Kurelakan Keperawananku, Demi Gelar Dokterku

Kurelakan Keperawananku, Demi Gelar Dokterku
pantaskah aku di hina karna miskin


__ADS_3

Hp Anggun tiba-tiba berbunyi.


Kring..... kring, dilihat ponselnya ternyata dari Ari, sebenarnya Anggun malas sekali mengangkat telefon dari Ari, tapi Ari mencoba menelfon Anggun terus menerus. Di lihatlah hp Anggun dan ternyata ada pesan singkat dari Ari.


"Sayang nanti malam kerumahku ya, sekalian takziah biar kamu semakin kenal sama ibuku".


Anggun sangat bingung sekali apakah harus datang atau menolaknya, tapi dia juga tidak enak dengan Ari bila tidak menerima ajakannya.


Sepulang dari rumah sakit yang sudah sore menjelang malam, Anggun membersihkan badannya dan memantapkan diri untuk pergi ke rumah Ari. Dia memakai baju hitam dan jilbab yang berwarna hitam tanda berbela sungkawa atas kepergian Almira. Dia kelihatan sangat cantik menggunakan jilbab. Anggun menyetater motor bututnya.


"tuuttttttttt.......tuuuutttttt".


Walaupun om Tio memberinya banyak uang tapi dia tidak membeli motor yang baru tapi menggunakan uangnya hanya untuk berkuliah saja.


Anggun pergi ke rumah Ari, rumah Ari yang besar, megah bak istana. di gerbang sudah ada 2 satpam yang menjaga rumahnya. Anggun memarkirkan motor bututnya di parkiran rumah Ari, semua mata terpana pada Anggun karma yang datang menggunakan motor butut hanyalah Anggun, terdengar suara orang yang berbisik.


"Ih siapa tu yang datang kok motornya jelek sekali".


Anggun yang mendengar langsung terdiam, serasa pingin pulang malas untuk masuk ke dalam. Tak lama kemudian Ari keluar dari rumahnya untuk menjemput Anggun di luar.


"Sayang ayo masuk, jangan di situ aja".


Seketika orang yang ada di situ kaget Ari memanggil cewek yang bermotor butut itu sayang, Ari memang sayang sekali sama Anggun.

__ADS_1


"Apa cewek itu ternyata pacar Ari, cantik sich orangnya tapi tak se level dengan Ari,"


Perkataan orang yang disana yang membuat Anggun tambah risih sekali mendengarnya.


Anggun masuk ke dalam rumah dengan Ari.


"Mah Anggun datang mah, ucap Ari pada ibunya".


Terlihat sekali ibu Ari tak menyukai Anggun. Anggun kembali mengulurkan tangannya pada ibunya Ari dan ibunya Ari menerima jabatannya dengan setengah hati.


Anggun duduk di pojok rumah Ari, dan sementara Ari meninggalkan Anggun sebentar sendirian karna harus bertemu dengan keluarga lainnya yang ada disana.


"Sayang aku tinggal sebentar ya, aku harus bertemu bude ku disana".


Anggun sendiri di pojok ruangan itu, dan melihat sekelilingnya orang-orang yang kaya dan berpenampilan mewah padahal itu acara orang meninggal, tapi mereka datang dengan penampilan yang luar biasa lengkap dengan perhiasan yang mereka pakai.


Anggun melihat Sindi yang sudah akrab dengan keluarga Ari, Sindi sedang bersama ibunya Ari berbincang-bincang. Tak lama kemudian Om Tio menghampiri Anggun.


"Anggun kamu sendirian disini, kamu kenapa kemari".


"Ari memintaku om, Anggun kamu itu baik tapi kamu takkan mungkin di terima dikeluarga ini, ibunya Ari itu orangnya sombong dan dia lebih suka dengan sindi, apalagi kalau ibunya Ari sampai tau tentang masalalu mu, hidup ku akan lebih berantakan maka jauhi saja Anakku".


"Ia om aku tau posisi ku".

__ADS_1


Tak lama om Tio pergi meninggalkan Anggun karna dia tidak ingin terlihat terlalu dekat dengan Anggun, Takut keburukannya terbongkar.


Ibu nya Ari menghampiri Anggun.


"Hai Anggun ya, kenapa kau kemari".


"Aku hanya ingin bertakziah bu, dan tadi Ari menelfonku untuk datang".


"Oh gitu, Anggun aku peringatkan selagi lagi padamu jangan pernah lagi kau dekati anakku, aku tau kau mendekati anakku karna kau ingin harta kamu, aku tau lah orang-orang miskin seperti kalian mendekati orang kaya seperti kami karna harta, dan mana mungkin kamu bisa kuliah kedokteran kalau kau tidak berbuat salah. uang dari mana kamu buat kuliah kedokteran, kamu jual diri ya. Anggun liat itu Sindi, dia yang pantas jadi menantuku, kami se level, kamu ngerti".


"Ia bu Anggun tau, Anggun tak pantas dengan anak ibu, tapi paling tidak hargai Anggun. Jangan hina Anggun seperti ini".


"Apa kamu, berani-beraninya kamu membantahku, sudah pergi dari sini, tapi jangan pernah kamu beritahukan hal ini pada anakku".


"Ia bu Anggun mengerti".


Anggun keluar dari rumah megah itu sambil menangis dan meratapi kehidupannya.


"Tuhan tidak berhak kah aku hidup bahagia, apakah ini bayaran yang harus aku bayar atas semua dosa-dosaku"


bersambung.


jangan lupa like dan comennya, terimakasih sudah mampir membaca

__ADS_1


__ADS_2