Kontratransferensi

Kontratransferensi
Fine (Eighty Four)


__ADS_3

        Irene sedang menyiram bunga di taman sambil bersenandung kecil menikmati suasana tenang di pagi hari yang sepi. Pagi ini ia merasa lebih baik setelah semalam ia terus menangisi pria brengsek seperti Suho. Padahal ia sudah bertekad pada dirinya sendiri, ia tidak akan mengeluarkan air matanya untuk Suho, tapi ketika pria itu datang tepat di depan matanya, pertahanannya justru runtuh dan ia kembali menangis untuk pria itu.


            “Irene..”


            Irene terkesiap kaget ketika tiba-tiba Suho muncul di depannya dengan wajah sendu. Pria itu berjalan mendekatinya dan ia melangkah mundur untuk menghindari pria itu. Tapi pria itu tampak tidak mau menyerah dan terus berjalan maju untuk mendekati Irene meskipun Irene telah berusaha untuk menghindari pria itu. Tanpa sadar Irene menginjak lilitan selang yang berada di bawah kakinya dan membuat tubuhnya limbung. Dengan cepat Suho segera berlari untuk menahan tubuh Irene agar Irene tidak jatuh dan menghantam tanah yang keras dan membuat kandungannya terluka.


            Irene menatap iris sendu itu dalam ketika ia dan Suho masih di posisi yang sama dengan Suho yang sedang berusaha untuk menahan beban tubuhnya yang berat.


            “Untuk apa kau datang ke sini lagi?” tanya Irene lirih dengan mata berkaca-kaca. Sebelah tangannya terulur untuk membelai permukaan wajah Suho yang sudah lama tak ia rasakan.


            “Aku ingin menjelaskan semuanya padamu Irene, aku tidak ingin hidup dengan bayang-bayang penyesalan dan kebohongan. Jadi kumohon, ijikan aku untuk menjelaskan semuanya padamu. Semua hal yang tidak kau ketahui setelah kau kembali ke New York.”


            Irene manatap iris sendu itu sekali lagi dan mencoba menemukan kesungguhan di mata teduh itu. Dan semakin lama ia menatap mata itu, ia merasa terhanyut dengan tatapan itu lagi hingga ia hampir kehilangan kesadarannya jika ia tidak cepat-cepat berdiri dan beranjak untuk mematikan keran air yang sejak tadi terus menyala dan terbuang percuma. Ia kemudian mengajak Suho masuk ke ruang tamu agar pria itu dapat menjelaskan semua hal yang menurut pria itu tidak diketahuinya karena ia sudah terlanjur kembali ke Amerika.


            “Duduklah, aku akan mengambilkan minum untukmu.”


            Suho menurut dan membiarkan Irene pergi untuk mengambilkannya minuman. Lagipula dengan Irene pergi, ia akan memiliki kesempatan untuk menyusun kata-kata di otaknya agar menjadi sebuah kalimat yang indah dan tidak menyakitkan untuk Irene.


            “Ini minumlah.”


            Irene meletakan secangkir teh di atas meja untuk Suho. Wanita itu kemudian mengambil tempat duduk yang paling jauh dari Suho agar ia bisa menjaga jarak dengan Suho. Lagipula jantungnya masih setia berdetak dengan kencang setiap kali ia berada di dekat Suho, oleh karena itu ia tidak mau Suho mendengarnya jika ia duduk di terlalu dekat dengan pria itu.


            “Kau tenang saja, aku tidak akan menyerangmu seperti dulu. Kali ini aku dalam keadaan normal.” sindir Suho halus ketika ia melihat Irene sengaja mengambil posisi tempat duduk yang lumayan jauh darinya. Irene menatap pria itu acuh tak acuh dan memilih untuk mengabaikan sindirian tidak penting itu.


            “Cepat katakan semua yang ingin kau katakan padaku, sebentar lagi Soohyun oppa akan pulang untuk makan siang, aku tidak mau ia salah paham dengan kehadiranmu di sini.” ucap Irene sinis dan ketus.


            “Jadi aku ingin mengatakan padamu jika aku sudah bercerai dengan Yuri,....”


            “Bukankah kau sudah mengatakan hal itu kemarin.” potong Irene cepat dan lagi-lagi dengan nada ketus. Suho menghembuskan napasnya kasar dan mencoba untuk bersabar menghadapi Irene yang mulai menunjukan sikap defensifnya yang menyebalkan.


            “Jangan memotong ucapanku, Shin Irene, aku sedang berusaha untuk merangkai kata-kata di dalam kepalaku.”


            “Baiklah, silahkan lanjutkan kata-katamu.”


            Irene menyilangkan salah satu kakinya dan mencoba untuk terlihat lebih angkuh di depan Suho. Dan Suho cukup sadar jika Irene mulai menunjukan sisi mendominasinya itu di hadapannya.

__ADS_1


            “Aku telah bercerai dengan Yuri tepat disaat kau kembali ke New York, jadi aku ingin minta maaf padamu karena kemarin aku telah membohongimu saat kau menelponku.”


            “Hmm, bukankah berbohong adalah keahlianmu.” komentar Irene enteng sambil memainkan kuku jarinya. Suho menggeram kesal dalam diam dan mencoba untuk mengabaikan sikap Irene yang mulai menjengkelkan.


            “Lalu disaat yang bersamaan kau meninggalkan sebuah pesan suara jika kau akan kembali ke New York dan menikah dengan pria yang dijodohkan denganmu. Saat mendengar hal itu, sebenarnya aku hancur. Padahal aku berencana untuk mengajakmu berbaikan dan membangun sebuah rumah tangga yang bahagia. Tapi nyatanya kau pergi dan akan menikah dengan pria lain yang lebih baik dariku, jadi aku memutuskan untuk membiarkanmu pergi meskipun hatiku menjerit.”


            “Darimana kau tahu jika Kim Soohyun adalah pria yang lebih baik darimu jika kau tidak pernah melihatnya secara langsung bagaimana perasaanku selama ini saat bersamanya? Apa kau tahu jika kebahagiaanku hanya saat bersamamu? Apa kau tahu jika hatiku sebenarnya hanya untukmu? Tapi kau tidak pernah sekali saja berkorban dan berusaha untuk mendapatkanku. Padahal selama ini aku sudah banyak berkorban untuk membawamu kembali dan menyadarkan hatimu pada wanita yang sesungguhnya kau cintai. Kau memang egois Lee Suho! Bahkan sejak berbulan-bulan lamanya kau tidak pernah menghubungiku dan hanya menungguku untuk menghubungimu. Sebenarnya kau pria macam apa Lee Suho ssi?!”


            Irene meluapkan seluruh amarahnya di hadapan Suho yang juga telah siap dengan segala bantahannya. Ketika wanita itu mulai mengungkit-ungkit kesungguhan hatinya untuk mengejar cinta wanita itu, Suho mulai merasa tidak terima jika Irene menganggapnya sebagai pria pasif jika pada kenyataanya ia hanya ingin memberikan Irene kesempatan untuk merasakan kebahagiaan dengan pria lain, karena ia merasa begitu buruk di hadapan Irene. Tapi nyatanya Irene justru menginginkan hal yang sebaliknya. Wanita itu menginginkannya berjuang untuk wanita itu dan merebutnya dari pria lain yang jelas-jelas sedang mengulurkan tangannya untuk menolong Irene dari rengkuhan pria brengsek sepertinya.


            “Aku bukannya ingin membiarkanmu bersama pria lain, aku hanya tidak ingin menyakitimu terlalu jauh, Shin Irene. Bahkan setiap malam aku selalu memikirkanmu dan anak kita yang nantinya akan menganggap pria lain yang bukan ayahnya sebagai ayah. Aku sakit membayangkan itu, bahkan aku merasa benar-benar terpuruk setelah kau pergi. Aku mendapatkan karma dari Tuhan karena telah menyia-nyiakanmu selama ini.”


            “Kenapa harus selama itu kau menyadari perasaanmu oppa, padahal sejak awal kau jelas-jelas tidak mencintai Yuri. Tapi kau terlalu serakah hanya untuk melepaskan salah satu dari kami. Kau ingin menguasai kami semua untuk dirimu sendiri. Kau memang pria brengsek, Lee Suho.”


            Suho mengepalkan tangannya tidak terima ketika Irene melayangkan cacian dan makian yang menyakitkan itu. Padahal ia berusaha untuk melepaskan Yuri agar dapat kembali bersamanya. Tapi wanita itu justru menghakiminya sesuka hati hanya karena ia terlambat untuk membawa wanita itu kembali ke dalam pelukannya.


            “Apa kau sudah puas menghinaku dengan kata-kata kasarmu? Kalau kau memang tidak bahagia bersama Kim Soohyun, maka kembalilah padaku. Aku akan berusaha untuk menjadi Lee Suho yang lebih baik dan aku akan berusaha untuk tidak menyakitimu lagi.”


            “Apa kau pikir semudah itu memintaku kembali setelah selama ini kau selalu menyia-nyiakan kesempatan yang kuberikan. Lihatlah, aku sudah bertunangan dengan Kim Soohyun. Kami akan menikah setelah aku melahirkan anakmu, jadi jangan harap kau bisa mendapatkan kesempatan untuk membaku ke dalam pelukanmu lagi.”


            “Kau dan calon suamimu hanya sekedar bertunangan Im Irene, kau belum menikah dengannya seperti aku menikah dengan Yuri dulu. Jika kau bisa menghancurkan ikatan pernikahanku dengan mudah, kenapa aku tidak bisa melakukannya juga? Bukankah ikatan yang terjalin dianara kau dan calon suamimu jauh lebih rentan,


hmm?” desis Suho mengerikan. Irene bergidik ngeri ketika melihat sisi lain Suho yang selama ini tidak pernah dilihatnya. Ia pikir Suho hanyalah pria lemah yang akan mudah dikalahkan dengan sedikit tindakan nekat, tapi nyatanya tatapan bersungguh-sungguh Suho kali ini lebih mengerikan dan terlihat meyakinkan. Ia takut jika Suho akan menyakiti Kim Soohyun nantinya.


            “Jangan pernah berbuat nekat, Lee Suho, atau kau akan menerima akibatnya.” ancam Irene bersungguh-sungguh. Namun Suho tampak tak takut sedikitpun dan justru berjalan mendekati Irene yang kini sedang beringsut ketakutan di atas sofa. Entah mengapa Irene sangat takut dengan sorot mata Suho yang bagaikan iblis itu. Ia bukan seperti Suho yang ia kenal selama ini. Ia seperti makhluk lain yang tiba-tiba muncul setelah sekian lama tertidur di dalam tubuh Suho.


            “Aku tidak takut dengan ancamanmu, Shin Irene. Bahkan jika kau mengancam akan membunuhku sekalipun, aku tidak takut. Bagiku memperjuangkan cintaku untuk wanita yang juga mencintaiku dan saat ini sedang mengandung anaku jauh lebih penting dari sekedar kematian yang sewaktu-waktu dapat menjemput siapapun. Jadi kau harus lihat tindakan apa yang akan kuambil untuk menyingkirkan Kim Soohyun dari hidupmu.”


Bughh


            Tiba-tiba Suho terpelanting ke atas lantai ketika sebuah tinjuan menghantam keras tepat di rahang kanannya. Irene memekik terkejut dan langsung menemukan ayahnya yang tampak begitu marah luar biasa dengan deru nafas yang memburu. Pria paruh baya itu berjalan cepat ke arah Suho dan langsung menghujani Suho dengan pukulan yang bertubi-tubi ketika Suho masih dalam keadaan berbaring di atas lantai. Sekuat tenaga Irene berusaha memisahkan ayahnya dari Suho agar ayahnya tidak terus menerus memukul Suho yang bisa-bisa membuat Suho mati karena amarah ayahanya yang sedang menggila.


            “Keparat! Jadi kau yang selama ini telah menghancurkan masa depan anakku dan menolak untuk mempertanggungjawabkan perbuatan bejatmu. Kau benar-benar pria tak tahu malu dan brengsek, kau pantas mati!”


Bugh Bugh Bugh

__ADS_1


            Lagi-lagi tuan Shin menghajar Suho hingga Suho menderita luka-luka yang cukup parah di wajahnya. Namun Suho seperti membiarkan tuan Shin melakukannya, karena ia terlihat tidak melakukan perlawanan sedikitpun.


            “Ayah kumohon hentikan, ayah bisa membunhnya jika ayah terus memukul Suho oppa seperti itu.”


            “Biarkan saja pria ini mati, Rene! Pria ini yang telah membuat ayah kehilangan putri ayah, dan pria ini yang membuat masa depan putri ayah hancur. Ayah tidak akan membiarkan pria ini hidup dengan senyum mengembang di atas penderitaanmu!”


            Irene menangis histeris sambil mencoba melindungi tubuh Suho dari pukulan ayahnya. Karena percuma saja ia terus membujuk ayahnya untuk berhenti memukuli Suho jika pada kenyataanya ayahnya sangat ingin membunuh Suho. Satu-satunya cara agar ayahnya tidak terus menerus memukul Suho adalah dengan menjadi tameng untuk Suho karena ayahnya tidak mungkin akan memukulnya yang sedang hamil.


            “Irene minggirlah! Jangan menghalangi ayahmu untuk memukulku, aku pantas mendapatkannya.” ucap Suho terbata-bata sambil mencoba menyingkirkan tubuh Irene yang sedang menjadi tameng untuk melindunginya dari sang ayah yang sedang mengamuk.


            “Irene, pergi dari sana sekarang juga jika kau tidak ingin ayah menyakitimu.”


            “Tidak! Aku tidak akan pergi sebelum ayah benar-benar berhenti untuk memukuli Suho oppa. Ayah, Suho oppa bukan satu-satunya pihak yang salah di sini, aku juga salah karena pernah merusak rumah tangga Suho oppa dengan istrinya. Jadi kumohon berhentilah untuk menyakiti Suho oppa.” mohon Irene dengan air mata yang sudah membanjiri wajah pucatnya. Tuan Shin kemudian jatuh terduduk di atas karpet dengan wajah yang sulit diartikan. Dari sorot matanya, tuan Shin jelas merasa bersalah pada Suho. Namun di sisi lain tuan Shin masih memancarkan aura kebencian untuk Suho karena pria itu pernah menyakiti putri semata wayangnya.


            “Berdirilah, aku akan mengobatimu.”


            Irene membantu Suho untuk berdiri setelah tuan Shin terlihat lebih tenang. Ia kemudian meninggalkan Suho sebentar untuk mengambil kotak obat setelah ia memastikan jika ayahnya tidak akan menghajar Suho lagi.


            “Apa yang kau lakukan pada putriku, kenapa ia bisa begitu tergila-gila padamu?”


            Tiba-tiba tuan Shin bersuara pelan tanpa ekspresi di sebelah Suho. Mendengar hal itu Suho hanya mampu mengerutkan alisnya tidak mengerti karena ia jelas-jelas tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan tuan Shin padanya. Lagipula ia tidak pernah memberikan apapun pada Irene selain rasa sakit yang begitu menyiksa, yang menyebabkan hati Irene hancur berkeping-keping.


            “Aku sama sekali tidak pernah memberikan apapun padanya, aku justru sering menyakiti hatinya.” ucap Suho jujur. Tuan terdiam sejenak dengan jawaban jujur Suho dan segera beranjak pergi meninggalkan rumahnya dengan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


            Ketika Irene kembali, Suho memberikan tatapan penuh penyesalan pada Irene karena ia telah mengacaukan semuanya. Namun Irene memberikan tatapan lembut menenangkan dan mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja.


            “Ayahmu pergi sambil melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, apakah ia akan baik-baik saja?”


            “Tenang saja, ayahku adalah seorang pembalap, jadi kau tidak usah menghkhawatirkannya. Sebentar lagi ia pasti akan kembali seperti semula, ia hanya sedang dilingkupi perasaan marahnya yang sudah sejak lama ia tahan. Dan ketika kau tiba-tiba muncul di rumahnya, ayahku seperti mendapatkan sasaran empuk yang selama ini ditunggunya. Jadi tolong maafkan ayah.”


            Suho tersenyum sekilas pada Irene dan menganggukan kepalanya kecil.


            “Aku sudah memaafkan ayahmu.”


            Irene tersenyum lembut pada Suho dan kembali melanjutkan aktivitasnya untuk mengobati luka Suho yang cukup parah karena hantaman ayahnya. Dalam hati Irene berharap semoga masalahnya benar-benar akan selesai setelah ini karena ia lelah dengan kehidupannya yang penuh kesakitan. Ia hanya ingin hidup bahagia dan tenang bersama putrinya kelak.

__ADS_1


__ADS_2