan Yuna, ia tampak syok karena ia tidak pernah mendapatkan bentakan dari Yunho sebelumnya. Dan semalam mereka hampir saja berakhir dengan sebuah pertengkaran jika ia tidak mengalah dan meredamnya dengan segelas coklat panas kesukaan Yunho.
“Aku tahu kau tidak suka dengan masa laluku, tapi aku terus melihat bayangan-bayangan aneh di dalam kepalaku. Yunho, kumohon bantu aku menemukan jawabannya. Aku tersiksa dengan semua ini.” ucap Yuna dengan wajah memelas. Wanita itu tampak frustrasi dengan seluruh mimpi-mimpi buruknya yang semakin lama semakin intens. Bahkan semalam ia memimpikan seorang pria dengan tuksedo hitam sedang menggandengnya di altar dengan dirinya yang tersenyum manis pada pria itu. Tapi yang membuatnya bingung, di dalam mimpinya ia justru menikah dengan pria lain, dan mimpinya tentang Yunho justru mimpi yang sangat mengerikan tentang penculikan.
“Yunho, semalam aku bermimpi sedang bergandengan dengan seorang pria di altar. Apa dulu aku sudah pernah menikah?”
Seketika tangan Yunho mengepal dengan buku-buku jari yang tampak memutih. Ia benci dihadapkan pada situasi dimana ia tidak bisa mengatakan apapun, dan hanya bisa menggeram karena marah. Yuna tidak boleh mengingat masa lalunya. Wanita itu harus menjadi miliknya, dan selamanya hanya untuknya.
“Itu hanya mimpi, jangan terlalu dipikirkan. Maafkan aku.” akhir Yunho dengan lembut. Pria itu memanfaatkan lampu lalu lintas yang sedang menunjukan warna merah untuk menghentikan mobilnya, dan menatap manik Yuna lembut.
“Kau saat itu terbentur dengan keras sayang, jika aku menceritakan masa lalumu, syaraf-syaraf di otakmu akan bereaksi lebih dahsyat. Dokter memintaku untuk tidak mengingatkanmu pada kejadian di masa lalu karena kau akan mengalami kesakitan yang lebih parah nantinya. Jadi, tolong jangan paksa aku untuk menceritakan apapun tentang masa lalumu hmm?”
Yunho mengelus puncak kepala Yuna lembut dan mulai mengecupi punggung tangan Yuna penuh sayang. Perlakuannya yang manis itu tak ayal membuat Yuna luluh dan akhirnya memilih untuk memahami kondisi Yunho. Jika berada di posisi Yunho ia mungkin juga akan melakukan hal yang sama karena ia juga tidak ingin menyakiti orang yang dicintainya.
“Maafkan aku Yunho, aku sudah memaksamu untuk menceritakan masa laluku.”
“Tidak masalah, sekarang ayo kita pulang. Aku memiliki kejutan untukmu.”
“Kejutan?” tanya Yuna sambil mengernyitkan dahinya. Ia menatap Yunho sungguh-sungguh dan meminta pria itu untuk menjelaskannya. Namun dengan menyebalkannya pria itu hanya memberikan kerlingan misterius pada Yuna sebagai jawaban atas permintaan wanita itu.
__ADS_1