
Suho berlari kencang mengejar Yuri yang telah menghilang dibalik pintu lift. Sebelum pintu itu tertutup Suho sempat melihat tatapan terluka Yuri dan buliran air mata yang jatuh menganak sungai di pipinya. Sekarang ia merasa begitu bodoh dan merasa bersalah pada Yuri. Seharusnya ia telah mengantisipasi hal ini sebelumnya ketika Irene mulai mengeluarkan wajah malaikatnya.
“Sial! Arghhhh.”
Suho mengacak-acak rambutnya gusar sambil menendang pintu lift yang tak kunjung terbuka. Setelah ini ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada hubungannya dan Yuri, tapi yang jelas wanita itu pasti akan membencinya. Ia pun mengeluarkan ponselnya dari saku celana untuk menghubungi Yuri. Setidaknya ia ingin sedikit berusaha untuk memperbaiki semuanya daripada ia hanya berdiri di depan lift dengan perasaan marah dan gusar.
“Halo...”
Suho mendesah lega ketika akhirnya Yuri menjawab panggilan teleponnya. Wanita itu terdengar sedang tersengguk-sengguk di seberang sana.
“Yuri kau dimana? Kita perlu bicara.”
“Hiks, apa lagi yang perlu dibicarakan oppa, semuanya sudah jelas. Kau mencintai Shin Irene dan sekarang
ia tengah mengandung anakmu. Betapa bodohnya aku karena selama ini hanya menjadi objek permainan kalian.” ucap Yuri tersengguk-sengguk. Suho mengusap wajahnya kasar dan segera masuk ke dalam lift ketika pintu lift di depannya terbuka lebar.
“Tapi kita tetap perlu bicara, apa yang kau lihat tadi tidak sesuai dengan jalan pikiranmu. Aku dan Irene tidak
memiliki hubungan apapun, dan selama ini ia telah menjebakku agar aku bersedia untuk kembali padanya.” ucap Suho mencoba menjelaskan. Namun yang terdengar selanjutnya adalah suara tawa kesakitan yang penuh ironi. Yuri menertawakan omong kosong Suho yang terdengar sangat tak masuk akal itu.
“Menjebakmu? Lalu bagaimana dengan hubungan pernikahan kita? Bahkan sampai detik ini kau sama sekali belum pernah menyentuhku, jelas-jelas kau masih mencintai Irene dan tidak bisa berpaling darinya. Apakah kehamilan Irene tidak cukup untuk menjadi bukti kebusukanmu, Lee Suho?” tanya Yuri marah. Suho menghembuskan nafasnya gusar dan bersumpah akan membalas perbuatan Irene dengan lebih keji daripada apa yang dilakukan wanita itu padanya. Sudah cukup ia bersikap baik pada Irene dengan menghormatinya sebagai ibu dari anaknya, tapi perbuatan wanita itu sudah kelewat batas. Ia tidak bisa lagi bersabar menghadapi wanita itu.
“Aku minta maaf atas sikapku selama ini, kuakui aku memang belum bisa melakukan itu denganmu karena aku tidak ingin menyakitimu. Aku tidak mau melakukannya sambil membayangkan wajah wanita lain di kepalaku, jadi kumohon berikan aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Kita mulai semuanya dari awal lagi.” bujuk Suho setengah memohon. Namun Yuri tak langsung mengiyakan permohonannya dan hanya tersengguk-sengguk di seberang sana. Ia terdengar cukup terluka dengan semua fakta menyakitkan yang baru saja terjadi.
“Aku tidak bisa memutuskannya sekarang, aku perlu waktu untuk berpikir dan menjernihkan pikiranku. Jadi untuk beberapa hari kedepan tolong jangan menggangguku.”
Setelah mengucapkan hal itu Yuri segera memutuskan sambungan teleponnya dan mencabut kartu sim ponselnya agar Suho tidak bisa menghubunginya atau melacak keberadaanya karena untuk beberapa hari ke depan ia perlu waktu untuk merenung dan berpikir.
-00-
“Irene, kapan kau akan kembali ke Amerika, ayah sudah menyiapkan calon suami yang akan merawatmu dan calon anakmu dengan baik di sini. Tolong untuk kali ini turuti perintah ayah, ayah hanya ingin melihatmu bahagia nak. Ayah tidak ingin kau tersakiti karena mengejar pria itu.”
Irene mengembuskan napasnya pelan sambil memejamkan matanya gamang. Sejak seminggu yang lalu ayahnya sudah menyuruhnya untuk kembali ke Amerika karena ia akan dikenalkan oleh calon suaminya. Tapi di dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia masih sangat mencintai Suho. Dan sebulan yang lalu ayahnya sempat marah padanya karena ia berbuat nekat dengan menghancurkan masa depannya sendiri hanya demi seorang pria yang belum tentu masih mencintainya. Tapi entah kenapa sejak awal ia merasa yakin jika Suho masih mencintainya. Pria itu sebenarnya masih mencintainya dibalik sikapnya yang sedang berusaha untuk memperbaiki hubungan rumah tangganya dengan Yuri.
“Lusa aku akan kembali. Ayah tenang saja, kali ini aku tidak akan membantah permintaan ayah.” ucap Irene pasrah melalui telepon. Tuan Shin tersenyum puas pada jawaban putrinya yang terdengar menurut itu. Ia pikir putrinya sekarang telah berubah menjadi lebih menurut setelah usahanya tidak membuahkan hasil sama sekali dan justru menjerumuskan putrinya pada masa depan yang suram. Tapi untungnya ia sudah menemukan pria yang tepat untuk Irene dan mau menerima Irene dengan kehamilannya. Jadi sekarang ia merasa tenang dan tidak perlu khawatir lagi dengan masa depan putrinya.
“Kalau begitu ayah akan menunggu kedatanganmu, jangan lupa untuk menghubungi ayah atau tuan Cole jika kau telah tiba di bandara.”
“Baik ayah, aku akan segera menghubungi ayah saat pesawatku sudah mendarat di bandara. Sampai jumpa ayah, aku mencintaimu.”
Irene menutup sambungan teleponnya dengan perasaan sedih dan malas. Dilihatnya dua kopor yang telah ia siapkan di sudut kamarnya yang akan ia bawa ke Amerika. Ia merasa belum ingin meninggalkan negara kelahirannya dan juga cinta sejatinya. Tapi mau bagaimana lagi, sepertinya memang sudah tidak ada harapan untuk dirinya kembali pada Suho. Tapi paling tidak ia sudah berhasil menebar teror pada kehidupan pria itu, sehingga bukan hanya ia saja yang merasakan sakit, Suho juga akan merasakan hal yang sama.
-00-
Luciana memijit pelipisnya pening setelah mendengarkan cerita penuh ironi milik wanita asing di depannya.
__ADS_1
“Obsessive Love Dissorder. Kau mengalami gangguan itu. Kau terobsesi pada kekasihmu.”
“Aku mencintainya.” gumam Irene menyangkal. Pandangannya masih tetap datar dan dingin seperti sebelumnya. Namun wanita itu tidak ingin menatap Luciana terlalu lama jika Luciana mencoba mengambil perhatian wanita itu agar menatap kearahnya.
“Lee Suho yang kau maksud, apa ia tahu kau akan pergi?”
“Aku belum memutuskan akan pergi. Tapi dari nada bicaramu, sepertinya kau lebih menyarankanku untuk menghilang dari hidupnya.”
Luciana rasanya ingin sekali menampar wajah datar itu. Meskipun ia tahu sikapnya ini sama sekali tidak bijak dan terkesan sangat buruk, namun wanita itu jauh lebih menyebalkan dari apa yang terlihat. Tatapan matanya, sikap kakunya, dan seluruh ambisinya untuk menghancurkan kehidupan Suho, itu sangat mengerikan! Terlebih
lagi Suho adalah sepupu Joey yang baru kemarin berkunjung ke rumahnya. Ia tidak tahu jika kehidupan manis Suho dan Yuri ternyata hanya fiktif belaka. Pantas saja Suho selalu terlihat enggan untuk membicarakan masalah rumah tangganya yang tak berjalan mulus bersama Yuri.
“Dengarkan aku, Shin Irene.” Luciana mendesah berat di hadapan Irene. “Apa yang telah kau lakukan pada Suho dan istrinya, itu bukan sesuatu yang baik.”
“Aku tahu! Aku bukan anak umur lima tahun yang tidak bisa membedakan baik dan buruk.” ucap Irene ketus.
Jika kau tahu itu buruk, kenapa kau melakukannya?! Ingin rasanya Luciana berteriak keras di hadapan Irene, namun ia tak sampai hati untuk melakukannya. Mereka berdua adalah orang yang sama. Ia dulu juga merebut Joey dari Jihyun. “Kau adalah wanita dewasa, Shin Irene. Kau pasti tahu keputusan apa yang harus kau buat untuk keluar dari masalahmu.” ucap Luciana mencoba bijak. Ia memberikan senyum meneduhkan pada Irene yang masih bersifat acuh. Luciana sangat berharap semoga Irene dapat berpikiran dewasa untuk mengatasi masalahnya. Meskipun mungkin wanita itu harus mengorbankan kehidupan anaknya, karena bagaimanapun semua ini adalah kesalahannya. Ia yang mulai bermain api, maka ia sendiri yang akan hangus terbakar di dalamnya.
“Ya, aku tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Terimakasih.” ucap Irene pelan, nyaris seperti bisikan. Namun dibalik suara lirihnya Luciana tahu jika wanita itu sebenarnya sedang menyembunyikan tangis yang hampir pecah dari kedua matanya. Shin Irene telah kalah dari permainan yang ia ciptakan sendiri.
-00-
Irene menutup tirai apartemennya dengan gerakan lambat sambil memandang sendu pada jalanan Seoul
yang ada di bawah sana. Hari ini adalah hari keberangkatannya menuju Amerika. Tapi ia merasa begitu berat untuk kembali ke negara keduanya itu. Masih ada hati yang tertinggal di sini, dan ia merasa berat untuk meninggalkannya.
Dipandanginya ponsel putih di tangannya sambil menimbang-nimbang apakah ia perlu menghubungi Suho atau tidak. Akhirnya ia memutuskan untuk menekan beberapa digit angka yang sudah dihafalnya di luar kepala untuk menghubungi Suho. Setidaknya ia ingin berpamitan terlebihdahulu pada Suho dan jika Suho tiba-tiba menahannya, ia dengan senang hati akan tetap tinggal. Namun sepertinya hal itu akan menjadi angan-angannya belaka karena saat ini Lee Suho pasti sedang sibuk mengurus masalah rumah tangganya dengan Yuri. Pria itu jelas tidak akan pernah menahannya untuk tetap berada di Seoul. Bahkan ia sendiri tidak yakin apakah Suho akan mengucapkan salam perpisahan padanya sebelum ia pergi.
“Nomor yang anda tuju sedang di luar jangkauan, silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi bip berikut.”
Irene menghembuskan napasnya pelan ketika suara sang operator yang justru menjawab panggilannya untuk Suho. Sebulir air mata jatuh membasahi pipi putihnya yang semakin terlihat kurus. Ia sebenarnya lelah, tapi ia tetap tidak boleh berhenti berusaha. Bahkan meskipun ini adalah kesempatan terakhirnya untuk membujuk Suho agar kembali padanya, maka ia akan menggunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya.
Suho oppa... kuharap kau tidak terlambat untuk mendengarkan hal ini.
-00-
Suho berjalan gontai ke dalam rumahnya yang sepi dan senyap. Sudah dua hari ini ia tidak pulang ke rumah dan hanya sibuk mencari Yuri. Namun pagi tadi Yuri menghubunginya jika ia telah membuat keputusan dan Suho dapat mendengar keputusannya di rumah. Tapi setelah ia sampai di depan rumahnya, ia sama sekali tak menemukan mobil yang biasa digunakan oleh Yuri. Dan rumahnya juga terlihat sunyi dan senyap. Dengan gontai Suho mencoba untuk masuk ke dalam untuk menemukan Yuri yang mungkin saja memang sedang berada di dalam. Tapi hingga ia menghabiskan waktu dua puluh menit untuk mengitari rumahnya, ia sama sekali tak menemukan Yuri. Wanita itu telah pergi dari rumahnya bersama dengan seluruh barang-barang pribadi miliknya.
Suho kemudian memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya dan mengistiratkan pikirannya yang terasa lelah. Namun dari kejauhan Suho melihat sebuah amplop coklat berukuran sedang dan sebuah amplop putih berukuran kecil yang tergeletak di atas ranjangnya. Dengan penasaran, Suho segera membuka amplop coklat tersebut dan ia langsung menemukan sebuah surat cerai yang telah ditandatangani oleh Yuri. Lalu saat ia membuka amplop putih kecil yang tergletak di atas ranjangnya, ia menemukan surat pribadi dengan tulisan tangan Yuri. Surat itu begitu rapi dan runtut dengan panjang dua halaman yang terasa menyesakan untuk
Suho. Ia tahu jika di dalam surat pribadi tersebut ia akan menemukan seluruh jawabannya dengan jelas.
Dear Suho oppa...
__ADS_1
Oppa maafkan aku karena telah membuatmu tertekan dengan pernikahan kita. Aku benar-benar tidak tahu jika kau masih mencintai kekasihmu yang beberapa tahun telah pergi meninggalkanmu. Melalui Irene aku tahu jika kau adalah tipe pria setia yang akan sulit untuk menerima kehadiran orang baru, dan aku dengan bodohnya memaksakan diri untuk masuk ke dalam hatimu disaat kau masih mengharapkan kehadiran kekasihmu.
Oppa, aku tahu jika kau masih sangat mencintai kekasihmu, Shin Irene. Seharusnya sejak awal aku menyadari adanya gelagat aneh yang tercetak jelas dari bahasa tubuhmu ketika Irene datang untuk memberikan ucapan selamat di acara pesta pernikahan kita. Tapi lagi-lagi aku terlalu dibutakan oleh ambisiku untuk memilikimu. Aku terlalu egois untuk memahami hatimu yang masih berlabuh pada wanita lain.
Oppa, aku tidak marah atau membencimu atau semua hal yang kau lakukan di belakangku selama ini. Tapi aku akan sangat membencimu jika kau tidak mempertanggungjawabkan perbuatanmu dan berbalik membenci Irene, karena pada kenyataanya wanita itu hanya menginginkan kebahagiaannya kembali. Irene hanya ingin memperjuangkan hubungan diantara kalian yang sudah lama terputus.
Oppa, kuharap setelah ini kau dapat menikah dengan Irene dan memiliki keluarga yang bahagia bersama wanita yang kau cintai. Dan aku juga akan melakukan hal yang sama sepertimu, aku akan mencari kebahagiaanku sendiri dan menikahi pria yang benar-benar mencintaiku sebesar aku mencintainya.
Yang terakhir, aku ingin mengucapkan beribu-ribu terimakasih untuk oppa atas semua cinta dan kasih sayang yang telah oppa berikan padaku selama ini. Semoga di masa yang akan datang kita dapat dipertemukan kembali dalam keadaan yang lebih baik dan dengan pasangan kita masing-masing. Sampai jumpa oppa, semoga kau selalu bahagia dan tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan. –Kwon Yuri-
Suho meremas kertas putih itu kuat-kuat sambil menyeka buliran air mata yang sudah berkumpul di pelupuk matanya. Hari ini ia telah menyakiti seorang wanita yang begitu baik dan polos seperti Yuri. Seharusnya sejak awal memutuskan untuk jujur pada Yuri agar kehidupan rumah tangganya tak berakhir dengan menyedihkan
seperti ini. Apalagi Yuri terus menjadi pihak yang merasa bersalah atas sikap brengseknya selama ini. Ck, ia memang pria brengsek yang menyedihkan! Ia seharusnya mati.
Suho merogoh saku celananya dan berniat untuk menghubungi Irene karena sejak dua hari yang lalu ia tidak pernah menerornya dengan ribuan pesan singkat dan juga ratusan panggilan yang mengganggu. Padahal biasanya Irene selalu melakukan rutinitas yang menyebalkan itu untuk mengusik hidupnya. Ia takut sesuatu yang buruk telah terjadi padanya.
“Hhahh.” Suho mendesah berat karena ia tak menemukan satupun panggilan atau pesan singkat yang berasal dari Irene. Namun tiba-tiba ponselnya berbunyi dan suara sang operator memberitahunya jika ia memiliki pesan telepon yang harus ia dengar. Dengan gugup, Suho mulai menekan angka satu untuk mendengarkan pesan telepon yang ditinggalkan oleh seseorang untuknya.
“Suho oppa....”
Deg
Tiba-tiba Suho merasa jantungnya seperti berhenti berdetak ketika suara Irene yang terdengar parau memenuhi indera pendengarannya. Berbagai pikiran buruk tiba-tiba melintas di benaknya dan membuatnya takut. Sekarang ia mengakui jika ia sangat takut kehilangan Irene, dan ia masih sangat mencintai wanita licik dengan seribu satu tipu muslihat itu.
“Oppa, eemmm... aku hanya ingin mengatakan jika hari ini aku akan kembali ke Amerika. Ayahku menyuruhku untuk segera pulang dan ia akan mengenalkanku pada calon suamiku. Mungkin ini adalah panggilan teleponku yang terakhir karena setelah ini aku janji tidak akan mengusik kehidupanmu lagi. Dan mengenai perbuatanku beberapa bulan terakhir ini, aku minta maaf. Saat itu aku benar-benar kalut dan merasa tidak terima dengan berita pernikahanmu yang terkesan mendadak itu, padahal aku sangat mencintaimu. Selama di Amerika tak pernah aku melewatkan hari-hariku tanpa membayangkan wajahmu sambil berharap agar studiku cepat selesai agar aku bisa segera kembali padamu. Tapi berita mengenai pernikahanmu membuatku sangat kecewa. Hatiku hancur saat melihatmu berjalan menuju panggung bersama seorang wanita yang telah resmi menjadi istrimu. Padahal dulu aku yang akan menempati posisi itu. Tapi sudahlah, aku tidak akan membahasnya lagi dan akan melupakannya mulai saat ini. Aku akan hidup dengan baik di Amerika bersama anak kita. Dan jika kau merasa penat dan sangat merindukan anak kita, maka pulanglah. Rumahmu akan selalu terbuka untukmu, dan rumahmu akan selalu menerima kehadiranmu, kapanpun dan dimanapun kau berada. Selamat tinggal oppa, dan tolong sampaikan maafku untuk Yuri.
Lagi-lagi Suho menyeka bulir-bulir air matanya yang kembali menggenang di pelupuk matanya. Hari ini ia telah ditinggalkan oleh dua orang wanita yang sangat berarti bagi hidupnya. Tak bisa ia bayangkan kehidupannya setelah ini saat dua wanita yang telah menjadi bagian dari hidupnya pergi. Namun tiba-tiba ia teringat akan kata-kata Irene yang menyuruhnya untuk pulang kapanpun ia merasa lelah dan penat dengan semua beban yang dipikulnya. Dan mungkin sekarang ia memang harus pulang ke rumah yang tepat.
“Shin Irene, aku pasti akan pulang ke rumahku.”
“Oppa, kira-kira apa yang akan kau lakukan setelah ini?”
Suho menolehkan wajahnya pada sang kekasih sambil menaikan alisnya tak mengerti.
“Apa yang akan kulakukan? Tentu saja aku akan belajar untuk masuk ke perguruan tinggi yang sesuai dengan cita-citaku.”
“Ck bukan itu maksudku.”
Irene berdecak kesal sambil mengamati wajah kekasihnya gusar. Mereka berdua kemudian memutuskan untuk duduk sejenak di sebuah kursi taman yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Memangnya apa yang kau maksud? Terkadang aku tidak bisa menerka jalan pikiranmu. Jika yang kau maksud adalah apa yang akan kulakukan setelah acara kencan kita, maka aku akan menjawab jika setelah ini aku akan pulang.”
“Ya, kau memang harus selalu pulang oppa, ke rumahmu. Dan dengan senang hati aku akan menjadi rumahmu.” ucap Irene riang dengan semburat merah di pipinya.
__ADS_1
“Oh, jadi itu yang kau maksud. Jadi kau sedang bersikap romatis padaku. Ya Tuhan, kekasihku ini memang menggemaskan.” canda Suho sambil mencubit hidung Irene gemas. Irene meronta-ronta brutal di depan wajah Suho dan menyuruh Suho untuk melepaskan jepitan di hidungnya. Namun tiba-tiba Suho langsung memajukan wajahnya cepat dan berbisik pelan di depan bibir Irene.
“Sampai kapanpun kau adalah rumahku, Shin Irene.”