
owek...... owek, Anisa menangis dengan kencang.
"sayang anak kita menangis"
"Ia coba kamu lihat sayang"
Anggun berlari ke kamar Anisa di sebelah kamar mereka.
"Ada apa sayang kenapa kamu menangis dengan kencang, hari ini kita akan pulang sayang"
Anggun menggendong Anisa, dan memeluknya.
"Tenang ya sayang"
Anggun sangat heran kenapa Anisa, menangis sangat kencang, Anggun menggendong Anisa ke kamar dia.
"Suamiku kenapa Anisa rewel begini ya?"
"Ah biasa sayang anak kecil ya rewel"
"Tapi tidak biasanya dia rewel, menangis seperti ini, jangan-jangan ini pertanda ada apa-apa sayang"
"Ah jangan bilang begitu, itu hanya mitos saja sayang, dia rewel mungkin karna badannya tidak enak, ayo cepat beres-beres kita akan pergi"
"Kamu kok tidak percaya sayang"
"Sudahlah ayo kamu beres-beres, kita mau pulang, Anisa biar mbok saja yang gendong"
Anggun memberikan Anisa pada mbok, dan dia mulai berberes-beres karna waktu liburan sudah usai, dan saatnya frans untuk bekerja kembali di rumah sakit.
Setelah Anggun selesai berberes-beres frans dan semuanya keluar dari hotel itu.
Liburan kali ini sangatlah menyenangkan, kami sangat bahagia sekali, akhirnya kami bisa berlibur dan berharap bulan depan frans bisa mendapat cuti kembali dan kami bisa kembali ke tempat ini.
__ADS_1
Di perjalanan, frans bernyanyi sambil menyetir mobilnya.
"Jalan jalan di akhir pekan lihat ke kiri dan kanan
Pohon pohon dan burung burung semua menyambut riang
Senja tiba tanpa terasa
Kini saatnya kita pulang
Pikiran segar hati jadi riang
Duhai asyiknya
Pergi jauh keluar kota lewati desa desa
Pikiran segar hati jadi riang
Duhai asyiknya
Pohon pohon dan burung burung semua menyambut riang
Pergi jauh keluar kota lewati desa desa
Pikiran segar hati jadi riang
Duhai asyiknya
Pikiran segar hati jadi riang
Duhai asyiknya"
"Sayang kamu hati-hati kalau menyetir, jangan nyanyi terus, lihat jalannya berliku begitu"
__ADS_1
"Ia sayang tenang saja"
Frans tetap mengendarai mobilnya dengan kencang padahal sudah di peringatkan oleh Anggun, Tiba-tiba ada sebuah mobil besar yang mendekati kami dan menabrak mobil kami.
"Sayang, awas mobil itu"
"ia"
Ku pandang wajah suamiku yang terlihat sangat bingung sekali, ada mobil besar, dia mencoba menghindari mobil itu, dan aku di suruh suamiku untuk berpegangan dan memeluk anak kami.
"Sayang pegangan yang kencang, dan jangan lupa peluk Anisa"
"Ia sayang"
Terdengar suara benturan yang sangat keras sekali.
Brakkkk ....... brakkkkk.
Ku lihat samar-samar wajah suamiku yang penuh dengan darah, aku tak kuasa melihatnya, airmataku menetes tak terkira, aku tak tau apa yang harus aku perbuat, tangisan Anisa yang ada di pelukanku membuatku lega akhirnya anakku selamat.
Aku sendiri tak berdaya di dalam mobil, ku panggil lirih frans.
"Mas bangun mas!!!"
Tak ku dengar frans menjawab pertanyaanku.
"Sayang kau tidak apa-apa kan, jangan tinggalkan aku mas, anak kita menangis sayang"
Frans masih saja tak menyaut panggilanku, hatiku hancur sekali, apakah suamiku akan meninggalkanku selamanya.
Kondisiku lemas sekali tak berdaya, semuanya terasa gelap, tapi tangis anakku membuatku harus bertahan hidup, aku melambaikan tangan keluar meminta tolong dengan menggendong Anisa.
"Pak tolong kami"
__ADS_1
Akhirnya ada yang membantu kami...
bersambung