
Perlahan-lahan Yeri mulai membuka matanya ketika ia merasa sebuah goncangan keras beberapa kali menghantam tubuhnya. Dengan mata yang sedikit disipitkan, Yeri mulai memindai seluruh sudut ruangan yang saat ini sedang ditempati. Ruangan itu bercat putih dan berbau karbol yang begitu menyengat. Dalam sekejap Yeri dapat menebak jika saat ini ia sedang berada di rumah sakit. Ia kemudian menoleh ke samping kanan, dimana guncangan itu berasal. Dan saat ia menolehkan kepalanya ke kanan, sosok pertama yang dilihatnya adalah Jaebum. Pria yang beberapa saat yang lalu menghilang setelah melakukan sebuah percobaan pembunuhan pada ibunya. Secepat kilat Yeri langsung mendudukan tubuhnya di atas blangkar sambil menatap tajam pada Jaebum, sedangkan pria yang ditatap tajam oleh Yeri hanya memberikan senyuman tanpa dosanya pada Yeri sebagai balasan dari tatapan tajam yang diberikan oleh Yeri.
“Darimana saja kau? Apa yang kau lakukan pada eommaku?” tanya Yeri tajam. Perlahan-lahan Jaebum melangkah mendekati Yeri dan secara tiba-tiba ia langsung menggenggam tangan Yeri erat.
“Aku hanya ingin memberikan kesakitan yang sama pada eommamu. Bukankah kau ingin eommamu dapat melihat wujud nyataku, maka aku harus menyakiti eommamu dengan sangat keji.”
“Apakah sesakit itukah rasa sakit yang kurasakan? Kenapa aku tidak merasa seperti itu?” tanya Yeri linglung. Rasa marah meledak-ledak yang sebelumnya ia tunjukan pada Jaebum tiba-tiba menguap begitu saja, digantikan dengan rasa linglung dan sedih yang tiba-tiba merayap ke dalam hatinya. Dengan hangat, Jaebum kemudian memeluk Yeri dan membawa wanita itu ke dalam dekapannya. Ia tahu jika saat ini Yeri sedang rapuh, maka ia akan menjadi penyangga bagi tubuh Yeri yang rapuh. Ia tidak ingin Yeri lemah dan menjadi dirinya yang menyedihkan seperti dulu.
“Rasa sakit yang kau rasakan sangat besar Yeri, bahkan sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan oleh eommamu. Apa kau ingin keluar dari sini? Sepertinya kau sudah jauh lebih baik.” ucap Jaebum lembut sambil menarik pelukannya dari Yeri. Wanita itu mengangguk pelan dan segera berjalan turun mengikuti Jaebum yang sudah melangkah terlebih dahulu di depannya. Sebelum ia meninggalkan ruangan steril itu, Yeri tak lupa untuk mencabut jarum infus yang menancap di pergelangan tangannya. Meskipun sakit, ia merasa tidak masalah asalkan ia dapat pergi dari ruangan steril itu bersama Jaebum.
-00-
Satu jam kemudian taksi yang ditumpangi oleh Yeri telah tiba di depan rumahnya yang sepi. Tampak di bagian depan, tuan Shim sedang membersihkan daun-daun yang berguguran di halaman depan rumahnya. Yeri kemudian berlari pelan menghampiri tuan Shim dan meminta pria pertengahan lima puluh itu untuk membayar biaya taksinya karena ia sama sekali tidak memiliki uang untuk membayar taksi itu.
“Tuan Shim, bolehkah aku meminjam uangmu terlebihdahulu, aku sama sekali tidak membawa uang untuk membayar taksi itu. Nanti aku akan menggantinya saat aku telah mengambil dompetku di dalam.”
“Nnnona, apa yang nona lakukan di sini? Bukankah...”
Ucapan tuan Shim terpotong seketika karena pria itu merasa terkejut dengan kehadiran Yeri. Seharusnya Yeri tidak berada di sini, seharusnya Yeri sedang berada di rumah sakit dan menjalani perawatan karena wanita itu sedang menderita sebuah trauma yang cukup serius di kepalanya akibat indisen berdarah kemarin. Namun tuan Shim lebih memilih untuk tidak mencampuri urusan nona mudanya lebih lanjut, karena sejujurnya ia merasa takut pada Yeri. Menurutnya saat ini Yeri telah berubah menjadi pribadi yang sangat mengerikan. Dan setelah ia menyelesaikan pekerjaanya, ia lebih memilih untuk segera pulang ke rumahnya daripada harus tinggal di dalam rumah bersar itu bersama wanita aneh seperti Yeri. Ia tidak mau mengambil risiko mendapatkan kesialan jika berada di dalam bangunan yang sama dengan Yeri. Tidak, karena ia masih sangat menyayangi nyawanya.
Sementara itu, Yeri sedang menatap kosong pada tukang kebunya sambil menggenggam jeruji besi di dalam kamarnya dengan erat. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh tukang kebun itu, tapi Yeri merasa jika tukang kebun itu sangat ketakutan saat melihat kearahnya dan berbicara padanya. Tiba-tiba sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang dan membalikan tubunya hingga mereka berdua saling berhadap-hadapan. Lee Jaebum saat ini tengah menatap Yeri dalam dengan iris teduhnya yang begitu menenangkan bagi Yeri. Dan dalam sekejap Yeri telah terhanyut dalam ciuman memabukan yang diberikan oleh Jaebum. Lalu entah siapa yang memulainya terlebihdahulu, mereka berdua telah sama-sama terbanting di atas ranjang yang empuk untuk memulai pergulatan mereka yang panas. Dan sepanjang sore itu, suara lenguhan dan desahan terus mengalun di dalam kamar Yeri secara bersahut-sahutan hingga keduanya merasa lelah dan kemudian memutuskan untuk tenggelam ke dalam dekapan sang dewi mimpi yang hangat.
-00-
Yeri mengerjapkan matanya berkali-kali sambil mengamati ruangan tempatnya berada dengan dahi berkerut
samar. Seingatnya sebelum ia memejamkan mata, ia tengah bercinta dengan Jaebum, mereka saling mengisi satu sama lain dan juga menghangatkan. Setelah itu ia dan Jaebum sama-sama merasa lelah, dan akhirnya mereka jatuh tertidur di kamarnya. Tapi, mengapa sekarang ia berada di dalam kamar putih berbau karbol itu lagi. Dan juga, kedua tangannya saat ini tengah di rantai di dekat ranjang agar ia tidak dapat pergi kemanapun. Sambil berusaha melepaskan rantai itu dari pergelangan tangannya, Yeri terus berteriak memanggil siapa saja yang mau menolongnya. Dan setelah ia merasa benar-benar frustasi, hanya nama Jaebum yang terus mengalun dari bibir tipisnya hingga suaranya serak dan terdengar lirih.
__ADS_1
“Jaebum, kau dimana? Tolong aku. Seseorang telah merantai pergelangan tanganku.” ucap Yeri lirih dengan air mata yang mulai membanjiri kedua pipi mulusnya. Lalu tak berapa lama seorang pria dengan jas putih serta stetoskop di lehernya masuk ke dalam ruang perawatan Yeri ditemani oleh seorang perawat cantik yang memiliki postur tubuh kecil. Perawat itu tampak sedang membacakan riwayat kehidupan Yeri selama ini pada sang dokter. Sedangkan Yeri langsung beringsut mundur ketika dokter itu mencoba mendekatinya dan menyentuh pergelangan tangannya yang berdarah akibat gesekan borgol dengan kulit tangannya yang halus.
“Yeri, selamat pagi. Bagaimana kondisimu hari ini?” tanya dokter itu lembut, berusaha untuk membuat Yeri tidak ketakutan dan sebisa mungkin ia mencoba untuk membangun kontak dengan Yeri.
“Dddi dimana aku? Apa yang telah kalian lakukan padaku?” tanya Yeri ketakutan sambil merintih perih karena kedua pergelangan tangannya sudah mengeluarkan begitu banyak cairan pekat berwarna merah yang saat ini tampak menetes, mengotori lantai putih yang berada di bawahnya.
“Tenanglah Yeri, kau akan semakin menyakiti dirimua sendiri jika kau terus melakukan hal itu.”
Tiba-tiba sekelebat bayangan Jaebum muncul di depannya sambil menyunggingkan senyum manis kepadanya. Refleks Yeri langsung berteriak-teriak memanggil pria itu untuk menolongnya, tapi Jaebum justru hanya berdiam diri di tempatnya tanpa melakukan sesuatu padanya.
“Jaebum! Lee Jaebum tolong aku! Mereka akan menyakitiku. Jaebum! Jaebum!” teriak Yeri frustrasi sambil mencoba melepaskan ikatan rantai di tangannya. Dokter itu sebisa mungkin langsung menyadarkan Yeri dari ilusi dan delusi yang sedang dialami oleh Yeri.
“Yeri sadarlah, itu hanya ilusi. Jaebum tidak nyata. Pria itu hanya ilusimu. Yeri, Kang Yeri?” panggil dokter itu berkali-kali ketika Yeri sudah mulai berontak dan hampir saja melukai pembuluh darahnya dengan gesekan borgol yang semakin dalam mengiris permukaan kulitnya. Dokter itu kemudian segera memanggil para perawat yang lain untuk membantu menenangkan Yeri dan melepaskan borgol itu dari tangan Yeri, sebelum Yeri kehabisan darah dan mati.
“Jaebum! Lepaskan aku. Aku ingin bebas. Oh, Taeyeon, Yuri! Kalian tolong bantu aku! Aku janji akan selalu bersama kalian setelah ini. Bukankah kalian ingin mengajakku untuk mengobrol dan menghabiskan waktu dengan minum kopi bersama. Kwon Yuri, Kim Taeyeon! Tolong aku!"
Perlahan-lahan, setelah obat itu masuk sepenuhnya ke dalam tubuh Yeri, Yeri merasa dirinya melayang-layang dan damai. Semua beban dan rasa sakit yang menghinggapi dirinya terangkat seketika. Dan setelah itu ia terhanyut ke dalam alam mimpi yang begitu menenangkan.
-00-
Luciana tertegun lama setelah mendengarkan cerita dari Yeri yang sangat mengejutkan. Rasanya ia masih tak habis pikir dengan jalan cerita yang dipilih Yeri untuk ia mainkan. Mengapa wanita itu justru menjadikan Jaebum sebagai teman, kekasih, dan pasangannya dalam melampiaskan fantasi seksualnya? Kenapa harus Jaebum?
“Apa kau pernah menceritakan hal ini pada dokter Oh?” tanya Luciana perlahan. Ia berusaha terlihat senormal mungkin, meskipun ia tengah dihantui perasaan aneh setelah berhasil mengorek sisi lain Kang Yeri yang selalu tersembunyi di kepalanya.
“Tidak. Aku tidak lagi mempercayainya karena dokter Oh juga tidak mempercayaiku. Saat aku mengatakan padanya jika bukan aku yang menusuk ibuku, ia justru mengurungku di dalama kamar. Aku membenci dokter Oh.” ucap Yeri hampa. Emosinya seperti telah terkuras untuk sekedar merasa marah pada Oh Sehun yang telah membuat seluruh kepercayaannya menguap begitu saja. “Padahal selama ini aku mempercayai dokter Oh dan selalu menceritakan apapun yang kualami padanya. Aku selalu membagi rahasiaku padanya, sebelum semua petaka itu terjadi.” Yeri terlihat murung saat menceritakan Oh Sehun yang telah mengkhianatinya. Yeri kemudian berpaling kearah hamparan bunga-bunga di taman rumah sakit yang terlihat bergerak lembut mengikuti irama yang dimainkan oleh angin. Sekarang Luciana mengerti mengapa Yeri sangat menyukai taman ini. Gadis itu menemukan ketenangannya saat berada di taman. Dan dokter Oh telah salah dengan memperlakukannya seperti seorang tahanan karena Yeri justru akan semakin memberontak jika ia merasa terancam dengan keadaan di sekitarnya.
“Ngomong-ngomong kau belum makan.” ucap Luciana mengusik ketenangan yang sedang dirasakan oleh
__ADS_1
Yeri. Gadis itu seketika menekuk wajahnya menjadi cemberut, dan menggeleng keras kearah Luciana. “Aku tidak mau kembali ke ruanganku untuk mengambil makananku. Jaebum menginginkkan aku di sini.” tambah Yeri terdengar tidak bersahabat.
“Baiklah, aku tidak akan memaksa.” Luciana tersenyum lembut pada Yeri sambil menyingkirkan anak rambut yang menjuntai di sisi kanan wajah Yeri. “Kau bisa duduk di sini selama yang kau mau, tidak ada yang akan melarangmu.”
“Terimakasih. Jaebum benar, kau wanita yang baik. Dan kau tidak sama dengan dokter Oh.”
Luciana hanya tersenyum simpul menanggapi kata-kata Yeri. Apa yang harus ia lakukan untuk mengembalikan kepercayaan gadis itu pada Sehun. Jelas ini akan menjadi sesuatu yang sulit jika Oh Sehun akan memulai pengobatannya pada gadis itu karena Yeri jelas-jelas tidak lagi mempercayainya seperti dulu.
Luciana mengedarkan pandangannya kearah lain. Setelah merasa jika Yeri sedang dalam mode relaksasi, ia memilih untuk mengamati pemandangan lain di sisi lain rumah sakit yang selalu terlihat ramai di jam-jam praktik seperti ini. Dari kejauhan tanpa sengaja ekor matanya menangkap sosok dokter Oh sedang melambai kearahnya sambil memberikan kode untuk pergi ke ruangannya. Dengan cepat Luciana mengangguk pada Sehun, dan melirik ke arah Yeri sebentar untuk memastikan jika gadis itu masih terhanyut dalam imajinasi liarnya yang tak terkendali.
“Yeri, aku harus pergi ke ruanganku.”
Setelah Sehun menghilang dibalik tikungan lorong rumah sakit, Luciana mencoba berbicara dengan Yeri yang langsung membuka matanya nyalang di detik pertama Luciana memanggil namanya. Dalam hati Luciana kagum dengan kewaspaan yang dimiliki oleh Yeri. Jelas-jelas gadis itu memiliki tingkah proteksi diri yang sangat tinggi. Pantas saja jika ia juga akan sangat marah jika dirinya diusik dengan begitu buruk oleh orang lain.
“Sayang sekali kau harus pergi. Lain kali mungkin kita bisa mengobrol dan duduk di taman ini lagi, dokter Lucine.”
“Tentu. Aku pasti akan menemanimu kapanpun kau ingin berbicara denganku. Sampai jumpa, Yeri.”
Luciana melambai ringan kearah Yeri yang langsung dibalas gadis itu dengan lambaian kecil. Sembari menatap kepergian Luciana, Yeri bergumam kecil pada seseorang yang sejak tadi selalu berada di sana untuk menemani Yeri.
“Apa menurutmu dokter Luciana pantas mendapatkan kepercayaanku?”
“Setidaknya dokter itu tidak melakukan apa yang dilakukan dokter keparat itu padamu.”
“Dokter Oh Sehun....” gumam Yeri nyaris seperti bisikan. Pandangannya kosong kearah hamparan bungan yang masih setia bergerak-gerak mengikuti irama angin. Tak bisa dipungkiri jika hatinya sakit setelah mendapatkan pengkhianatan yang sangat buruk dari Oh Sehun. “Apa kita juga harus membuat dokter Oh merasakan kesakitan seperti eomma?”
“Apapun yang kau inginkan Yeri sayang. Aku akan melakukannya untukmu.” bisik bayangan itu selembut beledu. Bisikannya yang menenangkan membuat Yeri jatuh terbuai ke dalam jerat teman khayalannya tanpa sadar telah terbentuk dari seluruh pengalaman traumatis miliknya di masa lalu.
__ADS_1