
Wanita berjas putih itu menghembuskan napas berkali-kali. Masih tidak mudah baginya untuk melewati ruang perawatan milik Yeri yang kini telah diisi oleh orang lain. Sepertinya pihak rumah sakit tidak ingin menjadikan kasus bunuh diri itu sebagai peristiwa yang akan membuat orang-orang resah, sehingga ruangan itu secepatnya digunakan kembali untuk membuktikan pada orang-orang jika tidak ada hantu yang bergentayangan di kamar bekas milik Yeri.
Luciana mengeratkan jas praktiknya rapat, berhenti sebentar di depan kamar bekas milik Yeri dan mengintip isi ruangan itu melalui celah kecil yang ditinggalkan dari pintu yang tidak ditutup rapat. Seorang wanita berjas dokter terlihat berada di balik pintu itu dengan posisi membelakangi yang membuat Luciana tidak dapat menangkap sosok berjas putih itu. Seminggu berada di rumah sakit ini belum bisa Luciana membuat mengenali dokter-dokter yang bekerja di ruamah sakit ini, kecuali dokter Oh dan dokter Kim Yuna yang telah ia temui kemarin.
“Dokter Lucine?”
Luciana menyunggingkan senyum tipis dan segera merubah raut wajahnya menjadi lebih bahagia. “Kukira kau dokter lain.” ucap Luciana sambil mengikuti Yuna menuju nurse station. Kebetulan saat ini ia sedang tidak memiliki pasien, sehingga ia merasa lebih santai untuk pergi kemanapun, bahkan mengobrol dengan siapapun yang ia temui.
“Siapa pasien yang tinggal di ruang bekas milik Yeri itu?” tanya Luciana penasaran.
“Seorang pasien depresi. Keluarganya melarikannya ke sini karena ia melakukan percobaan bunuh diri dua hari yang lalu.” cerita Yuna sambil menuliskan hasil observasinya ke dalam rekam medik. Sesekali wanita itu berhenti sejenak untuk berpikir jika ada hal-hal yang hampir ia lewatkan dari kunjungannya terhadap pasien bernama Shim Jeno itu.
“Jenis percobaan bunuh diri apa yang telah ia lakukan?”
“Menenggelamkan dirinya ke dalam bak mandi. Ck, jenis kelakuan remaja yang baru saja patah hati.” decak Yuna dengan nada meremehkan. Luciana sendiri juga merasa tak habis pikir dengan pikiran pendek orang-orang zaman sekarang. Sedikit saja ada masalah menghadang kehidupan tenang mereka, maka mereka akan melampiaskan itu dengan menyakiti diri sendiri.
“Bagaimana keadaanmu sekarang?” Yuna telah selesai menulis hasil observasinya hari ini. Ia lalu mengembalikan buku besar itu kepada seorang perawat bernama dada Hong Jina, dan setelah itu ia beralih pada Luciana yang terlihat tidak fokus di sebelahnya.
“Oh Sehun mengatakan padaku jika kau mengalami sedikit guncangan setelah kematian Yeri. Jadi bagaimana keadaanmu sekarang?”
Luciana menghembuskan napasnya berat, tak menyangka jika Sehun ternyata cukup memperhatikannya akhir-akhir ini. Padahal ia telah mengurangi intensitas pertemuannya dengan Sehun agar dokter tampan itu tidak bisa mengendus rasa tidak nyaman yang masih mengganjal di hatinya setelah kematian Yeri. “Sebenarnya ini
lebih kepada rasa bersalah yang masih terngiang-ngiang di kepalaku karena aku gagal mencegah Yeri melakukan hal itu.”
“Kurasa semua dokter akan mengalami hal itu. Rasa bersalah besar karena gagal menyelamatkan nyawa orang lain. Sekalipun itu bukan sepenuhnya salah mereka. Mau pergi ke kantin?” tawar Yuna setelah ia melirik arlojinya yang sedang menunjukan pukul satu siang.
“Baiklah. Kebetulan pekerjaanku sudah selesai.”
Mereka berdua lantas berjalan kearah kantin sambil sesekali menyapa para pasien yang kebetulan mengenal mereka sebagai dokter jiwa di rumah sakit Hallym.
“Apa kau juga pernah mengalami hal seperti itu?”
“Tentu saja. Aku mengalami hal-hal mengerikan sejak aku kecil.” jawab Yuna dengan santai. Tawa kecil yang ditunjukan Yuna pada Luciana membuat wanita itu berpikir jika Yuna begitu hebat dalam mengendalikan perasaannya. Yuna seolah-olah tidak menganggap semua itu sebagai sebuah kesalahan fatal yang perlu dipikirkan
terus menerus. Karena hidup ini harus berlanjut, seburuk apapun peristiwa yang terjadi di masa lalu. Jadi mengambil sikap abai dan berubah menjadi sedikit bebal sepertinya adalah hal yang paling dibutuhkan oleh Luciana saat ini.
“Bukankah itu dokter Oh?” Luciana menyenggol pelan siku Luciana untuk menunjukan pada wanita itu jika pria tampan dengan jas yang sama dengan mereka saat ini sedang melambai kecil kearah mereka berdua.
“Kurasa ini akan menjadi makan siang yang menyenangkan. Ayo!”
Luciana tak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat Yuna tiba-tiba menarik tangannya dengan semangat kearah Sehun. Beberapa pengunjung yang sedang makan di kantin itu seketika menatap heran kearah Luciana dan Yuna yang begitu mencolok dengan jas dokter mereka. Namun Luciana mencoba mengabaikan tatapan aneh mereka kearah dirinya dan juga Yuna karena wanita yang saat ini sedang menarik tangannya juga terlihat tidak peduli sama sekali dengan pandangan orang terhadap dirinya.
__ADS_1
“Bukankah ini kebetulan yang luar biasa.” Yuna mendudukan dirinya dengan ceria di depan Sehun. Satu kursi yang tersisa di sebelah kanan Oh Sehun kemudian menjadi pilihan Luciana untuk ikut mendudukan diri bersama teman-teman yang telah ia kenal selama satu minggu ini.
“Kau ingin makan apa?” tanya Yuna pada Luciana saat wanita itu hendak berdiri untuk memesan makanannya.
“Salad buah saja. Aku sedang diet sekarang.”
Yuna menaikan alisnya sekilas, lalu ia segera pergi menuju buffet penuh makanan untuk memilih makanan yang ia inginkan siang ini.
“Bagaimana harimu hari ini, Lucine?”
“Baik. Luar biasa menurutku.” Kata-kata Luciana terlihat begitu kontras dengan ekspresi wajahnya yang sama sekali tidak menunjukan keceriaan seperti yang wanita itu katakan sebelumnya.
“Soal Yeri, aku minta maaf jika itu menjadi sesuatu yang sangat mengganggumu saat ini.”
“Oh tidak, aku tidak apa-apa. Sungguh.” ucap Luciana cepat. Ia merasa bersalah pada Sehun yang sekarang justru merasa terbebani karena sikapnya yang kurang profesional ini. “Aku hanya merasa sedih karena sebelumnya aku juga pernah mengalami hal yang sangat mirip dengan peristiwa Yeri. Jadi aku hanya merasa.... yeah kau tahu lah.” ucap Luciana akhirnya setelah ia gagal mendeskripsikan bagaimana perasaannya sendiri saat ini.
“Terkadang hal-hal seperti ini memang terjadi pada kita, karena kita hanya manusia biasa. Sama seperti kontratransferensi yang terkadang terjadi pada para dokter.”
“Ah... kurasa itu memang sesuatu yang wajar terjadi. Sebenarnya apa itu kontratransferensi?”
“Apa kau tidak tahu?” tanya Sehun sedikit aneh. “Suatu hubungan terlarang yang terjadi antara pasien dan dokter. Kau sungguh tidak tahu mengenai kode etik itu?” Oh Sehun terus saja mengulang-ngulang pertanyaannya untuk meyakinkan dirinya sendiri juga dokter sekelas Luciana tidak mengetahui istilah itu.
“Kita semua tahu apa itu kontratransferensi hanya dalam teori.” Luciana berucap datar dengan pandangan yang tidak fokus pada Sehun. “Tapi dalam praktiknya, kita sendiri lebih sering mengabaikannya.” lanjut Luciana dengan wajah sendu. Ia sendiri mengalami hal itu, meskipun seharusnya ia sudah hafal di luar kepala mengenai kode etik yang tak boleh dilanggarnya. Tapi, semuanya memang tidak semudah yang dituliskan dalam teori.
“Tidak apa-apa, ini juga kelihatan enak.” ucap Luciana sambil menarik mangkuk berisi salad buahnya yang terlihat cantik. Rasanya Luciana terlalu sayang untuk memakan salad buah itu karena susunan buah-buahan yang disediakan di mangkuknya terlalu cantik untuk dirusak.
“Makanlah. Itu untuk dimakan Lucine, bukan itu dipandangi seperti itu.” tegur Yuna yang mulai menyantap makanannya dengan nikmat. “Aku sangat kelaparan.” ucap Yuna sambil memasukan sesendok penuh nasi dengan saus teriyaki yang beraroma sangat harum.
“Yeah, kau terlihat seperti tidak makan berhari-hari.” komentar Sehun yang merasa geli dengan cara makan Yuna.
“Apa yang kalian bicarakan sebelum aku datang? Sepertinya itu menarik.”
“Dia menanyakan mengenai kode etik.” Oh Sehun menjawab sambil menunjuk Luciana.
“Oh, kode etik yang lebih sering dilanggar itu.” jawab Yuna santai.
“Hmm... kita semua sebenarnya mengetahui kode etik itu dengan jelas, namun dalam praktiknya kita lebih sering mengabaikannya.”
“Aku mengalaminya.” ucap Yuna lagi tanpa beban. Luciana yang baru saja hendak memasukan sesendok salad buah ke dalam mulutnya, tiba-tiba menghentikan gerakan tangannya di udara hanya untuk memberikan tatapan tak percaya kearah Yuna.
“Apa kau serius dengan kata-katamu?”
__ADS_1
“Tentu saja. Aku menikahi seorang prikopat gila yang sejak kecil bahkan telah menyakitiku. Secara tidak sengaja ia menjadi pasienku setelah aku menjadi dokter.”
“Tapi kau terlihat tidak terbebani dengan itu.” komentar Lucina setelah ia mengunyah buah-buahan di mulutnya dengan nikmat. Andai saja ia tidak berada di tempat umum, ia pasti akan mengerang nikmat karena salad buah di kantin ini sangat enak.
“Kupikir hanya aku yang mengalaminya.”
“Kau juga?” tanya Yuna heran.
“Hmm, aku menikah dengan klienku yang sedang memiliki masalah dengan istrinya. Kau sendiri, bagaimana itu bisa terjadi?”
“Ceritanya panjang.” jawab Yuna apa adanya. Dokter itu terlihat begitu acuh dengan semua hal yang pernah terjadi di masa lalunya karena ia memang tidak ingin kembali seperti dulu, terpuruk dan merasa rendah diri.
“Aku memiliki banyak waktu untuk mendengarkan ceritamu.” ucap Luciana setengah memaksa.
“Kau yakin?” Yuna mendesah berat melihat Luciana yang begitu ingin tahu mengenai masa lalunya. Sedangkan Oh Sehun yang memang sudah mengetahuinya sejak awal hanya mengendikan bahunya ringan saat Yuna mencoba meminta pendapat dari pria itu.
“Ceritakan saja jika kau ingin. Kurasa Luciana sangat ingin mengetahuinya.”
“Ayo ceritakan! Bukankah kita sekarang adalah teman?” ucap Luciana terkikik.
“Baiklah baiklah, akan kuceritakan. Tapi aku tidak akan bertanggungjawab jika nantinya kau akan merasa bosan.”
“Tidak akan! Aku akan menjadi pendengar yang baik.” ucap Luciana penuh janji dan langsung memasang mimik serius yang berhasil membuat Yuna memutar bola matanya malas.
Srakk srakk
Gratakk gratakk gratakk
Yuna menoleh heran kearah pintu ruangannya ketika suara berisik terdengar saling bersahut-sahutan di sepanjang koridor rumah sakit tempatnya bekerja. Ini pukul sebelas malam, biasanya rumah sakit begitu sunyi di jam-jam seperti ini. Namun malam ini berbeda, di malam yang semakin larut ini ia masih mendengar suara berisik dan juga suara panik yang bercampur menjadi satu bersama suara roda blangkar yang didorong terburu-buru kearah UGD. Merasa penasaran, Yuna memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju pintu ruangannya untuk mengintip apa yang sebenarnya terjadi.
“Ada apa, kenapa berisik sekali?” tanya Yuna pada salah satu perawat yang kebetulan melintas di depan ruangannya. Perawat itu sedikit melirik kearah blangkar yang telah berada jauh di depannya sambil menunjuk pada ceceran darah di lantai di bawahnya.
“Seseorang baru saja melakukan percobaan bunuh diri, ia memotong pergelangan tangannya menggunakan pisau dapur. Untung kekasih pria itu menemukannya sebelum ia mati kehabisan darah.”
“Pria?” tanya Yuna heran. Ia pikir cara bunuh diri dengan memotong pembuluh darah adalah cara bunuh diri yang hanya dilakukan oleh wanita, ternyata pria pun sama saja. Tekanan hidup pasti adalah salah satu penyebab mengapa mereka memutuskan untuk mengakhiri kehidupan mereka di dunia yang indah ini.
“Mungkin pria itu nantinya akan menjadi pasienmu, dokter Kim.”
“Oh ya? Memangnya ada apa dengannya?”
“Menurut kekasihnya, pria itu beberapa hari terakhir ini terlihat murung. Ia juga memiliki riwayat pernah mengalami depresi parah beberapa bulan yang lalu. Dugaan sementara ia melakukan bunuh diri adalah karena adanya gangguan psikis yang ia alami.” beritahu suster itu berapi-api. Yuna mengangguk-angguk mengerti dan menolehkan kepalanya kearah ruang UGD yang pintunya baru saja tertutup.
__ADS_1
“Semoga pria itu berhasil diselematkan. Sayang jika ia harus pergi dengan cara bunuh diri.” gumam Yuna kecil sambil berjalan masuk kedalam ruangannya.