
Sore itu, di bawah langit Seoul yang cerah, seorang wanita dengan mantel kulitnya dan kacamata hitam yang membingkai kedua matanya, tampak begitu bahagia untuk memberikan kejutan pada suaminya. Mendadak jadwal kepulangannya dari New York dipercepat karena ia telah berhasil menyelesaikan semua pekerjaannya dengan cepat. Dan sekarang ia ingin memberikan kejutan pada suaminya di rumah yang pasti tidak akan percaya jika ia akan pulang secepat ini.
“Yeun, kira-kira bagaimana reaksi Joey nanti saat aku pulang? Apa ia akan terkejut dengan kepulanganku yang tiba-tiba ini.”
“Mungkin. Tapi apa kau yakin ia akan berada di rumah pukul lima sore seperti ini? Bukankah ia selalu pulang larut malam?”
Jihyun lalu melirik jam tangannya sambil mendesah berat di sebelah Yeun.
“Kau benar, ia pasti belum pulang. Ah, tapi itu akan menjadi kesempatan yang bagus untukku karena aku bisa menyiapkan diri untuk menyambutnya nanti. Sudah lama kami tidak menghabiskan malam romantis berdua. Jadi hari ini aku akan menyiapkan sebuah makan malam romantis di rumah dan menyiapkan lilin-lilin aroma terapi di dalam kamar kami agar suasana yang tercipta nantinya semakin syahdu dan romantis, bagaimana? Apa rencananku terdengar menakjubkan?” Tanya Jihyun meminta pendapat. Yeun menganggukan kepalanya dua kali, lalu memberikan dua acungan ibu jari kearah Jihyun.
“Itu rencana yang sangat sempurna. Kau harus mendapatkan kembali hati suamimu sebelum ia direbut oleh wanita bernama Luciana Im itu.”
“Ck, kenapa kau membahasnya lagi Shim Yeun, bukankah aku sudah mengatakan padamu jika Joey tidak mungkin memiliki hubungan dengan wanita itu karena Joey bukanlah pria brengsek seperti kebanyakan pria-pria di luar sana. Joey hanya mencintaiku seorang.” ucap Jihyun sombong. Wanita itu terlihat begitu percaya diri dengan hipotesisnya dan sama sekali tidak mau mendengarkan pendapat Yeun yang justru merasa sebaliknya. Wanita berambut sebahu itu merasa foto yang diambil oleh wartawan itu menunjukan jika suami dari artisnya itu sedang menjalin hubungan khusus dengan wanita bernama Luciana Im itu. Lagipula dengan jadwal Jihyun yang padat selama ini, ia ragu jika Joey masih tetap mencintai wanita itu. Zaman sekarang sulit untuk memprediksi jika seseorang itu masih tetap mencintaimu atau tidak. Terlebih dengan segala sikap manja Jihyun dan sikap egois Jihyun yang selama ini selalu menuntut untuk selalu dimengerti. Ia benar-benar tidak yakin jika Joey masih meletakan kesetiaannya pada wanita itu. Mustahil seorang pria kaya seperti Joey mau terus menerus bersabar menghadapi tingkah Jihyun yang kekanakan, sementara di luar sana banyak wanita yang lebih baik sedang mengantre untuk menggantikan posisi Jihyun.
“Tapi aku merasa wanita bernama Luciana itu bukan hanya seorang rekan kerja biasa. Lihatlah beberapa foto kebersamaan mereka saat berada di pesta ulang tahun perusahaan suamimu, mereka terlihat sangat dekat bukan?”
Yeun menyodorkan layar ponselnya kearah Jihyun agar wanita itu mau melihat kejanggalan demi kejanggalan yang terpampang jelas di dalam foto hasil bidikan para paparazzi itu. Tapi bukannya melihat gambar-gambar itu dengan seksama, Jihyun justru menjauhkan ponsel Yeun dari wajahnya sambil menggerutu sebal.
“Kenapa sih kau terus menerus meracuniku dengan hipotesamu yang tak beralasan itu. Joey adalah suamiku. Aku yang lebih mengetahui sifat suamiku daripada siapapun, termasuk kau! Jadi jangan coba-coba untuk mempengaruhiku dan membuatku terganggu dengan semua itu. Sekarang aku akan turun. Aku akan mulai menyiapkan kejutan romantis untuk Joey agar semua hipotesa yang kau berikan padaku itu tidak terjadi. Aku sangat mencintai Joey, aku tidak mau kehilangannya.” akhir Jihyun dengan wajah memelas. Wanita berparas cantik itu lantas segera keluar dari mobil SUV yang membawa mereka, setelah dua orang pelayan datang untuk
membukakan pintu mobil di sampingnya da membawakan barang-barang bawaanya yang tersimpan di dalam bagasi.
Dengan anggun, wanita itu segera masuk kedalam mansionnya yang mewah sambil menghirup
dalam-dalam aroma Joey yang mungkin tertinggal di dalam mansion itu. Selama kurang lebih lima hari di New York membuatnya sangat merindukan Joey. Ia benar-benar tidak sabar untuk melihat wajah Joey nanti yang pasti akan terkejut dengan kedatangannya. Ia juga tidak sabar untuk bergelung di dalam pelukan Joey yang hangat sambil terus menatap wajah tampan suaminya yang menenangkan. Jihyun kemudian berjalan menuju kamarnya di lantai dua setelah ia memerintahkan beberapa maidnya untuk membawa semua kopornya ke dalam kamarnya. Ketika ia berjalan melewati kamar tamu, tak sengaja ia melihat bibi Jang sedang membersihkan kamar tamu yang selama ini jarang digunakan untuk tidur. Dengan penasaran Jihyun melangkah kedalam kamar itu untuk menyapa bibi Jang dan menanyakan tentang kondisi Joey selama ia pergi.
“Bibi Jang, apa kabar?” sapa Jihyun di ambang pintu sambil memberikan senyuman manis pada wanita paruh baya yang telah mengabdikan hampir seluruh hidupnya pada keluarga suaminya itu. Bibi Jang yang awalnya sedang merapikan seprai, langsung menoleh cepat kearah pintu dan meninggalkan kegiatannya begitu saja untuk membalas sapaan majikannya.
“Nyonya Jihyun, kapan nyonya pulang?”
“Baru saja bibi. Apa yang sedang bibi lakukan di sini? Apa akan ada tamu yang menginap?” tanya Jihyun penasaran.
“Tidak nyonya. Tapi semalam kamar ini digunakan oleh tamu tuan Joey untuk menginap.”
“Tamu? Tumben Joey membawa tamunya ke sini. Bukankah biasanya tamu-tamu itu menginap di hotel? Siapa yang menginap di sini bibi?”
Bibi Jang terlihat ragu untuk mengatakannya pada Jihyun karena ia sendiri merasa sedikit aneh dengan kedekatan yang terjalin diantara Joey dan Luciana. Semalam ia sempat melihat tuan dan wanita itu keluar dari toilet yang sama setelah beberapa saat wanita itu berada di dalam toilet. Jika mereka tidak memiliki hubungan khusus, tidak mungkin tuannya akan melakukan hal seperti itu. Menyelinap masuk ke dalam toilet bersama seorang wanita, lalu keluar setelah cukup lama berada di dalam toilet. Lagipula tadi pagi, saat ia membersihkan ruang kerja milik Joey, ia menemukan ruangan itu sangat berantakan. Banyak kertas-kertas yang bercecer di atas karpet. Dan ia juga menemukan bekas noda lipstik yang tertempel di permukaan sofa kulit yang berada di dalam ruang kerja pribadi Joey. Dengan semua bukti-bukti yang mencurigakan itu, bibi Jang tidak bisa menyingkirkan pikiran buruknya begitu saja dari kepalanya. Otaknya sejak tadi terus mengatakan jika tuan dan wanita asing itu telah menjalin sebuah hubungan khusus tanpa sepengetahuan nyonya mudanya ini.
“Bibi Jang?”
Bibi Jang tampak terkejut ketika Jihyun mengguncang bahunya beberapa kali untuk menyadarkan wanita itu dari lamunannya. Wanita paruh baya itu kemudian mengerjap dua kali sambil menatap Jihyun dengan mata tuanya yang sayu.
“Semalam nona Luciana dan putrinya menginap di sini.” Ucap bibi Jang ragu. Jihyun langsung menunjukan ekspresi terkejut pada bibi Jang sambil menatap tak percaya kamar tamu yang saat ini telah kosong itu. Baru beberapa saat yang lalu ia membicarakan wanita itu dengan Yeun, dan sekarang ia justru mendapatkan sebuah fakta baru jika semalam wanita itu baru saja menginap di mansionnya. Itu sungguh sebuah fakta yang sangat mengerikan! Seketika Jihyun mulai memikirkan dugaan Yeun yang mungkin saja memang benar. Suaminya mungkin saat ini sedang bermain api dengan wanita bernama Luciana Im itu. Tapi sejak kapan suaminya mengenal Luciana? Bukankah mereka hanya bertemu sekali di pesta ulangtahun putra Yeon Ju? Atau mungkinkah selama ini diam-diam Joey sering menemui Luciana?
“Bagaimana bisa wanita itu menginap di sini?” tanya Jihyun mulai emosi. Bibi Jang hanya bisa menunduk dalam untuk menghindari tatapan tajam Jihyun yang sangat menakutkan. Nyonya mudanya itu memang memiliki tempramen yang cukup tak terkontrol. Sudah berkali-kali ia menyaksikan Jihyun bersikap kasar di rumah itu pada Joey. Jadi bibi Jang kemudian berpikir jika tuannya itu mungkin saja sedang menjalin hubungan dengan wanita lain karena sudah terlalu jengah menghadapi emosi Jihyun yang tidak bisa dikontrol itu.
__ADS_1
“Semalam tuan Lee mengadakan makan malam bersama tuan Spencer dan keluarganya. Lalu nona
Luciana juga datang bersama putrinya. Tapi karena acara makan malam itu berakhir cukup larut, putri nona Luciana tertidur di atas sofa ruang tamu. Karena tidak tega membiarkan nona Luciana pulang sendiri, tuan Joey lantas meminta nona Luciana untuk menginap bersama putrinya.”
“Lalu dimana Joey sekarang? Apa ia masih di kantor?” tanya Jihyun berubah gusar. Kelembutan yang sebelumnya sempat ditunjukan oleh wanita itu, menguap begitu saja entah kemana. Yang tersisa kini hanyalah kemarahan dan kekesalan yang menguar cukup pekat dari tubuh Lee Jihyun.
“Tuan Joey pagi ini pergi ke Busan.”
“Kenapa Joey sama sekali tidak menghubungiku jika ia akan pergi ke Busan? Ini benar-benar mencurigakan. Bibi, apa selama aku pergi Joey sering membawa wanita ke rumah atau terlihat bersama seorang wanita?”
“Ttti tidak nyonya. Tuan Joey tidak pernah melakukan apapun selama ini. Tapi tuan Joey memang lebih sering pulang larut malam akhir-akhir ini.”
Jihyun terlihat semakin marah dengan semua penjelasan yang diberikan bibi Jang. Sekelebat bayangan mengenai kedekatan suaminya dengan wanita bernama Luciana itu membuatnya menjadi takut dan panik. Ia takut akan kehilangan Joey karena keegoisannya selama ini. Ia pikir Joey baik-baik saja dengan keputusannya untuk berkarier menjadi model karena selama ini pria itu tidak menunjukan tanda-tanda penolakan apapun. Tapi bagaimana jika selama ini sebenarnya ia tidak peka? Bagaimana jika sebenarnya Joey selama ini telah menunjukan keengganannya terhadap rencananya untuk berkarir? Ditambah lagi selama ini ia tidak pernah
mempedulikan bagaimana kehidupan suaminya pasca pulang dari kantor. Yang tertanam di benaknya, suaminya itu selalu pulang dengan teratur setelah menyelesaikan semua tugas-tugasnya di kantor. Bahkan saat itu ia juga tidak mau repot-repot mencari dimana keberadaan suaminya karena ia hampir terlambat mengambil penerbangan ke New York. Jadi jika pada akhirnya suaminya itu berpaling pada wanita lain, itu semua adalah kesalahannya. Ia yang terlalu mengabaikan Joey dengan seluruh ambisinya untuk menjadi super model terkenal. Dan sekarang inilah akibat dari keegoisannya. Ia harus bersiap untuk kehilangan suaminya untuk selama-lamanya atau ia harus segera berubah demi mendapatkan hati suaminya kembali.
-00-
Sore itu dengan wajah lelah yang membingkai wajahnya, Jessica berjalan lunglai kedalam kantor badan penyelidikan negara guna mendapatkan titik terang dari kasus kematian kakak iparnya. Sejak dua hari yang lalu, hampir setiap hari rutinitasnya selepas mengajar di taman kanak-kanak adalah mendatangi kantor badan penyelidikan negara agar ia bisa segera menemukan kejelasan terkait keponakannya. Apalagi ibunya terus saja
histeris setiap kali menghubunginya sambil menanyakan dimana keberadaan cucunya. Ia jadi tidak tega melihat keadaan ibunya yang hancur di sana karena memikirkan nasib cucunya dan juga menantunya yang ternyata telah meninggal tanpa diketahui oleh pihak keluarganya.
“Jadi bagaimana kelanjutan penyelidikan kasus kematian Jung Nicole?” tanya Jessica lesu. Ia sangat berharap kali ini petugas itu memberinya kabar baik karena ia sudah lelah mendengar kabar buruk yang selalu disampaikan orang-orang itu terkait kematian kakak iparnya.
Mendengar itu Jessica langsung menegakan tubuhnya sambil memandang penuh minat kearah petugas berseragam hitam di depannya. Ia benar-benar sudah tidak sabar untuk mendapatkan kabar baik dari pria itu.
“Jadi wanita yang bernama Jung Nicole itu sempat melahirkan bayinya sebelum melakukan bunuh diri.”
“Benarkah? Jadi keponakanku masih hidup?” tanya Jessica antusias. Ia hampir saja menitikan air matanya dan juga menjerit girang disaat yang bersamaan karena terlalu bahagia dengan kabar gembira yang didengarnya. Setelah ini ia tidak akan mendengar suara jeritan ibunya lagi setelah mendapatkan kabar jika cucunya masih hidup.
“Kemungkinan seperti itu nona. Tapi kami tidak bisa melacak informasi mengenai Jung Nicole lebih jauh lagi karena data-data mengenai Jung Nicole termasuk kedalam data khusus yang tidak bisa diungkap begitu saja.”
“Lalu apa yang harus kulakukan agar aku bisa menemukan keponakanku? Tuan kumohon bantu aku, ini adalah wasiat dari kakakku. Aku harus menemukan anak dan istrinya setelah ia meninggal. Tapi ternyata aku terlambat untuk menemukan istrinya. Dan sekarang aku sangat berharap jika aku bisa menemukan keponakanku.” ucap Jessica dengan wajah memelas. Petugas itu hanya meringis kecil menanggapi permohonan Jessica karena meskipun wanita itu bersujud di kakinya pun, ia tetap tidak akan bisa mengungkapkan riwayat kematian Nicole lebih jauh karena itu bukan wewenangnya.
“Jadi sebenarnya nona Nicole pernah mengalami gangguan psikis empat tahun yang lalu. Ia kemudian ditangani oleh seorang konselor dari kantor biro konseling negara. Setidaknya seperti itulah informasi yang berhasil kami dapatkan. Jadi jika anda ingin tahu lebih lanjut mengenai riwayat kematian Nicole, anda harus datang ke
kantor biro konseling negara dan bertemu dengan konselor bersangkutan, karena konselor itu yang memiliki wewenang untuk membuka data-data pribadi nona Jung Nicole.”
Seketika semangat Jessica runtuh setelah mendengar serangkaian informasi yang diberikan oleh petugas itu. Ia pikir perjalanannya untuk mencari informasi-informasi itu akan segera berakhir di sini. Ternyata ia masih harus bekerja lebih keras lagi untuk mengungkap kasus kematian Jung Nicole dan menemukan keberadaan keponakannya yang entah berada di mana saat ini. Namun ia sangat berharap jika keponakannya itu masih hidup dan berada di dalam asuhan orang yang tepat. Karena ia akan merasa sangat bersalah pada kakaknya jika ternyata keponakannya tidak dirawat oleh orang yang tepat.
“Jadi siapa nama konselor yang harus kutemui di sana? Aku sebenarnya sudah benar-benar frustrasi dengan pencarian ini.” Keluh Jessica lesu. Petugas itu lantas membuka-bukan sebuah buku kusam yang tersimpan di lacinya, dan ia mulai mencari nama salah satu konselor yang menangani Jung Nicole di dalam daftar nama-nama konselor yang tertera di buku kusam itu.
“Nona, konselor yang menangani kasus Jung Nicole bernama Luciana Im. Jadi anda sebaiknya bertemu dengan nona Im Luciana untuk meminta informasi lebih lanjut mengenai kasus kematian Jung Nicole.”
Seketika Jessica merasa pernah mendengar nama itu dan terasa tidak asing. Namun ia lupa dimana ia mendengarnya. Pikirannya akhir-akhir ini sangat kacau, sehingga ia mudah sekali melupakan hal-hal kecil yang terjadi disekitarnya.
__ADS_1
“Baiklah kalau bagitu, terimakasih atas bantuannya selama ini.” ucap Jessica sopan dan segera pergi meninggalkan kantor itu. Kini di benaknya tersusun berbagai rencana untuk segera menemui konselor itu. Sayangnya ia tidak mungkin datang ke kantor itu sekarang karena ini sudah terlalu sore, bahkan nyaris memasuki jam malam. Jadi ia memutuskan untuk mendatangi kantor konseling negara itu besok pagi.
“Halo eomma?”
Jessica menempelkan benda persegi itu di telinganya dan mulai berbicara dengan ibunya.
“Halo nak, bagaimana kabar terbaru mengenai keponakanmu dan kakak iparmu?” tanya nyonya Jung tidak sabar.
“Aku baru saja mendatangi kantor badan penyelidikan negara, dan petugas di sana mengatakan jika sebelum bunuh diri, Nicole eonni sempat melahirkan bayinya. Jadi kemungkinan cucu ibu masih hidup. Tapi petugas itu tidak bisa memberikan keterangan lebih lanjut terkait dimana anak Nicole berada karena semua
data-data mengenai Nicole disimpan oleh seorang konselor yang dulu sempat menangani Nicole ketika mengalami gangguan psikis. Sepertinya Nicole mengalami depresi berat akibat diceraikan oleh Jeremy begitu saja. Kasihan Nicole. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Jeremy.” ucap Jessica sedih. Seharusnya dulu ia segera mengabarkan berita kematian Jeremy pada kakak iparnya agar sang kakak ipar tidak mengalami kesalahpahaman. Pasti kakak iparnya selama ini mengira jika perceraiain itu terjadi karena kakaknya sudah tak menyayangi kakak iparnya lagi. Padahal semua itu karena Jeremy menyembunyikan penyakit mematikannya pada kakak iparnya agar wanita itu tidak bersedih di masa-masa kehamilannya yang memasuki bulan ke sembilan.
“Kalau begitu kau harus segera menemui konselor itu. Mungkin ia tahu dimana keberadaan cucu ibu sekarang.”
“Eomma tenang saja, aku akan segera menemuinya besok. Kalau begitu sampai jumpa eomma, tolong doakan yang terbaik untukku.” Ucap Jessica pelan sebelum mengakhiri sambungan teleponnya. Wanita itu kemudian berjalan gontai menuju mobilnya. Ia menatap langit jingga kemerahan yang saat ini sedang menaungi kepalanya. Dari tempatnya berdiri ia seperti melihat sang kakak sedang tersenyum di atas sana sambil memberikan semangat untuknya agar ia tidak menyerah begitu saja. Karena ia memang harus kuat dan tangguh demi keponakan kecilnya yang saat ini entah berada dimana.
-00-
Suasana di ruang tamu itu malam ini sedikit serius dan tegang. Dua orang pria dan wanita dewasa sedang berbicara serius, membicarakan masalah Luciana yang terlihat cukup aneh. Aaron yang telah mendengarkan cerita dari Karen sejak tadi terus mengernyit bingung sambil memikirkan mantan istrinya yang kini mungkin sedang menjalin hubungan khusus dengan kliennya, Joey Lee.
“Selama ini ia selalu mengelak setiap kali aku menjodohkannya dengan Joey karena pria itu telah memiliki istri seorang super model kelas dunia. Sejujurnya aku tidak masalah jika Luciana memang menjalin hubungan dengan pria itu karena sejauh ini aku melihat Joey sebagai pria yang baik dan juga bertanggungjawab. Tapi aku
tidak setuju jika ternyata Luciana berkencan dengan seorang pria yang telah memiliki istri. Itu sangat menyalahi aturan. Bahkan ia dulu sudah pernah merasakan berada di posisi dimana suaminya sedang berselingkuh dengan wanita lain. Seharusnya Luciana bisa memikirkan dampak-dampak yang muncul dari perbuatannya.” ucap Aaron panjang lebar. Siang ini Karen langsung menghubunginya begitu pria itu tiba dari tugas luar kotanya. Dan untung saja wanita itu menghubunginya disaat yang tepat, ketika ia mendapatkan jatah libur dari kantornya setelah perjalanan yang cukup melelahkan ke daerah terpencil pulau Nami.
“Jadi maksudmu Luciana sekarang sedang berselingkuh bersama Joey? Luciana menjadi simpanannya?” tanya Karen tak percaya. Aaron mengangguk samar dan terlihat menunjukan aura sedih di wajahnya. Selama seminggu tak bertemu Luciana, ternyata banyak hal yang berubah dari wanita itu. Kedekatannya dengan Joey yang semakin intens tidak pernah terpikir sebelumnya jika akan berakhir seperti ini. Tapi wajar jika pada akhirnya Joey dan Luciana menjadi dekat satu sama lain hingga mengarah pada sebuah hubungan terlarang yang menggiurkan karena mereka berdua sama-sama saling membutuhkan. Ia yakin, Luciana bukanlah wanita kuat yang bisa melakukan apapun sendiri. Ada kalanya wanita itu membutuhkan sosok pria itu melindunginya dan Aleyna. Kebetulan Joey selama ini menawarkan hal itu pada Luciana. Ia yang juga sama kesepiannya karena selalu ditinggalkan oleh istrinya merasa lebih berarti ketika bersama Luciana. Keberadaanya sebagai seorang pria dan kepala rumah tangga lebih diakui ketika bersama Luciana. Jadi wajar jika pada akhirnya mereka menemukan kenyamanan satu sama lain dan memilih untuk mengembangkan hubungan mereka kearah yang lebih serius. Tapi di sini tetap saja hubungan yang mereka jalin adalah sebuah kesalahan fatal. Reputasi Luciana sebagai seorang konselor akan hancur jika berita perselingkuhannya dan Joey terkuak ke media. Terlebih lagi Joey adalah pria yang cukup berpengaruh di Korea. Berita mengenai kehidupan pribadinya pasti akan sangat diburu oleh paparazzi yang haus akan informasi.
“Sekarang dimana Luciana? Kenapa Aleyna ada di sini?”
“Bukankah sudah kukatan di awal jika Luciana sedang pergi ke Busan untuk menyelesaikan pekerjaanya.” Jawab Karen gemas. Padahal sejak awal ia telah menjelaskan semuanya pada Aaron mengenai kepergian Luciana yang tiba-tiba dan kedatangan Luciana ke rumahnya yang diantarakan oleh seorang pria asing bernama Joey Lee. “Luciana pergi bersama Jihoo?”
“Entahlah, aku tidak tahu. Tadi pagi ia hanya datang bersama Joey. Aleyna, apa eommamu pergi ke Busan bersama paman Jihoo?” Tanya Karen beralih pada Aleyna. Aleyna yang awalnya sedang mewarnai langsung mendongak kearah Karen sambil menggelengkan kepalanya tidak tahu.
“Hahhh... dia tidak tahu.” dengus Karen berat.
“Aku akan menghubungi Jihoo nanti untuk menanyakan dimana keberadaan Luciana dan
tugas apa yang ia tangani di Busan. Aku takut Luciana terjerumus terlalu jauh pada perasaanya. Aku tidak ingin ia nantinya mendapatkan kecaman dari orang-orang karena perilakunya yang menyimpang itu. Meskipun keduanya mungkin sama-sama saling mencintai, tapi apa yang ia lakukan bersama Joey tetaplah salah.”
“Yah, kau benar. Semoga Luciana segera sadar dan tidak melakukan hal-hal yang lebih jauh sesuai dengan prasangka kita. Karena jika Aleyna pernah melihat Joey tidur di kamar Luciana, itu berarti....”
Karen terlihat tidak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya dan hanya menutup mulutnya tak percaya. Ia takut apa yang ia bayangkan sejak tadi benar-benar telah terjadi pada Luciana. Wanita itu mungkin telah melakukan sesuatu yang terlampau jauh bersama pria asing bernama Joey.
“Semoga saja itu memang tidak sesuai dengann jalan pikiran kita. Hingga sejauh ini aku masih mempercayai Luciana. Dan ia bukan tipe wanita seperti itu.” ucap Aaron menegaskan, namun terselip begitu banyak keraguan di hatinya ketika ia menatap Aleyna dari kejauhan yang sedang asik menggambar di atas kertas gambarnya.
Aleyna tidak mungkin berbohong.
__ADS_1