
Anggun tau bahwa Ari adalah anak om Tio.
Pagi yang indah, cerah, secerah hati Anggun yang menatap masa depan, dia melangkahkan kakinya untuk kerumah sakit, melupakan segala kejadian menjadi Anggun yang lebih baik, Anggun yang mempunyai harapan dan cinta.
“Pagi anggun, ucap Mira”.
“Pagi juga Mira”.
“Wah pagi ini kamu terlihat cerah sekali, dan busana pakaian mu sudah tidak pendek lagi, paling tidak sudah tidak seperti yang kemarin”.
“Ia Mira aku mau menjadi lebih baik”.
Seperti biasanya dia memeriksa pasien satu per satu, karna sebentar lagi tugas magangnya akan selesai dia sangat bersemangat, paling tidak sebentar lagi dia benar-benar akan menjadi dokter umum. Anggun masih mendapatkan transferan dari om Tio setiap bulannya, meskipun dia tidak memintanya, Om tio masih baik dengan Anggun dan Anggun juga sudah melupakan semua kenangan pahitnya dengan om Tio. Dia merawat anak om tio dengan sangat baik. Pagi itu dia masuk kembali untuk merawat anak om Tio, sedangkan anak om Tio sendirian di rumah sakit karna istri pertamanya om Tio sudah meninggal, dan istri kedua om Tio, meninggalkan om Tio, Almira adalah anak om Tio dari istri ke dua.
Anggun tidak tau bahwa Ari adalah anak om Tio dari istri ke 3, karena memang istri-istri om Tio tidak saling akrab. Pagi itu Anggun memeriksa Almira.
“Pagi Almira sayang ucap Anggun, bagaimana keadaanmu?”.
“Aku baik kak, ucap Almira. Tapi tak lama setelah itu tiba-tiba Almira drop, badannya menggigil, mulutnya membiru, wajahnya pucat”.
Anggun segera memeriksa dan memanggil dokter spesialis yang bertugas menangani Almira, Almira di bawa kembali ke ICU, dan Anggun langsung menelfon Om Tio.
“kring…….Kring, ia Anggun ucap om Tio”.
“Om Almira kembali drop, om diharapkan cepat dating kesini om”.
“Baik Anggun ocap om Tio”.
Om Tio segera meninggalkan pekerjaanya untuk segera menemui Almira di rumah sakit, sedangkan dirumah sakit para dokter sedang menangani Almira, Almira semakin melemah doter sebisa mungkin sudah berusaha menolong Almira, tapi Tuhan berkehendak lain. Almira meninggal dunia sebelum om Tio datang kerumah sakit.
Anggun sangat syok karna Almira tak tertolong lagi, dia tidak berani membicarakan pada om Tio, karna Anggun tau alas an om Tio menjadi lebih baik lagi karna Almira, tak lama kemudian om Tio tiba di rumah sakit.
__ADS_1
“Anggun bagaimana keadaan anakku Almira”.
“Anggun hanya terdiam tanpa bahasa, tak tega memberitahu om Tio, sambil menangis Anggun berkata. Om Tuhan lebih sayang Almira”.
“Om Tio teriak keras di rumah sakit.
Tidakkkkkkk……… kamu bohong Anggun, om Tio bergegas lari ke ruang ICU dan melihat anaknya untuk terakhir kalinya, om Tio menangis s jadi-jadinya disana, hatinya hancur, putrid kesayangannya telah tiada. Tuhan kenapa kau ambil putriku secepat ini, slama ini aku yang banyak salah, kenapa anakku yang kau ambil, bukan diriku yang sudah tua renta ini”.
“Om sudah om jangan menagis lagi, Almira sudah tenang disana, dia sudah tidak sakit lagi, om yang tenang ya, jangan nangis lagi kasian Almira kalau om nangis terus, nanti dia disana akan merasakan kesedihan om”.
“Ia Almira ucap om Tio”.
Om Tio tiba-tiba mengangkat telfonnya .
“Anggun om mau mengabari istri ke tiga om dulu dan anak laki-laki om”.
Dalam hati Anggun, “oh ternyata om Tio masih punya anak laki-laki”
“kringgggggg…….kringgggggg”
“Ina aku hanya mau mengabari almira meninggal dunia aku harap kamu dan ari bisa kesini, kita urus bersama pemakaman Almira bersama-sama”.
“Apa ucap Ina, Almira meninggal, ia aku akan beritahu Ari agar segera kerimah sakit, kebetulan dia magang tidak jauh dari situ”
Anggun kaget sekali mendengar nama Ari.
“Apa Ari, jangan-jangan Ari yang sama dengan pacarku, ah tapi tak mungkin nama Ari banyak sekali disini mungkin ini kebetulan saja”.
Om Tio duduk termenung dan Anggun menemaninya dan memberikan segelas air putih pada om Tio. Sedangkan Almira sedang dimandikan di kamar jenazah.
“Om minum dulu om, agar om lebih tenang. Om semua orang pasti akan meninggal cuma kita tidak tau kapan Tuhan akan menjemput kita, Tuhan lebih sayang pada Almira makanya om yang ikhlas dan minum dulu”.
__ADS_1
“ia almira om minum”.
Tak lama dari kejauhan terlihat seorang ibu-ibu dan sesosok laki-laki tinggi putih yang mirip sekalai dengan Ari pacar Anggun. Semakin mendekat laki-laki itu. Sangat kagetnya Anggun setelah melihat Ari kerumah sakit.
“Ari kenapa kamu kesini?”.
“Adikku meninggal Anggun”.
Seketika jatung Anggun berdetak kencang, ternyata ari adalah anak dari om Tio.
“Anggun kenalkan ini anak om, ari dia juga sekolah kedokteran sama seperti kamu”.
“Ayah Ari sudah kenal sama Anggun, dia pacar Anggun ayah”.
Seketika om Tio terkaget, mana bisa begitu mantan kekasih simpananku, dan aku pernah tidur dengannya menjadi pacar anakku.
“Ayah kok diam, ucap Ari”.
“Tidak apa-apa Ari”
“Kok ayah kenal Anggun”.
“dia yang merawat adik mu disini”.
Seketika suasana menjadi lebih canggung, Anggun hanya terdiam bingung tak tau harus bagaimana, takut kalau Ari tau yang sebenarnya dia pasti akan meninggalkanku, tapi kalau aku tak jujur dia pasti akan marah besar padaku, dan apa mungkin om Tio menyetujui hubungan kami berdua. Anggun pandang wajah om Tio yang tertunduk malu. Mungkin dia malu telah menodai Anggun dan telah menjadikan Anggun selingkuhannya dulu.
Dalam hati Anggun berkata.
"Om jangan katakan pada Ari bahwa masa lalulu ku sangat lah kelam pada Ari, karna aku sangat mencintai anakmu".
Ari menatap Anggun dengan kebingungan kenapa pacarnya jadi terdiam dan ada apa sebenarnya.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa like dan komennya agar outhor lebih semangat dalam menulis. Terimakasih