
Akhirnya malam pertama ku dengan Dion berjalan lancar, Siang itu Dion menggodaku,
"Sayang nanti malam jadi ya"
"Haaaaa sayang, udah gak sabar"
Maklum saja kami berdua selama dekat Dion tidak pernah menyentuhku apalagi menciumi ku. Di kamar Dion bertanya padaku
"Sayang kamu tau tidak cinta itu apa?” Dion menatap dengan lembut dan perasaan penuh cinta.
Dion memegang tanganku dan memandangku dengan tajam. Keringat dingin ke luar dari dahi Dion dan dia terlihat gerogi sekali.
wajar saja hal ini terjadi karena Dion baru kali ini menyentuh tubuh ku, barangkali karena rasa gugup yang menyelimutinya Dion sampai gemetaran menyentuh tubuhku. Dan Dion berkata padaku.
“Cinta itu kita. Saat diriku menyatakan sanggup menikahimu, dan engkau menerimaku inilah yang disebut cinta. Bukankah defenisi tertinggi dari cinta ialah pernikahan yang dilandasai ikhtiar menyempurnakan separuh agama, saat kita menikah karena Allah, maka kita telah menjelma cinta.”
Dion memegang tanganku dan sebelum kami berhubungan dia berdoa terlebih dahulu, ku rasakan tulus cintanya, dia begitu menghargaiku tak pernah dia menganggap rendah aku meski aku bukanlah seorang perawan lagi.
"Sayang dengan bismillah, bolehkan aku mulai ibadah ini"
__ADS_1
"Ia sayang"
Dion mulai membuka kancing bajuku satu per satu jantungkung berdenyut dengan kencangnya betapa dia menghormatiku, dia membelaiku dengan lembutnya ku rasakan cintanya, Dion membuka bajuku dan ku lihat tangannya begitu gemetar.
"Maaf ya sayang aku gemetaran"
"Ia sayang ucapku"
Dion mulai membelai gunung kembarku dengan mesra dan membelai badanku dengan lembutnya, menikmati semua bagian tubuh ini, aku merasa bahagia sekali, sentuhannya membuatku sangat tenang sekali.
Sampai dia mulai membelai gua ku dan dia berkata.
"Dia menatap wajahku dengan tatapan penuh cinta bukan hanya sekadar nafsu"
"Ia sayang seluruh tubuh ini mulai sekarang halal bagimu"
Dia mulai memasukkan tongkatnya, aku merasakan nikmat yang luar biasa, nikmat yang belum pernah ku rasakan, mungkin kali ini karena ku lakukan penuh dengan cinta dan Dion tidak pernah mencium ku, dia mencium bibirku dengan mesranya, mulailah kami berdua bercinta, menyalurkan rasa cinta kami berdua. Aku merasakan kenikmatan dunia itu, Dion sangat pintar sekali di ranjang, membuatku sangat kelelahan, ranjang ini adalah saksi cinta kita berdua. Sampai aku dan Dion mulai kelelahan.
“Aku dan Dion memaknai kesukaan sebagai kecintaan. Kesukaan hanya berdasar nafsu birahi sedangkan kecintaan berdasar nafsu rohani. Bukankah salah satu landasan cinta itu memuliakan orang yang dicintainya, jadi apakah dengan menjadikan seseorang sebagai kekasih itu sebuah kemuliaan? Tidak, itu sebuah kehinaan yang nyata. Bukankah pacaran mendekatkan diri pada zina, seseorang yang tega mengarahkan diri sendiri dan orang lain pada sesuatu hal yang berpotensi melanggar ketentuan Allah tidak layak disebut pecinta. Berbeda dengan pernikahan, sebab cinta sudah menjadi nafsu menyempurnakan separuh agama, menjadi sebuah sarana mengikat cinta.
__ADS_1
Dion berkata padaku waktu kami selesai bercinta.
"Sayang terimakasih untuk rasa sayang ini, dan terimakasih untuk kenikmatan ini, aku akan menjaga mu selamanya sampai akhir hidup ku"
"Ia sayang terimakasih juga kamu dapat menerimaku apa adanya"
Kami pun berpelukan kembali mengungkapkan rasa cinta kami berdua.
Kami sangat bersyukurlah dengan getaran yang kami rasakan, sebab pada saat itu cinta di antara kita mulai bertumbuh kembang menjadi lebih besar. Ada perasaan campur aduk yang tak bisa dibahasakan dengan kata-kata, tetapi hanya mampu dirasakan dengan jiwa. Bukankah demikian yang seharusnya terjadi dalam cinta, tidak harus diujarkan tetapi mampu dibahasakan oleh seluruh tubuh menjadi getaran-getaran indah? Bukankah menikah diniatkan untuk ibadah, jadi penyesuaian diri sesudah pernikahan Insya Allah juga bernilai ibadah.”
“Benar sekali sayang, jantung Dion terasa berdetak kencang. Malu sebenarnya mengucapkan hal ini, tetapi entahlah bersamaan dengan detak jantung ada getaran lain yang tak mampu aku defenisikan selain sebuah rasa bahagia.”
“Begitulah yang terjadi apabila manusia mampu mendudukkan cinta secara benar, permulaan cinta itu tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, sebab telah nyata seseorang yang dicinta termiliki sebagai karib rumah tangga. Kalau mendudukkan cinta secara salah, permulaan cinta itu dipenuhi angan-angan. Pacaran itu sebuah halusinasi yang paling membahayakan, pikirannya membayangkan segala sesuatu yang indah karena merasa sudah memiliki dan termilki, kenyataannya keduanya belum ada ikatan pernikahan.”
“Terima kasih, Sayang Sepertinya nyamuk sudah mengusik ketenangan kita, bagaimana kalau kita tutup kelambu. Biarlah kita saling menerjemahkan cinta melalui bahasa tubuh, tanpa perlu diucap lewat kalimat namun dapat terasa menghangat.”
Aku tersenyum, setelah itu kami lanjutkan tidur karena kelelahan dan lampu kamar kupadamkan. Kelambu kututup, saatnya menikmati debaran cinta di pelukan Dion yang selama ini selalu kusenyapkan lewat doa. Semoga kami dapat selalu bahagia selamanya, dan semoga Ari tidak menghancurkan kebahagiaan kita berdua.
bersambung
__ADS_1