Kontratransferensi

Kontratransferensi
Case Three: Stockholm Syndrome (Sixty Five)


__ADS_3

            Memasuki minggu ke delapan kehamilannya, Yoona mulai merasakan apa itu yang dinamakan morning sickness. Setiap pagi, pukul empat, Yoona selalu terbangun dengan sensasi mengerikan yang terasa mengocok-ocok perutnya. Pagi ini pun ia langsung berlari ke dalam kamar mandi untuk menumpahkan seluruh isi perutnya yang tidak seberapa. Sejak semalam ia tidak bisa makan terlalu banyak karena perutnya tidak terlau nyaman untuk digunakan makan, dan sekarang ia harus memuntahkan seluruh hasil makanannya yang benar-benar sedikit, lalu apa yang akan didapatkan calon anaknya nanti?


            “Apa kau sudah selesai?”


            Donghae mengintip dari ambang pintu dengan perasaan jijik. Sejak Yoona mengalami morning sickness, ia menjadi lebih sering menemani Yoona. Terkadang ia sengaja tidur di kamar Yoona agar ia bisa membantu wanita itu saat mengalami morning sicknessnya, meskipun pada akhirnya ia hanya akan berdiri sejauh tiga meter dari Yoona karena merasa jijik.


            “Bel.. hueekk..”


            Lagi-lagi Yoona memuntahkan seluruh isi perutnya yang sebenarnya sudah kosong. Hanya kumpulan lendir putih yang begitu pahit juga menyakitkan, membuatnya benar-benar lemas hingga ia tidak bisa menopang tubuhnya sendiri dan hanya berjongkok di depan kloset dengan kepala yang terkulai lemah di samping. Donghae pun akhirnya memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar mandi, meskipun ia sangat jijik dengan semua muntahan Yoona. Tapi melihat Yoona yang benar-benar lemas karena anaknya membuat Donghae tidak tega dan memutuskan untuk menggendong Yoona dari kamar mandi.


            “Apa kau masih ingin muntah?”


            “Tidak, tapi aku sangat lemas paman.” ucap Yoona pelan sambil bersandar di dada bidang Donghae.


             Sekilas ketika melihat Yoona yang sedang menyandarkan kepalanya pada dada bidangnya, membuat Donghae teringat akan malam-malam menyiksa yang selama ini ia alami. Ketika ia memutuskan untuk tidur di kamar Yoona, terkadang ia merasakan dorongan untuk menyerang Yoona. Dan hal itu sering membuatnya tidak bisa tidur, dan hanya menatap nyalang pada langit-langit kamar dengan gairah yang membuncah di dalam dirinya. Dan yang paling parah, akhir-akhir ini Yoona sering tidur sambil memeluk lengannya, membuatnya semakin tersiksa dan ingin menerkam Yoona saat itu juga. Tapi ia terus menjaga akal sehatnya dengan menanamkan pada dirinya jika Yoona hanyalah gadis ingusan yang sedang hamil. Dan ia telah bersumpah bahwa ia tidak akan pernah menyentuh seorang gadis ingusan seperti Yoona, karena itu sama saja menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang pria dewasa. Tapi tetap saja Yoona mampu membuatnya sakit dan harus berendam di bak air dingin keesokan harinya.


            “Apa kau ingin minum?”

__ADS_1


            Yoona mengangguk lemah dan berusaha menggapai gelas air putihnya yang berada di meja kecil di samping tempat tidurnya. Namun tangan Donghae langsung menghentikannya dan ia yang mengambilkan air putih itu untuk Yoona.


            “Nanti kita ke rumah sakit, akhir-akhir ini morning sicknessmu sudah semakin parah.”


            Yoona mengangguk lemah dan tampak begitu penurut. Semua tenaganya saat ini sudah terkuras habis untuk memuntahkan seluruh isi perutnya yang tak seberapa, dan sekarang yang ia inginkan hanyalah tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya yang benar-benar lelah.


            “Tidurlah. Aku akan menemanimu di sini.”


            Yoona perlahan-lahan memejamkan matanya dan mulai tertidur dengan dengkuran halus di bibirnya. Ketika Yoona sudah benar-benar tidur, Donghae memberanikan diri untuk mengelus puncak kepala Yoona dan mencium bibir wanita itu dengan lembut. Meskipun ia memang terlihat seperti pria brengsek yang memanfaatkan ketidaksadaran wanita, tapi hanya inilah satu-satunya kesempatan yang ia miliki untuk menyentuh Yoona. Ia tidak mungkin melakukan hal ini saat Yoona dalam keadaan sadar karena hal itu akan menampar dirinya sendiri yang selama ini selalu mengolok-olok Yoona dengan sebutan gadis kecil atau gadis ingusan yang tidak bisa membangkitkan gairah pria.


            “Gadis kecil, tak kusangka kau bisa membuatku seperti ini.” bisik Donghae pelan di depan bibir Yoona sebelum ia ********** lagi dan membuat Yoona tanpa sadar juga menggerakan bibirnya di dalam alam bawah sadarnya untuk mengimbangi ciuman Donghae yang menggebu-gebu.


            “Bagaimana kondisinya, apa ia baik-baik saja?” tanya Donghae tidak sabar ketika Henry memeriksa kondisi Yoona. Pagi ini Yoona tampak sedikit lebih cerah meskipun ia masih menampakan sisa-sisa morning sicknessnya pagi tadi.


            “Tekanan darahnya turun karena selama mengalami morning sickness ia mengalami gangguan tidur dan juga gangguan pola makan. Aku akan memberikan vitamin dan obat anti mual agar morning sicknessnya tidak terlalu parah dan membuatnya menjadi lemah seperti ini.”


            Donghae mengangguk mengerti dan segera membantu Yoona untuk turun dari ranjang. Sekilas Henry melirik Donghae yang sedang memapah Yoona untuk duduk di atas kursi. Ia pikir Donghae sekarang sudah jauh terlihat lebih manusiawi setelah kehadiran Yoona. Tapi sedikit banyak memang hal itu karena ada bayi yang sedang tumbuh di dalam rahim Yoona, tapi itu jauh lebih baik karena Donghae ternyata sangat memperhatikan Yoona. Dulu saat ia akan melakukan tindakan inseminasi, ia sempat dibuat khawatir dengan sikap Donghae nantinya pada Yoona, karena ia tahu jika Donghae bukan tipe pria penyayang yang akan peduli pada orang lain. Tapi untunglah kehamilan Yoona dapat melunakan sedikit ego Donghae, sehingga sedikit demi sedikit Donghae dapat mengesampingkan egonya yang sangat besar itu.

__ADS_1


            “Dokter Henry, aku khawatir dengan kondisi bayiku karena aku tidak bisa makan terlalu banyak untuk asupan gizinya. Bahkan makanan yang aku makan terkadang langsung aku muntahkan. Apa hal itu akan mengganggu tumbuh kembang bayiku?” tanya Yoona khawatir. Henry tersenyum lembut untuk menenangkan Yoona jika semuanya akan baik-baik saja.


            “Kau tenang saja, aku sudah memberikan vitamin dan juga suplemen makanan agar tubuhmu dapat menyerap banyak gizi-gizi makanan meskipun kau hanya makan sedikit. Dan jika kau merasa ingin sesuatu, katakan saja pada Donghae, jangan pernah menahan-nahannya karena itu tidak akan bagus.” ucap Henry sambil mengerling penuh arti pada Yoona. Yoona tiba-tiba merasa malu dan hanya menganggukan kepalanya mengerti. Sedangkan Donghae tampak tak mengerti dengan maksud Henry karena selama ini Yoona tidak pernah menunjukan sikap aneh atau menginginkan hal-hal aneh darinya. Atau jangan-jangan Yoona selama ini menahan itu semua karena ia merasa sungkan? Oh Ya Tuhan, jika hal itu benar-benar terjadi, ia harus sedikit lebih peka pada Yoona.


            “Apa kau sedang menginginkan sesuatu? Kenapa tiba-tiba kau tersipu?”


            “Hah, apa? Tidak, aku tidak menginginkan apa-apa paman, sungguh.”


            Lagi-lagi Henry ingin tertawa terbahak-bahak mendengar panggilan Yoona untuk Donghae yang terdengar menggelikan. Meskipun ia sudah sering mendengarnya selama ini, tapi tetap saja ia merasa geli setiap kali Yoona mengatakannya.


            “Apa yang kau tertawakan Henry, cepat berikan resep obatnya padaku! Kau benar-benar lambat!” maki Donghae gusar. Henry cepat-cepat memberikan resep obat yang telah ia tulis pada Donghae dan menyuruh Donghae untuk menebusnya di bawah.


            “Ini, jangan lupa untuk meminum obatnya tiga kali sehari. Itu akan sangat membantu untuk mengatasi morning sicknessmu.”


            “Terimakasih dokter Henry, kau sangat baik.” ucap Yoona sambil memeluk tubuh Henry hangat. Melihat hal itu Donghae terlihat jelas jika ia tidak suka, namun ia berpura-pura menutupinya dengan memalingkan wajah ke arah lain.


            “Jangan sungkan untuk meminta pada Donghae. Dia adalah ayah dari bayi itu, jadi ia harus menuruti setiap keinginannya. Jaga kesehatanmu, Yoona.”

__ADS_1


            Yoona mengangguk mengerti dan melambaikan tangannya pada Henry sebelum ia keluar dari ruangan Henry dan menyusul Donghae yang sudah terlebihdulu meninggalkannya dengan langkah lebarnya.


__ADS_2