
Robert melirik kearah mobil sport hitam yang sedari tadi tidak ada pergerakan di tepi jalan.
Dari siluet tubuh si pengemudi, Robert bisa menentukan jika dia laki-laki dan seperti nya dia sedang memperhatikan Salia.
Pandangan Robert tertuju pada Salia yang sedang menangis bersama Meina disana.
Saat Robert kembali menoleh, mobil itu sudah melaju meninggalkan tempatnya.
Robert tersenyum menyeringai. Dia menelepon seseorang.
"Halo? Jack.. Hubungkan aku dengan salah satu jalang dari klub mu"
"Iya.. Ini nama nya Sella"
Robert menunggu
"Halo, perlu kehangatan? " suara mendesah yang lembut dari seberang sana.
Robert tersenyum. "Untuk saat ini tidak, sayang.. Aku mau kau mendatangi Aryatama Adiwijaya.. Dia salah satu pelanggan mu kan? "
"Iya, berapa harganya? "
"Mau mu? "
"Akan ku kirim harga nya, kau kirim uang nya, tanpa perantara"
"Baiklah.. Dengan senang hati "
Robert menutup panggilan nya. Michael melirik Robert. Robert yang merasa di perhatikan menoleh juga kearah Michael.
"Apa yang kau rencana kan disaat orang-orang di rumah berduka cita? "
"Tidak ada, aku hanya berusaha melindungi keponakan ku yang cantik " kata Robert dengan pandangan tertuju pada Salia. Michael menoleh kearah Salia.
Michael menautkan alisnya. Dia menarik lengan Robert dan menjauh dari keramaian.
"Apa maksudmu, huh.. Apa ada yang mengincar Meisa? '' tanya Michael.
"Seperti nya begitu.. Kau ingat Hermantyo? "
"Adiwijaya? "
"Iya, tadi anaknya memperhatikan Salia, seperti nya dia tertarik pada putri mu"
Deg
Michael begitu terkejut. "Aku yakin, kematian Ayah juga ada hubungannya dengan itu "
"Bisa jadi, karena ayah yang membunuh Hermantyo. Bisa saja kakaknya, Adi dan anak nya, Aryatama menuntut balas pada kita"
"Kenapa harus Meisa? Yang salah hanya kita bertiga, aku, kau dan ayah"
"Entahlah.. Mungkin saja dia menyukai putrimu"
Michael mengepalkan tangannya.
"Kau telah menghabisi adiknya juga kan, Aryanira"
"Bukan aku yang menghabisi nya, tapi Cecilia "
"Oh, ya sudah lebih baik jaga putrimu"
__ADS_1
Robert berlalu.
Carren dan Darren, putri dan putra nya Robert menyusul sang ayah.
Salia menghela napas panjang. Dia duduk berdampingan dengan Bastian.
"Bastian, kita batalkan saja perjalan ke New York nya ya.. Nanti setelah semuanya selesai, kita pergi kesana"
Bastian tersenyum. Dia membelai lembut kepala Salia. Salia melelapkan kepala nya ke bahu Bastian. Bastian merangkul Salia.
"Semuanya akan baik-baik saja.. Opa mu pasti bahagia disisi-Nya"
"Terimakasih Bastian, kau mau kemari ke rumah keluarga besar ku. Padahal hubungan keluarga kita kurang baik"
"Itu karena aku sayang kamu"
Salia tersenyum geli mendengar ucapan Bastian yang begitu romantis.
"Ehmm"
Salia dan Bastian terperanjat.
Ternyata Marcell. Dia pun duduk diantara Salia dan Bastian.
"Kau ini apa-apaan " gerutu Bastian.
"Kau yang apa-apaan, kenapa kau menggoda kakakku, seperti tidak ada gadis lain saja" gerutu Marcell.
Salia dan Bastian tertawa bersamaan.
"Kau cemburu pada kakakmu sendiri? Seperti tidak ada gadis lain saja" gerutu Bastian.
"Kalian ini bicara apa sih seolah aku tuh gak laku" gerutu Salia.
Bastian dan Marcell tersenyum geli.
"Hei kalian" Carren menghampiri mereka bertiga.
"Ehmm hehe kak Carren" kata Marcell.
Carren duduk di samping Salia.
"Kalian jangan tertawa atau tersenyum disaat keluarga kita dalam keadaan sedih" gerutu Carren.
"Maaf Carren, aku hanya berusaha membuat Salia dan Marcell tidak berlarut dalam kesedihan " kata Bastian.
Carren tersenyum. "Kau memang sepupu yang baik bagi Meisa dan Marcell "
Sepupu?
Coba tebak, siapa Bastian?
♡♥♡♥♡♥♡
Salia duduk di kursi di balkon. Dia menatap taburan bintang di langit. Seseorang menepuk bahu nya.
"Hhh" Salia terhenyak dan menoleh ternyata Robert.
"Ah? Emm Om Robert "
Robert tersenyum ramah. Meskipun menurut Salia dia begitu menakutkan.
__ADS_1
"Boleh Om follow instagram kamu? "
"Ah? Iya, tentu saja, Om"
"Dan.. Boleh Om ngomong sesuatu? "
"Ah?? Emm.. Apa Om? "
"Seseorang sedang mengintai mu"
Deg
Salia terbelalak.
"Dia musuh bisnis Opa mu.. Ya.. Sepertinya dia ingin sesuatu dari mu"
Deg
"Ke.. Kenapa aku? "
"Entahlah.. Mungkin dia tertarik pada mu.. Jadi akan lebih baik jika kamu membatasi aktivitas kamu di sosmed "
"I.. Iya Om"
Robert tersenyum kemudian membelai rambut Salia dengan lembut.
"Aku sudah menganggap mu sebagai putriku sendiri.. Hati-hati lah"
Robert berlalu.
Salia tampak berpikir.
"Seseorang mengintai ku? Kedengarannya begitu menakutkan"
Ponsel nya bergetar. Salia melihat ponsel nya. Tertera nama Grace di layar.
Dia segera mengangkat panggilan nya.
"Halo, Grace? "
"Salia? Kapan kamu ke rumah ku? Aku sudah menunggu mu dari tadi, apa kamu masih di bandara? "
"Ah, tidak.. Aku lupa tidak memberitahumu.. Aku tidak jadi ke New York.. Opa.. Opa.. Meninggal dunia"
"Astaga, Salia.. Maafkan aku.. Aku turut berduka cita.. Semoga Opa mu di terima di sisi-nya"
"Terimakasih, Grace.. Mungkin aku akan ke New York lusa bersama Marc dan Bastian"
"Ah baiklah.. Aku menunggu mu"
"Iya, sampai jumpa"
Salia mengakhiri percakapan mereka. Dia menghela napas berat kemudian memasuki kamar.
Tanpa dia sadari, seorang pria berkaus maroon sedang memperhatikan nya sedari tadi di dekat pohon di bawah.
♡♥♡♥♡♥♡
By
Ucu Irna Marhamah
__ADS_1