
Grace memasuki apartemen nya. Tanpa dia sadari, seorang pria berjas dengan kaca mata hitamnya mengawasi Grace.
Grace membuka jas putihnya kemudian menggantung nya ke gantungan mantel.
Saat berbalik, dia terkejut dengan keberadaan seorang pria berjas yang memakai kacamata hitam duduk di sofa apartemen nya.
"Si.. Siapa kau! " bentak Grace.
Pria yang tak lain adalah Tama itu membuka kacamata nya. Dia menatap tajam Grace.
Grace menautkan alisnya. "Apa maumu! Kenapa kau tiba-tiba berada disini! " bentak Grace.
Tama tersenyum sinis. "Kau tidak tahu siapa aku? Ku pikir kau orang asli Indonesia " kata Tama.
"Aku memang orang asli Indonesia, apa pedulimu! " sentak Grace.
"Seluruh Indonesia pasti tahu aku.. Aku seorang pengusaha terkaya di Indonesia " kata Tama dengan sombongnya.
Pengusaha terkaya? batin Grace.
Adiwijaya
Kata itu sekelebat terlintas di kepalanya.
"Kau seorang pengusaha yang berpendidikan, kenapa masuk apartemen orang tanpa permisi? Kau.. " Grace tidak melanjutkan kata-katanya.
"Pintu nya terbuka" potong Tama.
"Sebenarnya apa tujuan mu kemari? " tanya Grace menyelidik.
"2 bulan lagi sahabatmu akan datang kemari kan? " tanya Tama.
Deg
Grace terbelalak.
Darimana dia tahu, Salia akan kemari? Batin Grace.
"Aku tidak tahu " kata Grace.
"Jangan berbohong, jelas kau tahu, kau kan sahabatnya" kata Tama.
"Sebenarnya kau mau apa? " tanya Grace curiga.
"Bawa Meisalia Michelle Danuarga untukku.. Maka perusahaan ayahmu yang hampir bangkrut itu akan selamat "
Deg
Grace menggeleng.
Bagaimana Tama tahu kalau perusahaan keluarga nya terancam bangkrut?
"Tidak!! Kau tidak bisa menjadikan Salia korban wanita mu!! " bentak Grace kemudian dia menarik lengan Tama untuk segera keluar dari apartemen nya.
"Lepaskan aku!! " Tama mendorong Grace.
"Bawa Salia untuk ku, atau keluarga mu akan menanggung akibatnya! " ancam Tama.
"Jangan bawa keluarga ku! Pergi kau dari sini!! Bukankah kau pria dari keluarga terhormat, kenapa kau bertindak seperti penjahat! " maki Grace.
"Penjahat kau bilang?! " geram Tama.
"Iya, kau mau menjadikan Salia sebagai korban mu yang selanjutnya kan! " bentak Grace.
"Tahu darimana kau berpikir seperti itu! " bentak Tama.
"Bukankah memang itu yang selalu di lakukan pengusaha seperti mu! Melakukan pelepasan dimana-mana dan tidak bertanggung jawab! " bentak Grace.
"Diam!! Kau bisa ku tuntut karena telah mencemarkan nama baik ku! Kau akan semakin melarat Gracia! " bentak Tama.
"Silakan saja! Aku tidak takut! Dasar tidak berguna! " bentak Grace kemudian membanting pintu.
Grace mendengus kesal.
♡♥♡♥♡♥♡
Genita menghampiri Grace. "Kakak, aku di keluarin dari sekolah" gerutu Genita.
__ADS_1
Deg
Grace menatap adik perempuan nya itu. "Apa? Tapi apa kesalahan mu? " tanya Grace.
"Tadi aku berkelahi.. Tapi awalnya mereka yang salah kak.. Aku cuma bela diri" kata Genita.
"Kakak akan ngomong sama kepala sekolahnya " kata Grace.
Namun Genita tetap di keluarkan.
Hari terus berlalu.
Georgeo, ayahnya Grace tidak pergi ke kantor. Grace bertanya pada ayahnya. Kenapa belakangan ini ayahnya kerap kali berada di mansion mereka.
"Perusahaan ayah semakin bangkrut "
Lalu, perekonomian keluarga Grace yang tadinya sangat berkecukupan menjadi bobrok.
Parahnya, ibunya Grace masuk rumah sakit karena penyakit diabetes dan darah tinggi.
Adik Grace sudah di pindahkan ke sekolah lain. Tapi tidak ada sekolah yang menerima siswa yang telah di keluarkan dari sekolah sebelum nya.
Grace benar-benar stress.
Ponselnya bergetar. Grace pun melihat nomor tak bernama di layarnya. Dia pun mengangkat panggilan tersebut.
"Halo? Gracia disini"
"Halo, Grace"
Deg
Grace mengenali suara itu.
"Ma.. Mau apa kau Adiwijaya? "
"Seperti yang ku bilang, aku mau Meisalia.. Kau lupa? Besok dia akan datang ke New York"
Deg
"Kau mau adikmu kembali sekolah kan? Kau mau ayahmu kembali bekerja? Dan ibumu sehat? "
Grace mengepalkan tangannya.
"Arrrghhh Gracy!!! "
Grace terhenyak mendengar teriakan ibunya. Dia segera mematikan panggilnya.
Grace segera menghampiri ibunya.
♡♥♡♥♡♥♡
Grace menangis di depan ruang tunggu. Dokter bilang kaki ibunya harus di amputasi karena diabetes.
Seseorang menepuk bahunya. Perlahan Grace mendongkak.
Ternyata Tama. "Uangnya? Atau kaki ibumu? " tanya Tama.
"Aku bisa membayarnya! Aku khawatir dengan keadaan ibuku!! " teriak Grace.
"Aku bisa mendatangkan dokter yang lebih handal di banding dokter disini dan dirimu.. Tanpa harus amputasi.. " kata Tama.
"Katakan! Ibuku butuh dokter itu " kata Grace sambil mencengkram lengan Tama.
"Bawa Meisalia padaku"
♡♥♡♥♡♥♡
Salia memeluk Grace. "Aku mohon, menginaplah di apartemen ku"
Grace mengangguk.
Malam tiba..
Salia sudah tertidur pulas. Grace menatap wajah Salia dengan lekat.
__ADS_1
"Demi Tuhan.. Aku menyayangi mu.. Kau sahabat terbaikku" gumam Grace menahan getaran suaranya yang menahan tangis.
Grace mendengar suara ketukan sepatu di ruang tengah apartemen. Grace bangkit dari ranjang.
Daun pintu bergerak memutar dan perlahan pintu kamar tersebut terbuka.
Seseorang masuk ternyata Tama. Grace menautkan alisnya.
"Kenapa kau masih disini? " tanya Tama setelah sekian lama berdiri di dekat ranjang.
"Jangan sakiti Salia"
"Aku tidak akan melakukan apapun " jawab Tama.
Grace keluar dari kamar apartemen. Dia mengepalkan tangannya karena tidak bisa menghentikan Tama. Dia membutuhkan Tama untuk keluarga nya.
♡♥♡♥♡♥♡
Salia berlari memeluk Grace.
Salia menceritakan semuanya.
Grace terlihat sedih dan dia pun berusaha menenangkan Salia.
Bahkan Grace ikut menangis. Dia menangis melebihi Salia.
"Apa aku boleh tidur di kamarmu? " tanya Salia.
Grace mengangguk "iya.. Tentu saja.. "
Salia memasuki kamar Grace. Sementara Grace menutup pintu dari luar.
Grace menangis dan terduduk ke lantai lalu bersimpuh. "Maafkan aku.. Salia.. "
Salia menghela napas lega setelah Grace menutup pintu kamar tersebut.
"Apa kau lega? "
Deg
Suara itu. Salia berbalik dan terkejut mendapati Tama sedang duduk di tepi ranjang menghadap kearahnya dengan telanjang dada.
Salia terduduk ke lantai. Dia menggeleng kemudian bangkit dan menggedor pintu kamar.
"Grace!! Buka pintunya!! Grace!!! Tolong!!! Penguntit itu disini!! Grace!!! " Teriak Salia.
Sementara Grace yang berada di luar kamar menggeleng sambil menangis.
"Maaf, Salia.. Maafkan aku"
Salia terus menggedor pintu. Tama tersenyum. Dia beranjak dari ranjang dan menghampiri Salia kemudian mendekapnya dari belakang.
Salia gemetar ketakutan.
"Dia tidak bisa mendengar mu.. Salia" bisik Tama serak di telinga Salia.
"Dia lebih menyayangi keluarganya dibandingkan dengan sahabatnya "
Tama menyentuh payudara Salia. "Kau tahu? Aku hanya ingin dirimu sekali"
Salia meronta. Sekali memang sekali.. Tapi dia akan menyesal seumur hidup.
"Jangan coba-coba!! " teriak Salia.
"Tapi aku mau mencoba nya" kata Tama
"Maafkan aku.. Salia"
♡♥♡♥♡♥♡
By
Ucu Irna Marhamah
__ADS_1