Kontratransferensi

Kontratransferensi
Sequel Kontratransferensi: There Are Too Many Problem Between Us


__ADS_3

            Setelah aksi gila yang dilakukan Joey di bandara untuk menghentikan kepergian Luciana dan pengakuan pria itu atas semua kesalah pahaman yang terjadi selama ini, Joey memutuskan untuk segera menikahi Luciana dan menjadikan wanita itu sebagai miliknya. Tak ada lagi keraguan sedikitpun dalam hatinya untuk memperisteri


Luciana karena sejak awal ia memang telah jatuh ke dalam pesona konselor cantik itu. Namun kehidupan yang mereka bayangkan akan berjalan indah dan penuh keceriaan, nyatanya tak berjalan sesuai dengan harapan. Satu bulan setelah Joey resmi menikahi Luciana, berita perselingkuhan mereka yang selama ini tidak pernah terungkap oleh publik, perlahan-lahan mulai muncul dan membuat kehidupan rumah tangga mereka terombang-ambing. Perubahan status Luciana yang tiba-tiba menjadi istri sah Joey membuat banyak media menuduh Luciana sebagai wanita murahan lagi. Tak hanya sampai di situ, berita mengenai perceraiannya dulu dengan Rein juga mulai dimunculkan kembali oleh media yang tak bertanggungjawab dan hanya sekedar mementingkan karir mereka semata. Hal itu kemudian memancing kemarahan Joey hingga pria itu bersikap tegas dengan menghancurkan majalah-majalah murahan yang dengan seenaknya menghembuskan berita bohong terkait kehidupannya, terutama Luciana. Sejujurnya ia tak masalah jika media-media itu hanya mengolok-oloknya, tapi parahnya media itu justru lebih banyak menyoroti tentang Luciana dan semakin menuliskan berita buruk mengenai Luciana. Bahkan ada salah satu majalah yang membuatnya sangat marah hingga di hari itu juga ia langsung mengobrak-abrik seluruh manajemen majalan itu hingga hancur tak tersisa. Namun yang membuat Joey akhirnya luluh dengan semua


kemarahan dahsyatnya adalah kebaikan hati Luciana. Wanita muda itu dengan penuh kelembutan mengatakan pada Joey jika ia tidak apa-apa. Ia mengaku telah siap menanggung semua risiko itu ketika pertama kali menerima lamaran Joey saat mereka berada di ruang tunggu bandara. Baginya semua cemoohan itu tidak bisa melunturkan cintanya untuk pria itu dan keinginannya untuk hidup mendampingi pria itu bersama anak-anak mereka kelak. Lagipula semua berita itu jarang sampai ke telinganya secara langsung karena di dalam mansion Joey, ia sangat terlindungi dari hal-hal buruk mengenai skandalnya yang mencuat ke media. Tapi mungkin satu-satunya rintangan yang harus ia lewati ketika tinggal di mansion Joey adalah ia harus membuat seluruh maid di mansion Joey melihat kearahnya dengan tulus. Entah itu hanya perasaanya atau bagaimana, selama satu dua bulan pertama ia tinggal di mansion itu, perlakuan para maidnya tidak seramah dugaanya. Mereka mungkin memang melayaninya dengan baik ketika Joey ada di sampingnya, namun ketika Joey pergi ke kantor, sikap ramah mereka padanya perlahan-lahan mulai hilang. Setiap berpapasan dengannya mereka semua hanya menatapnya sekilas dan langsung mengabaikannya. Hal serupa juga ia temukan pada bibi Jang yang lebih banyak diam ketika beberapa kali mereka berpapasan. Selain itu ia juga sering mendengar bisikan-bisikan tak menyenangkan dari para maid yang sibuk membicarakannya. Meskipun begitu, ia tidak pernah sedikitpun menceritakannya pada Joey. Ia tidak mau pria itu semakin terbebani dengan masalahnya di rumah karena ia tahu jika pria itu sudah memiliki banyak masalah


di luar rumah.


            “Kau terlihat kusut, ada apa?”


            Malam itu Luciana menyapa Joey hangat yang baru saja melangkah masuk ke dalam mansion. Dengan jas yang telah ia sampirkan di lengannya serta kancing kemeja yang telah terbuka sebanyak dua kancing, membuat Joey terlihat begitu menyedihkan dan berantakan. Namun melihat Luciana yang sedang tersenyum hangat kearahnya, membuat Joey mau tidak mau juga ikut tersenyum kearah istrinya. Perlahan-lahan seluruh mimpi-mimpinya dulu mulai terwujud. Dulu ia sangat berharap setiap ia pulang dari kantor dalam keadaan lelah, seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya akan menyapanya dengan hangat. Kini Luciana telah mewujudkan keinginan terbesarnya dan membuatnya merasakan bagaimana menjadi kepala keluarga dan seorang calon ayah begitu dihargai.


            “Ini biasa Luci, masalah kantor dan berbagai masalah pelik lainnya. Semuanya adalah makanan sehari-hariku sejak dulu. Bagaimana kabarmu hari ini?”


            Joey berjalan menghampiri Luciana dan langsung merangkul bahu wanita itu untuk masuk ke dalam mansion. Hari ini ia tidak sabar untuk bermanja-manja bersama istrinya selepas makan malam agar ia bisa meluruhkan seluruh masalah peliknya yang sangat menyiksa. Dan rasanya ini sangat menyenangkan karena ia tidak perlu lagi pergi ke rumah Luciana seperti dulu. Sekarang ia bisa menjadikan Luciana teman curhat kapanpun ia membutuhkan wanita itu karena sekarang Luciana adalah bagian dari hidupnya yang sangat berharga.


            “Aku sudah  menyiapkan makan malam, kau ingin makan malam dulu atau mandi?”


            “Sepertinya mandi, tubuhku sangat lengket karena terlalu banyak mengeluarkan emosi di kantor.”


            “Ada apa lagi?” tanya Luciana sambil terkekeh pelan. Joey yang sangat manja dan kekanakan selalu membuat Luciana ingin tertawa geli karena pria itu ternyata sangat jauh dari dugaannya dulu. Ia pikir Joey adalah pria dewasa matang yang selalu bersikap dewasa, tapi nyatanya pria itu sama saja dengan Aleyna yang kekanakan dan juga manja.


            “Spencer, ia membuatku harus mengecek ulang laporan keuangan yang ia buat karena ia salah mengaudit lagi minggu ini. Entah apa yang dipikirkan oleh si bodoh itu, mungkin ia terlalu asik dengan program bayinya karena Mark merengek-rengek ingin memiliki adik.”


            “Benarkah? Alice hamil?”


            “Belum, tapi ia mengatakan akan secepatnya membuat Alice hamil. Akhir-akhir ini kulihat ia selalu datang ke kantor dalam keadaan kantung mata menghitam. Menurutmu apa lagi yang ia lakukan selain bercinta hingga pagi? Lagipula pria mesum seperti Spencer pasti tidak akan pernah puas hanya dalam satu kali ronde.” cibir Joey berapi-api.


            “Kalian berdua sama saja. Kau juga seperti itu.” balas Luciana cepat sambil menyenggol lengan Joey. Keduanya lantas berjalan bersama-sama melewati ruang keluarga sambil sesekali menceritakan keseharian mereka masing-masing. Meskipun mereka adalah pengantin baru, namun kehidupan mereka tidak layaknya seperti pengantin baru. Sehari selepas menikah, mereka langsung bekerja dan tidak ada waktu untuk berbulan madu. Seminggu setelah menikah Luciana justru disibukan dengan kegiatannya untuk memindahkan semua barang-barangnya ke mansion Joey. Pria itu langsung bergerak cepat dengan menyingkirkan seluruh barang-barang milik Jihyun yang tersisa di mansionnya, lalu menggantinya dengan seluruh barang milik Luciana yang jumlahnya tak seberapa. Sebenarnya Joey ingin membelikan rumah untuk ditempati bersama Luciana karena ia tidak ingin menyakiti Luciana dengan meminta wanita itu tinggal di rumah yang pernah ia tempati bersama Jihyun. Namun Luciana dengan keras melarangnya untuk membeli rumah baru karena wanita itu tidak masalah jika harus tinggal di mansion Joey yang lama. Ia tahu jika mansion yang ditempati Joey saat ini memiliki banyak kenangan yang berharga untuk pria itu. Sejak kecil Joey sudah tinggal di mansion itu bersama kedua orangtuanya. Dan selama sesi konselor yang selama ini mereka lakukan, Joey selalu menceritakan perihal keluarganya yang sangat berharga untuknya. Jadi sedikit mengalah untuk kebahagiaan Joey rasanya tidak masalah untuk Luciana. Lagipula saat ini Joey adalah miliknya, Jihyun hanya akan menjadi masa lalu Joey yang selamanya akan tetap menjadi bagian dari hidup Joey. Jika Joey tidak menikah dengan Jihyun, maka mereka juga tidak akan menjadi sebuah keluarga seperti ini. Bisa dikatakan gangguan psikis yang diderita Joey selama ini adalah mukjizat untuknya karena dengan begitu sekarang ia bisa memiliki sebuah keluarga dan ia bisa memiliki anak dari rahimnya sendiri.


            “Dimana Aleyna? Aku tidak melihatnya sejak tadi?”


            Tiba-tiba Joey bertanya sambil melongokan kepalanya kesana kemari karena sejak tadi ia tidak melihat dimana keberadaan gadis kecilnya. Padahal biasanya Aleyna selalu terlihat bersemangat setiap kali ia pulang dari kantor.


            “Ia pergi bersama appanya.”


            “Aaron appa?” tanya Joey sambil menirukan gaya bicara Aleyna setiap kali memanggil Aaron. Sejujurnya ia tidak pernah cemburu dengan kedekatan Aleyna dengan Aaron karena ia sadar jika keduanya telah memiliki ikatan layaknya ayah dan anak. Tapi ia terkadang merasa kesal setiap kali mengingat Aaron dan insiden saat  pernikahannya.


            “Kenapa? Kau selalu saja terlihat kesal pada Aaron.”


            “Apa kau sedang berpura-pura lupa? Lihat bagaimana foto pernikahan kita yang menampilkan wajah babak belurku di sana.” tunjuk Joey pada foto pernikahan mereka yang terpampang besar di tengah-tengah dinding ruang keluarga mansion mereka. Reflek Luciana langsung tertawa terbahak-bahak sambil memukul pelan lengan Joey karena merasa gemas dengan sikap kekanakan pria itu. Bisa-bisanya ia masih mengingat-ingat kejadian itu dan menjadikannya sebagai sebuah kenangan terburuk dalam hidupnya.

__ADS_1


            “Kau memang pantas mendapatkannya, kau telah melukai perasaanku.” ucap Luciana santai.


            “Tapi kenapa disaat pernikahan kita, saat itu ia hampir saja mengacaukan pernikahan kita jika pastur yang akan menikahkan kita tidak menyeretku ke altar. Sungguh aku ingin membalasnya saat itu.”


            “Sudahlah Joey, itu hanyalah satu dari ribuan rintangan yang harus kita lewati untuk mendapatkan kebahagiaan.”


            “Tapi aku tidak pernah bisa melupakannya.” ucap Joey bersikeras sambil bersungut-sungut menatap potret dirinya yang tampak menyedihkan di dinding ruang keluarga mansionnya.


Flashback


            “Aaron kumohon, jangan seperti ini.”


            “Tidak Luci! Dia telah menyakitimu dan menghancurkan hatimu. Seharusnya kau tidak semudah ini menerimanya menjadi calon suamimu. Ck, aku tidak menyangka kau bisa mempercayainya begitu saja.”


            Luciana tertunduk lesu di ruang tunggu gereja kathedral yang pagi ini akan menjadi tempat pemberkatan nikahnya berlangsung. Seharusnya saat ini ia dilingkupi kebahagiaan karena sebentar lagi ia akan resmi menjadi istri dari Joey Lee. Tapi semua itu tidak semudah yang ia bayangkan. Untuk bisa mencapai tahap ini, ia perlu berbicara alot dengan kedua orangtuanya. Terlebih lagi ia harus membuat pengakuan di depan kedua orangtuanya jika saat ini ia tengah hamil. Kemudian setelah ia mendapatkan ijin dari orangtuanya, ia harus menghadapi masalah lain yang lebih merepotkan, yaitu menghadapi Jung Aaron. Sejak ia memberitahu pria itu jika ia membatalkan rencananya untuk pergi ke New York dan akan menikah dengan Lee Joey, pria itu langsung bersikap uring-uringan


sepanjang hari padanya. Hampir setiap hari saat pria itu mengunjunginya, ia pasti akan terus membujuknya untuk membatalkan rencana penikahannya. Tapi tentu saja hal itu tidak bisa ia lakukan karena ia begitu mencintai Lee Joey. Dan pagi ini pria itu kembali membujuknya untuk membatalkan pernikahannya disaat semuanya telah siap.


            “Aaron, aku mencintainya. Aku juga tidak ingin bayi ini terlahir tanpa ayah. Meskipun dulu aku pernah mengatakan padamu jika aku akan mengurusnya sendiri, tapi jika Lee Joey menginginkanku menjadi istrinya, kenapa aku harus menolaknya. Lagipula ini juga untuk kebahagiaanku, bukankah kau menginginkanku bahagia?”


            “Aku memang menginginkanmu bahagia Luci, tapi tidak dengan menikah dengan Lee Joey. Ia telah menyakitimu dan hampir membuatmu celaka.” balas Aaron keras. Kedua rahangnya tampaka mengetat dan pria itu sejak tadi tidak mau sedikitpun menatap wajah Luciana. Ia terus berdiri membelakangi Luciana sambil menyilangkan kedua tangannya penuh arogansi yang begitu kental.


            “Aku sudah memaafkannya, itu bukan keinginannya. Ia terpaksa menyakitiku.”


kembali tersakiti seperti saat kau baru saja bercerai dengan Rein. Luci, pikirkanlah dampak negatifnya dari pernikahan ini.”


            Luciana menghela napas kecil sambil menatap manik Aaron dalam setelah pria itu akhirnya bersedia membalikan tubuhnya untuk menatapnya. Ia tahu Aaron sangat menyayanginya dan menginginkan ia bahagia. Tapi untuk saat ini ia yakin jika kebahagiaanya hanyalah bersama Joey, dan ia juga sadar jika untuk mendapatkan kebahagiaan itu memang tidak mudah.


            “Aku sudah memikirkannya matang-matang, aku akan menerima semua konsekuensinya. Bukankah sejak awal aku memang salah. Tolong biarkan aku menikah dengan Joey hari ini.”


            “Luciana...”


            Bersamaan dengan itu pintu kayu di depan mereka terbuka dan memunculkan sosok Joey yang sedang menatap kedua manik hitam Aaron dengan sengit. Sejak tadi pria itu telah berdiri di depan pintu coklat itu sambil mendengarkan setiap percakapan yang tengah dilakukan Aaron dan Luciana melalui celah pintu yang terbuka.


            “Jangan menghasut calon istriku, Jung Aaron, kami akan menikah sebentar lagi.” desis Joey marah dan langsung mencengkeram kerah kemeja Aaron kuat. Melihat itu Luciana langsung memekik dan mencoba memesihkan dua pria dewasa yang sama-sama sedang tersulut emosi itu.


            “Joey, lepaskan Aaron. Bukankah kau seharusnya berdiri di altar untuk menungguku masuk bersama ayahku? Kumohon jangan memperkeruh keadaan dengan sikap kekanakanmu.”


            “Kenapa kau membelanya, ia telah menghasutmu. Mungkin jika aku tidak datang untuk mencarimu pria  brengsek ini akan membawamu kabur.”


            “Asataga, bagaimana mungkin kau bisa berpikiran buruk seperti itu. Aku tidak akan pergi kemanapun. Joey, lepaskan Aaron sekarang juga.” ucap Luciana tegas. Namun Joey tetap pada sikap tempramentalnya yang kasar. Sambil tetap menatap wajah Luciana, pria itu terus mencengekram kerah kemeja Aaron hingga membuat Aaron

__ADS_1


semakin muak pada pria itu. Dan tanpa pikir panjang, Aaron langsung memukul wajah Joey keras hingga Joey terhuyung ke belakang dan melepaskan cengkeraman tangannya karena ia tidak siap dengan serangan tiba-tiba itu.


            “Sialan! Sebenarnya apa maumu keparat!”


            Joey bangkit dan langsung menerjang Aaron hingga punggung pria itu membentur tembok. Luciana yang melihat keadaan justru semakin memburuk langsung berteriak-teriak untuk meminta pertolongan. Sayangnya ruang tunggu yang ia tempati sangat sepi karena semua orang saat ini sedang menunggunya di dalam gereja.


Bughh


            Luciana memekik kaget ketika Joey tiba-tiba jatuh tersungkur di kakinya setelah Aaron memukul wajahnya sekali lagi.


            “Aaron hentikan! Joey, kau baik-baik saja?”


            Luciana berusaha menarik tubuh Joey yang hampir menerjang tubuh Aaron di depannya. Ia benar-benar tidak bisa diam saja tanpa melakukan pembalasan pada Aaron yang telah membuat hari pernikahannya menjadi kacau.


            “Minggir, aku harus membuat perhitungan pada brengsek sialan itu.”


            “Joey hentikan! Lebih baik kau segera pergi ke altar.” marah Luciana keras. Ia sudah kehabisan seluruh kesabarannya untuk menangani pria sekeras kepala Joey. Apalagi saat ini Aaron juga semakin memparah keadaan emosi Joey, sehingga jalan terbaik untuk mengakhiri semua ini adalah dengan membawa Joey pergi sejauh-jauhnya dari Aaron.


            “Lihatlah Luci, pria itu sangat tidak pantas untukmu.”


            “Aaron, hentikan! Jangan membuat keadaan semakin buruk.”


            “Tidak Luci, kau harus membatalkan pernikahanmu.”


            “Sialan! Luciana milikku, kau tidak berhak mengaturnya lagi!” maki Joey keras. Hampir


saja pria itu maju untuk memukul Aaron, namun hal itu berhasil digagalkan oleh sang pastor yang tiba-tiba datang untuk melerai pertengkaran diantara keduanya. Dengan sigap pastor itu menyeret Joey keluar dari ruang tunggu pengantin wanita bersama dengan beberapa petugas keamanan yang ikut memegangi tubuh Joey yang tengah bergerak brutal ingin memukul Aaron.


            Sementara itu Luciana langsung berjalan pergi keluar dari ruangannya sambil memberikan tatapan tajam pada Aaron yang juga sedang menatapnya dalam diam di sudut ruangan.


            “Kau tidak perlu mengkhawatirkanku lagi Aaron, karena sampai kapanpun Joey pasti akan menjagaku dengan baik.”


Flashback end


            “Sudahlah, jangan terlalu banyak memikirkan masa lalu. Sekarang cepatlah mandi, aku akan menunggumu di meja makan.”


            Luciana mendorong pelan tubuh Joey ke dalam kamar dan segera menutup pintu kamar itu rapat. Di pandangnya pintu coklat itu sebentar sebelum ia memutuskan untuk turun menuju ruang makan. Sejujurnya terkadang ia merasa aneh saat tidur di kamar itu bersama Joey. Ia merasa menjadi seorang... ******. Bayang-bayang mengenai perselingkuhannya dengan Joey masih melekat erat di kepalanya, meskipun kini statusnya telah berubah menjadi nyonya Lee. Namun ia merasa sangat bersalah pada Jihyun. Ia ingin sekali bertemu dengan wanita itu dan meminta maaf atas seluruh perbuatannya. Tak peduli jika wanita itu dulu juga pernah menyakitinya, namun ia tidak ingin membalas kejahatan dengan kejahatan.


            “Selamat malam bibi Jang.”


            Luciana menyapa bibi Jang ramah yang tiba-tiba melintas di depannya. Wanita paruh baya itu terlihat kaget dengan sapaan Luciana yang tiba-tiba, namun pada akhirnya ia hanya mampu menunduk dalam sambil berjalan pergi melewati Luciana.

__ADS_1


            Sepeninggal bibi Jang, Luciana hanya mampu menghela napas sambil menatap punggung wanita paruh baya itu  nanar. Rasanya sulit membuat orang-orang di rumah ini berbalik menyukainya, namun ia tidak akan menyerah begitu saja. Ia akan tetap berjuang untuk membuat orang-orang di rumah itu berbalik menyukainya.


__ADS_2