Kontratransferensi

Kontratransferensi
Case Three: Stockholm Syndrome (Sixty Three)


__ADS_3

Prangg


            Yoona memekik terkejut ketika salah satu gelas yang berada di atas wastafel jatuh berserakan di dekat kakinya. Cepat-cepat Yoona berjongkok untuk memunguti pecahan beling itu. Namun sebelum ia selesai membereskan semua kekacauan yang dibuatnya, seorang wanita paruh baya datang dengan suara menggelegar dan wajah yang sangat menyeramkan.


            “Apa lagi yang kau lakukan! Dasar gadis bodoh tak berguna. Kau ingin menghancurkan seluruh perabotan rumahku, hah! Kau dan ayahmu yang cacat itu sama saja, kalian sama-sama tidak berguna!”


            Nyonya Im berteriak-teriak dengan kasar sambil berkacak pinggang di depan Yoona. Sedangkan Yoona hanya mampu menangis sambil membersihkan pecahan beling itu satu persatu. Ayahnya yang berada di ambang pintu tampak tak mampu berbuat apa-apa karena ia lumpuh. Sudah sejak lima bulan yang lalu ayahnya terserang penyaikit stroke, sehingga sang ayah tidak mampu berjalan lagi ataupun berkeja, dan karena hal itu nyonya Im setiap hari harus bekerja keras untuk menghidupi keluarganya dengan menjadi penyanyi di sebuah bar.


            “Mmaafkan aku eomma. Aku tidak sengaja.”


            “Tidak sengaja kau bilang? Hampir setiap hari kau selalu memecahkan barang-barang milik eomma. Jika kau merusak barang milik eomma sekali lagi, eomma akan mengusirmu dari rumah ini. Eomma tidak mau menampung anak tak berguna sepertimu di rumah ini. Belum lagi ayahmu yang cacat itu membutuhkan banyak uang untuk berobat, kau membuat hidupku semakin terbebani!”


            Setelah mengucapkan hal menyakitkan itu, nyonya Im segera keluar dari rumahnya sambil membanting pintu ruang tamu keras-keras. Sedangkan Yoona, ia masih setia berjongkok di atas lantai sambil membersihkan sisa-sisa beling yang cukup tajam dengan seluruh hatinya yang terasa sakit karena penghinaan eommanya sendiri.


            “Yoona, maafkan appa nak. Appa membuatmu menderita seperti ini.”


            “Tidak apa-apa, mungkin eomma hanya lelah karena semalam eomma pulang pukul dua belas malam. Dan semua ini memang karena kecerobohanku, jadi appa tidak perlu meminta maaf padaku.” ucap Yoona halus sambil menyeka bulir-bulir air mata yang turun membasahi pipinya. Setelah itu Yoona segera bangkit untuk membuang sisa-sisa beling yang sudah ia kumpulkan. Ia harus segera membersihkan kekacauan yang ia buat sebelum eommanya kembali dan membentak-bentaknya dengan kata-kata lebih kasar yang menyakitkan.


-00-


            Yoona meringkuk sendiri di depan sebuah toko yang tutup sambil memeluk tubuhnya yang menggigil. Masih teringat jelas di kepalanya bagaimana sang eomma memarahinya habis-habisan dan mengusirnya dari rumah karena ia belum memasak makanan untuk makan malam. Padahal semua itu ia lakukan bukan karena tanpa alasan. Sore ini ia merasa tidak enak badan dan kepalanya terasa berputar. Ia kemudian memutuskan untuk beristirahat sedikit lebih lama agar kondisi tubuhnya menjadi lebih baik. Tapi siapa sangka jika eommanya hari ini sedang mengalami masalah di tempat kerjanya, sehingga hal itu berimbas padanya yang sedang sakit. Dengan kasar eommanya membentak-bentaknya dan melemparkan dirinya keluar rumah. Meskipun ia sudah memohon-mohon pada eommanya untuk tidak mengusirnya, tapi sang eomma seperti tuli dan tidak mendengarkan jeritan memilukannya. Dan pada akhirnya ia berakhir di depan sebuah toko yang sudah tutup dengan cuaca Seoul yang benar-benar tak bersahabat. Berkali-kali Yoona menggigil kedinginan karena terpaan angin musim gugur yang tidak bersahabat. Apalagi ia hanya menggunakan kaos tipis dan juga celana pendek selutut yang sama sekali tidak akan melindunginya di cuaca ekstrim musim gugur yang akan memasuki musim dingin.


            Perlahan-lahan Yoona mencoba memejamkan matanya sambil membayangkan kehidupannya yang dulu


penuh kebahagiaan. Sebelum ayahnya terkena PHK karena stroke, kehidupannya benar-benar bahagia. Ia hidup bahagia seperti gadis-gadis seusianya dan juga mengenyam pendidikan yang layak. Namun ketika ayahnya mulai sakit-sakitan saat ia menginjak bangku senior high school, sikap ibunya mulai berubah. Ibunya sering uring-uringan dan memarahinya tanpa sebab yang pasti. Ibunya juga beberapa kali menyalahkan ayahnya atas kehidupan sialnya yang harus merawat seorang suami yang lumpuh. Lalu ketika ia berada di tahun terakhir senior high school ibunya menyuruhnya untuk berhenti sekolah. Padahal ia ingin melanjutkan sekolahnya agar ia bisa mendapatkan pekerjaan yang layak, tapi ibunya memaksanya untuk berhenti dan tidak mau membiayai sekolahnya lebih lanjut. Akhirnya sejak lima bulan yang lalu ia menjadi pengangguran dan hanya bisa merawat ayahnya di rumah. Ia tidak bisa mencari pekerjaan di luar sana, karena ia hanya memiliki ijzah junior high school, padahal kebanyakan para pencari karyawan menginginkan seorang pegawai yang minimal menempuh pendidikan senior high school, sehingga ia benar-benar tidak bisa menghasilkan apapun dan hanya meratapai nasibnya yang menyedihkan sambil merawat ayahnya yang sakit.


            Yoonapun kembali merapatkan tubuhnya sambil menyandarkan kepalanya pada sudut dinding toko yang kotor. Jika ia bisa melewati malam yang beku ini dengan selamat, maka ia bersumpah akan mencari pekerjaan esok pagi untuk bertahan hidup. Tapi jika ia tidak bisa melewatinya dan mati kedinginan di sini, maka ia hanya berharap semoga keluarganya mendapatkan kehidupan yang lebih baik, terutama ibunya agar sang ibu tidak terus menerus mengalami siksaan batin karena kehidupan miskin mereka.


            “Tuhan, aku mohon berikan yang terbaik untuk mereka.”   


-00-


            Yoona membuka matanya perlahan dan ia langsung dibuat terkejut dengan kemunculan seorang pria asing yang sedang duduk santai di sudut ruang perawatannya dengan kedua mata yang menatap tajam kearahnya. Sekilas Yoona menjadi gugup dan ia langsung menyembunyikan wajahnya di dalam selimutnya. Namun ketika suara bass itu mengalun keras dan menyuruhnya untuk menurunkan selimutnya, Yoona tak memiliki pilihan selain menuruti perintah dari pria asing itu.

__ADS_1


            “Turunkan selimutmu, aku ingin berbicara denganmu, Im Yoona.”


            Yoona mengernyitkan dahinya bingung ketika pria itu ternyata mengetahui namanya. Padahal ia sangat yakin jika ia belum pernah bertemu dengan pria itu. Bahkan setelah ia dirawat selama dua minggu di rumah sakit ini, ia sama sekali belum pernah melihat pria itu. Satu-satunya pria yang ia lihat selama ini adalah dokter Henry, dokter tampan dan baik hati yang selama ini selalu memperlakukannya seperti adiknya sendiri.


            “Aaanda siapa? Kenapa anda mengetahui namaku?” tanya Yoona kikuk dengan nada formal. Donghae berjalan mendekati Yoona dan ia merasa ingin tertawa ketika mendengar cara Yoona berbicara yang terdengar seperti alien.


            “Namaku Lee Donghae, aku adalah ayah dari bayi yang kau kandung.”


            Sumpah demi apapun, saat mengatakan hal itu Donghae rasanya ingin mencabut lidahnya sendiri karena ia merasa sangat aneh. Bahkan ia masih tidak menyangka jika ia sekarang sudah terikat dengan seorang anak kecil seperti Yoona karena kehadiran calon buah hati mereka yang sedang berkembang di dalam rahim Yoona. Kemarin Henry menghubunginya jika inseminasi itu berhasil dan saat ini calon bayinya sedang berkembang di dalam rahim Yoona.


            “Ayah? Aaaku hamil?” tanya Yoona tak percaya dengan wajah pucat. Di kepalanya sudah bersarang berbagai macam pikiran buruk terkait dengan kehamilannya yang sangat mendadak. Padahal ia yakin jika selama ini tidak pernah melakukan apapun dengan seorang pria manapun. Bahkan ia sendiri tidak memiliki kekasih. Ditambah lagi selama ini ia selalu menghabiskan waktunya di dalam rumah sakit tanpa pernah berinteraksi dengan seorang pria manapun. Lalu bagaimana mungkin jika ia sedang hamil sekarang?


            “Ceritanya panjang, tapi yang jelas aku serius dengan ucapanku. Dan kau tidak perlu heran jika ayah dari bayi yang kau kandung adalah aku.”


            “Anda terlihat lebih tua dariku.”


            Rasanya Donghae ingin merobek mulut lancang Yoona yang secara tidak langsung mengatakan jika ia tua. Memang ia jauh lebih tua, usia mereka bahkan terpaut dua puluh tahun. Tapi apakah usia memang penting di tengah keadaan genting yang memaksanya untuk segera memiliki seorang calon penerus.


            “Ya aku tahu, bahkan kau tidak perlu memperjelasnya jika usia kita memang terpaut sangat jauh, dua puluh tahun! Tapi aku tak peduli. Bagiku usia bukan halangan untuk memiliki seorang anak.” jawab Donghae ketus. Yoona tampak ketakutan dengan reaksi Donghae yang kasar dan juga galak itu. Padahal ia tidak berniat untuk mengolok pria itu, meskipun ia cukup terkejut dengan fakta baru yang diketahuinya jika ia dan pria itu terpaut dua puluh tahun.


            “Dia sedang memeriksa pasien lain di lantai lima, tapi ia akan datang sebentar lagi untuk mengijinkanmu pulang.”


            “Pulang? Kemana aku harus pulang, bahkan aku tidak punya rumah untuk pulang.” gumam Yoona pelan. Namun Donghae masih bisa mendengar gumaman Yoona yang sangat lirih itu.


            “Kau akan pulang ke rumahku. Mulai sekarang kau akan tinggal di rumahku sampai anakku lahir.”


            “Pulang ke rumah paman? Tapi apakah boleh?”


            Donghae manatap Yoona tajam ketika wanita itu memanggilnya dengan panggilan paman. Rasanya sekarang ia seperti seorang pedofil yang baru saja menghamili keponakannya. Ia benar-benar tidak suka dengan pikirannya sendiri.


            “Jangan panggil aku paman. Kau membuatku terlihat sangat tua. Panggil saja aku Lee Donghae.”


            “Tapi rasanya itu sangat tidak sopan, paman Donghae.” sela Yoona cepat dengan suara kecil di akhir kalimatnya. Donghae mendengus kesal dan lebih memilih untuk membiarkan Yoona dengan segala panggilannya yang aneh. Lagipula hari ini ia sedang tidak ingin berdebat dengan seorang anak kecil seperti Yoona, apalagi hal itu hanya dikarenakan sebuah nama. Rasanya terlalu menggelikan untuk dilakukan oleh seorang pria dewasa sepertinya.

__ADS_1


            Setelahnya suasana di dalam ruangan itu menjadi hening. Donghae yang tengah berkutat dengan pekerjaanya memilih untuk mendiamkan Yoona dan membuat wanita itu berspekulasi sendiri terhadap dirinya. Toh ia tidak peduli jika Yoona menganggapnya sebagai pria brengsek pedofil yang menyukai wanita dibawah umur. Dan jika Henry datang nanti, ia akan membuat pria itu mempertanggungjawabkan perbuatannya karena telah memilih gadis dibawah umur untuk mengandung anaknya.


            “Selamat siang.”


            Tiba-tiba pintu putih di ujung kanan ruangan terbuka dan memunculkan sosok Henry yang sedang membawa sebuah stetoskop di tangannya. Pria itu tersenyum lembut pada Yoona dan tampak mengabaikan kehadiran Donghae di dalam ruangan itu.


            “Dokter Henry.” panggil Yoona sumringah sambil melambai ke arah Henry. Yoona langsung menegakan duduknya ketika Henry berdiri di sebelahnya dan mulai mengecek kondisi Yoona hari ini.


            “Kau sepertinya sudah benar-benar sembuh. Apa kau sudah siap untuk pulang?”


            Yoona mengangguk pelan sambil melirik Donghae yang masih berkutat dengan ponselnya. Henrypun mengikuti arah pandang Yoona dan langsung sadar jika ia harus menjelaskan kondisi Yoona yang sebenarnya saat ini.


            “Kau pasti sudah mengetahui siapa pria itu bukan?”


            “Hmm, paman Lee Donghae, ayah dari bayi yang sedang kukandung.”


            Seketika Donghae melirik Yoona dan Henry bergantian karena saat ini Henry sedang menahan tawanya yang hampir pecah karena mendengar ucapan Yoona.


            “Kau memanggilnya dengan sebutan paman? Itu memang pantas untuknya.” tambah Henry sambil menatap Donghae dengan pandangan mengejek. Pria berwajah tampan itu kemudian kembali pada Yoona, dan kini tatapan matanya lebih serius, ia akan menjelaskan pada Yoona sekarang apa yang sedang terjadi pada gadis itu.


            “Yoona, setelah ini kau akan tinggal bersama Donghae. Pria itu, ia akan melindungimu dan bayi yang sedang kau kandung dengan sepenuh hati karena Lee Donghae membutuhkan bayi itu untuk meneruskan garis keturunannya. Dan setelah kau melahirkan nanti, kau bisa hidup bebas tanpa harus memikirkan bayi itu, karena dia akan menjadi tanggungjawab Donghae sepenuhnya.”


            “Jadi aku hanya wadah?” tanya Yoona pelan dengan wajah sendu. Henry tampak tak tega dan ingin meralat kata-kata wanita itu, jika ia bukan hanya sekedar wadah, tapi ia adalah ibu dari anak itu. Tapi sayangnya Donghae langsung menatapnya tajam dan memberi isyarat padanya untuk tidak mengatakan apapun. Sepertinya Donghae ingin Yoona tidak terlalu berharap lebih pada kehamilan yang sedang dialaminya karena Donghae


nantinya sama sekali tidak akan memasukan Yoona ke dalam hidupnya dan juga anaknya.


            “Ya, kau adalah wadah untuk calon anakku. Jadi selama kau sedang mengandung anakku, kau adalah tanggungjawabku.”


            Tiba-tiba Donghae bersuara dingin dan berjalan cepat mendekati Henry dan Yoona. Pria itu berdiri tepat di sebelah Henry dan menatap wajah Yoona tajam yang sedang menunduk. Dan setelah Donghae mengucapkan hal itu, suasana disekitar mereka mendadak menjadi hening dan kikuk. Yoona yang sedang ditatap oleh dua orang pria sekaligus menjadi gugup dan hanya terdiam sambil memilin ujung selimut yang digunakannya. Sedangkan Henry tampak kesulitan untuk memilih kata-kata yang tepat untuk Yoona karena apa yang dikatakan oleh Donghae meskipun menyakitkan, tapi tidak sampai mengganggu Yoona.


            “Aku akan melindungi bayi ini dengan seluruh nyawaku, karena bagaimanapun bayi ini adalah anakku. Ia memiliki sebagian dari diriku, meskipun hanya sedikit. Dan aku tidak keberatan dengan penawaran yang diberikan paman Donghae, aku akan menjadi wadah untuk bayi ini.”


            Donghae tersenyum puas dengan jawaban yang diberikan Yoona padanya. Ternyata apa yang dikatakan oleh Henry benar jika Yoona adalah satu-satunya wanita yang tepat untuknya, selain Yoona memiliki paras yang tidak terlalu buruk, Yoona adalah gadis penurut yang tidak banyak membantah, sehingga akan lebih mudah baginya untuk mengatur Yoona selama wanita itu tinggal bersamanya nanti.

__ADS_1


            “Kalau begitu cepat buatkan surat untuk kepulangannya, aku sudah bosan berada di rumah sakit ini.” perintah Donghae dingin dan terkesan berkuasa. Henry menganggukan kepalanya mengerti dan segera pergi untuk membuatkan surat perijinan pulang untuk Yoona. Namun sebelum Henry benar-benar keluar dari kamar rawat Yoona, ia berharap semoga Donghae benar-benar akan menyayangi Yoona sepenuh hati, karena wanita itu benar-benar wanita malang yang membutuhkan banyak limpahan kasih sayang.


__ADS_2