
Yuna memejamkan matanya rapat, merasakan hembusan udara dingin yang terasa seperti sedang menampar wajahnya kuat-kuat dari atas balkon rumahnya. Malam ini ia begitu kacau. Setelah semua pertemuannya dengan Yunho, pikirannya yang semula baik-baik saja, perlahan-lahan mulai kacau karena semua kenangan pahitnya di masa lalu mulai bermunculan lagi. Semua kenangan yang selama bertahun-tahun telah berhasil ia tekan di dalam kepalanya kembali muncul dan membuat pertahanannya hampir runtuh. Seharusnya saat itu ia memikirkan konsekuensi juga. Saat suster itu memintanya untuk menjadi dokter jiwa Yunho, ia seharusnya menolaknya. Keyakinan yang sebelumnya membumbung tinggi di hatinya, perlahan-lahan runtuh. Kesombongan bahwa dirinya yang merasa baik-baik saja, telah membutakan segalanya. Ia seharusnya sadar jika ia sebenarnya bukanlah wanita hebat yang bisa melupakan seluruh kenangan itu dengan mudah. Ia seharusnya sadar jika masa lalunya itu benar-benar sangat mengerikan, hingga ia sendiri bahkan tidak bisa menyembuhkannya meskipun selama bertahun-tahun ia telah mencoba.
Siingg....
Yuna merasakan bulu kuduknya berdiri saat hantaman udara dingin mulai menerbangkan helai demi helai rambutnya yang panjang. Ia lantas menoleh ke belakang, melihat kearah gorden putih di kamarnya yang juga tengah bergerak-gerak ribut. Malam ini Seoul mungkin akan dilanda hujan badai yang dahsyat, mengingat bagaimana kencangnya angin malam ini yang berhembus. Yuna kemudian segera masuk ke dalam kamarnya dan menutup rapat-rapat pintu balkon di depannya agar angin malam yang dingin tidak menembus masuk ke dalam kamarnya yang hangat.
“Huh... Aku harus menghadapi badai hari ini sendiri.... tanpa Changmin oppa..”
Srett
Yuna menoleh cepat ke arah pintu kamarnya ketika suara langkah kaki yang diseret samar-samar terdengar dari luar pintu kamarnya. Dengan wajah datar, Yuna segera berjalan mendekati pintu kamarnya dan membuka lebar-lebar pintu kayu itu dengan gerakan cepat.
Slapp
“Kosong.” gumam Yuna pelan dengan wajah pias. Ia tahu jika rumah yang ia tinggali tidak mungkin berhantu seperti apa yang dikatakan oleh tetangga-tetangga di sekitar rumahnya. Rumah yang ia tinggali saat ini hanya menyimpan banyak hewan-hewan kecil atau hewan pengerat yang terkadang sering mengusiknya dengan suara-suara aneh khas mereka. Tiba-tiba saja Yuna merasa tenggorokannya terasa kering. Ia kemudian segera berjalan menuju dapur yang berada di lantai satu untuk membuat segelas susu sebelum tidur agar tidurnya nyenyak. Besok pagi ia akan berangkat ke Daegu untuk menyusul Changmin yang sedang bertugas di sana. Selama tiga hari kedepan ia akan menjernihkan pikirannya di samping Changmin agar akal sehatnya yang terkontaminasi oleh Yunho bisa segera pulih kembali.
Klik
Yuna menyalan saklar lampu yang berada di sudut ruangan, lalu berjalan santai kearah lemari kayu di dapurnya untuk mengambil sekotak susu coklat yang ia simpan di sana. Kebiasaannya untuk meminum susu mulai muncul pasca pemerkosaan itu terjadi padanya. Setiap malam ia selalu bermimpi buruk hingga berujung pada terganggunya siklus tidurnya. Namun setelah salah satu temannya memberi saran untuk meminum susu sebelum
tidur, ia mulai bisa tertidur dengan nyaman tanpa dihantui oleh mimpi-mimpi buruk yang mengganggu. Hanya sesekali mimpi buruk itu datang menyapa tidur lelapnya, saat ia sedang merasa stress atau memiliki banyak tekanan di hidupnya.
Setelah selesai membuat susu, Yuna lantas kembali ke kamarnya di lantai dua dengan membawa gelas bening di tangan kanannya yang berisi susu. Malam ini udara terasa begitu dingin di luar. Akan sangat menyenangkan bila ia bisa meminum susu hangat di dalam kamarnya sambil memutar lagu-lagu klasik favoritnya dan bergelung di balik selimut yang hangat. Membayangkannya membuat Yuna ingin segera berlari ke kamarnya agar ia bisa segera menghangatkan tubuhnya yang terasa beku.
Klontang
Srakk
Yuna mengernyitkan dahinya bingung dan segera berlari menuju kamarnya untuk melihat apa yang terjadi. Baru saja ia mendengar suara berisik khas benda jatuh yang berada di kamarnya. Ia khawatir hewan-hewan pengerat itu akan kembali mengobrak-abrik kamarnya seperti dulu hanya untuk mencari remah-remah makanan kecil.
“Astaga!”
Yuna memekin terkejut ketika ia menemukan tumpukan buku-buku fiksinya telah berserakan di atas lantai bersama dengan lampu tidur yang kini telah pecah berkeping-keping karena baru saja jatuh dari atas lemari pakaiannya. Hewan-hewan itu pasti mengamuk atau apa hingga mereka nekat membuat keributan di dalam kamarnya. Dengan jengkel, Yuna segera meletakan gelas susunya di atas nakas untuk membersihkan seluruh kekacauan yang terjadi di kamarnya yang berubah menjadi gelap. Namun baru beberapa langkah ia berjalan menuju sudut kamarnya untuk menyalakan saklar lampu, sepasang tangan besar tiba-tiba membelitnya dan membuat tubuh Yuna terkesiap seketika. Seseorang yang tengah memeluknya itu menghembuskan napas panas di atas kulit leher Yuna yang sensitif, lalu berbisik pelan di telinga kanan Yuna dengan suara serak.
“Kim Yuna.. gadis kecilku.”
__ADS_1
“Kim Yunho! Apa yang kau lakukan di rumahku?” teriak Yuna marah. Ia melihat pantulan wajah Yunho dari permukaan cermin kamarnya sambil meronta ronta untuk dilepaskan. Entah bagaimana caranya pria itu menyelinap masuk ke dalam kamarnya. Setahunya untuk masuk ke dalam kompleks perumahan tempat ia tinggal, pria itu harus melewati beberapa petugas keamanan yang bewajah garang. Namun bagi pria segila Yunho, hal itu pasti bukan perkara sulit baginya. Ia pasti bisa menggunakan berbagai macam cara untuk mendapatkan kembali wanita yang menjadi obsesinya.
“Apa aku mengagetkanmu? Maaf atas kekacauan yang kubuat malam ini sayang.”
Yunho melirik sekilas pecahan-pecahan lampu tidur di bawah kakinya dan juga beberapa buku fiksi milik Yuna yang sengaja ia jatuhkan untuk mendramatisir suasana mencekam malam ini. Sudah lama ia menunggu saat-saat yang tepat untuk mengunjungi Yuna. Dan akhirnya malam ini ia bisa merealisasikan keinginannya untuk berkunjung ke rumah Yuna yang sepi. Ia sangat bersyukur Yuna memiliki seorang suami yang jarang berada di rumah, sehingga kesempatannya untuk bertemu dengan Yuna menjadi lebih leluasa.
“Kau berencana untuk meninggalkanku? Kau psikiater yang tidak bertanggungjawab.”
Yunho melirik kopor abu-abu Yuna sinis sambil tetap mengeratkan pelukannya pada tubuh Yuna. Ia tahu wanitanya itu mulai terbawa arus masa lalu mereka yang kelam, dan untung saja selama ini ia selalu mengawasi gerak-gerik Yuna, sehingga sekarang ia memiliki kesempatan untuk mencegah Yuna pergi. Ia tidak akan kehilangan wanita obsesinya untuk yang ke dua kalinya. Ia akan terus mengikat Yuna agar wanita itu terus berada di sisinya.
“Lepaskan aku Kim Yunho! Aku hanya ingin mengunjungi suamiku. Aku ingin berlibur agar aku tidak terpengaruh oleh penyakit jiwamu yang mengerikan itu.”
“Penyakit jiwa ya? Kupikir kau memerlukan terapi Yuna. Sama sepertiku, kau juga sakit. Di sini....” Yunho menunjuk pelipis Yuna dengan jari telunjuknya. Lalu pria itu memindahkan jari telunjuknya kearah dada kiri Yuna. “Dan di sini... Kita berdua sama-sama sakit. Bagaimana jika kita saling menyembuhkan.”
“Akhh...”
Brukk
Yunho mendorong tubuh Yuna ke atas ranjang hingga menimbulkan bunyi berdebum yang keras. Pria itu lalu berada di atas tubuh Yuna. Menjulang tinggi penuh kuasa dan dominasi. Lalu ia mencondongkan wajahnya sedikit kearah rambut panjang Yuna dan mengendusnya pelan penuh nikmat.
“Aku tahu kau tidak pernah bisa melakukan hal ini pada suamimu.”
“Apa? Aku bisa melihat adanya sorot keputusasaan di matamu. Kau, bukankah kau memiliki trauma pada peristiwa itu? Kau takut bersentuhan dengan pria.” bisik Yunho tenang. Yuna mencengkeram kerah kemeja Yunho kuat sebagai upaya untuk mengantisipasi tubuh pria itu agar tidak semakin meringsek kearahnya. Saat ini berada di bawah kuasa tubuh Yunho yang besar membuat jantung Yuna berdebar kencang. Ia takut! Sangat takut hingga ia merasakan peluh mulai membanjiri kening indahnya yang mulus.
“Rileks sayang, aku hanya ingin menyembuhkan traumamu. Maka kita mulai semuanya dari sini.”
Yunho mengusap peluh Yuna yang bercucuran dengan deras menggunakan tangan kirinya. Ia lalu mendekatkan wajahnya semakin mendekat kearah Yuna dan menyeringai licik.
Sementara itu, Yuna terlihat sudah memejamkan matanya takut sambil memalingkan wajahnya kearah kanan. Saat ini wajah Yunho begitu dekat dengan wajahnya, dan ia sangat takut pria itu akan memakannya seperti dulu.
Cup
Yunho mencium kening Yuna penuh kelembutan selama lima detik. Setelah itu, pria itu mengangkat wajahnya dan menatap Yuna lembut melalui mata sendunya.
“Apa yang kau rasakan, Yuna? Buka matamu dan tatap mataku.”
__ADS_1
Yuna merasakan jantungnya berdebar dan keningnya memanas. Kecupan Yunho di dahinya benar-benar luar biasa. Sangat mengerikan untuknya, karena membawa sensasi yang hampir sama dengan apa yang pernah ia alami dulu. Namun bedanya, sekarang Yunho memperlakukannya dengan lebih lembut, penuh perasaan.
“Tolong lepaskan aku.” ucap Yuna lirih. Saat ini yang ia inginkan hanyalah terbebas dari Yunho dan menghilangkan seluruh sensasi terbakar yang ia rasakan. Ia merasa sangat sesak karena semua kenangan pahit yang telah ia lupakan kembali muncul dan meluluhlantahkan semua pertahanannya. Jika pria itu tidak segera mengakhirinya, maka ia akan berakhir seperti dulu lagi. Menyerah di bawah kuasa sang monster kejam yang akan memakannya untuk yang ke dua kalinya.
“Ssshhh... kecupan itu hanya permulaan Yuna, karena aku akan melakukannya lebih dari ini. Kau tahu bukan jika aku sangat terobsesi padamu? Bahkan saat kau masih kanak-kanakpun, aku sudah terobsesi padamu. Jadi aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi Yuna. Tidak lagi setelah kau berhasil melarikan diri dariku bertahun-tahun lamanya. Aku menjadi gila seperti ini karena aku terus memikirkanmu dan takut kehilanganmu.”
“Alasan! Dari dulu kau memang sudah sakit Kim Yunho. Kau pedofil gila yang memanfaatkan kepolosan gadis kecil yang tak tahu apapun hanya untuk kepuasanmu semata. Sekarang lepaskan aku! Lepaskan aku brengsek!”
Yuna menendang-nendang tubuh Yunho di depannya sambil meronta-ronta keras agar dilepaskan. Sayangnya suara teriakannya yang nyaring telah tertutup oleh suara kerasnya hujan yang turun dengan deras, menghujam tanah Seoul malam ini. Percuma saja ia berteriak-teriak hingga pita suaranya putus, karena pada kenyataanya Yunho akan tetap merealisasikan keinginannya yang telah lama terpendam di dalam dirinya. Memiliki seorang Kim Yuna untuk dirinya sendiri.
-00-
Keesokan paginya Yuna terlihat sangat berantakan dengan rambut yang terurai tak beraturan dan tubuh polos yang hanya tertutup selimut. Wanita itu meringkuk kacau di sudut kamarnya setelah ia bangun dari mimpi buruknya yang mengerikan. Untuk yang ke dua kalinya, Yunho berhasil menguasai tubuhnya hingga ia tak berdaya. Monster itu kembali mengoyak dirinya hingga jiwanya terasa hancur lebur tak tersisa. Namun anehnya Yuna tak terlihat sedih. Wanita itu sama sekali tidak menangis meskipun Yunho telah merusaknya untuk yang ke dua kalinya. Saat ini Yuna justru sedang tersenyum, benar-benar tersenyum dalam artian yang sesungguhnya. Lalu salah satu tangannya terulur kala Yunho menawarkan diri untuk menarik dirinya dari keterpurukan.
“Bagaimana perasaanmu sayang?”
“Luar biasa. Kau berhasil melakukannya.”
“Hmm, sudah kukatakan jika kau sebenarnya hanya membutuhkan sentuhanku untuk menghilangkan semua mimpi burukmu. Setelah ini kau tidak akan merasakan apapun lagi. Kesedihan, ketakutan, keraguan, atau kesulitan apapun yang akan menghambat hidupmu. Hanya tetaplah di sisiku, maka semuanya akan berjalan lancar.”
Yuna tersenyum menyeringai kearah Yunho, lalu meringsekan kepalanya di atas permukaan dada Yunho yang nyaman. Mereka saling berpelukan satu sama lain di sudut tergelap kamar Yuna yang sangat berantakan dan kacau pagi itu. Semalam telah terjadi sesuatu yang sangat mengerikan di sana. Dimana tangisan, jeritan, erangan, dan desahan bercampur menjadi satu di kamar itu. Disaat segalanya telah kacau, Yunho melakukan hal kotor itu pada Yuna. Ia mencuci otak wanita malang itu dan membuat Yuna hanya akan melihat kearahnya untuk selamanya. Ia menghapus seluruh kenangan pahit Yuna, dan mengganti semua itu dengan kebahagiaan yang hanya berasal darinya.
“Yuna, kau selamanya hanya akan menjadi milikku. Milikku!”
“Apa yang terjadi padamu saat malam hari?” tanya Luciana penasaran. Ia sungguh kesal saat Yuna melewatkan cerita di bagian yang paling penting. Alasan mengapa di pagi hari Kim Yuna bisa menjadi gila.
“Kau tidak sabaran sekali, Lucine. Aku perlu waktu untuk mengingatnya.” gerutu Yuna mencoba berkonsentrasi. “Ini sudah lama sekali. Sekitar empat tahun yang lalu.” tambah Yuna sambil memejamkan matanya.
“Kau harus sabar Lucine, dia pernah mengalami lupa ingatan karena memorinya dihapus secara tidak permanen oleh Yunho.”
“Benarkah? Ya Tuhan... pria itu benar-benar psikopat yang mengerikan.” pekik Luciana tertahan. Ia pikir Joey adalah pria yang sudah cukup gila karena berani bermain api di belakang istrinya, bahkan menikahinya dengan penuh sukacita.
“Dia memang sudah sakit sejak awal, Lucine. Beruntung Yuna memiliki jiwa sekuat baja yang mampu meluluhkan jiwa sakit Yunho.”
“Aku jadi ingin bertemu suamimu itu.” gumam Luciana penuh minat. Ia ingin tahu bagaimana pria sakit jiwa seperti Yunho akhirnya sembuh dan mendapatkan perawatan spesial dari dokter jiwa hebat seperti Kim Yuna.
__ADS_1
“Aku ingat! Aku sudah ingat sekarang.” teriak Yuna girang. Suasana sepi yang terlihat di sekitar mereka membuat Luciana menghembuskan napas seketika karena teriakan keras Yuna tidak sampai mengusik mereka yang sedang menyantap makan siang di kantin rumah sakit.
“Sekarang aku akan menceritakannya lagi pada kalian.”