Kontratransferensi

Kontratransferensi
Case Four: Obsessed (Seventy Seven)


__ADS_3

            Yuri mengetuk-etukan jarinya dengan bosan di atas meja sambil menunggu seseorang yang telah ditunggunya sejak tadi. Hari ini untuk kesekian kalinya ia kembali membohongi Suho dengan mengatakan jika ia akan pergi makan siang bersama sahabat lamanya. Padahal sejujurnya siang ini ia membuat janji dengan Irene untuk sekedar mengobrol seputar kehidupan sehari-hari mereka dan juga mengenai kehamilan Irene.


            Pertama kali ia mengetahui tentang kehamilan Irene saat usia kandungan Irene berusia tiga bulan. Saat itu hubungannya dengan Irene sudah dapat dikatakan sangat dekat sehingga Irene memutuskan untuk menceritakan kondisi kehamilannya padanya. Tentu saja saat itu ia merasa terkejut karena ia tahu jika Irene sama sekali belum menikah. Tapi kemudian ia merasa maklum dengan kehamilan itu karena Irene mengatakan jika mereka melakukannya karena saling mencintai. Namun mereka belum bisa menikah dalam waktu dekat karena sang pria yang merupakan ayah dari janin yang dikandung Irene sedang memiliki masalah pelik dengan keluarganya, sehingga ia harus sedikit bersabar untuk menunggu hari bahagia itu tiba.


            Setelah itu hubungan diantara mereka terjalin semakin erat. Ia merasa nyaman bersama Irene dan telah menganggap Irene sebagai sahabatnya. Namun sayangnya ia tidak bisa menemui Irene dengan leluasa karena Suho tanpa alasan yang jelas tiba-tiba melarangnya untuk bertemu dengan Irene. Saat ia menanyakan perihal alasan pria itu melarangnya, Suho hanya mengatakan jika Irene bukanlah wanita yang baik seperti apa yang ia lihat, pria itu mengatakan jika Irene memiliki sisi lain yang begitu mengerikan dan harus ia hindari. Tapi tentu saja ia tidak bisa mematuhi perintah Suho karena ia bukan anak kecil yang bisa dihasut begitu saja.


                Beberapa bulan mengenal Irene dan saling menumpahkan keluh kesah satu sama lain membuat Yuri yakin jika Irene bukanlah wanita jahat seperti yang dikatakan oleh Suho padanya selama ini. Ia lebih merasa jika Irene adalah wanita kesepian yang membutuhkan seorang teman. Apalagi keadaanya saat ini sedang mengandung seorang diri tanpa pendamping yang berada di sisinya, membuat Yuri merasa iba dan ingin menjadi seorang sahabat untuk Irene.


Tring


            Suara bel yang berdentang di pintu masuk kafe membuat Yuri cepat-cepat menoleh kearah sumber suara. Wanita itu tersenyum cerah sambil melambaikan tangannya pada seorang wanita muda dengan dress selutut berwarna peach dan dengan perut yang semakin menonjol dibalik dressnya.


            “Hai, maaf aku terlambat, aku harus menyelesaikan pekerjaanku di kantor terlebihdahulu.” ucap Irene beralasan. Yuri tersenyum memaklumi dan segera menyodorkan secangkir teh herbal untuk Irene.


            “Minumlah, kau pasti merasa haus setelah berkutat seharian dengan tumpukan laporan di kantor. Terkadang aku merasa iba padamu, saat kau sedang hamil kau diharuskan untuk mengerjakan semua pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh orang lain. Apa kau tidak merasa lelah, apalagi usia kandunganmu telah mencapai bulan ke lima, tinggal empat bulan lagi kau akan melahirkan dan menjadi seorang ibu bagi anakmu, apa kau akan tetap seperti ini setelah melahirkan nanti?”


            Irene tersenyum simpul sambil mengelus perutnya lembut. Sejujurnya ia tidak tahu apakah ia akan tetap seperti ini atau tidak, yang jelas usahanya untuk membawa Suho kembali ke dalam pelukannya masih belum membuahkan hasil yang signifikan. Selama beberapa bulan terakhir ia mendekati Yuri, ia sedikit mendapat pencerahan mengenai Suho. Apalagi terkait perilaku pria itu yang hingga saat ini belum menyetuh Yuri sedikitpun. Jadi bisa dikatakan jika ia adalah wanita pertama yang berhasil membawa Suho ke dalam kehangatan tubuhnya, dan ia juga merupakan wanita pertama yang sedang mengandung penerus keluarga Lee.


            Semua fakta yang berhasil ia dapatkan dari Yuri semakin membuatnya yakin jika perasaan Suho untuknya sebenarnya sama sekali belum berubah. Hanya saja Suho tidak bisa melepaskan perasaan itu sesuka hatinya karena saat ini ia terikat dengan sebuah janji suci di hadapan Tuhan. Dan karena sejak awal ia telah memutuskan untuk menjadi iblis pengganggu diantara hubungan pernikahan Yuri dan Suho, maka ia sama sekali tidak keberatan jika harus menggunakan berbagai macam cara untuk memisahkan hubungan pernikahan Yuri dan Suho.


            “Kita lihat saja apa yang akan terjadi di masa depan.” ucap Irene misterius. Yuri tampaknya menghormati jawaban Irene dan tidak berniat untuk menggali informasi lebih jauh lagi. Sebenarnya ia merasa cukup iri pada Irene karena wanita itu saat ini sedang mengandung anak dari pria yang dicintainya. Sedangkan ia hingga sekarang sama sekali belum bisa mengandung penerus keluarga Lee karena Suho yang selalu enggan untuk menyentuhnya. Padahal berbagai cara telah ia lakukan, namun Suho selalu menanggapinya dengan dingin dan berakhir dengan mereka yang hanya saling berpelukan satu sama lain di atas ranjang. Terkadang ia merasa tidak memeiliki Suho sepenuhnya di rumah. Pria itu seperti sedang menyembunyikan separuh dirinya yang lain di suatu tempat yang tak pernah diketahuinya.


            “Yuri, aku ingin mengatakan sesuatu hal padamu, terkait ayah dari bayi ini.”


            Irene mengelus perutnya lembut dengan senyum misterius yang terpatri di wajahnya. Yuri menatap wajah Irene dalam dan terlihat begitu ingin tahu tentang ayah dari bayi yang dikandung Irene. Sudah beberapa bulan ini ia bermain tebak-tebakan bersama dirinya sendiri untuk menduga-duga siapa ayah dari bayi yang sedang dikandung Irene. Dan sekarang setelah sekian lama, akhirnya Irene berniat untuk memberitahunya secara langsung padanya, ia benar-benar tidak sabar untuk mengetahuinya!


            “Siapa? Kau tahu, aku selama ini selalu menerka-nerka siapa pria beruntung yang berhasil mendapatkan tempat di hatimu.”


            "Tapi  kupikir ia tak seberuntung itu, justru mungkin ini adalah petaka baginya karena mendapatkanku sebagai wanita yang sedang mengandung anaknya. Sebenarnya ayah dari bayi ini sudah menikah dengan wanita lain.”


            “Yyya Tuhan, benarkah? Apa yang terjadi?”


            Yuri memekik tak percaya sambil menatap prihatin pada Irene. Ia pikir Irene adalah wanita yang paling beruntung di dunia, tapi teryata ia salah, Irene nyatanya tak seberuntung itu.


            “Ceritanya panjang, tapi intinya ayah dari anak ini telah menikah dengan wanita lain beberapa bulan yang lalu. Dan sebenarnya tujuanku kembali ke Korea adalah untuk merebut pria itu dari istrinya, karena aku sangat yakin jika pria itu masih mencintaiku.” ucap Irene mantap dengan wajah angkuhnya. Yuri merasa tertegun dengan ucapan Irene, di sisi lain ia menilai Irene sebagai wanita jahat, tapi di sisi lain ia juga mendukung perbuatan Irene karena ia merasa jika pria itu memang masih mencintai Irene. Buktinya pria itu justru memiliki anak dari Irene, bukan dari isterinya, jadi sudah jelas jika pria itu memang mencintai Irene dan Irene berhak untuk memperjuangnkannya. Tapi yang menjadi pertanyaan, siapa sosok pria itu sebenarnya?


            “Jadi siapa pria itu sebenarnya, apa kau berniat untuk memperkenalkannya padaku?”


            “Hmm, apa kau yakin ingin bertemu dengan pria itu? Sayangnya saat ini ia sedang sibuk, tapi lain kali aku akan membawanya dan memperkenalkannya padamu. Karena kupikir kau memang harus bertemu dengannya dan mengenalnya agar kau dapat menilainya sebagai pria yang mencitaiku atau tidak.”

__ADS_1


Drt drt drt


            Tiba-tiba ponsel di dalam tas putih Irene bergetar nyaring beberapa kali. Irene kemudian meminta ijin pada Yuri untuk mengangkat ponselnya sebentar. Namun tak lama kemudian Irene sudah kembali dengan gelagat yang terlihat terburu-buru.


            “Sepertinya aku harus pergi sekarang, ada masalah di kantor yang harus kuselesaikan. Lain kali aku akan memperkenalkan pria itu padamu, sampai jumpa.”


            Yuri melambaikan tangannya pelan seiring dengan kepergian Irene yang terburu-buru. Wanita itupun menghembuskan napasnya pelan sambil meletakan kepalanya di atas meja kafe yang masih kosong. Hari ini pertemuannya dengan Irene terlalu singkat hingga mereka belum sempat memesan makanan dan juga mengobrol mengenai Suho, padahal ia sangat ingin mengetahui cerita Irene mengenai Suho yang dulunya merupakan cassanova di sekolahnya. Tapi sudahlah, setidaknya hari ini ia telah mengetahui sedikit rahasia besar Irene jika sebenarnya bayi itu secara tidak langsung belum memiliki ayah karena ayah dari bayi itu masih menjadi suami dari wanita lain.


-00-


            Irene berjalan tergesa-gesa ke dalam sebuah kantor dengan perasaan kesal yang membuncah di dalam dadanya. Tatapan para penghuni kantor yang menatapnya sedang berlari-lari membuat Irene cukup risih dan juga jengah. Lagipula ia tidak merasa aneh dengan keadaanya sekarang yang memang sedang hamil, namun orang-orang tetap saja berpikir terlalu berlebihan terhadap wanita hamil yang sedang berlari-lari di dalam kantor.


            “Aku ingin bertemu Lee Suho sekarang.” ucap Irene tanpa basa-basi pada sekretaris Suho yang sedang mengerjakan tugas-tugasnya di depan ruangan Suho. Sekretaris itu menganggukan kepalanya dan segera mengantar Irene untuk masuk ke dalam ruangan atasannya. Sekretaris itu beberapa kali tampak mencuri-curi pandang ke arah Irene dan perutnya yang semakin membuncit. Sudah beberapa bulan terakhir ini Irene sering datang ke ruang atasannya dan pasti akan terjadi keributan setiap Irene datang. Tapi entah mengapa atasannya itu tetap saja membiarkan Irene datang ke kantornya dan tidak pernah berpesan padanya sedikitpun untuk mengusir Irene saat datang. Justru atasannya itu menyuruhnya untuk memasukan Irene ke dalam ruangannya meskipun ia sedang tidak berada di kantor sekalipun.


            “Lee Suho ssi, aku ingin berbicara denganmu!” teriak Irene menggelegar di ambang pintu dengan tatapan marah. Sekretaris itu tampak meneguk ludahnya terkejut dengan suara amukan Irene yang menggelegar itu. Padahal dari luar Irene terlihat seperti seorang wanita anggun yang lembut, namun tiba-tiba saja Irene sudah berubah seperti seekor singa betina yang hendak melahap siapapun yang berani mengusiknya.


            “Jimin kau bisa tinggalkan kami sendiri.” usir Suho pada sekretarisnya ketika ia mendapati wanita itu masih berdiri mematung di ambang pintu dengan keterkejutannya atas kelakuan Irene yang bar-bar.


            “Jadi apa yang memicu kelakuan bar-barmu hari ini, Shin Irene?” tanya Suho santai sambil tersenyum manis pada Irene. Irene mendengus kesal dengan sikap sok manis Suho yang jelas-jelas hanya sebuah tipuan belaka. Ia tahu jika pria menyebalkan itu baru saja melakukan sesuatu pada perusahaannya yang akan berakibat fatal jika ia tidak segera bertindak. Tapi permasalahannya adalah beberapa bulan terakhir ini mereka memang sudah sering melakukan serangan untuk menjatuhkan satu sama lain dan membuat salah satu diantara mereka bertekuk lutut kalah. Namun hari ini strategi yang dilakukan Suho untuk menjatuhkannya benar-benar akan sangat sulit untuk diatasi karena pria itu melibatkan perusahaanya, perusahaan ayahnya yang sangat berharga. Tapi ia tidak akan menyerah begitu saja dengan permainan kotor Suho hari ini, ia pasti memiliki cara yang lebih baik untuk mengalahkan Suho dan membuat pria itu bertekuk lutut padanya.


            “Huh, dasar pria bermuka dua, kenapa kau membatalkan kerjasama perusahaan ayahku dengan anak perusahaanmu yang berada di Nami? Kau seharusnya tidak boleh melakukan cara-cara kotor seperti itu jika kau ingin menjatuhkanku, karena semua ini tidak ada hubungannya dengan perusahaan ayahku.” ucap Irene tegas dan berapi-api. Lee Suho tersenyum santai ke arah Irene sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Andai saja wanita yang saat ini sedang mengamuk di depannya tidak memulai perang ini terlebihdahulu, mungkin ia juga tidak akan melakukan cara kotor itu. Tapi apa boleh buat, Irene nyatanya terlalu keras kepala hanya untuk menyerah dan berhenti untuk mengganggu kehidupan rumah tangganya dan Yuri yang akhir-akhir ini sedikit memanas.


Brakk!


            “Brengsek! Jika ini menyangkut masalah pribadi seharusnya kau tidak perlu melibatkan perusahaan ayahku. Lagipula Yuri memang seharusnya tahu mengenai perbuatan busukmu selama ini, kau telah menghamiliku dan menolak untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu padaku.”


            “Jaga ucapanmu, Shin Irene! Ini semua adalah permainanmu. Kau sengaja menjebakku dan membuatku melakukan hal itu agar kau dapat mengikatku dan membawaku kembali padamu. Kau wanita yang licik.”


            Suho mencengkeram dagu Irene keras hingga membuat Irene meringis kesakitan karena dagunya terasa akan remuk.            


            “Lepaskan tanganmu, kau menyakitiku.” erang Irene tertahan sambil mencoba melepaskan cengkeraman tangan Suho dari dagunya. Tapi Suho masih belum bersedia melakukannya karena ia ingin menyiksa Irene sedikit lebih lama agar Irene tidak terus menerus memberikan teror pada kehidupan rumah tangganya.


            “Jika kau berjanji padaku untuk menjauhi Yuri dan menutup rapat-rapat semua rahasia itu darinya, aku akan


mengembalikan kerjasama perusahaanmu seperti semula. Jadi yang perlu kau lakukan hanyalah bersikap manis dan jangan pernah menemui Yuri lagi, apa kau bisa melakukannya?”


            Irene menatap Suho tajam dengan wajah angkuhnya yang terlihat menahan kesakitan akibat cengkeraman tangan kekar Suho di dagunya. Namun wanita itu jelas tidak menunjukan tanda-tanda akan mengibarkan bendera putih di depan Suho. Justru Irene semakin berang dan ia bersumpah akan membeberkan semua rahasia itu pada semua orang, termasuk Yuri.


            “Kau mengancamku? Jika kau berani menghancurkan perusahaan ayahku, aku justru akan bersikap nekat dengan membeberkan semua rahasia busukmu pada semua orang dan memberitahukannya pada Yuri apa yang selama ini dilakukan suaminya di luar sana hingga ia enggan untuk menyentuh istrinya sendiri. Suho oppa, aku tahu jika kau tidak bisa menyentuh Yuri, kau tidak bergairah dengannya.” seringai Irene licik dengan wajah puas. Suho

__ADS_1


menggeram marah dan menghempaskan dagu Irene begitu saja hingga tubuh Irene sedikit terdorong ke belakang dan membentur tembok. Wanita itu meringis kesakitan sambil sedikit berlutut menahan nyeri yang menjalar disekitar perutnya.


            “Ahh...”


            “Aku tahu kau sedang berpura-pura Shin Irene, jadi jangan coba-coba untuk menipuku.”


            Tapi setelah cukup lama Irene masih terlihat kesakitan dan masih berjongkok di dekat tembok. Dengan gusar Suho menghampiri Irene dan memapah Irene untuk duduk di atas sofa. Meskipun selama ini ia membenci Irene dan sangat ingin memberi pelajaran pada Irene, tapi ia tetap tak bisa mengabaikan Irene begitu saja. Sesekali ia tetap memperhatikan Irene dengan mengamati keadaan wanita itu dari jauh, dan memantaunya melalui dokter kandungan yang sering didatangi Irene selama ini.


            “Minumlah, mungkin aku memang sudah keterlaluan padamu karena mendorongmu terlalu keras. Maafkan aku.” ucap Suho dingin sambil menyodorkan segelas air putih pada Irene. Irene menerima air putih itu tanpa banyak bicara dan langsung menyeruputnya sedikit untuk membuatnya tenang.


            “Tidak apa-apa, itu bukan salahmu. Aku hanya...”


            Irene menghentikan kalimatnya di udara dan membuat Suho cukup penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Irene. Namun tiba-tiba Irene menarik tangannya dan menempelkan telapak tangannya yang besar ke atas permukaan perutnya yang buncit.


            “Dia menendang cukup keras dan aku merasa kesakitan karena tendangannya.”


            Suho membeku di tempat dengan perasaan takjub yang tak bisa ia gambarkan dengan kata-kata. Telapak tangannya kini merasakan adanya tendangan yang cukup kuat dari dalam perut Irene. Dan ia tidak pernah tahu jika merasakan pergerakan buah hatinya akan memberikan efek yang begitu luar biasa bagi dirinya.


            “Apa ia sering melakukannya?” Tanya Suho dengan telapak tangan yang masih menempel di atas permukaan perut Irene. Irene menganggukan kepalanya sambil mengelus perutnya pelan di sebelah telapak tangan Suho.


            “Beberapa kali saat malam hari dan pagi hari. Tapi ia paling aktif saat siang hari seperti ini, seperti ia sedang memberiku semangat untuk bekerja. Sejak berusia tiga bulan ia menjadi lebih tenang dan tidak pernah memicu gejolak mual di perutku, dia benar-benar bayi yang sangat pengertian.”


            Suho menatap Irene dalam dan merasa menemukan diri Irene kembali. Irenenya yang dulu memiliki sorot mata lembut dan menenangkan, seperti yang ia lihat saat ini ketika Irene membicarakan tentang bayinya.


            “Syukurlah jika ia tumbuh dengan sehat, dan kuharap bayi itu dapat memberikamu kebahagiaan nantinya.”


            Irene tersenyum simpul dengan ucapan Suho dan langsung memeluk Suho erat. Entah mengapa suasana hatinya sering berubah-ubah tak menentu setelah kehamilannya semakin membesar. Terkadang ia merasa begitu berapi-api dan ingin marah pada siapapun yang telah menghalangi langkahnya, tapi terkadang ia bisa bersikap begitu lembut terhadap orang lain yang seharusnya ia benci.


            “Suho oppa... Apa kau tahu jika saat ini istrimu yang cantik itu sedang mengintip kita melalui celah pintu ruanganmu yang terbuka?” bisik Irene pelan dengan seringaian licik. Refleks Suho menoleh pada celah pintu yang memang sedikit terbuka dan di sana ia bisa melihat tatapan mata Yuri yang terlihat terluka dan juga dipenuhi buliran air mata. Melihat Yuri yang akan pergi, Suho langsung mendorong tubuh Irene kasar sambil memberikan tatapan tajam penuh kemurkaan pada wanita licik yang sejak tadi sedang bersembunyi dibalik topeng malaikatnya.


            “Jadi sejak tadi kau hanya menjebakku?”


            “Terserah jika kau memang berpikir seperti itu, tapi yang jelas itu semua adalah balasan karena kau telah berani mengusik perusahaan ayahku. Sekarang nikmatilah kehancuran rumah tanggamu, Suho oppa.” ucap Irene lembut dengan senyum licik. Suho mengumpat keras dan langsung berlari meninggalkan Irene untuk mengejar Yuri.


            Sementara itu Irene terlihat sedang


merapikan dressnya yang sedikit kusut sambil mengelus perut buncitnya pelan. Ternyata keputusannya untuk menghubungi Yuri sebelum ia masuk ke dalam ruangan Suho adalah rencana yang sangat tepat untuk membalas perlakuan Suho padanya. Dan sekarang ia yakin jika rumah tangga Suho tidak akan pernah bisa diselamatkan.


            “Nikmatilah kehancuranmu oppa....”

__ADS_1


__ADS_2