Kontratransferensi

Kontratransferensi
Case Two: Body Lips and Eyes (Fifty Nine)


__ADS_3

            “Apa tidak ada cara lain? Lakukan sesuatu!”


            Yunho membentak pria tua di depannya dengan kasar sambil mengacak-acak rambutnya frustrasi. Ini sudah lebih dari seminggu, tapi pria tua itu belum juga memberinya obat untuk mencegah ingatan Yuna agar tidak kembali lagi. Padahal ia telah memberikan waktu cukup lama untuk pria itu berpikir. Tapi otak kecilnya terlalu lambat untuk memikirkan solusi atas masalahnya yang mendesak. Padahal setiap detiknya bayangan-bayangan masa lalu Yuna mulai muncul di dalam kepalanya.


            “Hanya obat itu yang bisa kau gunakan, tidak ada yang lain.”


            “Tapi obat itu hanya memiliki efek sementara. Aku tidak bisa terus menerus menggunakannya karena ia mulai curiga saat aku memberikan obat itu berkali-kali padanya. Berikan aku serum atau apapun yang bisa membuatnya lupa ingatan selamanya!” teriak Yunho murka. Saat ini ia sudah berada di ambang kesabarannya. Dan jika pria tua itu tak juga memberikan solusi untuknya, ia akan segera melenyapkan pria itu saat ini juga.


            “Semua yang kau berikan untuk menghilangkan ingatannya hanya akan menyakitinya. Perlahan-lahan memorinya akan rusak dan ia bisa saja menjadi cacat karena saraf-sarafnya juga ikut rusak. Lebih baik kau biarkan saja memorinya kembali, semua itu adalah bagian darinya. Kau tidak bisa menghilangkannya begitu saja dari ingatannya.” nasihat dokter itu bijak. Namun Yunho tidak setuju dan tetap ingin ingatan Yuna hilang. Sampai kapanpun ia tidak pernah melepaskan Yuna dari sisinya. Wanita itu harus menjadi miliknya, apapun yang terjadi! Bahkan jika ia harus melakukan cara-cara kotor sekalipun, ia tidak peduli. Pokoknya apapun akan ia lakukan demi mempertahankan Yuna tetap di sisinya.


            “Hmm.. kalau begitu kau sudah tidak kubutuhkan lagi. Kau tidak bergunan.” gumam Yunho pelan. Ia menyeringai licik kearah pria tua berkacamata di depannya sambil mengelus kantong belakang celananya yang berisi pistol.


            “Aaa apa yang akan kau lakukan?”


            “Menurutmu?”


            Pria tua tercekat ketakutan sambil berjalan mundur dengan wajah pucat. Ini bukanlah akhir yang ia inginkan. Namun Yunho rupanya sudah benar-benar jengah dengan kinerja pria itu hingga ia tak memiliki pilihan lain selain melenyapkan nyawanya untuk menebus rasa kecewanya karena ia gagal mendapatkan apa yang ia inginkan.


            “Jaa jangan... aa akan kubuatkan obatnya, beri aku kesempatan.” cicit pria itu ketakutan. Ia sudah terpojok di sudut ruangan dengan wajah pucat sambil menatap moncong pistol Yunho yang telah berada di pelipisnya.


            “Waktumu sudah habis pak tua. Ini adalah kesempatan terakhirmu, dan kau tidak memanfaatkannya dengan baik. Jadi.... membusuklah di neraka.”


DORR!!


            Suara letusan yang diredam itu terdengar samar di tengah hiruk pikuk keramaian kota Bristol di siang hari. Tubuh kaku bersimbah darah itu tergeletak begitu saja di sudut ruang praktiknya yang sepi dan juga senyap. Sementara itu, Yunho langsung meletakan pistolnya di atas tubuh kaku sang pria tua dengan terlebih dulu mengelap wajahnya yang terkena sedikit cipratan darah. Ia memang bukanlah pria normal. Ia gila! Ia adalah pria gila yang selamanya akan tetap gila, terutama jika itu menyangkut tentang Yuna.


-00-


            Yuna tampak gelisah di dalam rumahnya sambil menyandarkan tubuh lelahnya pada sandaran sofa. Sudah tiga hari ini ia tidak bisa tidur dengan tenang. Mimpi-mimpi aneh dan juga suara-suara aneh terus mengganggunya hingga ia tidak bisa memejamkan mata barang sejenak. Sayangnya Yunho selalu marah setiap kali ia menanyakan hal itu. Padahal ia ingin tahu, apakah benar semua itu adalah bagian dari masa lalunya ataukah hanya bunga tidur yang tidak penting.

__ADS_1


            “Yunho....”


            Yuna memanggil Yunho pelan ketika melihat pria itu tampak tergesa-gesa masuk ke dalam rumah mereka. Tatapan dingin dan juga datar dilayangkan pria itu ketika Yuna dengan terang-terangan menhadang jalannya untuk mencari tahu apa yang terjadi pada pria itu.


            “Ada apa dengan wajahmu, kau tampak memiliki masalah.”


            “Minggir Yuna, aku sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun.”


            “Kenapa? Meskipun itu denganku?” tanya Yuna sedih. Semenjak ia mendapatkan mimpi-mimpi aneh itu, sikap Yunho padanya mulai berubah. Pria itu sering terlihat dingin dan juga uring-uringan bila bersamanya. Dan kadang Yunho juga memaksanya untuk meminum obat aneh yang menurut pria itu untuk mengurangi efek sakit kepalanya. Ia tidak pernah tahu obat apa yang Yunho berikan padanya, tapi ia selalu merasa aneh setelah meminum obat itu. Seperti ada sebuah lubang hitam di dalam kepalanya yang menyedot semua bayang-bayang itu, dan semuanya akan kembali kabur setelah ia meminumnya.


            “Yuna... maafkan aku, aku tidak bermaksud membentakmu.”


            Suara isak tangis Yuna membuat Yunho gelagapan dan berbalik untuk menenangkan wanita itu. Ia memeluk Yuna erat dan membawa Yuna ke sofa terdekat agar wanita itu lebih rileks. Saat ini pikirannya sedang kacau karena banyaknya masalah terkait memori Yuna yang bisa kembali kapan saja. Padahal dulu obat itu sangat ampuh dan bisa menahan cukup lama memori Yuna agar tidak kembali. Tapi semakin lama, tubuh Yuna sudah mulai terbiasa dengan obat itu, sehingga efek yang ditimbulkan menjadi kurang akurat.


            “Yunho... jangan seperti ini lagi, aku takut. Melihatmu yang marah-marah membuatku takut. Aku janji tidak akan membahas masalah itu lagi.”


            “Baiklah, maafkan aku. Aku juga tidak akan membentakmu lagi.”


-00-


            Ini sudah dua bulan sejak Yuna hilang. Changmin masih sibuk mencari Yuna kesana kemari dengan bantuan banyak pihak yang sudah tak terhitung jumlahnya. Tapi semua pengorbanan itu untungnya telah terbayar dengan kabar gembira yang pagi ini baru ia dapatkan dari rekannya yang bekerja di kepolisian pusat. Mereka telah berhasil melacak keberadaan Yuna melalui penggunaan kartu kredit yang digunakan Yunho. Dan menurut dugaan, saat ini Yuna sedang berada di Bristol.


            “Kapan kita akan ke sana?” tanya Changmin tak sabar pada Junpyo.


            “Besok? Sebenarnya kapanpun kau ingin ke sana, aku akan segera menyiapkan timku. Kau bilang Kim Yunho adalah pria berbahaya yang memiliki riwayat sakit jiwa, jadi kita harus mempersiapkan beberapa personel untuk mengantisipasi jika ia memberontak saat kita datang.”


            “Kau benar. Kemungkinan Yunho akan melakukan pemberontakan saat kita menangkapnya. Jadi kapan kira-kira timmu siap? Aku sudah tidak sabar untuk membawa Yuna pulang.”


            “Akan kuusahakan besok timku sudah siap. Nanti malam aku akan menghubungimu lagi.”

__ADS_1


            Changmin mengangguk mengerti dan memutuskan untuk pulang. Ia harus mempersiapkan banyak hal untuk pergi ke Bristol. Dan yang terpenting ia harus segera memberitahu orangtua Yuna jika putrinya telah ditemukan.


            “Halo, Yuna sudah ditemukan eommonim. Aku akan segera menjemputnya.”


-00-


            “Saatnya minum obat.”


            Yunho meletakan sebutir obat berwarna biru di tangan Yuna sambil mengangsurkan segelas air putih. Rutinitasnya sejak Yuna bermimpi buruk adalah memberikan wanita obat dan menunggunya hingga obat itu benar-benar ditelan oleh Yuna.


            “Oh baiklah. Yunho... bisakah kau mengambil ikat rambutku di kamar mandi, rambutku terus menjuntai dan mengganggu.”


            Tanpa merasa curiga sedikitpun Yunho segera bangkit menuju kamar mendi mereka yang berada di sudut ruangan. Dan ketika Yunho pergi, Yuna langsung membuang obat itu ke kolong tempat tidur mereka, lalu cepat-cepat ia meminum air yang dibawa Yunho agar pria itu mengira ia telah meminum obat yang ia berikan.


            “Tidak ada ikat rambut di kamar mandi.”


            “Ooh.. maafkan aku Yunho, ternyata aku meletakannya di laci.” jawab Yuna beralasan sambil tersenyum malu. Sekilas Yunho melihat air yang diminum Yuna telah tandas, dan obat itu juga sudah tidak ada, jadi ia berpikir jika obat itu benar-benar telah diminum Yuna.          


            “Apa kau masih sering merasa sakit kepala?”


            “Tidak, sakit kepalaku sudah hilang. Terimakasih Yunho, ini karena obat darimu.” ucap Yuna tulus. Sandiwaranya sebagai wanita penurut memang sangat bagus hingga Yunho tidak menyadari kebohongannya selama ini. Padahal sebenarnya ini sudah kali ke tiga ia tidak meminum obat itu. Ia merasa Yunho cukup aneh dan sedikit menyembunyikan sesuatu darinya. Belakangan ini ia juga sering melihat Yunho uring-uringan. Hal itu pada akhirnya membuat Yuna memutuskan untuk membiarkan semua gambar-gambar kabur itu menyakiti kepalanya, berkumpul menjadi satu, kemudian terangkai menjadi sebuah cerita yang akan menunjukan masa lalunya yang terlupakan.


            “Ayo tidur. Kemarilah, aku akan memelukmu.”


            Yuna meringsek masuk ke dalam dekapan Yunho dan langsung memejamkan matanya damai, menikmati alunan detak jantung Yunho yang menenangkan. Tak bisa dipungkiri, ia sangat menyukai aroma tubuh Yunho dan suara detak jantungnya yang terdengar sebagai melodi pengantar tidur yang indah. Rasanya berada di dalam dekapan Yunho membuatnya benar-benar merasa aman dan juga nyaman.


            “Yuna, berjanjilah untuk selalu di sampingku.”


            “Hmm....”

__ADS_1


            Yuna bergumam kecil dan tampak tidak fokus dengan kata-kata Yunho. Kedua matanya kini telah diambang batas kesadaran. Aktivitasnya yang padat karena mengurus Helena membuatnya benar-benar lelah hingga ia tidak bisa menahan godaan kantuk yang sedang membuainya.


            “Aku mencintaimu Yuna, sangat mencintaimu. Apapun yang terjadi kau harus menjadi milikku.” bisik Yunho lagi sambil mengecupi kening Yuna yang indah. Pria itu kemudian melirik sekilas kearah Yuna yang telah damai dengan mimpinya. Hembusan napasnya yang teratur dan wajahnya yang damai menunjukan jika Yuna memang sudah benar-benar tertidur hingga tak bisa merespon doktrinasinya yang begitu kuat beberapa saat yang lalu.


__ADS_2