
Hari demi hari sudah ku. lewati sejak kejadian itu, tapi aku harus tetap semangat menggapai masa depan ku, aku tetap harus pergi ke rumah sakit seperti biasanya. Dan aku harus tetap profesional satu kerajaan dengan Ani, sebenarnya hati ku hancur tapi aku tetap harus menjalankan pekerjaan ku dengan baik. Aku harus tetap profesional harus 1 kerjaan dengan selingkuhan suamiku, Dion masih berstatus suamiku meski kami tidak lagi 1 rumah karna kami belum bercerai, pasti tau rasa sakit ini harus 1 kerjaan, tapi ku fikir ini adalah hidup ku yang harus aku jalani dengan tegar.
"Ani ucap Anggun, kenapa bisa kau tidak mengundurkan diri dari sini, apa kau tidak malu, atau rasa bagaimana dengan ku, kadang aku bingung Ani kenapa kau sesama wanita bisa sejahat itu, tapi ya kamu memang tidak punya perasaan ya percuma juga aku berkata-kata"
"Sudahlah Anggun harusnya kamu mundur dan tinggalkan Dion"
"Aku sudah urus perceraian ku, Ani tenang saja. Aku pilih mundur kok lagian tak ada lagi yang harus dipertahankan lagi"
"Ia itu sudah benar ucap Ani"
"Ani untuk yang terakhir ku katakan padamu, jika kamu kelak tidak bisa punya anak maka nasibmu akan sama seperti aku, dicampakkan dan Dion akan cari wanita lain yang bisa kasih dia keturunan"
"Sorry ya aku tidak mandul seperti kamu, aku tidak kotor seperti kamu, laki-laki yang tidur bersama ku hanya Dion saja bukan seperti kamu gonta ganti pasangan"
"Emang susah ya bilang sama cewek seperti kamu, ucap Ani. Aku tak sudi punya asisten perawat seperti kamu"
"Aku juga malas satu lokasi sama kamu"
Anggun memang berniat mengadu ke atasan rumah sakit agar Ani tidak lagi satu ruangan bersama dia.
Anggun melangkahkan kaki keluar dia jengkel sekali sama Ani. Saat dia keluar dia bertemu Ari.
"Anggun teriakan Ari"
Anggun menoleh kebelakang ternyata ada Ari.
__ADS_1
"Ia Ari ada apa"
"Aku dengar isu yang berkembang kau dan Dion ada masalah"
"Ya begitulah kira-kira"
"Ayo kita makan siang bersama sambil ngobrol-ngobrol"
"Yuk lagian habis makan siang aku juga sudah izin akan pergi"
"Pergi kemana Anggun? "
"Mau menenangkan diri, membebaskan diri ini dari segala rasa, ingin sendiri, mandiri sukses dan bebas"
"Ah kamu Anggun pinter sekali berteka-teki"
Anggun memesan makanan yang, Ari hanya bingung memandang Anggun.
"Anggun kamu lapar atau marah"
"Ke 2 nya Ari, ayo cerita biar deritamu berkurang"
"Ari apakah aku tak layak untuk bahagia, sehingga Tuhan uji aku sebegitu beratnya"
"Anggun setiap manusia di pandang sama oleh Tuhan tak ada yang berbeda, aku juga banyak salah tapi bagaimana cara kita memperbaiki hidup kita menjadi lebih baik, aku tau kamu wanita yang tegar dan baik, aku dulu salah sangka padamu, begini saja Anggun, kembali ke cita-cita mu jadi dokter yang bisa membantu orang banyak, kalau kamu memilih sendiri kamu harus semangat, coba ajukan bisa buka klinik di rumahmu jadi meski kau sendiri tapi kau berguna bagi orang lain"
__ADS_1
"Ia Ari trimakasih"
Anggun langsung makan dengan lahapnya karna dia harus ke pengadilan Agama untuk mengajukan perceraiannya.
"Emang kamu mau kemana izin hari ini"
"Aku mau mengajukan perceraian"
"Emang kamu sudah yakin sekali, kamu tak akan menyesal Anggun"
"Aku sudah yakin Ari, tak ada lagi yang harus di pertahankan lagi, sudah tak ada, apalagi aku tidak bisa kasih dia anak"
"Anggun masih banyak cara untuk hamil kamu pasti bisa, ada inseminasi ada bayi tabung"
"Tapi Dion sudah selingkuh Ari"
"Apa tega sekali dia, apa dia tidak ingat dengan janji-janji nya dia dulu padamu"
"Sudahlah dengan begini aku tau dia seperti apa"
"Ya sudah jika ini jalan yang terbaik untukmu, tetap sabar dan kuat jalani semuanya ya"
"Ia Ari terima kasih banyak aku pergi dulu ya"
"ia hati-hati di jalan#'
__ADS_1
Anggun langsung berjalan ke pengadilan agama.
bersambung