Kontratransferensi

Kontratransferensi
His Misstres (Twenty Four)


__ADS_3

            Luciana berjalan cepat menuju meja makan sambil memberikan senyum sungkan pada Spencer dan Alice yang tengah menatapnya. Wanita bermata rusa itu lantas berdeham kecil untuk membasahi tenggorokannya


yang terasa kering. Setelah keluar dari toilet, ia sempat bertemu dengan bibi Jang, dan wanita itu memberikan tatapan curiga yang membuatnya sedikit gugup. Ia takut hubungannya dan Joey dinilai buruk oleh orang-orang yang tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada mereka.


           “Apa aku terlalu lama?” tanya Luciana memecah keheningan. Kedua manusia bermarga Lee itu hanya menggelengkan kepalanya, dan Spencer menimpalinya sambil mengedikan bahu.


            “Kupikir kau tersesat di mansion Joey, karena aku dulu juga sempat tersesat ketika pertama kali datang ke mansion ini.”


            “Aah.. tidak juga, aku...”


            “Oh, kalian sudah datang.”


            Luciana menoleh cepat ke belakang dan langsung mendapatkan satu senyuman lembut dari Joey. Pria itu berjalan dengan begitu santai kearah Luciana, lalu menarik satu kursi kosong yang berada tepat di sebelah kanan Luciana.


            “Maaf, aku harus menyelesaikan beberapa dokumen penting untuk dibawa ke Busan besok.”


            “Oh, kau akan berangkat ke sana? Kupikir kau tidak tertarik untuk melakukan perjalanan bisnis ke Busan dengann nilai saham yang tak begitu seberapa.” timpal Spencer. Seorang maid tiba-tiba datang dan menghidangkan segelas wine pada masing-masing orang dewasa di sana. Sedangkan untuk Aleyna dan Mark, maid itu memberikan segelas jus apel yang disajikan di dalam sebuah gelas bergambar tokoh kartun kesukaan anak-anak.


            “Aku berubah pikiran. Kurasa aku bisa menggunakan perjalanan bisnis itu untuk liburan.” ucap Joey sambil melirik Luciana penuh arti. Luciana yang mengerti arti tatapan Joey yang mengarah padanya, langsung terlihat menyibukan diri dengan meminum winenya. Untung saja Spencer saat ini juga sedang berkutat dengan winenya, sehingga pria itu tidak melihat ketika Joey sedang melirik Luciana dengan lirikan genit yang terkesan nakal.


            “Liburan? Tumben. Apa kau sudah bosan hidup sendiri tanpa Jihyun?”


            “Mungkin. Sudah lama aku tidak menikmati keindahan Kota Busan. Mungkin di sana aku bisa mendapatkan sedikit inspirasi untuk bisnisku selanjutnya.” Jawab Joey santai. Pria itu sesekali melirik Luciana dan tersenyum kecil untuk menggoda wanita itu. Salah satu tangannya yang bebas, merambat turun dan jatuh tepat di atas


paha Luciana yang tertutup dengan mini dress putih sebatas paha. Refleks Luciana menoleh ke kiri dan memberikan tatapan tajam pada Joey sambil menyingkirkan tangan tidak sopan Joey dari pahanya. Joey sepertinya semakin lama semakin berani untuk menyentuhnya sejak ia mengijinkan pria itu untuk bercinta dengannya semalam.


            “Luciana, ada apa?”


            “Bbu bukan apa-apa? Hanya... aku hanya ingin memanggil Aleyna.”


            Luciana cepat-cepat berdiri dan berjalan menuju Aleyna untuk menghindari sikap jahil Joey malam ini. Sedangkan Joey hanya bersikap acuh tak acuh sambil meletakan kedua tangannya di atas meja.


            “Kalian makanlah, seharusnya kalian tidak perlu menungguku. Kupikir kalian sudah memulainya sebelum aku datang.”


            “Tidak, kami tetap akan menunggumu.”


            Tak beberapa lama Luciana datang sambil menggandeng Aleyna di sebelahnya. Gadis kecil itu berjalan kearah Joey dengan antusias, lalu memeluk pinggang Joey yang sejajar dengan tinggi tubuhnya yang mungil.


            “Paman! Paman pergi kemana saja?”


            Joey mengangkat Aleyna ke atas pangkuannya, lalu mulai berceloteh dengan seru bersama Aleyna. Luciana yang awalnya ingin mendudukan Aleyna di kursinya, harus menelan kekecewaan karena pria itu justru memangku Aleyna dan mengambilkan makanan untuk Aleyna. Sepanjang makan malam ini ia mungkin harus menahan diri untuk tidak membentak Joey karena pria itu pasti akan berbuat kurangajar lagi nanti.


            “Wahh... kau terlihat seperti ayah sungguhan. Jihyun benar-benar harus memberimu anak setelah ini.” komentar Spencer ketika melihat kedekatan Joey dan Aleyna. Dengan telaten pria itu menyuapkan nasi di piringnya dengan beberapa lauk yang telah dipilih Aleyna. Tak ayal pemandangan Luciana, Joey, dan Aleyna yang duduk di kursi yang berdekatan membuat mereka bertiga seperti sebuah keluarga utuh yang manis.


            “Seharusnya memang seperti itu, tapi kalian tahu sendiri bagaimana Jihyun. Ia terus menundanya hingga waktu yang tak ditentukan. Seharusnya dulu aku menikahi seorang wanita yang juga ingin membina rumah tangga serius dan ingin memiliki keturunan sama sepertiku, benar kan nona Im?” tanya Joey tiba-tiba hingga membuat Luciana hampir tersedak. Spencer dan Alice refleks langsung menatap Luciana yang tiba-tiba berubah menjadi gugup di sebelah Joey.


            “Aapa?”


            “Nona Im, bagaimana Joey menurutmu? Bukankah ia pria yang rumit?” tanya Spencer sungguh-sungguh sambil melirik Joey. Luciana yang mendapatkan pertanyaan tiba-tiba itu tampak tidak siap dan terlihat gugup. Setelah melakukan hubungan yang lebih jauh dengan Joey, ia merasa tidak bisa mengendalikan dirinya dengan baik. Ia terlalu takut dengan rahasia yang ia tutup-tutupi bersama Joey. Tapi sepertinya hanya ia yang merasa begitu ketakutan seperti ini, sedangkan Joey justru bersikap santai, seolah-olah hubungan mereka selama ini bukanlah sebuah hubungan yang beresiko.


            “Katakan saja bagaimana penilaianmu padaku. Itu tidak akan menyalahi kontrak konseling karena aku yang mengijinkannya.”


            Pria itu diam-diam mengelus paha Luciana lagi sambil memberikan tatapan meneduhkan yang membuat Luciana akhirnya hanya mampu bersikap pasrah menerima perlakuan kurangajar pria itu.


            “Yah... Tuan Joey memang sangat rumit, dan juga sensitif.” tambah Luciana. Mendengar itu Spencer langsung mengangguk setuju sambil menunjuk Joey yang sedang menatapnya dengan wajah innocent.


            “Kau memang pria yang sagat rumit dan sensitif. Jika kau tahu nona Im, ia sering terlihat berubah-ubah ketika berada di kantor. Terkadang ia begitu baik, tapi terkadang ia juga terlihat galak dan sangat dingin hingga membuat beberapa karyawan di divisi tertentu takut padanya.”


            “Benarkah? Apa kau memiliki gangguan kepribadian juga tuan Lee?”


            “Mungkin. Coba kau periksa aku lagi setelaha aku kembali dari Busan.”

__ADS_1


            Luciana meringis kecil kearah Joey ketika tangan pria itu meraba pahanya semakin naik dan semakin membuatnya tersiksa. Dari tatapan matanya, Luciana tahu jika Joey sengaja melakukan hal itu agar ia menyerah begitu saja pada pesona pria itu. Tapi tidak! Ia akan memasang benteng pertahanan yang cukup tinggi kali ini. Joey


tidak boleh mengendalikannya dengan pesona mematikan yang dimiliki oleh pria itu.


            “Itu ide yang bagus. Kau memang harus mendapatkan penanganan lebih lanjut terkait masalah-masalahmu yang rumit itu tuan Lee. Ngomong-ngomong sejak kapan kalian berdua bersahabat?” Tanya Luciana mengganti topik. Ia tidak mau topik mengenai sesi konseling Joey berubah meluas hingga menyinggung pada jenis hubungan yang terjalin diantara ia dan Joey, karena sejak tadi Spencer sepertinya sangat ingin mengetahuinya.


            “Sejak... sejak kapan ya? Apa kau masih ingat kapan pertama kali kita bertemu?” tanya Spencer mencoba mengingat-ingat.


            “Bukankah saat senior high school? Saat itu kau sedang mengalami masalah karena terlambat datang dan tidak diijinkan masuk oleh guru killer yang saat itu mengajar sejarah korea selatan. Tapi karena aku memiliki kekuasaan di sekolah itu, aku berhasil membujuk guru killer itu untuk mengijinkanmu masuk ke dalam kelas. Dan


sejak saat itu kita menjadi dekat hingga detik ini.” cerita Joey mengenang masa lalu. Spencer terkekeh pelan mendengar cerita Joey sambil merangkul bahu Alice di sebelahnya.


            “Sayang, jadi kau harus bersiap-siap jika suatu saat Mark mewarisi sikap nakalku saat di sekolah atau sikap playboyku, karena sekarang sepertinya ia mulai menunjukan tanda-tanda kearah itu.” ucap Spencer jenaka. Alice yang mendapat rangkulan dari suaminya, hanya mendengus gusar sambil menjatuhkan tangan kiri suaminya dari pundaknya.


            “Aku merasa menyesal telah menikah denganmu.” ucap Alice galak. Joey dan Luciana kompak tertawa bersama-sama melihat tingkah konyol pasangan Lee di depannya.


            Malam ini Joey merasa benar-benar memiliki sebuah keluarga yang utuh dan hangat. Dengan adanya Luciana dan Aleyna di sisi kanan dan kirinya, juga Spencer dan Alice di depannya, membuatnya benar-benar menjadi seorang pria sempurna tanpa cela. Ia merasa semua kebahagiaan yang ia dapatkan malam ini sungguh luar biasa, dan ia tidak ingin semua itu segera berakhir. Ia ingin memiliki semua kebahagiaan itu sendiri untuk dirinya agar ia tidak perlu menderita lagi seperti hari-hari sebelumnya. Sekarang ia benar-benar yakin jika sebenarnya solusi dari seluruh masalahnya adalah Luciana. Wanita itu adalah obat untuk setiap kekosongan yang selama ini ia alami. Oleh karena itu ia telah bersumpah pada dirinya sendiri jika ia tidak akan melepaskan Luciana sampai kapanpun. Ia akan membelenggu Luciana di sisinya meskipun ia telah memiliki Jihyun sekalipun di dalam hidupnya saat ini.


-00-


            Pukul sepuluh malam acara makan malam yang berjalan sangat ramai itu akhirnya usai. Spencer dan Alice telah berpamitan untuk pulang sejak sepuluh menit yang lalu, menyisakan Luciana dan Aleyna yang sudah terlelap di atas sofa beludru yang begitu hangat dan lembut di ruang tamu Joey.


            “Aku akan pulang sekarang, sampai jumpa.”


            Luciana bersiap-siap menggunakan mantelnya dan mulai merogoh kedalam clutch bagnya untuk mengambil kunci mobilnya yang ia simpan di sana. Namun gerakan itu segera dihentikan Joey ketika pria itu tiba-tiba merebut clutch bagnya dan membuang asal ke atas meja.


            “Kau sedikit mabuk, menginaplah di sini.” Ucap Joey memaksa. Luciana terlihat gusardengan aksi menyebalkan Joey, lalu ia meraih tasnya dan mulai merapikan mantelnya yang telah terpasang sempurna di tubuhnya.


            “Aku baik-baik saja. Aku tidak mabuk. Lagipula aku harus pulang karena ini sudah terlalu larut. Lihat, bahkan Aleyna sudah jatuh tertidur karena kelelahan.”


            “Tapi aku tidak mengijinkanmu pulang. Kau harus menginap malam ini karena besok kau harus menemaniku ke Busan.”


            “Untuk apa aku menemanimu ke Busan? Aku memiliki pekerjaan yang harus kuselesaikan di kantor besok.” tolak Luciana mentah-mentah. Meskipun sebenarnya ia tidak memiliki pekerjaan apapun yang perlu dikerjakan. Tapi untuk saat ini hanya alasan itulah yang masuk akal untuk menolak permintaan pria itu yang sangat tidak masuk akal. Lagipula atas dasar apa pria itu membawanya ke Busan? Benar-benar konyol!


            “Aku sungguh-sungguh Luciana, dan aku ingin kau tetap di sini bersamaku. Bibi Jang, siapkan kamar tamu untuk Luciana, malam ini ia dan putrinya akan menginap di sini.” teriak Joey sambil menatap manik coklat Lucianan tajam. Luciana mengibaskan tangan Joey dari lengannya, lalu melirik bibi Jang sekilas untuk memastika jika bibi Jang sudah benar-benar menghilang dari ruang tamu.


            “Ada apa denganmu? Aku tidak sedang ingin membuat skandal apapun denganmu. Jadi tolong, jangan membuatku berada di posisi yang sulit seperti dulu lagi.”


            “Aku membutuhkanmu Luciana. Aku mengajakmu ke Busan bukan semata-mata karena aku tidak memiliki kepentingan. Aku membutuhkanmu sebagai konselorku. Ini bisa menjadi salah satu terapi untukku.” ucap Joey menjelaskan. Luciana berdecak kesal sambil menatap Joey dengan sebal. Ia tahu pria itu tidak benar-benar


membutuhkannya di Busan untuk melakukan terapi. Keberadaanya di Busan nantinya tak lebih dari sekedar mistress bagi pria itu. Posisinya kini tidak lagi sebagai konselor, tapi sebagai seorang simpanan yang dituntut untuk memuaskan pria itu kapan saja.


            “Aku bukan simpananmu Joey. Anggap saja kemarin kita hanya sekedar bersenang-senang untuk menuntaskan hasrat kita masing-masing. Selebihnya hubungan kita hanya sebatas klien dan konselor. Bahkan ini sebenarnya sudah terlalu berlebihan. Dengan kau mengundangku makan malam di mansionmu, dan mengenalkanku pada sebagian kehidupanmu, ini sudah melebihi batas.” jelas Luciana terdengar frustrasi. Wanita itu membuang wajahnya kearah samping dan menolak untuk menatap Joey. Namun Joey memaksannya untuk melihat kearahnya dengan menarik sedikit dagu Luciana ke kanan.


            “Lihat aku. Kau bukanlah simpananku Luciana, kau adalah konselorku. Sudah seharusnya kau mendampingiku kapanpun aku membutuhkanmu karena aku belum benar-benar bisa lepas darimu.”


            “Lalu kau akan membiarkanku jatuh lebih dalam pada semua pesonamu, begitu? Dan setelah Jihyun kembali, kau akan membuangku begitu saja. Aku tidak mau berharap lebih dari hubungan ini Joey. Jadi kumohon jangan siksa aku seperti ini.”


            Luciana menatap sendu kearah Joey dengan bahu yang sedikit merosot karena rasa frustasinya. Ia sadar jika perasaanya pada Joey telah berkembang terlalu jauh. Ia tidak mau semua perasaan itu akhirnya akan membutakannya dan membuatnya semakin tidak bisa lepas dari Joey. Sejak awal ia berhubungan dengan Joey, ia sadar jika Joey bukanlah miliknya. Pria itu hanya sebatas memanfaatkannya yang sedang lemah untuk memuaskan dirinya sendiri yang haus akan sentuhan.


            “Kalau begitu aku akan membuat perasaanmu itu terbalas. Aku tidak akan membiarkanmu menanggung perasaan itu sendiri Luciana.”


            “Lalu bagaimana dengan Jihyun? Kau ingin membagi perasaanmu untuk dua orang wanita? Huh, itu tidak akan pernah bisa kau lakukan. Kau tidak bisa membagi rasa cintamu pada dua wanita sekaligus. Jadi selagi hubungan kita belum berkembang terlalu jauh, kumohon lepaskan aku. Aku tidak akan tetap mengijinkanmu menjadi klienku, tapi untuk hubungan lebih dari itu, aku tidak akan mengijinkannya.”


            “Kau tidak bisa seperti itu. Aku membutuhkanmu Luciana. Hidupku sangat tergantung padamu.” ucap Joey keras dan tegas. Pria itu kemudian melumat bibir Luciana kasar dan menyalurkan seluruh emosinya pada Luciana. Tak peduli dengan penolakan yang dilakukan oleh Luciana. Joey tetap memaksakan dirinya untuk menyentuh Luciana hingga pada akhirnya Luciana menyerah dan memilih untuk mengikuti permainan Joey.


            “Tetaplah di sisiku Luciana. Aku sudah terlalu ketergantungan padamu. Kau seperti heroin untukku, dan aku tidak bisa menghentikan ketergantungan ini begitu saja.” bisik Joey parau sebelum ia kembali melumat bibir merah muda itu yang terasa bagaikan candu untunya sejak ia menyentuh bibir tipis itu untuk pertama kalinya.


-00-


            Suara desahan dan erangan itu menggema di setiap penjuru ruang kerja Joey yang kini telah berubah menjadi tempat penyatuan antara Luciana dan Joey. Niat awal yang sebelumnya hanya ingin membahas masalah kepergian ke Busan, justru berubah menjadi sebuah kegiatan panas ketika Joey tidak bisa lagi menahan gairahnya

__ADS_1


untuk menyentuh Luciana. Ia selalu suka setiap kali berada di atas tubuh Luciana dan melihat wajah sayu Luciana yang tampak kewalahan untuk mengimbangi permainannya yang liar. Selain itu ketika bersama Luciana ia tidak perlu repot-repot menggunakan pengaman seperti ketika ia menyentuh Jihyun. Sehingga sensasi yang ditimbulkan ketika bercinta dengan Luciana terasa lebih luar biasa dan membuatnya selalu tidak puas.


            “Kau tidak takut jika kau hamil nantinya?” tanya Joey di tengah-tengah kegiatan panas mereka. Luciana menggeleng pelan di bawah kuasa Joey sambil mengatur napasnya yang masih memburu akibat serangan orgasmenya yang begitu hebat.


            “Tidak. Entahlah, aku merasa ini akan baik-baik saja. Jika aku mengandung, itu akan sangat menyenangkan. Bukankah ini yang kuinginkan sejak dulu.” jawab Luciana santai. Sejak awal Luciana tidak pernah mengharapkan Joey akan bertanggungjawab jika ia hamil nantinya. Tapi ia seperti telah memiliki rencana tersendiri jika ia memang hamil pada akhirnya. Mungkin ia akan memberikan alasan pada orang-orang jika ia telah melakukan inseminasi buatan di sebuah rumah sakit. Dengan begitu mereka tidak akan curiga jika ia nantinya akan mengandung tanpa memiliki suami.


            “Apa kau ingin terikat denganku?”


            “Haha...


jangan konyol! Itu tidak akan mungkin terjadi. Kau sudah memiliki Jihyun, ingat


itu.” Ucap Luciana memperingatkan. Ada nada getir di dalam suaranya. Namun Luciana


memilih mengalihkannya dengan memberikan kecupan dalam di atas permukaan bibir Joey


yang lembab.


            “Sebenarnya aku tidak terlalu memikirkan Jihyun lagi akhir-akhir ini. Apa kondisi piskisku semakin terganggu?”


            “Mungkin. Bahkan bukan hanya kau, kondisi psikisku sepertinya juga terganggu. Aku telah menjadi gila dalam sekejap karenamu.” ucap Luciana gemas sambil mencubit perut Joey pelan. Pria itu terkekeh kecil lalu mendaratkan kecupan-kecupan kecil di leher Luciana untuk menggoda wanita itu karena ia tahu jika titik kelemahan Luciana ada pada lehernya. Dengan ia menyentuh Luciana seperti itu, maka Luciana akan berubah menjadi wanita penurut yang akan sangat tunduk padanya.


            “Ahh.. jangan membuat terlalu banyak kissmark Joey-ah, kau akan membuatku harus menggunakan syal tebal keesokan paginya.” protes Luciana sambil menyingkirkan kepala Joey dari lehernya. Tapi pria itu tetap saja bertahan di sana dengan kegiatannya yang mengasikan.


            “Aku suka melihatmu menggunakan syal, dengan begitu tidak akan ada pria yang melihat leher jenjangmu yang indah.”


            “Dasar! Ngomong-ngomong bagaimana kondisimu sekarang? Kau masih merasakan episode ketakutan dan kekosongan yang selama ini kau rasakan?”


            “Hmm.. sebenarnya tidak. Semenjak aku memiliki kesibukan untuk mengganggu hidupmu, aku tidak pernah lagi merasakan hal itu.” jawab Joey terkekeh. Pria itu semakin bergelung di dalam cerukan leher sambil membuat gerakan-gerakan provokasi untuk menggoda Luciana. Ia ingin mengajak Luciana untuk bermain dengan lebih panas malam ini.


            “Sudah kuduga. Alasanmu sering mendatangi rumahku dan menelponku saat tengah malam pasti karena kau ingin mengisi kekosongan hatimu yang menyedihkan itu. Kau licik.”


            “Aku tidak licik sayang, aku hanya ketergantungan padamu. Sebenarnya sejak kau menerima panggilan teleponku malam itu, aku merasa memiliki peluang untuk mendapatkan teman ngobrol. Kemudian semuanya berkembang begitu saja ketika setiap malam obrolan kita terasa cocok satu sama lain. Maksudku kau lebih bisa


memahamiku daripada Jihyun yang telah menikah denganku selama lebih dari empat tahun. Kenapa dulu kita tidak bertemu lebih awal? Kenapa kita harus dipertemukan dalam sebuah ketidaksengajaan seperti ini?”


            “Mungkin Tuhan sedang menyembunyikan sebuah kejutan untuk kita. Jika kau merasa Jihyun tidak bisa memahamimu, bagaimana dulu kau memutuskan untuk menikah dengan Jihyun?” Tanya Luciana mengernyitkan keningnya. Joey tiba-tiba menarik tangannya dan meminta Luciana untuk melingkarkan kedua kakinya di pinggangnya. Pria itu kemudian melirik meja kerjanya sambil menyeringai penuh misteri pada Luciana.


            “Aku akan menjawabnya di sana.”


            “Apapun untukmu tuan Lee.” balas Luciana disertai kikikan geli. Ia tahu apa yang akan dilakukan Joey setelah ini. Sebuah percintaan panas di atas meja. Yeah, itu terdengar liar dan menyenangkan. Joey benar-benar telah membawa warna baru untuk dirinya. Bahkan pria itu juga yang membuatnya berani melangkah hingga sejauh ini.


            “Sebenarnya sekarang aku lupa mengapa aku dulu memutuskan untuk menikahi Jihyun. Setahuku dulu aku menikahi Jihyun karena aku tertarik dengan keperibadiannya yang lembut. Tapi semakin lama kepribadiannya yang lembut itu hilang, digantikan dengan sikap egois yang begitu memuakan. Sekarang untuk apa aku bekerja dan


mengumpulkan banyak harta jika istriku tidak menggunakannya. Aku kadang merasa semua yang telah kulakukan itu sia-sia.”


            “Ssshhh... jangan seperti itu. Lihatlah, kau memiliki banyak karyawan yang bergantung padamu. Jika kau tidak mengelola perusahaanmu dengan baik, berapa banyak karyawan yang tidak bisa menghidupi keluarganya? Kau seharusnya bersyukur dengan semua kekayaan yang kau miliki, dengan begitu kau bisa membuat orang


lain hidup dengan baik.” Ucap Luciana lembut. Joey rasanya benar-benar tersentuh dengan kata-kata itu. Hanya Luciana yang membuatnya terasa berarti di dunia ini. Ia merasa lebih dihargai ketika bersama Luciana, dan wanita itu juga tidak mendekatinya untuk sebuah omong kosong seperti penjilat-penjilat yang sering berpura-pura baik di hadapannya.


            “Aku mencintaimu Luciana, kau membuat hidupku lebih berarti.”


            “Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan tuan Lee, cinta adalah sebuah emosi yang tidak bisa kau dapatkan dengan mudah. Namun kemunculannya juga tidak dapat kau prediksi. Jadi jangan terlalu cepat mengatakan kata-kata cinta padaku, karena bisa saja hal itu hanya sebuah emosi sesaat belaka.”


Cup


            Joey mencium sudut bibir Luciana lembut dan menjatuhkan semua kertas-kertanya yang berserakan di atas meja begitu saja hingga menimbulkan suara berisik yang cukup nyaring. Pria itu kemudian membaringkan Luciana di atas meja kerjanya sambil menatap kedua manik Luciana dengan kedua matanya yang telah dipenuhi kabut gairah. Meskipun Luciana menganggap pernyataan cinta yang ia katakan pada wanita itu adalah sebuah emosi sesaat, ia tak peduli. Baginya apa yang ia rasakan saat ini adalah sebuah cinta, karena definisi cinta menurutnya adalah sesuatu yang sederhana.


            “Tidak peduli ini adalah cinta atau bukan, asalkan aku merasa bahagia saat bersamamu, maka aku akan menganggapnya sebagai sebuah cinta. Karena selama ini aku tidak bisa memberikan cinta dengan mudah Luciana. Seseorang yang mendapatkan cinta dariku haruslah orang yang benar-benar bisa membawa kebahagiaan untukku. Dan itu adalah kau.” Bisik Joey serak sebelum ia membungkam bibir Luciana yang menggairahkan dengan bibirnya yang tipis. Mereka berdua kemudian saling bergerak brutal di atas meja kerja yang keras itu untuk saling memuaskan satu sama lain. Bahkan Luciana yang sebelumnya terkesan malu-malu, mulai menunjukan


sisi liarnya pada Joey. Ia tidak malu lagi bergerak brutal di bawah Joey dan mendesahkan nama pria itu berkali-kali ketika ia telah mencapai puncak kenikmatan yang begitu dahsyat melandanya.

__ADS_1


            Pada akhirnya emosi berhasil mengalahkan akal sehat yang selama ini selalu menjaga mereka dari hal-hal yang tidak mereka inginkan untuk terjadi. Tapi bagaimana mungkin mereka bisa melawan takdir Tuhan, jika pada dasarnya memang inilah jalan mereka untuk menemukan kehidupan baru yang lebih baik.


__ADS_2