
Hari ini adalah hari bahagia sahabatku Mira, aku dan Dion akan pergi kerumahnya, ku siapkan baju pesta kesayanganku dan aku akan pergi serapi dan secantik mungkin, karna pastinya semua sahabat kuliahku akan datang ke pernikahan Mira.
Mira adalah sahabat baikku, dia selalu ada untukku dalam senang dan dukaku, sekarang Mira menikah dengan Anto sahabatnya sendiri, dia pernah pacaran dengan orang lain tapi dikhianati jadi dia akan menikah dengan Anto sahabat sejak kecilnya, memang jodoh itu tak seorang pun tau, kita tidak akan tau jodoh kita yang mana, tapi intinya jodoh kita Tuhan yang menentukan.
Aku memakai baju merah baju kesukaanku, Dion ke luar dari kamar dengan batik merahnya, dia terlihat tampan sekali dengan baju merahnya.
"Sayang aku terlihat tampan kan"
"Ya ialah sayang suami sapa dulu jawabku"
"Aku gimana sayang sudah cantik kan"
"Wah kalau istriku mah pasti cantik dan Anggun seanggun wajahnya"
"Emmmm kamu sayang bisa aja"
Seperti biasa Dion sangat pintar sekali merayu Anggun, tiba-tiba Dion mendapatkan telefon dan dia berlari ke belakang rumah, Anggun sangat curiga sekali, dia ingin sekali mendengar percakapan suaminya, dan akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti suaminya, dia bersembunyi di balik pintu untuk mendengarkan pembicaraan suaminya, dia tidak sengaja mendengar percakapan suaminya.. Dion bertelfonan dengan suara yang kurang jelas dan Anggun samar-samar mendengarnya.
"Da apa, kan sudah aku bilang jangan telefon kirim pesan saja, takut Anggun tau"
Anggun semakin curiga mendengar percakapan itu, dia semakin bertanya-tanya Dion berbicara dengan siapa, sehingga dia sembunyi-sembunyi mengangkat telefon.
"Udah dulu ya aku akan pergi sama Anggun, ucap Dion lirih"
Anggun langsung berlari di ruang tamu, agar Dion tidak tau kalau Anggun mendengar percakapan suaminya.
"Sayang sapa yang telefon kok harus kebelakang angkat telefonnya"
"Oh yang telefon ibu tadi"
"Oh gitu ya udah, ucap Anggun"
Anggun tidak mau ribut saja makanya dia tidak tanya banyak-banyak ke Dion.
"Ayo berangkat ucap Anggun"
"Ia ayo"
Akhirnya mereka berangkat bersama, dan masuk ke mobil, Anggun masih terlihat jengkel tapi dia menyembunyikan kejengkelannya pada Dion.
Kami pun sampai di pernikahan Mira, gedungnya sangat mewah sekali banyak sekali hiasan bunganya, dari kejauhan ku lihat Mira sangat cantik sekali bersanding dengan sang suami, ku baca di sudut sana sebuah sajak cinta yang tertulis indah.
Bersama putaran alunan waktu
Teriring langkah kaki terbalut rindu
Teduh senyumu hiasi cinta yang berlabuh
Terpaku, hari yang kunanti telah menunggu
Bersama siang dan malam yang berdekapan
Merangkai lembar selimut kenangan
Terpatri menjawab semua penantian
Terpaku, cintamu menuntunku ke singgasana peraduan
Padamu, yang selalu bersemayam
__ADS_1
Janji suci telah kau ikatkan
Eja namamu telah kugenggam
Mendayung bersama sampan kehidupan
Sajak itu sangat indah sekali, aku dan Dion masuk untuk bersalaman ke Mira.
"Mira selamat ya atas pernikahannya"
"Ia Anggun terimakasih sekali kau mau datang ke pernikahan ku, aku sangat bahagia sekali kau datang, Anggun itu para sahabat kita pada duduk disana"
"Oh ia aku akan kesana"
Anggun melihat ada Ari disana bersama istri cantiknya yang sedang hamil, spontan Dion berkata padaku.
"Sayang tuh Ari dah mau punya anak kita kapan? "
"Sayang sabar ya, jangan bahas ini di tempat ini, jawab Anggun dengan lirih"
"Hay Anggun sapa sahabatku"
"Hay juga nita, bagaimana kabarmu"
"Aku baik juga Anggun, kamu belum hamil Anggun tanya Nita"
"Belum say"
"Wah bisa tanya sama Ari tuh, dia bisa topcer hamil, Ari kan di dr kandungan sekarang"
"Ia aku sudah tau"
Dion mendengar percakapan itu dan terlihat wajahnya yang murung.
"Ia aku sini saja"
"Jangan malu-malu mas, jangan tersinggung ya bercandaan kami tadi"
"Ia aku tidak marah"
Kalau di tanya soal anak memang Anggun sangat sensitif, Ari datang dan berkata.
"Sudah mas Dion nanti juga Anggun hamil, sabar saja"
"Ia Ari sama-sama"
"Soal anak tak usah di fikir ucap Ari"
Tiba-tiba Mira memanggil untuk sesi foto bersama, semua alumni kedokteran maju bersama untuk berfoto, dan Ari tiba-tiba berbisik.
"Anggun sebenarnya aku masih mencintaimu"
Spontan Anggun kaget.
"Jangan aneh-aneh liat Sindi lagi hamil Ari"
"Ia Anggun aku akan belajar mencintainya, tapi di hati kecilku cuma ada kamu saja"
Anggun terdiam dengan perkataan Ari, dan mereka melanjutkan sesi foto kembali.
__ADS_1
Tiba-tiba pembawa acara memanggilku.
"Kepada dokter Anggun agar bisa menyumbangkan suaranya untuk menghibur para tamu, dan Anggun pun bernyanyi sebuah lagu"
Kau pernah menjadi detak
Dalam nadiku, dalam hidupku
Dan kau pun pernah menyelamatkan
Seluruh hidupku
Kau pernah menghujaniku
Dengan butiran air matamu
Tapi kau juga pernah tertawa
Dalam pelukku
Perubahan ini meyakinkan aku
Bahwa tak ada yang abadi
Sejak kau putuskan untuk melepaskan hidup
Kau pernah menjadi terang
Dalam gelapku saat tersesat
Tapi kau juga pernah menyentuh
Rasa sakitku
Perubahan ini meyakinkan aku
Bahwa tak ada yang abadi
Sejak kau putuskan untuk melepaskan hidup
Perubahan ini meyakinkan aku
Bahwa tak ada yang abadi
Sejak kau putuskan untuk melepaskan hidup
Sejak kau putuskan ‘tuk melepaskan hidup
Kepergian itu mengajarkan aku
Bahwa tak ada yang abadi
Sejak kau putuskan untuk melepaskan hidup
Sejak kau putuskan untuk melepaskan hidup
Anggun sangat menghayati lagu itu, dan semua tamu terpana melihat Anggun bernyanyi.
"Wah Anggun sudah dokter yang pintar dan hak menyangka suaranya merdu sekali"
__ADS_1
"Ah kalian bisa saja"
Anggun. sesekali melihat wajah Dion yang masih cemberut.