
“Dokter, bagaimana kondisi Yeri? Mengapa ia bisa kabur dari rumah sakit ini?” tanya tuan Kang siang itu ketikan ia sedang mengunjungi Yeri di rumah sakit. Tiga hari yang lalu ia merasa begitu terkejut ketika ia mendapati Yeri telah berada di rumahnya sambil menangis tersedu-sedu, dan melaporkan jika baru saja telah terjadi perampokan di dalam rumahnya. Namun tuan Kang tahu, jika yang melakukan percobaan pembunuhan itu adalah putrinya. Ketika ia melihat rekaman cctv yang terpasang di dalam rumahnya, saat itu Yeri sedang berada di dalam kamarnya. Entah bagaimana Yeri bisa masuk ke dalam rumahnya dan menginap semalam di kamarnya ketika ia dan istrinya tidak sedang berada di rumah. Kemudian saat istrinya pulang ke rumah malam harinya, ia begitu terkejut karena mendapati Yeri sedang berdiri di dalam kamarnya sambil menggenggam sebuah garpu di tangannya. Lalu tanpa diduga, Yeri langsung menusuk-nusuk perut istrinya secara brutal hingga istrinya ambruk di atas lantai dengan darah yang mengucur deras dari perutnya. Dan setelah melakukan hal itu, tiba-tiba Yeri menjadi tersadar dan langsung menangis meraung-raung di dekat tubuh ibunya yang sedang merenggang nyawa. Mengingat semua itu, tuan Kang merasa begitu sedih dan terpukul. Satu-satunya anak yang ia miliki harus mengalami trauma mendalam yang separah itu karena sewaktu duduk di bangku sekolah dasar, Yeri pernah menjadi korban pembullyan teman satu kelasnya yang bernama Kim Taeyeon dan Kwon Yuri. Lalu saat putri
kecilnya itu menginjak usia tiga belas tahun, ia pernah dilecehkan oleh seorang pemuda pengantar koran yang bernama Lee Jaebum. Sejak saat itu, Yeri menjadi pemurung dan sering melamun. Mental dan jiwanya terganggu karena ia tidak bisa menanggung semua beban berat itu sendiri. Akhirnya karena Yeri sering mengamuk dan menjerit histeris, tuan dan nyonya Kang memutuskan untuk memasukan Yeri ke dalam rumah sakit. Mereka pikir dengan memasukan Yeri ke dalam rumah sakit, Yeri akan lebih baik dan berangsur-angsur pulih. Namun siapa sangka, setelah lebih dari sepuluh tahun tinggal di dalam rumah sakit, Yeri tiba-tiba melakukan tindakan nekat dengan kabur dari rumah sakit dan pulang ke rumahnya sambil membawa teror yang mengerikan bagi nyonya dan tuan Kang. Tapi meskipun begitu, tuan Kang merasa begitu iba pada putrinya dan tak sampai hati untuk melaporkan kejadian percobaan pembunuhan itu kepada pihak berwajib. Dan saat istrinya sadar hari ini, nyonya Kang terus menerus menangis, meratapi nasib putri semata wayangnya yang begitu menyedihkan. Andai saja dulu mereka tidak sibuk mengumpulkan harta di luar rumah dan lebih sering memperhatikan kondisi putri mereka, maka semua ini tidak akan terjadi. Putri semata wayang mereka tidak akan gila dan mengalami trauma yang begitu mengerikan seperti saat ini.
“Saat ini kondisi Yeri sedang drop. Entah apa yang memicu hal itu terjadi dalam dirinya, tapi saat ini Yeri sedang dalam masa labil, sehingga kami perlu memantaunya selama dua puluh empat jam untuk melihat kondisi Yeri selanjutnya.” terang dokter muda itu sambil mengamati catatan medik milik Yeri. Tuan Kang tampak begitu frutrasi sambil mengacak rambut putihnya dengan gusar. Apa yang terjadi pada Yeri saat ini adalah karena salahnya. Dan betapa ia begitu membenci dirinya saat ini karena ia tidak dapat melakukan apapun untuk menyembuhkan putrinya dan membawa Yeri keluar dari alam bawah sadarnya yang mungkin saja sangat mengerikan itu.
“Dokter Oh, tolong sembuhkan putriku. Ia tidak seharusnya menerima siksaan yang begitu menyakitkan seperti itu. Ia seharusnya dapat menjalani hari-harinya yang penuh warna, menghabiskan masa mudanya yang begitu indah. Apa aku bisa mempercayakan Yeri padamu?”
Oh Sehun menganggukan kepala pelan pada tuan Kang sambil tersenyum tulus pada pria tua itu. Selama lebih dari sepuluh tahun ia mengenal Yeri dan menjadi dokter khusus bagi gadis itu, ia merasa begitu bersimpatik pada Yeri, karena wanita itu sebenarnya memiliki hati yang begitu bersih dan lembut. Pernah beberapa kali, saat kondisi Yeri sedang stabil, ia akan menemani Yeri menikmati suasana senja di taman rumah sakit sambil bercanda ringan dengan wanita itu. Dan andai saja Yeri adalah wanita normal, mungkin ia akan jatuh ke dalam pesona Yeri yang begitu mengagumkan dengan mudah. Sayangnya Yeri adalah pasien skizofrenianya yang cukup parah, sehingga hampir tidak ada harapan sama sekali untuk gadis itu sembuh. Mungkin selama ini Oh Sehun hanya menjaga Yeri agar tetap stabil dan tidak melukai orang lain seperti kejadian beberapa hari yang lalu. Namun sebenarnya ia sama sekali tidak dapat menyembuhkan wanita itu.
“Saya akan melakukan yang terbaik untuk putri anda.”
Tok tok tok
Sehun memberikan kode pada Luciana agar masuk ke ruangannya. Kebetulan hari ini ayah Yeri sedang berkunjung ke rumah sakit. Ia dengan senang hati akan mengenalkan Luciana pada tuan Kang.
“Perkenalkan, ini dokter Luciana, dokter baru yang akan membantuku untuk mengobati Yeri.”
Luciana yang awalnya tidak mengerti, segera memberikan senyum terbaiknya pada tuan Kang setelah Sehun memberinya kode jika pria yang saat ini sedang duduk di depannya adalah ayah Yeri.
“Selamat pagi, senang dapat bertemu anda, tuan Kang.”
“Selamat pagi dokter Lucine. Jadi wanita yang kulihat sedang mengobrol dengan putriku adalah anda?”
“Oh, itu memang saya.”
“Tidak perlu terlalu formal padaku dokter Lucine, berbicaralah seperti biasa.” ucap tuan Kang santai. Luciana kemudian tersenyum dan menganggukan kepalanya mengerti.
“Jadi pagi ini saya memang mengobrol bersama Yeri di taman. Dia adalah gadis yang sangat luar biasa. Ketika episode serangannya itu tidak kambuh, maka ia akan bersikap seperti layaknya gadis normal. Maafkan aku tuan Kang jika itu sedikit menyinggungmu.” ucap Luciana tidak enak. Tuan Kang hanya tersenyum kecil, memaklumi ucapan Luciana yang menyebut putrinya sebagai gadis yang tidak normal karena kenyataannya putri kecilnya itu memang tidak normal karena pikiran gilanya.
“Putriku memang gadis normal. Dia normal sebelum pria bernama Lee Jaebum itu merusak mental putriku.”
Luciana melihat gurat-gurat kemarahan yang tercetak jelas di wajah tuan Kang. Pria itu pasti sangat terpukul dengan kondisi putrinya yang berubah rusak setelah seorang pria bernama Lee Jaebum merenggut kesucian putrinya yang kala itu masih sangat polos.
“Sejujurnya aku menginginkan pria itu dihukum mati, tapi jaksa tidak mengabulkan keinginanku dan hanya memberikan hukuman penjara sepuluh tahun.”
“Jadi pria itu kini sudah bebas?” tanya Luciana sambil mengernyitkan dahinya dalam. Sedikit tidak adil memang karena pria itu hanya mendapatkan sepuluh tahun hukuman, sedangkan Yeri harus menanggung semua beban mental itu seumur hidup. Saat ini tak ada kata yang mampu diucapkan Luciana untuk meredakan kemarahan
yang terlihat begitu membuncah di dalam diri tuan Kang. Ia rasa semua orangtua pasti akan marah jika anak mereka disakiti dengan begitu buruk oleh orang lain. Terlebih luka yang ditinggalkan tidak bisa disembuhkan seperti milik Yeri.
-00-
“Yeri, bangunlah. Hey, ayo buka matamu. Apa kau tidak mendengar suara kami! Hey, bangun!”
Seketika Yeri langsung membuka matanya lebar-lebar ketika ia mendengar suara teriakan teman-temannya yang dulu sering membullynya di sekolah. Dan ketika ia melihat sosok Yuri dan Taeyeon sedang bersedekap angkuh di depan tubuhnya, Yeri langsung beringsut mundur hingga ia terjatuh dari atas blangkarnya yang cukup tinggi. Yuri dan Taeyeon kemudian berjalan mendekati Yeri sambil tertawa terbahak-bahak dengan suara tawa mereka yang begitu nyaring seperti lolongan anjing. Yeri secara refleks langsung menutupi kedua telinganya dari suara-suara mengganggu yang memenuhi rongga kepalanya karena ia sama sekali tidak ingin mendengar suara sialan yang selama bertahun-tahun selalu mengganggu hidupnya hingga ia merasa muak.
__ADS_1
“Pergi kalian semua! Pergi!”
“Yeri, kenapa kau begitu kasar pada kami? Bukankah kami adalah bagian dari dirimu juga, seharusnya kau tidak mengusir kami dengan sangat kasar seperti itu.” bisik Yuri pelan dengan nada santai di telinga Yeri. Yeri yang merasa muak dan ketakutan dengan semua itu, hanya mampu berteiak histeris sambil menendang-nendang udara kosong di depannya, berniat untuk mengusir Yuri dan Taeyeon yang terus mengganggunya dan menghantuinya.
“Yeri, apa kau ingin mencoba bermain denganku?”
Tiba-tiba suara bariton itu mengalun di indera pendengaran Yeri, membuat Yeri semakin was-was dan hanya mampu menutup kedua telinganya rapat-rapat agar ia tidak perlu mendengar suara itu. Tapi usapan lembut di wajah dan pangkal pahanya, membuat Yeri merasa semakin jijik dan tidak tahan dengan semua bisikan-bisikan yang terus menghantuinya. Ia kemudian segera merangkak menuju tembok untuk membentur-benturkan kepalanya di sana agar ia tidak perlu mendengar suara-suara itu lagi.
“Yeri tubuhmu sangat nikmat, meskipun kau masih remaja. Saat kau beranjak dewasa nanti, kau pasti akan tumbuh menjadi gadis yang cantik dan juga seksi.”
“Pergi! Pergi dari sini! Aku tidak mau mendengar suara kalian lagi! Pergi dari kepalaku sekarang juga! Pergi!”
Duk
Duk
Duk
Berkali-kali Yeri terus menghantam kepalanya ke arah dinding hingga darah segar merembes keluar dari sela-sela kulit kepalanya yang terluka. Semakin lama Yeri semakin keras memukulkan kepalanya pada tembok karena ia merasa sudah tidak kuat lagi menanggung semua beban itu sendiri. Suara bisikan itu terus mengahntuinya dan membuatnya selalu ketakutan setiap malam. Ia ingin pulang, bertemu dengan eommanya dan meminta perlindungan, tapi kemudian ia menjadi linglung dan eommanya terluka. Sekarang ia merasa ingin mati. Ia ingin mengubur semua bisikan itu bersamanya di dalam tanah, bersama dengan semua kenangan yang ingin
ia lupakan selamanya.
Duk
Satu benturan keras berhasil membuat kepala Yeri remuk dan mengucurkan begitu banyak darah di atas lantai rumah sakit yang putih. Lalu tak berapa lama Yeri segera ambruk di atas lantai dengan bayangan Jaebum, Yuri, Taeyeon, Sunny, serta seluruh teman imajinasinya yang sedang mengitarinya sambil bersorak-sorai gembira, menertawakan kematian yang akan menjemputnya sebentar lagi.
-00-
Pagi ini Luciana datang ke rumah sakit dengan lebih bersemangat dari kemarin. Banyak hal yang ia dapatkan setelah berbicara dengan Yeri membuat Luciana merasa memiliki tanggungjawab yang besar untuk membantu gadis itu. Setidaknya ia ingin Yeri dapat menganggapnya sebagai seorang tenan. Setelah itu perlahan-lahan ia akan membantu Yeri agar dapat mengendalikan psikisnya serta otaknya yang sering mengalami halusinasi dan delusi.
“Dokter Oh!” Luciana melambaikan tangannya pelan ketika melihat dokter Oh baru saja turun dari mobilnya yang terparkir tak jauh dari miliknya. Luciana kemudian segera mengunci mobilnya dan memutuskan untuk menghampiri dokter Oh. Mereka mungkin dapat mengobrol sebentar sebelum tenggelam ke dalam pekerjaan mereka masing-masing. Kebetulan mulai hari ini Luciana telah resmi menjalani praktik di rumah sakit ini, sehingga waktunya untuk mengobrol bersama dokter Oh pasti tidak akan sebanyak kemarin.
“Selamat pagi dokter Lucine.”
“Selamat pagi dokter Oh. Senang melihatmu dalam keadaan segar seperti ini.” ucap Luciana mencoba berbasa basi. Mereka lalu berjalan beriringan melewati taman dan lorong-lorong rumah sakit yang akan mengarahkan mereka menuju ruangan mereka. Saat melewati taman, Luciana menyempatkan diri untuk menyusuri taman luas itu dengan kedua matanya, mencoba mencari keberadaan Yeri diantara beberapa pasien yang pagi ini berada di taman rumah sakit.
“Ada apa dokter Lucine? Kau mencari Yeri?” tanya dokter Oh seakan sadar dengan sikap aneh Luciana yang tiba-tiba tidak merespon pertanyaannya saat ia mencoba menanyakan beberapa hal pada wanita itu.
“Kurasa pagi ini ia tidak pergi ke taman. Kira-kira apa yang akau lakukan pada Yeri setelah ini?”
“Aku akan merujuknya padamu.”
“Apa? Kau yakin?”
“Sangat yakin. Kurasa ia tidak bisa lagi melanjukan pengobatan bersamaku karena Yeri sudah tidak memiliki kepercayaan untukku. Lebih baik ia melanjutkan pengobatan bersamamu. Kulihat kemarin kalian dapat berbicara dengan akrab satu sama lain.”
__ADS_1
Luciana tersenyum cerah dengan keputusan dokter Oh karena sebenarnya sejak semalam ia ingin mengajukan hal itu, hanya saja ia merasa tidak enak untuk mengatakannya pada dokter Oh. “Kalau begitu aku akan memulainya pagi ini. Kau tahu jika aku memang sangat tertarik dengan kasus yang menimpa Kang Yeri. Aku sangat ingin membantunya.” tambah Luciana bersemangat. Oh Sehun hanya tersenyum menanggapi celotehan Luciana.
“Aku tahu kau sangat ingin membantu Yeri, jadi aku memberi kesempatan itu padamu. Sampai jumpa nanti dokter Lucine, semoga berhasil.”
Oh Sehun berjalan terlebih dulu ke dalam ruangannya yang sudah terlihat di depan mata. Sedangkan ruangan milik Luciana masih berada di blok lain dari tempatnya berdiri. Luciana kemudian memutuskan untuk pergi ke ruangan Yeri dan menjenguk gadis itu sebelum berkutat dengan pasien-pasiennya di ruangannya.
“Apa itu kamar milik Kang Yeri?” tanya Luciana pada perawat yang berjaga di nurses station. Perawat itu lantas menganggukan kepalanya dan kembali berkutat pada pekerjaannya setelah Luciana memberi kode jika ia bisa pergi sendiri untuk melihat keadaan Yeri di kamarnya.
“Apa pagi ini ia sudah makan?” Sebelum menarik kenop pintu ruang perawatan milik Yeri, Luciana berucap sedikit keras kearah perawat yang sebelumnya sedang sibuk merekap data-data milik pasien.
“Pagi ini belum karena Yeri memiliki alergi, jadi makanan untuknya masih dipersiapkan oleh petugas dapur.”
“Baiklah, jangan sampai ia tidak mendapatkan makanannya.” pesan Luciana sebelum menarik kenop pintu dan mendorongnya perlahan agar ia tidak mengganggu Yeri.
Brugh
“Kang Yeri!”
Tas yang digenggam Luciana jatuh begitu saja di depan pintu saat ia mendapati Yeri telah tergletak di atas lantai dengan darah dan aroma anyir yang membuat Luciana merasa mual. Wanita itu lantas memanggil seluruh perawat yang berjaga untuk memeriksa kondisi Yeri, sementara ia berlari menuju ruangan dokter Oh yang tak terlalu jauh dengan ruang perawatan milik Yeri.
“Kang Yeri terluka!” beritahu Luciana panik dengan wajah pucat saat berada di dalam ruangan Sehun. Beberapa orang yang melihat Luciana sebelumnya berlari-lari dengan heboh lantas mulai berkerumun dengan rasa ingin tahu. Melihat itu Sehun segera mengambil tindakan dengan menutup pintu ruangannya dan menunggu hingga Luciana berhasil menormalkan deru napasnya.
“Apa yang terjadi, dokter Lucine?”
Setetes air mata lolos begitu saja dari mata bening Luciana saat wanita itu mengingat lagi bagaimana kondisi Kang Yeri di ruangannya. Ia tahu jika Yeri telah pergi, dan ia telah terlambat untuk menyelamatkan jiwa sakit gadis ceria itu.
“Yeri bunuh diri di kamarnya.” ucap Luciana dengan bibir kelu. Hatinya terasa sakit saat membayangkan bagaimana sakitnya Yeri sebelum gadis itu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
“Aku akan melihatnya!”
Luciana membiarkan begitu saja saat Sehun bergegas pergi menuju ruangan Kang Yeri. Ia tahu jika Sehun pasti juga sama terkejutnya dengan dirinya. Bahkan pria itu pasti lebih sakit darinya karena pria itu telah menangani Yeri sejak bertahun-tahun yang lalu.
Dengan tangan yang masih gemetar, Luciana mencoba membuka kenop pintu ruangan Sehun dan memandang linglung kearah orang-orang yang sedang membicarakan kematian Yeri. Tak berapa lama Luciana mendengar suara raungan yang berasal dari sepasang suami istri yang baru saja mengikuti blangkar yang membawa Yeri menuju ruang otopsi.
“Ayah dan ibu Yeri baru saja datang.”
Luciana menoleh lemah kearah Sehun dengan masih dilingkupi kesedihan yang mendalam. Entah apa yang harus ia lakukan setelah ini untuk membuat keadaannya menjadi lebih baik setelah semua hal yang baru saja menggemparkan dunianya.
“Yeri memukulkan kepalanya ke tembok semalam. Tidak ada perawat yang menyadarinya karena Yeri memang tidak suka jika perawat mengusiknya di kamar selain untuk mengantarkan makanan.”
“Aku... aku masih syok. Aku akan pergi ke ruanganku, dokter Oh.”
Oh Sehun menganggukan kepalanya lemah dan membiarkan Luciana pergi begitu saja dari ruangannya. Ia sadar jika Luciana perlu waktu untuk menenangkan dirinya dari keterkejutan yang sedang melandanya saat ini.
Dengan wajah sedih, Sehun kemudian berjalan menuju meja praktiknya dan mulai membuka laci mejanya yang telah dipenuhi oleh tumpukan buku. Tangan bergetarnya kemudian mengambil sesuatu yang selama ini selalu ia sembunyikan dibalik tumpukan buku-buku medisnya yang tebal. Selembar foto milik Yeri yang ia ambil
__ADS_1
satu bulan yang lalu, sebelum gadis itu berbalik memusuhinya, tertarik dari dalam laci itu dengan mudah. Sehun kemudian menatap foto itu lama dan mengelusnya pelan dengan senyum getir yang terlihat seperti sedang menahan begitu banyak kesakitan di hatinya.
“Semoga kau tenang di sana, sayang.”