
Pagi ini aku datang lebih pagi ke rumah sakit setelah aku mengantarkan Aleyna ke sekolahnya terlebih dahulu. Masa awal-awal bekerja setelah sekian lama vakum ternyata cukup membuatku begitu bersemangat untuk pergi ke rumah sakit. Sikapku yang terlalu bersemangat ini mengingatkanku pada Aleyna ketika ia pertama kali akan masuk ke sekolah barunya setelah ia menempuh pendidikan di taman kanak-kanak. Setiap malam gadis itu tak henti-hetinya membicarakan pengalaman menyenangkannya saat di sekolah, dan keesokan paginya ia akan bangun lebih pagi untuk mempersiapkan diri sebelum pergi ke sekolah. Hal serupa juga kualami sejak aku mulai bekerja di Hallym Hospital. Sejak semalam aku tidak bisa berhenti memikirkan keseruan apa yang akan kualami selama bekerja di rumah sakit ini. Apalagi saat aku bertemu dengan pasien-pasien yang berlalu lalang di sekitar lorong rumah sakit. Ini membuatku sedikit lebih bersemangat dari biasanya.
Bruk
Aku tersungkur di atas lantai setelah seseorang menabrakku dengan begitu keras dari arah berlawanan. Tas
slempang yang tadinya terayun dengan cantik di pundakku, kini telah terlempar jauh dan tergletak di dekat kaki penabrakku. Dengan emosi yang sedikit kutahan, aku segera bangkit untuk melihat si penabrak yang sama sekali tidak menunjukan itikad baik karena ia hanya berdiri mematung di depanku tanpa berniat untuk menolongku sedikitpun.
“Kang Yeri?” Aku memincingkan mataku heran saat melihat gadis itu sedang berdiri gugup di depanku. Untuk sesaat ia seperti sedang berkomat-kamit sendiri di depanku, namun sedetik kemudian ia segera bergerak ke depan untuk meminta maaf.
“Mma maafkan aku, aku tidak sengaja.”
“Tidak apa-apa, itu bukan masalah besar.” Menyadari tasku yang tergletak di dekat kakinya, Yeri segera menunduk dan memungut tas itu untuk diberikan kepadaku.
“Terimakasih. Kenapa kau berjalan dengan terburu-buru seperti itu?”
“Eee ituu...”
Yeri tampak kebingungan dengan pertanyaanku. Seperti ada terlalu banyak hal yang ia sembunyikan hingga ia ragu untuk membaginya padaku.
“Tidak apa-apa, katakan saja padaku. Sekarang aku dokter di rumah sakit ini, jadi kita bisa menjadi teman bukan?” tanyaku mencoba ramah. Kulihat bola mata Yeri bergerak-gerak tidak nyaman saat aku mencoba untuk menjadi lebih dekat dengannya. Sesekali Yeri juga melirik kearah samping, kearah udara kosong yang semestinya tidak ada apapun. Namun aku tahu jika Yeri saat ini sedang mencoba untuk berkomunikasi dengan teman khayalannya.
“Kau sudah makan?” tanyaku lagi untuk menjauhkannya dari rasa gugup yang sempat melandanya. Dengan wajah polos ia menggelengkan kepalanya padaku. Mata polosnya menyiratkan sebuah tatapan sedih yang membuatku tidak bisa mengabaikannya sedikitpun.
“Apa kau ingin makan bersamaku?” tawarku lembut. Saat ia sedang mencoba menyembunyikan kegugupannya dengan menjalin jari-jarinya diantara keliman baju, aku mencoba meraih jari-jarinya dan menggenggamnya sebagai seorang sahabat. “Aku bisa menemanimu makan di taman, bagaimana? Bukankah kau sangat suka berada di taman.”
Binar bahagia itu langsung tercetak jelas di wajahnya saat aku mulai menyinggung mengenai taman. Kulihat ia mulai berbicara sendiri dengan teman khayalannya yang tidak akan pernah bisa kulihat di sebelahnya, tapi aku berusaha menghormati dan memahami Yeri yang telah hidup bertahun-tahun bersama teman khayalannya.
“Jaebum oppa mengijinkanmu untuk ikut bersama kami ke taman. Ayo!” Dengan wajah ceria, ia langsung merangkulku menuju taman tanpa memberiku kesempatan untuk sekedar meletakan tasku di ruanganku.
“Kenapa kau menyukai taman ini?”
“Aku suka duduk di sini bersama Jaebum oppa. Jaebum oppa bilang kau cantik.”
“Benarkah?” tanyaku tersenyum simpul. Separah apa peristiwa itu hingga membuat Yeri menjadi seperti ini?
“Kita belum berkenalan, namaku Kang Yeri.” Gadis itu mengulurkan tangannya penuh semangat kearahku dengan senyum lebar yang sejak tadi tak pernah luntur dari wajahnya. Tanpa ragu aku segera membalas uluran tangannya dan menjawab penuh semangat seperti miliknya
“Luciana Lee, kau bisa memanggilku Lucine.”
“Senang berkenalan denganmu Lucine, Jaebum oppa baru saja berbisik jika kau adalah wanita tercantik yang pernah ia lihat di rumah sakit ini.”
“Terimakasih, kau juga gadis paling ceria di rumah sakit ini. Jadi, apa kau bisa ceritakan padaku bagaimana awalnya kau bisa mengenal Jaebum? Dia sepertinya sangat berarti untukmu.”
Yeri terlihat memalingkan wajahnya ke arah kiri, tersenyum sangat manis pada udara kosong yang menurutnya adalah Jaebum, lalu menoleh lagi kearahku dengan binar yang masih tercetak jelas di wajahnya.
“Jaebum adalah segalanya untukku. Ia adalah satu-satunya pria yang dapat memahamiku selama bertahun-tahun.”
Aku sedikit tertegun dengan kalimatnya, merasa tak percaya jika orientasinya mengenai waktu masih sebaik itu. Yeri sungguh terlihat seperti gadis normal seusianya ketika episode gangguan itu tidak merenggut kewarasannya. “Apa kau bisa menceritakannya padaku, Kang Yeri? Semua hal tentangmu dan Jaebum.” ucapku lambat-lambat dengan senyuman yang berhasil membuatnya terhipnotis untuk menceritakan semuanya padaku.
Flashback
__ADS_1
Seorang wanita cantik sedang menggeliat di ranjang hangatnya. Mata bulatnya mengerjap beberapa kali saat ia mendengar bisikan dari seseorang.
“Baiklah aku akan segera bangun. Kau benar-benar telah mengusik mimpi indahku.” dengus Yeri kesal pada pria di sebelahnya. Wanita itu kemudian segera bangkit dari ranjangnya untuk masuk ke dalam kamar mandi dan bersiap. Pagi ini ia memiliki meeting penting dengan bosnya, sehingga ia harus datang tepat waktu untuk mempersiapkan semua bahan meetingnya hari ini. Sembari mencuci wajah dan menggosok gigi, pria itu terus mengikutinya dan berdiri tepat di sebelahnya, membuat Yeri gusar pada kehadiran pria itu yang tiba-tiba.
“Kau tidak pernah menampakkan dirimu semenjak beberapa hari yang lalu, dan sekarang kau tiba-tiba ada di sini.” Yeri berbicara pada pria itu sambil berkumur-kumur. Pria tampan yang berdiri di sebelahnya hanya tersenyum tipis dan mengendikan bahunya ringan.
“Karena kau tidak membutuhkanku.” bisik udara itu lagi.
“Aku tidak pernah berkata seperti itu.” ucap Yeri sedikit keras. Namun setelah beberapa lama tidak ada bisikan apapun yang terdengar di sebelahnya. Hanya udara kosong yang menemani Yeri di dalam kamar mandinya yang luas. Yeri kemudian segera mengambil handuk untuk mengelap wajahnya dan bersiap keluar untuk mengambil perlengkapan mandinya.
“Lagi-lagi ia pergi.” gumam Yeri frustrasi. Ia menatap sedih kearah tempat Jaebum sebelumnya berdiri. Betapa ia sangat merindukan pria itu beberapa hari ini, tapi saat akhirnya pria itu muncul, ia hanya menyapanya acuh tanpa benar-benar memahami perasaannya yang kosong.
-00-
Yeri bersiap-siap untuk sarapan sebelum ia berangkat ke kantor, sebuah blazer berwarna putih tersampir di
lengan kirinya, dan lengan kanannya sibuk membereskan berkas-berkas yang semalam ia biarkan berserakan di atas meja kerjanya. Sang ibu yang telah menyiapkan sarapan sejak tiga puluh menit yang lalu terdengar kembali berteriak memanggil Yeri agar putri semata wayangnya itu segera turun untuk melakukan sarapan bersama.
“Pagi eomma.” sapa Yeri riang. Ia lalu mendudukan dirinya di bangku yang biasa ia gunakan yang berada tepat di depan bangku milik ayahnya.
“Pagi sayang. Apa kau mengalami mimpi buruk? Tadi eomma mendengar kau sedang bercakap-cakap dengan seseorang.”
“Tidak eomma, tadi aku sedang berbicara dengan temanku.” jawab Yeri sedikit kikuk.
“Kau yakin? Eomma pikir kau mungkin mengalami gangguan seperti dulu saat kau masih berusia tiga belas tahun. Waktu itu kau suka berbicara pada udara kosong, psikologmu mengatakan jika kau memiliki teman khayalan. Dan eomma sempat berpikir jika kau mungkin memiliki teman khayalan lagi. Tapi sepertinya eomma salah, mana mungkin gadis berusia dua puluh tiga tahun masih berbicara dengan teman imajinasinya.” ucap nyonya Kang dengan tawa renyahnya. Yeri tampak tersenyum kecut dibalik wajahnya yang sengaja ia tundukan. Ia tidak ingin eommanya tahu jika selama ini ia memang memiliki teman khayalan. Tapi akhir-akhir ini Jaebum memang jarang muncul. Pria itu entah kenapa pergi dan membuatnya khawatir hingga pola tidurnya menjadi sedikit terganggu. Ia terbiasa tidur di pelukan pria itu, dan ia tidak bisa tanpa Jaebum di sisinya. Namun pagi ini pria itu kembali menunjukan batang hidungnya dengan mengganggu tidur nyenyaknya yang menyenangkan. Ketika ia tengah memasukan potongan sandwich ke dalam mulutnya, tiba-tiba pria itu muncul lagi di hadapannya sambil tersenyum manis ke arahnya. Sejenak Yeri merasa terpana dengan senyuman pria itu, sebelum ayahnya berdeham dan membuat lamunannya menjadi buyar.
“Yeri, bagaimana dengan kekasihmu? Kapan ia akan melamarmu?” tanya ayahnya tiba-tiba. Mendengar nama kekasihnya disebut, hatinya menjadi marah dan kesal. Entah mengapa ia sedang tidak ingin membicarakan nama kekasihnya, karena kekasihnya itu adalah pria brengsek yang telah mengkhianatinya dengan wanita lain.
Apalagi tiga hari yang lalu Oh Sehun baru saja datang untuk mengantarkan Yeri dan berbicara pada mereka untuk melamar Yeri karena kedua orangtua Sehun sudah ingin menimang cucu dari Sehun, meskipun mereka berdua masih terlalu muda untuk menjalani hubungan rumah tangga. Tapi hari ini tiba-tiba saja Yeri mengatakan jika ia telah putus dengan Oh Sehun, hal ini benar-benar sangat aneh menurut mereka.
“Putus? Bagaimana mungkin? Bukankah kalian dalam keadaan baik-baik saja?” tanya nyonya Kang bingung. Yeri kemudian mendongak menatap wajah eommanya cemberut. Sungguh ia sedang malas bila harus diintrogasi seperti ini. Apalagi beberapa menit lagi ia harus melakukan presentasi di kantornya. Ia tidak ingin pagi harinya yang indah ini rusak karena Oh Sehun sialan itu!
“Dia berselingkuh dengan wanita lain di belakangku, dan aku tidak ingin menjalin hubungan dengan seorang pria yang jelas-jelas telah menyakitiku. Aku tidak mau menjalani hubungan dengan pria pembohong sepertinya eomma, dia benar-benar brengsek.” ucap Yeri sebal. Wanita itu kemudian berdiri dari duduknya, dan langsung menyambar tas tangannya begitu saja yang ia letakan di dekat tempat duduknya sambil berucap dengan nada dingin pada ayah dan ibunya jika ia akan berangkat ke kantor sekarang. Selera makannya tiba-tiba hilang karena ayah dan ibunya terus membahas Sehun dan membuat sakit hatinya yang telah ia lupakan menjadi menganga kembali.
“Kau tidak menghabiskan sarapanmu?” tegur ibunya lembut ketika Yeri mengulurkan tangannya untuk berpamitan. Yeri menggeleng pelan sambil mengecup pipi ibunya, kemudian ia segera berjalan pergi meninggalkan kedua orangtuanya yang hanya mampu menggelengkan kepalanya pasrah.
“Dia benar-benar kekanakan.” keluh ibunya pelan. Sedangkan sang ayah hanya menatap acuh pada istrinya, dan setelah itu ia kembali melanjutkan sarapannya sambil membaca koran paginya yang sempat tertunda.
-00-
Di dalam mobil menuju ke kantornya, Yeri tampak berkonsentrasi mengemudi sambil mendengarkan musik dari musik player yang memutarkan lagu-lagu kesukaanya. Sesekali ia bersenandung kecil mengikuti suara sang penyanyi yang sedang mengalunkan lagu kesukaanya. Tiba-tiba seorang pria muncul di sebelahnya sambil terkekeh pelan mendengarkan suaranya yang terdengar sumbang baginya.
“Suaramu merdu.” ucap pria sedikit keras, dan berhasil membuat Yeri gusar setengah mati. Pasalnya ia sangat tahu apa yang dimaksudkan pria itu dengan merdu. Ia hanya ingin mengejeknya dengan cara halus.
“Huh, dasar menyebalkan. Aku tahu apa yang kau maksud dengan merdu itu tuan Lee. Katakan saja jika kau hanya ingin mengejekku. Keluar dari mobilku!” usir Yeri sebal. Namun Jaebum hanya terkekeh sambil mengacak-acak rambutnya pelan.
“Maaf, aku hanya bercanda. Jadi kau akan berangkat ke kantor?” tanya Jaebum kemudian. Pria itu tampak sangat serius memperhatikan Yeri dari samping. Sedangkan Yeri tampak salah tingkah karena ia merasa ditatap begitu intens oleh Jaebum. Sudah lama ia memiliki Jaebum sebagai teman khayalanya. Dulu mungkin orangtuanya tahu jika ia memiliki teman khayalan. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, orangtuanya mengira jika Yeri telah sembuh dan tidak lagi memiliki teman khayalan. Padahal selama ini Yeri masih sering berkomunikasi dengan Jaebum, menumpahkan seluruh keluh kesah yang ia miliki pada pria itu. Meskipun Jaebum hanya teman khayalannya, tapi sekarang ia merasa jika Jaebum bukan hanya sekedar teman khayalannya. Padahal di usianya yang matang ini, seharusnya ia tidak lagi memiliki teman khayalan semacam Jaebum. Tapi ia sadar jika ia tidak bisa lepas dari Jaebum. Ia akan kesepian jika Jaebum pergi. Lagipula Jaebum adalah teman yang menyenangkan dan sangat pengertian. Sejak ia berusia tiga belas tahun Jaebum selalu datang untuk menemaninya dan memberinya semangat ketika beberapa temannya memusuhinya di sekolah. Sejauh ini hanya Jaebum yang berhasil membuat Yeri merasa aman dan nyaman.
“Yah, begitulah. Sekarang aku sudah dewasa, jadi aku harus berangkat bekerja seperti kebanyakan teman-temanku. Kenapa kau menghilang? Aku merindukanmu.” ucap Yeri sedih sambil menoleh sekilas pada Jaebum. Pria itu hanya tersenyum tipis pada Yeri dan menggenggam sebelah tangan Yeri yang bebas. Ia kemudian mengecup punggung tangan itu lama sambil menggumamkan kata maaf berkali-kali pada wanita itu.
“Maafkan aku, kukira kau sudah tidak membutuhkanku lagi.”
__ADS_1
“Lain kali kau harus bertanya padaku sebelum memutuskan untuk pergi. Kau adalah satu-satunya teman yang tidak pernah mengecewakanku. Jadi tetaplah menjadi temanku hingg akhir.” mohon Yeri pelan, sebelum ia menarik tangan kirinya untuk membelokan setirnya ke arah kantornya yang sudah berada di depan mata. Jaebum tersenyum senang di sebelah Yeri karena ia telah diterima oleh Yeri menjadi temannya lagi. Bahkan wanita itu menginginkannya menjadi teman hingga akhir, maka ia akan mengabulkan permintaan wanita itu. Ia akan menjadi teman untuk Yeri hingga maut memisahkan mereka.
“Kau akan ikut bersamaku?” tanya Yeri sebelum ia membuka pintu di sampingnya. Jaebum mengangguk semangat dan segera mengikuti Yeri untuk turun dari dalam mobil.
Ketika berjalan menyurusi loby kantor yang ramai, beberapa kali Yeri mendapatkan sapaan dari rekan-rekannya yang baru saja masuk dan sedang menunggu di depan lift.
“Mereka teman-teman yang ramah.” bisik Jaebum di sebelah wanita itu saat mereka sedang menunggu di depan lift. Yeri hanya mengangguk seadanya dan tak ingin terlibat percakapan terlalu jauh dengan Jaebum. Moodnya belum sepenuhnya membaik meskipun kini Jaebun telah berdiri di sebelahnya dan menemaninya.
“Selamat pagi, Yeri.” sapa Hyukjae ramah di depan lift. Yeri tersenyum lembut pada Hyukjae dan membalas sapaan pria bergusi pink itu dengan tak kalah lembut. Yeri lalu menggeser tubuhnya sedikit ke kiri untuk memberi ruang pada Hyukjae agar dapat berdiri di sampingnya.
“Siapa dia?” bisik Jaebum di sebelahnya. Yeri kemudian berbisik pelan di telinga Jaebum sambil melirik Hyukjae yang ternyata sedang menatap aneh padanya. Tentu saja pria itu merasa aneh padanya, karena ia tampak sedang berbicara pada angin.
“Kau sedang berbicara dengan siapa?”
“Oh, bukan siapa-siapa. Aku hanya sedang menghafalkan materi yang akan ku presentasikan hari ini.” ucap Yeri gugup. Hyukjae tampaknya percaya begitu saja pada Yeri. Pria itu lantas melangkah masuk ke dalam lift ketika pintu lift itu berdenting keras di depan mereka.
“Ayo masuk!” ajak Hyukjae ringan yang langsung disambut Yeri dengan senyuman manis.
“Dia pria yang baik.” bisik Jaebum lagi di sebelah Yeri ketika mereka sedang berada di dalam lift. Pria itu masih sibuk mengamati penampilan Hyukjae dari ujung kepala hingga ujung kaki sambil menilai pria itu lebih jauh. Sebagai teman, Jaebum ingin memastikan jika Yeri juga memiliki teman yang benar-benar baik di dunia nyata. Ia tidak ingin melihat Yeri sedih dan mengeluarkan air matanya lagi seperti dulu.
“Dia memang baik, dia pria yang ramah.” bisik Yeri pelan sambil mengawasi Hyukjae. Beruntung, pria bergusi pink itu sedang fokus pada ponselnya sehingga ia tidak melihat Yeri yang sedang berbicara sendiri di depannya.
Ting!
Lift berdenting kencang dan berhenti tepat di lantai dua belas, tempat dimana divisi Hyukjae bekerja. Pria itu kemudian berpamitan pada Yeri dan segera berjalan keluar meninggalkan Yeri sendiri di dalam lift. Setelah pintu lift tertutup, Yeri langsung menghembuskan napasnya lega karena ia merasa dapat bebas berbicara dengan Jaebum tanpa dipandang aneh oleh orang lain. Ia sadar jika orang lain tidak akan mungkin bisa melihar wujud Jaebum karena pria itu adalah teman khayalannya, yang entah bagaimana selalu terasa nyata untuknya, sedangkan orang lain tidak akan pernah bisa melihatnya.
“Dimana kau bekerja? Kenapa kau tidak keluar bersama pria itu?” tanya Jaebum lagi. Pria itu rupanya benar-benar ingin mengetahui semuanya. Semua yang selama ini telah ia lewatkan selama ia pergi.
“Aku bekerja di lantai delapan belas.”
“Apa yang kau kerjakan di sana? Apa itu sesuatu yang membosankan?”
“Yah, bisa dikatakan seperti itu. Aku adalah manager keuangan. Jadi semua pekerjaanku berhubungan dengan angka dan uang. Ayo! Kita sudah sampai.”
Yeri melangkah keluar dengan anggun untuk menuju ke ruangannya. Ruangannya berada di sebelah ruangan presdir sehingga jika presdir membutuhkan semua laporan keuangan darinya, pria itu hanya perlu menekan tombol bel yang terhubung ke ruangannya. Ketika ia hendak berjalan masuk ke dalam ruangannya, seorang pria dengan wajah pucat yang maskulin telah menunggunya di depan pintu masuk ruangannya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Merasa mengenal pria itu, Yeri tampak mendengus kesal sambil berpura-pura berjalan melewati pria itu. Namun pria itu justru mencekal lengannya dengan keras dan langsung menyeretnya masuk ke dalam ruangannya yang sepi.
“Oh Sehun, lepaskan! Apa yang kau lakukan di sini?!” bentak Yeri kesal karena Sehun dengan seenaknya langsung menyeretnya masuk ke dalam ruangannya. Untung saja suasana di luar sedang sepi, sehingga ia tidak harus mengarang cerita pada karyawan lain ketika mereka menanyakan masalahnya dengan Oh Sehun.
“Aku tidak ingin berpisah denganmu. Aku ingin menikah denganmu.” ucap Sehun langsung ketika ia berhasil menghempaskan tubuh Yeri ke atas sofa. Jaebum yang berada di sebelah Yeri tampak menatap was-was pada Yeri dan Sehun yang akan memulai pertengkaran. Pria itu sebisa mungkin membujuk Yeri agar wanita itu tidak menanggapi ucapan Sehun dan hanya mengabaikannya.
“Tenanglah, jangan terpancing dengan kemarahannya. Dia hanya ingin mencari titik kelemahanmu.” bisik Jaebum pelan di sebelah Yeri sambil menggenggam tangan Yeri yang terasa dingin. Yeri melirik Jaebum sekilas dan tersenyum lembut pada pria itu, membuat Sehun merasa bingung dengan sikap Yeri yang sedikit aneh.
“Aku tidak ingin menjadi kekasihmu lagi. Lebih baik kau mencari wanita lain yang ingin bersanding denganmu. Dan jangan pernah mengganggu kehidupanku lagi, karena aku tidak ingin melihat wajahmu lagi.” ucap Yeri dingin dan menusuk.
Setelah itu ia segera bangkit dari sofa putih itu, berjalan angkuh melewati Sehun yang hanya mampu mendengus kesal di tempatnya berdiri karena ia tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah kepergian Yeri. Sebentar lagi ia akan memimpin meeting, dan jika ia menahan Yeri agar tetap di sini untuk menyelesaikan masalah mereka, ia hanya akan membuat semua pekerjaannya berjalan kacau hari ini.
Masih dengan emosi yang bergumul di otaknya, Sehun menjambak rambutnya frustrasi di dalam ruangannya. Ia merasa bodoh karena telah tergoda pada wanita murahan yang merupakan sekretarisnya. Tapi, semuanya telah terlambat. Sekarang ia kehilangan Yeri dan ia tidak akan bisa membawa wanita itu lagi ke dalam pelukannya. Yerinya telah benar-benar marah padanya.
“Shit! Bodoh kau Oh Sehun!” Maki Sehun pada dirinya sendiri sebelum ia keluar dari ruangannya.
Sementara itu Lee Jaebum sedang memperhatikan gerak-gerik Sehun sambil bertopang dagu di atas meja Yeri. Menurutnya ini menarik. Saat ini kehidupan Yeri sudah semakin rumit dan tidak sesederhana dulu. Itu berarti ia dapat lebih mudah memanipulasi pikiran Yeri dan membuat wanita itu kacau secepatnya.
__ADS_1
“Hmm, aku sudah tidak sabar menunggu saat-saat itu.” seringai Jaebum licik sambil memandang foto Yeri yang sedang tersenyum di atas meja kerjanya.