
Hari ini adalah hari pertama aku menyandang status janda yang berarti hari ini aku bebas dari hubungan suami istri, ku buka mataku, ku kira ini adalah sebuah mimpi tapi ternyata ini adalah sebuah kenyataan yang harus aku alami.
Sedih memang harus hidup sendiri mulai sekarang, tapi ini semua adalah takdir yang harus aku jalani.
Aku beranikan diri untuk pergi ke rumah sakit, dan aku siap dengan omongan orang disekeliling ku. Ku pakai seragam ku dengan penuh harapan agar pagi ku akan lebih indah dan aku akan menemukan kebahagiaan ku.
Ku berjalan ke rumah sakit karena memang letak rumah sakit tak jauh dari kontrakan ku. Saat aku keluar rumah ku lihat Anisa pemilik kontrakan yang masih muda juga harus berstatus janda sama dengan ku sedang bermain dengan anak laki-laki nya ku lihat dia sangat bahagia dengan kehidupannya, itu sebagai motivasi ku, kenapa dia bahagia dengan kesendiriannya dan aku tidak, mulai hari ini aku tak boleh lemah lagi bangkit dan harus bangkit.
"Berangkat bu dokter, ucap Anisa"
"Ia ini mba aku mau berangkat"
"Hati-hati ya, awas loh ketemu pemuda yang tampan di jalan heeee "
"mba bisa aja, aku masih mau sendiri mba gak mau mikirin mencari suami lagi"
"Jangan menutup diri mba, kalau memang ada jodoh yang tiba-tiba datang dan dia baik hati terima aja mba"
"Ah mba bisa saja, aku berangkat kerja dulu ya mba"
"Ia mba"
__ADS_1
Anggun melangkahkan kaki kerumah sakit, dan setibanya dia di rumah sakit, tiba-tiba dia kaget ada perempuan yang sedang kesakitan sedang hamil dan merintih kesakitan dan di sampingnya ada Ari yang mendorong wanita itu. Aku lari langsung mengikuti Ari, siapa tau aku bisa membantunya.
"Ari ada apa, kenapa ini, kok bisa begini"
Karna ku lihat Sindi istri Ari pendarahan begitu hebatnya.
"Ia Anggun istri ku terjatuh terus pendarahan padahal usia kandungan masih 7 bulan"
"Sindi langsung di tangani oleh dokter hendra spesialis kandungan dan Ari menemaninya di ruangan"
Ternyata sindi ke kurangan banyak sekali darah, dan golongan darahnya sama dengan golongan darah ku, aku langsung mendonorkan darah ku dengan sindi, ternyata harus cepat dilakukan tindakan operasi secar karna bayi dalam kandungannya semakin melemah.
Ku lihat Ari sedang berdiri dan bersandar lemas dan baru ku lihat dia meneteskan air mata, aku iba sekali melihatnya..
"Sabar ya Ari, semua akan baik-baik saja"
Tiba-tiba salah seorang perawat keluar dan meminta untuk Ari untuk menandatangani surat, Ku liat Ari begitu berat untuk menandatangani surat tersebut.
"Sabar ya Ari"
"Ia Anggun"
__ADS_1
Sindi di masukkan ke dalam ruangan operasi, ku lihat wajah Ari yang terlihat sangat pucat, dia tak berani untuk ikut dalam operasi istrinya. Aku hanya bisa menenangkannya saja.
Dan tak lama ku dengar suara tangisan bayi.
owek...... owek tangisan bayi.
Ku lihat wajah Ari yang begitu bahagia anaknya telah lahir..
"Anggun itu suara anakku Anggun"
"Ia Ari itu anakmu"
"Ia Ari, selamatnya"
Tak lama kemudian bak di sambar petir, perawat kluar dan mengabarkan bahwa Sindi meninggal dunia.
"Maaf pak, kami hanya bisa menyelamatkan anak dokter saja, dan bu sindi meninggal dunia"
"Tidakkkkkkkkkkkkkkk"
Teriakan Ari..
__ADS_1
bersambung