Kontratransferensi

Kontratransferensi
I Never Knew I Had a Choice (Thirty Seven)


__ADS_3

Bugh bugh bughh!


            “Bangun brengsek! Bangun! Katakan padaku, siapa yang menyuruhmu untuk membohongiku,


SIAPA?”


            Joey terengah-engah di tempatnya berdiri sambil mencengkeram kemeja lawannya dengan peluh yang membanjiri wajahnya serta wajah membiru yang terlihat mengenaskan. Sedangkan pria yang saat ini sedang dipukulinya terlihat sudah pasrah sambil memohon ampun pada Joey yang sedang kalap di depannya.


            “Maafkan saya tuan.”


Bugh!


            “Aku tidak butuh kata maafmu sialan! Aku butuh jawaban darimu.” ucap Joey emosi sambil terus memukuli wajah seorang pria yang telah berdarah-darah di depannya. Namun semua hal yang ia lakukan saat ini bukan terjadi tanpa alasan. Sore tadi ia tiba-tiba mendapatkan pukulan membabi buta dari Jihoo, pria yang ia ketahui bekerja sebagai asisten Luciana. Dengan penuh emosi pria itu memasuki ruangannya dan langsung menarik kerah kemejanya dengan kasar sambil melayangkan pukulan sebanyak tiga kali di wajahnya hingga sudut-sudut bibirnya membiru. Untung saja ia bukanlah jenis pria lemah yang tidak bisa menggunakan ilmu beladiri, sehingga ia bisa langsung memblokir serangan Jihoo dengan mengunci tangan pria itu di belakang tubuhnya. Namun yang membuatnya terkejut bukanlah pukulan-pukulan yang diberikan oleh Jihoo, tapi alasan yang diberikan pria itu kenapa tiba-tiba ia memukulnya. Jadi setelah ia berhasil menenangkan Jihoo dan memastikan pria itu tidak akan membuat keributan lagi, ia langsung menanyakan baik-baik alasan pria itu tiba-tiba datang memukulinya. Meskipun ia sempat emosi dan ingin membalas pukula pria itu di wajahnya, namun ia memilih untuk mengalah dan mencoba mendengarkan alasan pria itu mengapa tiba-tiba memukulnya. Kemudian Jihoo mulai bercerita jika kedatangannya sore itu karena ingin memberikan perhitungan pada Joey atas seluruh kesengsaraan yang diterima Luciana


setelah mengenalnya. Pria itu bercerita padanya jika Luciana baru saja dipecat dengan tidak terhormat oleh dewan elit di kantornya karena bukti-bukti perselingkuhannya dibeberkan oleh Jihyun. Kemudian hal yang paling mengejutkan yang baru ia dengar dari Jihoo adalah, pria itu mengatakan padanya jika saat ini Luciana sedang hamil. Wanita itu sedang mengandung anaknya, dan usia kandungannya telah berjalan enam minggu. Sungguh, ia tidak pernah tahu mengenai hal itu. Setiap hari informannya melaporkan padanya jika keadaan Luciana baik-baik saja. Bahkan siang ini informan itu masih mengatakan jika Luciana baik-baik saja setelah wanita itu mendapatkan pemecatan tidak terhormat dari kantornya. Mendengar semua cerita dari Jihoo, ia tiba-tiba saja naik pitam dan


ingin menghabisi siapapun yang telah berkhianat kepadanya. Jelas sekali selama ini ia telah ditipu oleh informannya yang brengsek itu. Seseorang telah memanipulasi informannya hingga seluruh informasi yang ia terima selama ini adalah informasi palsu yang menyesatkan. Pantas Luciana terlihat begitu terluka saat itu ketika ia dengan teganya mencaci wanita itu dengan kata-kata kasar ketika berada di depan Jihyun, saat itu ternyata Luciana sedang hamil. Dan kemungkinan besar wanita itu sebenarnya ingin memberitahunya, namun gagal karena ia terlanjur menghujaninya dengan kata-kata kasar yang menyakitkan hati.


            “Cepat katakan padaku atau aku akan membuat seluruh keluargamu membayar atas semua kebohongan yang telah kau lakukan selama ini!” ancam Joey mengerikan. Pria bernama Kim Myungso itu terlihat menelan ludah ketakutan dan langsung memohon-mohon ampun di kaki Joey sambil memeluk kaki pria itu erat untk meminta pengampunan atas seluruh kebohongan yang telah ia lakukan selama ini.


            “Maafkan


saya tuan, saya hanya diperintah oleh nyonya Jihyun. Selama ini nyonya Jihyun selalu mendesak saya untuk memberikan informasi palsu kepada anda dan mengancam akan mencabut beasiswa yang diterima oleh adik saya dari sekolah milik anda tuan. Tuan, saya mohon maafkan saya.”


            “Brengsek! Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku, sekolah itu milikku. Dibangun atas namaku, jadi Jihyun tidak memiliki wewenang di sana. Sekarang pergi dari sini! Aku muak melihatmu.”


            Joey menendang keras meja kerjanya dan langsung menyambar jasnya kasar untuk segera pulang ke mansionnya. Malam ini juga ia harus membuat perhitungan pada wanita licik itu atas seluruh perbuatan jahatnya. Karena wanita itu ia hampir saja kehilangan Luciana dan calon anaknya. Bahkan ia dengan bodohnya masih mengikuti permintaan wanita itu selama ini untuk menjauhi Luciana. Selama lebih dari satu bulan ia benar-benar menjaga jarak dari Luciana demi melindungi wanita itu dari kelicikan Jihyun. Namun tanpa diduga wanita itu tetap saja mengganggu kehidupan Luciana setelah ia memenuhi semua tuntutan wanita itu padanya. Jadi malam ini ia benar-benar akan bersikap tegas pada Jihyun, ia akan menceraikan Jihyun sekarang juga. Tak peduli wanita itu akan menangis darah di depannya atau bersikap drama dengan mencari sensasi di luar sana, ia tidak peduli. Saat ini yang inginkan adalah segera lepas dari wanita egois itu dan mengejar kembali cinta sejatinya yang akan segera pergi meninggalkannya bersama calon anak yang dikandungnya.


-00-


            “Oppa, kau sudah pulang? Aku telah menyiapkan air hangat untukmu dan juga menu makan malam yang kubuat dengan tanganku sendiri. Ah, ada apa dengan wajahmu? Apa kau baru saja berkelahi?” tanya Jihyun penuh drama di depan Joey. Tanpa diduga, Joey langsung mendorong tubuh Jihyun hingga membentur dinding dengan keras dan menatap wanita itu tajam dengan mata elangnya yang berbahaya.


            “Hebat, kau memang actress yang hebat Jihyun sayang.” desis Joey berbahaya sambil menatap mata coklat Jihyun intens. Wanita itu meneguk ludah gugup dan mulai terlihat tidak nyaman sambil mencoba mendorong-dorong tubuh Joey untuk menjauh. Namun bukannya menjauh, Joey justru memindahkan cengkeraman tangannya dari bahu menuju leher wanita itu dan ia mulai mencekik wanita itu dengan keras hingga Jihyun hanya bisa terbatuk-batuk tertahan sambil meminta pertolongan pada para maidnya yang tampak ketakutan di belakang Joey.


            “Katakan padaku apa yang telah kau lakukan pada Luciana selama ini? KATAKAN!” Bentak Joey murka.


            “Uhhukkk uhuuk.. opp... oppa.. lepaskan! Uhuukk.”


            Jihyun mencoba meronta-ronta dari cekalan Joey sambil terus memukul-mukul lengan Joey yang keras. Pria yang saat ini sedang dikuasai amarah itu terlihat tidak seperti suaminya yang selama ini ia cintai. Saat ini Joey terlihat begitu mengerikan dengan mata memerah dan rahang mengetat yang menandakan jika pria itu sedang marah besar. Selama mereka menikah, Joey belum pernah terlihat semarah itu padanya. Dan ini adalah kali pertamanya Joey terlihat begitu mengerikan seperti seorang monster yang hendak memangsanya.


            “Sekarang mengakulah padaku Jihyun ssi, apa selama ini kau sengaja menyakiti Luciana dan memerasku? Kau menyembunyikan semua kebenaran yang telah kau ketahui selama ini, hmm?”


            Jihyun menelan ludahnya takut sambil menggelengkan kepalanya kuat untuk menyangkal tuduhan itu. Ia tidak mungkin mengakui semua kejahatannya selama ini di hadapan Joey, bisa-bisa pria itu akan langsung menghabisinya saat ini juga dengan tangannya yang masih bertengger di lehernya. Tapi melihat bagaimana kemarahan Joey saat ini, jelas pria itu pasti telah mengetahui segalanya. Segala kebohongannya pada pria itu mengenai Luciana.


            “Masih tidak mau mengaku? Baiklah, tidak masalah. Sekarang tanda tangani ini.”


            Joey melepaskan cengkeramannya dari leher Jihyun dan langsung menyodorkan selembar kertas, lengkap dengan pulpen di atasnya. Bagian atasnya tertulis dengan jelas judul dari kertas putih itu, surat perceraian.


            “Oppa, kau ingin menceraikanku?” cicit Jihyun tak percaya. Wanita itu masih belum menerima kertas putih yang disodorkan Joey kearahnya dan justru menatap kertas itu lama dengan tatapan yang sulit diartikan. Mimpi buruknya selama satu bulan belakangan ini akhirnya benar-benar terjadi. Joey benar-benar akan


menceraikannya setelah semua usaha yang telah ia lakukan untuk mencegah pria itu menceraikannya. Selama ini padahal ia mati-matian menjauhkan Luciana dari kehidupan suaminya agar suaminya tidak kembali lagi pada wanita itu. Sayangnya semua rencananya tidak sesuai harapan karena Joey justru semakin membencinya karena sikap liciknya selama ini.


            “Cepat tanda tangani surat ini, aku tidak mau lagi terikat dengan wanita jahat sepertimu. Percuma saja selama ini aku terus mengalah padamu dan memberikan apapun yang kau inginkan untuk menyenangkan hatimu, tapi pada kenyataanya kau tetap saja mengecewakanku. Kau tidak pernah sekali saja membalas kebaikanku dan hanya memenuhi keegoisanmu untuk terus meningkatkan popularitasmu di luar sana. Asal kau tahu Nam Jihyun ssi, pria sepertiku sama sekali tidak butuh kesempurnaan atau kepopuleran. Pria sepertiku hanya membutuhkan ketulusan dan sebuah cinta tanpa batas yang tidak akan lekang oleh waktu. Jadi lebih baik kita memang berpisah karena jalan kita sudah berbeda sejak awal.”


            “Tidak oppa! Jangan ceraikan aku, kumohon. Aku janji, aku tidak akan mengecewakanmu lagi. Mulai sekarang aku akan meninggalkan dunia keartisanku dan hanya fokus pada hubungan rumah tangga kita. Aku... aku akan segera hamil untuk memberikanmu keturunan.” Mohon Jihyun memilukan dengan bulir-bulir air mata


yang begitu banyak membanjiri wajahnya. Namun pria yang ditatapnya hanya memberikan tatapan pias sambil mengarahkan tatapan matanya pada lembar putih yang saat ini sedang ia genggam. Joey jelas tidak akan merubah keputusannya. Ia tetap akan menceraikan Jihyun dan mencoba mengejar Luciana kembali untuk berada di sisinya. Karena ia sadar jika ia benar-benar tidak bisa hidup tanpa wanita itu. Ia sudah terlalu ketergantungan pada Luciana hingga seluruh saraf-sarafnya selalu mendamba untuk merasakan sentuhan lembut dari kulit-kulit tubuh Luciana.


            “Keputusanku sudah bulat. Aku tidak bisa memberimu kesempatan lagi karena selama ini kau telah


membuang begitu banyak kesempatan yang telah kuberikan padamu. Sekarang cepat tanda tangani surat ini atau aku akan melaporkanmu pada polisi atas semua tindakan jahatmu selama ini. Aku memiliki bukti yang sangat kuat Jihyun ssi, jadi kau tidak akan pernah bisa mengelak dari jerat hukum. Terserah mana yang akan kau pilih, hidup membusuk di dalam penjara dengan segala cemoohan dari masyarakat Korea, atau berpisah dariku untuk selamanya.”


            Jihyun meneguk ludah gugup dan terus menangis meraung-raung tanpa bisa menentukan keputusan yang akan ia ambil. Bercerai dengan Joey jelas bukan pilihan yang ia inginkan, sedangkan membusuk di dalam penjara dengan berbagai cemoohan dari masyarakat juga terdengar sangat menakutkan untuk dibayangkan. Jadi semua pilihan itu pada dasarnya tidak ada yang memberikan keuntungan untuknya. Semuanya hanya akan menghantarkannya pada kesengsaraan yang tak bertepi. Tapi kehidupannya dengan Joey sepertinya tidak akan pernah bisa kembali utuh seperti dulu. Sekeras apapun ia berusaha, cinta pria itu memang sudah tidak ada lagi


untuknya. Dan semua itu terjadi karena keegoisannya. Ia yang selama ini terlalu percaya diri bahwa suaminya tidak akan pernah berpaling pada wanita lain, ternyata ia salah. Bagaimanapun, Joey tetaplah Joey, seorang pria normal yang memiliki batas kesabaran dan juga napsu. Jadi ketika ia sedikit saja berpaling dari pria itu untuk mengembangkan karirnya, maka pria itu akan memilih untuk berlabuh ke hati wanita lain yang bisa memberikan kebahagiaan untuknya.


            “Oppa... hikss hikss... aku tidak bisa...”


-00-


            Tidak pernah ada yang tahu jika tiba-tiba hati seorang manusia akan berubah. Semua itu terjadi begitu saja, perlahan-lahan, dan tanpa disadari. Hal itu tak pelak membuat beberapa pihak akan tersakiti karena perubahan hati yang terjadi selalu melibatkan pihak-pihak lain yang akan diuntungkan dan dirugikan.


            Jihyun terpekur sendiri di dalam kamarnya yang gelap dan kosong. Setelah semua kejadian demi kejadian mengerikan berlalu, kini ia merasakan apa yang disebut sebagai kekosongan. Air matanya serasa sudah kering untuk menangisi nasib sialnya hari ini. Diceraikan oleh Joey dalam keadaan yang sangat tidak baik-baik saja. Itu sungguh mengerikan! Bahkan sedikitpun mimpi buruk tentang hal itu, sama sekali tidak pernah ia alami. Selama ini ia selalu membayangkan kehidupannya akan berakhir bahagia bersama Joey, dimana ia dapat berada di tangga tertinggi kesuksesannya, sekaligus ia dapat mewujudkan sebuah keluarga sempurna yang bahagia. Sayangnya, semua itu hanya angan-angannya saja. Tidak ada sesuatu yang indah tanpa adanya pengorbanan. Pada akhirnya ia hanya bisa memilih satu diantara dua pilihan sulit yang tersaji di depannya, hidup bahagia bersama Joey atau sukses dengan karir modelingnya. Tanpa sadar selama ini ia telah memilih pilihan ke dua yang akan menjadi akhir dari hidupnya. Meskipun di bibirnya ia selalu mengatakan ia ingin terus hidup bahagia bersama Joey, nyatanya semua tindakannya selama ini selalu menjurus pada pilihan yang ke dua. Sehingga pada akhirnya ia harus merelakan kehidupan rumah tangganya bersama Joey hancur karena kehadiran orang ke tiga yang lebih mampu memberikan kebahagiaan untuk suaminya.


            Ditempat lain, Joey terlihat begitu kalut dan frustrasi setelah Jihoo memberitahunya jika hari ini Luciana akan pergi ke New York. Pria itu memberitahunya jika Luciana akan sepenuhnya pindah ke negara itu untuk menyusul Aleyna dan kembali membangun karirnya yang telah hancur di Korea. Dengan kecepatan penuh, Joey melajukan mobilnya menuju rumah Luciana di tengah-tengah suasana macet yang terjadi di sepanjang jalan raya Seoul. Kali ini ia sangat takut akan menghancurkan semuanya. Ia takut kehilangan wanita yang sangat dicintainya bersama dengan janin yang sedang dikandung Luciana. Andai ia mengetahui hal itu sejak awal, ia tidak akan mencemooh Luciana hari itu. Ia tidak akan menyakiti Luciana di depan Jihyun dan justru akan merengkuh tubuh Luciana di depan Jihyun untuk menunjukan pada wanita itu jika sekarang hatinya telah berpaling pada wanita lain. Sayangnya saat itu ia terlalu tolol karena memilih untuk menuruti kemauan Jihyun yang justru hampir membuat kebahagiaanya sendiri hancur. Namun setidaknya sekarang ia dapat bernapas lega karena ia baru saja terbebas dari cengkeraman wanita jahat itu. ia Akhirnya ia telah resmi bercerai dari Jihyun.


Tok tok tokk


            “Luciana! Luciana! Kau di dalam?”

__ADS_1


            Dengan tidak sabar Joey mengetuk-etuk pintu di depannya sambil meneriakan nama Luciana berkali-kali agar wanita itu segera membuka pintunya. Namun selama apapun ia mengetuk pintu coklat itu hingga menggedornya dengan gedoran yang cukup keras, wanita itu tetap tidak membukakan pintu untuknya. Rumah itu terasa sunyi dan senyap. Hanya suara kicauan burung dan suara desir angin yang menemani kesunyiaannya di sana. Joey lantas segera menarik keluar ponselnya untuk menghubungi Jihoo. Pria itu harus bertanggungjawab atas seluruh informasi yang ia berikan beberapa menit yang lalu, karena saat ini ia tidak bisa menemukan Luciana di rumahnya.


            “Halo, dimana Luciana sekarang?” tanya Joey langsung dengan kalimat tegas. Samar-samar Joey mendengar suara berisik dari ujung telepon yang menandakan jika saat ini Jihoo sedang berada di suatu tempat yang ramai. Sayangnya pria itu tidak bisa menebak dimana Jihoo sekarang karena saat ini seluruh isi kepalanya hanya dipenuhi nama Luciana, Luciana, dan Luciana.


            “Di bandara, ia akan segera berangkat menuju New York.”


            “Sialan, kau menipuku!” Umpat Joey kesal. Ia kemudian segera memasukan ponselnya kedalam saku celananya dan berlari menuju mobilnya untuk menyusul Luciana ke bandara. Ia harap ia dapat tiba di sana tepat waktu karena saat ini jalanan Seoul sedang benar-benar macet. Secepat apapun mobil yang dimilikinya, itu tetap tidak bisa menolongnya untuk membelah kerumunan mobil-mobil yang memadati jalanan Seoul di depannya.


            “Sialan! Bisakah kau lebih cepat? Dasar mobil sialan!”


            Joey terus mengumpat di sepanjang perjalanannya menuju bandara Incheon sambil tetap mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Tak peduli jika mobil-mobil lain akan merasa terganggu dengan sikapnya yang sangat bar-bar itu, yang terpenting saat ini adalah segera tiba di bandara sebelum Luciana benar-benar pergi meninggalkannya dengan seluruh kesalahpahaman yang telah ia


buat.


Priitt priitt


            “Tuan anda tidak boleh parkir di sana.”


            Seorang petugas keamanan berlari-lari dari kejauhan sambil terus membunyikan peluitnya nyaring ketika Joey dengan tanpa aturan menghentikan mobilnya di sembarang tempat dan tidak mempedulikan tanda dilarang parkir yang terpampang dengan jelas di depannya. Pria berjas hitam itu melirik sekilas petugas keamanan yang


tampak tergopoh-gopoh di depannya dan langsung melemparkan kunci mobilnya pada pria setengah baya itu dengan penuh ketidaksopanan.


            “Anda akan didenda bila memarkirkan mobil anda di sana.”


            “Persetan dengan denda, berapapun akan kubayar. Sekarang parkirkan mobilku di tempat yang seharusnya. Aku buru-buru.”


            Joey langsung lari begitu saja tanpa mengindahkan sang petugas keamanan yang terus menerus memanggilnya untuk segera memindahkan mobilnya ke area parkir. Ia benar-benar tidak peduli jika mobilnya nanti akan diderek atau disita oleh pihak bandara karena ia tidak mematuhi peraturan yang ada. Saat ini ia harus segera menemukan Luciana sebelum wanita itu pergi meninggalkannya. Joey kemudian berlari menuju loby bandara untuk melihat jadwal keberangkatan pesawat tujuan New York. Dan sialnya setelah ia tiba di sana, papan elektornik berwarna biru merah yang menampilkan jadwal penerbangan itu menunjukan jika pesawat tujuan New York telah berangkat satu setengah jam yang lalu. Dengan gusar Joey segera merogoh saku celananya untuk menghubungi si keparat Jihoo yang hari ini telah menipunya mentah mentah.


            “Sialan, apa kau sedang mempermainkanku?” sembur Joey galak. Jihoo tergelak pelan di seberang telepon, lalu berucap sinis pada Joey untuk membalas setiap kalimat kasar yang dilontarkan pria itu padanya.


            “Tentu saja tidak tuan Lee. Aku jujur mengatakan padamu jika Luciana akan pergi ke New York, tapi aku sengaja tidak memberitahumu jam keberangkatan Luciana agar kau tidak bisa mengacaukan hidupnya lagi. Sekarang nikmatilah hidupmu tanpa Luciana dan juga janin yang saat ini sedang dikandung Luciana. Sam...”


            Joey langsung mematikan sambungan teleponnya kasar dan mengumpat sepuas hatinya untuk menyalurkan seluruh amarah yang membuncah di ubun-ubun kepalanya. Ia sungguh tolol karena bisa-bisanya terjebak di dalam perangkap yang dibuat oleh Jihoo. Tapi seorang CEO sepertinya bukankah selalu memiliki seribu satu cara untuk merealisasikan keinginannya? Jadi ia pasti bisa mengatasi masalah ini dengan mudah. Yang perlu ia lakukan saat ini adalah menghubungi sang pilot yang sedang membawa Luciananya pergi menuju ke belahan negara lain yang sangat jauh.


            “Hubungkan aku dengan pilot yang menerbangkan pesawat menuju New York sekarang juga! Ini perintah dari CEO Lee Corp.”


-00-


           Luciana bersandar santai pada sandaran kursi pesawatnya sambil memejamkan matanya rapat untuk menghilangkan efek morning sickness yang masih menderanya akhir-akhir ini. Meskipun usianya telah memasuki bulan ke dua, namun efek dari morning sicknessnya belum sepenuhnya hilang. Menuru dokter yang menanganinya, ia paling tidak akan terus merasakan morning sickness itu hingga usia kandungannya menginjak tiga bulan. Jadi ia masih memiliki waktu sekitar satu bulan lagi untuk merasakan morning sickness itu di tubuhnya.


            “Hueek..”


            “Kau mengalami mabuk udara nona?”


            Seorang ibu muda dengan seorang balita di pangkuannya mengajak Luciana berbicara sambil memberikan tatapan meneduhkan khas seorang ibu.


            “Oh maaf, aku pasti mengganggumu. Aku hanya sedang mengalami morning sickness.”


            “Wah.. berapa usia kandunganmu?”


            “Sekitar enam minggu.” Jawab Luciana sambil tersenyum manis pada ibu muda itu.


            “Morning sickness memang sangat tidak enak. Tapi kau akan merindukan saat-saat itu setelah kau melahirkan dan anakmu tumbuh besar. Dulu aku juga mengalami morning sickness yang sangat parah hingga aku tidak bisa memakan makanan apapun. Lalu dokter mendiagnosaku mengalami kekurangan gizi dan mengharuskanku untuk dirawat di rumah sakit.”


            “Sebenarnya morning sickness yang kurasakan masih dalam kategori wajar. Ini hanya terjadi di pagi hari hingga siang hari, setelah itu aku akan baik-baik saja dan bisa memakan makanan apapun yang kusuka.”


            “Wahh itu bagus, jadi kau tidak akan mengalami kekurangan gizi sepertiku dulu. Apa kau suka makan buah-buahan? Buah sangat bagus untuk janin di awal-awal pertumbuhannya, selain itu minyak ikan juga bagus untuk perkembangan otaknya.”


            “Terimakasih atas informasinya, pasti aku akan sering-sering mengonsumsi makanan-makanan itu.”


            Tiba-tiba Luciana mendengar suara bisik-bisik dari para penumpang di sekitarnya ketika pesawat yang mereka tumpangi mulai melakukan manuver. Seorang pramugari yang kebetulan lewat di sebelahnya, langsung dihentikan oleh Luciana untuk menanyakan pada wanita muda itu apa yang sebenarnya sedang terjadi pada mereka, mengapa semua penumpang itu terus berbisik ribut dan ada diantara mereka yang mengumpat keras sambil menghentakan kakinya marah.


            “Apa sesuatu yang buruk terjadi?”


            “Kami baru saja mendapatkan himbauan dari stasiun pusat untuk kembali. Pesawat ini katanya telah membawa calon istri dari seorang CEO yang sepertinya sangat arogan. Aku mendengar percakapannya beberapa menit yang lalu bersama sang pilot, pria itu terus mendesak pilot untuk kembali ke bandara Incheon karena ia


harus membawa pulang calon istrinya yang kabur.”


            Luciana mengerutkan keningnya tak habis pikir sambil menggelengkan kepalanya gusar. Sikap pria yang diceritakan oleh pramugari itu mengingatkannya pada Joey yang juga akan menunjukan sikap sok berkuasanya untuk mewujudkan seluruh keinginannya. Ngomong-ngomong  bagaimana keadaan pria itu saat ini? Hmm.. sudah lama ia tidak mendengar kabar dari pria itu. Semenjak pria itu mengakhiri hubungan mereka secara sepihak, ia tidak mau lagi mencari tahu mengenai keadaan pria itu. Rasanya terlalu sakit jika mengingat sikap pria itu padanya setelah apa yang telah mereka lakukan selama ini.


            “Huh, kenapa kita harus kembali lagi? Ini benar-benar merepotkan.” keluh ibu muda di samping Luciana. Luciana hanya terdiam melihat ibu itu mengeluh tanpa mengeluarkan sepatah katapun untuk mengomentarinya. Saat ini ia pun juga merasakan hal yang sama dengan semua penumpang yang harus membuang sia-sia


waktu satu setengah jam mereka hanya untuk memulangkan si wanita yang ia sendiri tidak tahu siapa.


-00-


            Satu


setengah jam kemudian pesawat yang ditumpangi Luciana mendarat dengan mulus di bandara Incheon. Beberapa penumpang yang masih tersulut emosi langsung berteriak-teriak pada sang pramugari agar segera menurunkan si wanita yang menjadi penyebab dari keterlambatan mereka. Luciana yang merasa tidak bisa berbuat apapun untuk mengubah keadaan, hanya mampu bersandar tenang di kursinya sambil memejamkan matanya untuk tidur. Perjalanan yang ia tempuh masih sangat panjang. Jadi lebih baik ia mengistirahatkan saja tubuh lelahnya daripada harus bersikap kasar seperti para penumpang-penumpang lain yang tersulut emosi.

__ADS_1


            “Selamat pagi, sebelumnya kami memohon maaf yang sebesar-besarnya atas insiden yang tidak mengenakan ini.....”


            Sayup-sayup Luciana mendengar suara seorang pramugari yang sedang berkoar-koar melalui pengeras suara sambil mengucapkan serentetan kalimat yang tidak terdengar terlalu jelas di telinganya. Ia hampir saja memasuki alam mimpinya ketika suara sang pramugari yang sebelumnya ia dengar tengah memanggil-manggil namanya berkali-kali untuk turun dari pesawat.


            “Nona... nona Luciana Im..”


            Luciana membuka matanya gugup ketika ibu muda di sebelahnya menyenggol bahunya beberapa kali untuk berdiri. Dengan ragu, ia segera berdiri dari kursinya dan tiba-tiba tangannya langsung dicekal oleh  seseorang dari belakang.


            “Kau tidak bisa meninggalkanku dengan mudah Luciana.”


            “Joey?”


            Luciana terpekik kaget ketika Joey dengan kasar menarik tangannya untuk turun dari pesawat tanpa mempedulikan suara para penumpang yang terdengar marah karena ulahnya. Sambil terus menarik tangan Luciana keluar dari pesawat, Joey berusaha menulikan seluruh pendengarannya dari suara bisikan para penumpang yang marah karena ulahnya. Namun semua itu rasanya tak sebanding dengan perasaan leganya yang saat ini sedang membuncah di hatinya karena akhirnya ia berhasil mendapatkan Luciana kembali kedalam genggamannya.


            “Luciana, aku merindukanmu.”


            Luciana membeku di tempat ketika Joey tiba-tiba memeluknya setelah mereka berada di ruang tunggu bandara. Pria itu mendekat tubuhnya erat dan menenggelamkan wajahnya kedalam pundaknya sambil menghirup aroma tubuhnya kuat-kuat. Sedangkan Luciana, ia sejak tadi hanya terdiam kaku di tempat tanpa membalas perlakuan Joey sedikitpun karena ia masih syok dengan apa yang baru saja terjadi padanya.


            “Kenapa kau pergi begitu saja meninggalkanku, hmm?”


            “Kkka kau? Apa yang kau lakukan di sini? Pulanglah, Jihyun pasti mencarimu.” gumam Luciana kecil sambil menundukan kepalanya dalam. Melihat itu, Joey menjadi benar-benar merasa bersalah karena secara tidak langsung semua itu terjadi karena kesalahannya.


            “Luciana maafkan aku, aku salah. Aku telah menyakitimu selama ini. Kumohon jangan pergi. Ayo kita menikah dan merawat anak kita bersama-sama.”


            Luciana mendorong bahu Joey kasar dan mundur tiga langkah ke belakang seperti sedang menjauhi sebuah bakteri. Wanita menggeleng kuat kearah Joey, lalu perlahan-lahan bulir-bulir bening itu mulai meleleh dari kedua mata beningnya.


            “Kau telah membuangku dan anak ini, jadi jangan harap kau bisa mendapatkan kami kembali.”


            “Luci kumohon maafkan aku, aku terpaksa melakukannya. Aku dibawah tekanan Jihyun saat itu, ia mengancam akan menyakitimu Luc. Please, percaya padaku.”


            Luciana menggelengkan kepalanya kuat-kuat kearah Joey sambil tetap berjalan mundur hingga punggung tegapnya menabrak dinding. Hatinya saat ini benar-benar terasa sakit dan hancur. Setelah lebih dari satu bulan ia berusaha melupakan pria itu, kini ia justru kembali dibuat bimbang dengan kemunculannya.


            “Aku hanya seorang jalang, aku tidak pantas bersanding denganmu.”


            “Tidak Luc, jangan mengatakan seperti itu. Kau adalah wanita terhebat yang pernah kukenal. Kau adalah wanita yang berharga untukku. Kumohon, aku mencintaimu.”


            Tanpa mempedulikan penolakan Luciana dan teriakan Luciana yang memintanya menjauh, Joey tetap maju meringsek tubuh Luciana, lalu meraup tubuh mungil itu kedalam pelukannya yang hangat. Tidak peduli sebesar apapun penolakan yang diberikan Luciana padanya, ia tetap ingin memeluk wanita itu, dan membuatnya merasakan betapa besarnya rasa cinta yang ia miliki untuk wanita itu.


            “Aku telah bercerai dengan Jihyun, karena aku ingin hidup bersamamu.”


            “Kka kau serius?” Gagap Luciana tak percaya.


            “Aku serius. Kau bisa melihat surat cerainya sendiri di rumah. Aku sudah tidak tahan dengan semua sikap jahatnya selama ini. Tolong maafkan aku karena tidak bisa menolongmu saat kau terjatuh di kantorku saat itu. Aku juga minta maaf karena telah membuat karirmu hancur karena pemecatan yang dilakukan oleh dewan elit di kantormu. Aku benar-benar minta maaf untuk semua kekacuan yang telah kubuat selama ini.”


            “Sssshhh.... jangan meminta maaf lagi, itu sungguh bukan gayamu.” kekeh Luciana sambil menghapus sisa-sisa air matanya dari pipinya. Ia merasa malu dengan semua air mata bodoh yang terpaksa ia tumpahkan di depan Joey. Bukankah mereka selama ini selalu bertengkar? Lalu untuk apa semua air mata ini? Benar-benar aneh!


            “Lagipula tidak apa-apa aku dipecat, karena sekarang aku telah mendapatkan ganti rugi yang cukup sepadan.”


            “Apa maksudmu? Kau aneh.” Cibir Joey sambil terkekeh geli.


            “Bukankah kau akan menikahiku? Jadi mulai sekarang aku akan hidup bergelimang harta dengan seluruh harta kekayaanmu yang tak terhitung itu. Ahh.... aku sudah tidak sabar untuk menyandang gelar nyonya Lee sambil bersantai-santai di rumah dengan uang yang kau hasilkan setiap hari.”


            “Apa aku mengatakan akan menikahimu? Sepertinya tidak.” ucap Joey dengan wajah super


menyebalkan yang membuat Luciana gemas. Wanita itu refleks menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil membrengut kesal di depan Joey yang masih mempertahankan wajah datarnya.


            “Kalau begitu jangan harap kau akan memiliki hak atas anak ini. Sekarang pergilah, aku tidak membutuhkanmu! Pergi dari sini.” Usir Luciana galak dan langsung mendorong tubuh Joey keras hingga pria itu memundurkan kakinya beberapa langkah ke belakang. Namun kejadian itu tidak berlangsung lama karena Joey langsung menarik tangannya dan menyelipkan sesuatu di jari manisnya.


            “Menikahlah denganku Luciana. Jadilah istri serta ibu dari anak-anakku.”


            “Apa kau serius?” tanya Luciana sangsi. Ia takut pria itu tidak serius seperti sebelumnya dan hanya mempermainkannya yang telah memberikan harapan yang begitu besar pada pria itu.


            “Aku serius. Ini benar-benar serius. Untuk apa aku bebuat nekat hingga menghentikan pesawat yang kau tumpangi jika aku tidak serius.”


            “Meskipun aku akan menghabiskan hartamu nantinya, kau tetap serius?”


            “Sangat serius. Justru sejak dulu aku ingin sekali memiliki istri yang hanya berada di rumah untuk mengurus anak-anakku dan juga mengurusku. Untuk apa mempunyai banyak uang jika selalu terabaikan.”


            “Hmm... itu terdengar sangat menyenangkan. Kalau begitu nikahi aku sekarang, aku benar-benar sudah tidak sabar untuk menjadi ratu di mansionmu.” Tantang Luciana sungguh-sungguh.


            “Kau menantangku? Baiklah, kita pergi ke gereja sekarang dan melakukan janji suci di depan pastur. Lagipula aku juga sudah tidak sabar untuk mencicipi tubuh calon istriku ini.”


            “Dasar cabul!”


            Luciana mencubit perut Joey keras, dan kemudian mereka berdua sama-sama tertawa satu sama lain, menertawakan tingkah konyol mereka yang sangat kekanakan. Pertemuan pertama yang tak terduga itu nyatanya mampu membawa sebuah akhir yang tak terduga pula untuknya. Meskipun mereka juga harus melewatinya dengan berbagai rintangan yang menghadang. Namun jika pada akhirnya mereka berhasil mendapatkan kebahagiaan, rasanya semua rintangan itu tidak akan pernah ada artinya lagi untuk mereka.


            Joey Lee, selamanya ia akan terus menjadi klien abadiku, hingga maut memisahkan kami. Luciana Im


            Luciana Im, ia adalah konselor yang galak sekaligus konselor yang seksi, hingga keseksiannya mampu membuatku selalu bergairah saat melihat tubuh yang mungil. Joey Lee

__ADS_1


__ADS_2