Kurelakan Keperawananku, Demi Gelar Dokterku

Kurelakan Keperawananku, Demi Gelar Dokterku
menerima cinta Dion


__ADS_3

Ku tatap matanya yang indah, wajahnya yang begitu polos dan menandakan ketulusan, Dion teman SMA ku, tak pernah ku berfikir akan ada lelaki yang menerima ku tulus sepenuh hatinya, sore itu Dion mengungkapkan rasa cintanya padaku, pria yang baik dan tulus, la tak sekaya Ari tapi hati nya luas menerimaku dengan segala masalaluku, wanita mana yang bisa menolak kebaikan pria sebaik Dion, alangkah baiknya dirinya entah terbuat dari apa hatinya.


"Dion bagaimana aku bisa menolakmu, kamu layaknya pangeran berkuda putih yang ku idam-idamkan selama ini, laki-laki yang selalu ku dambakan. Laki-laki dewasa yang membawaku dalam kebaikan. Aku menerimamu jadi pasanganku Dion, trima kasih sudah memilihku jadi pasanganmu"


"Terimakasih Anggun betapa bahagianya aku hari ini bisa memiliki mu, aku bukan mencari wanita yang sempurna tapi aku mencari makmum yang akan menyempurnakan agamaku, setelah kamu lulus kuliah maukah kau jadi istriku. Aku ingin menjadikanmu halal bagiku, dan selalu menjagamu"


Anggun spontan menangis.....


"Ia Dion aku mau menjadi makmum mu, terimakasih sudah hadir dalam hidup ku"


"Ia sama-sama Anggun, kita mencoba menjadi lebih baik"


Mereka berdua terlihat bahagia sekali malam itu meski sebenarnya di hati Anggun masih ada Ari, karna tidak mudah untuk melupakan Ari.


"Sudah terlalu larut Anggun yuk kita pulang, kamu kan 5 bulan ini sudah tidak kuliah lagi, bagaimana kita lanjutkan usaha buat kue yang pernah kita rencanakan dulu"


"Ia Dion aku setuju sekali"


Dion mengantarkan Anggun pulang kerumah, tiba-tiba dijalan Anggun melihat Ari bersama Sindi di mobil berduaan. Dalam hati Anggun terasa sakit sekali, tapi setelah menoleh ke Dion dia lega sekarang ada laki-laki yang tulus bersamanya.


Anggun tiba di rumah.


"Anggun sudah sampai kamu jangan lupa istirahat ya, dan lupakanlah soal hari ini kita tatap masa depan kita"


"Ia Dion trimakasih"


"Jangan panggil Dion panggil mas ya mulai sekarang"


"Ia mas Dion"


Anggun melangkahkan kaki ke dalam rumah kecil, bata merah peninggalan orang tuanya.


Sampai di dalam rumah Anggun beristirahat.


Pagi pun tiba, udara pagi yang sejuk, suara ayam berkokok menandakan pagi tiba. Anggun membuka jendela menatap keluar rumah, banyak yang hilang kemarin tapi Anggun bercita-cita menggapai apa yang telah hilang. Anggun bersiap-siap karna sebentar lagi Dion menjemputnya. Tapi terdengar suara telefon.

__ADS_1


Kringgggg..... kringgggg


Anggun mengambil telefon genggamnya.


"Halo assalamualaikum, siapa ini"


"Apa benar ini dengan Anggun"


"Ia saya Anggun, ada keperluan apa ya menghubungi saya"


"Maaf mba Anggun saya pengacara om Tio, mb Anggun hari ini jam 09.00 harus ke kediaman om Tio"


"Ada apa ya pak"


"Maaf mb ini tentang wasiat dari om Tio, mi wajib ke rumah om Tio"


"Ia pak saya usahakan"


Anggun menutup telfonnya, sebenarnya dia sangat malas sekali pergi ke rumah om Tip, apalagi harus bertemu Ari dan ibunya. Tapi ini karna wasiat om Tio jadi dia harus kesana.


"Mas Dion aku dapat telefon dari pengacara om Tio untuk kerumah om Tio jam 09.00, apakah kamu bisa antar aku mas"


Tak lama Dion langsung membalas.


"Tentu saja sayang, aku akan mengantarmu. Tunggu aku ya"


Tak lama Dion sampai ke rumah Anggun dan mengantarkannya.


"Ayo sayang masuk mobil"


"Ia sayang ucap Anggun"


Anggun terlihat cantik sekali memakai korban crem dengan baju gamis berwarna senada dengan jilbabnya, Anggun terlihat sangat cantik sekali sampai Dion tak henti-hentinya menatapnya.


"Sayang kenapa kamu memandangku begitu, aku jadi malu sekali kalau kau pandangi terus sayang. Ayo berangkat kalau kau pandangi aku terus, mobil ini tak jalan-jalan"

__ADS_1


"Heeeeee ia sayang, habisnya kamu Anggun sekali sesuai dengan namamu"


"Ah kamu bisa saja"


Dion mengemudikan mobil nya ke rumah om Tio. Tak lama mereka sampai karma lokasinya memang tidak jauh dari rumah Anggun, setibanya Anggun ke rumah om Tio Anggun langsung masuk di temani Dion.


Tok...... tok. Anggun mengetuk pintu rumah.


Ada pembantu yang membuka pintu.


"Masuk non, sudah di tunggu"


Anggun masuk ke dalam rumah, sudah ada pengacara, Ari dan ibunya di dalam.


"Sini mb Anggun duduk ucap pengacara"


Tatapan Ari dan ibu nya sangat tajam memandang Anggun dan terdengar ibunya berkata.


"Emmm perempuan sok suci sok-sok am sekarang pakai jilbab tapi sebenarnya cewek menjijikkan"


Anggun mendengar perkataan itu hanya terdiam sementara Dion memegang tangannya menandakan dia mendukungnya. Ari melihat Dion memegang tangan Anggun terlihat sangat marah dan berkata.


"Dion kamu masih mau bekas aku dan ayahku!!!! "


Dion tidak menjawab perkataan itu hanya diam.


"Sudah jangan bertengkar, tujuan saya mengumpulkan kalian semua karna saya akan membacakan wasiat almarhum pak Tio jadi saya harap jangan bertengkar disini"


Mereka spontan langsung diam.


"Begini saya bacakan isi wasiatnya, bahwasannya Ari mendapatkan 35% dari harta bapak dan ibu mendapat 40% harta serta mi Anggun 25% dari harta bapak"


Apa ucap Ari, siapa Anggun kok bisa dapat warisan dasar wanita murahan, kamu apakan ayahku kok bisa ayah bisa menulis seperti itu. Dengan kemarahan Ari mengatakan itu.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2