
Hari ini adalah pengalaman pertama Anggun untuk magang disalah satu rumah sakit.
Mungkin ini adalah satu pengalaman yang paling mendebarkan. Ketika masih kuliah, praktis calon dokter tidak memegang atau bertanggung jawab terhadap pasien sama sekali. Memang biasanya beberapa dokter, sebelum internsip, sudah bekerja di klinik-klinik dan mengobati pasien secara mandiri. Tapi biasanya kasus yang ditangani hanya penyakit ringan.
Di saat internsip inilah pertama kalinya menangani, memeriksa, dan mengobati berbagai pasien dengan bermacam-macam penyakit. Juga tidak seperti mahasiswa yang masih belajar, dokter internsip bertanggung jawab penuh terhadap kondisi pasien yang ditanganinya. Pasien pun tidak akan peduli apakah mereka merupakan internsip atau bukan, yang pasien tahu hanyalah mereka itu dokter. Di saat seperti inilah lulusan baru benar-benar belajar bagaimana berkomunikasi, menerangkan, dan memberi penjelasan kepada pasien dan keluarganya.
Anggun belajar banyak dari pengalaman ini.
Siang itu saat dia berjalan di rumah sakit, ada seseorang yang memanggil nya.
"Pagi bu dokter, seketika hati Anggun bahagia ada yang memanggil nya dokter, akhirnya cita-cita nya tercapai, meski sebenernya belum tercapai harus melalui proses yang panjang, namun paling tidak ini adalah awalnya".
Dia bersama Mira magang bersama di salah satu rumah sakit, sedangkan Ari magang dilain tempat, waktu itu tiba-tiba ada panggilan.
"Anggun cepat masuk dikamar no 15, disana ada pasien yang kritis, panggillan dari salah satu temannya".
"Anggun langsung berlari, masuklah dia di salah satu kamar pasien pengidap kanker darah stadium akhir".
Para dokter spesialis sudah ada di dalam dan akan membawa gadis itu ke kamar ICU, Anggun ikut kekamar ICU.
Dia melihat di sekelilingnya, gadis itu sendirian tanpa saudara.
"Anggun tolong panggilkan keluarganya".
"Dimana dok?"
"Minta nomer keluarganya di bagian resepsionis".
__ADS_1
"Baik dok, ucap Anggun".
Anggun berlari dibagian resepsionis, setelah nyampai disana dan meminta nomer telfon dan disana tertera nama Bapak Tio sudarmaji.
Anggun langsung kaget seketika, apakah ini orang yang sama di masa lalu nya atau apakah orang yang berbeda.
"Halo pak ucap Anggun. Apakah ini dengan bapak Tio".
"Ia benar saya bapak Tio".
"Saya mau mengabarkan bahwa anak bapak sedang kritis, diharapkan bapak datang kerumah sakit".
"Ia siap".
Anggun kembali ke ICU, dilihat nya namanya Almira, gadis cantik yang tergulai lemah karena sakit kanker. Tak lama kemudian datanglah sesosok laki-laki Tua dan ternyata itu adalah Om Tio.
"Om Tio, ucap Anggun".
"Ia Anggun, bagaimana kabarmu?"
"Baik om, om sendiri bagaimana kabarnya? ".
"Aku kurang baik Anggun, orang orang yang aku sayangi semua meninggalkan ku, istri pertama om baru kemarin meninggal, sedangkan anak cewek satu-satunya om sakit, mungkin ini adalah balasan Tuhan untuk om".
"Om yang tabah ya, Anggun yakin Tuhan tidak akan menguji umatnya diluar kemampuannya".
"Anggun masuk dulu keruangan ya om? ".
__ADS_1
"Ia Anggun jaga anak om ya".
"Ia om Anggun akan lakukan yang terbaik untuk anak om".
Anggun masuk kembali kedalam ruangan, Almira terlihat drop sekali, semua dokter melakukan yang terbaik buat Almira, dan alhamdulillah perjuangan mereka tidak sia-sia Almira selamat. karna banyaknya kemo terapi rambut Almira rontok sekali hampir tidak ada rambut yang menghiasi dikepala Almira, Anggun keluar dari ruangan menyapa om Tio yang sedang bersedih.
"Om jangan bersedih lagi ya, alhamdulillah masa kritis Almira sudah terlewati dan om bisa lega, sekarang Almira sedang dalam masa pemulihan".
"Terimakasih banyak ya Almira".
"Aku yang harus berterimakasih sama om yang telah om berikan sama Anggun".
"Ia sama-sama Anggun, kamu sudah selesai kuliahnya".
"Belum om, aku dokter magang disini"
"Kamu yang semangat ya Anggun semoga ilmu mu bermanfaat".
"ia om terimakasih banyak om, om bisa menemui Almira di kamar om"
"Ia terima kasih Anggun"
Akhirnya Anggun masuk ke kamar untuk menemui Almira dan Anggun melanjutkan pekerjaannya.
bersambung.
outhor ucapkan terimakasih banyak sudah membaca cerita ini.
__ADS_1