
Jet yang membawa Tama dan Salia telah mendarat di negara romantis itu. Salia dan Tama terbangun.
Mereka pun segera memasuki mobil menuju apartemen yang sudah di pesan Tama di jauh hari.
"Kamu mau sarapan dulu? Atau mau nanti saja sarapan nya? " tanya Tama.
"Aku mau tidur " kata Salia sambil melelapkan tubuhnya sesuai dengan kenyamanan.
Tama pun menutup matanya. Beberapa menit kemudian napas keduanya mulai teratur menandakan mereka sudah berpetualang di dunia mimpi masing-masing.
♡♥♡♥♡♥♡
Perlahan, kedua mata Tama terbuka. Objek yang pertama dia lihat adalah Salia yang berada di dalam pelukan nya. Tama membelai lembut rambut Salia.
Tama bangkit dan berlalu ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, dia kembali dengan setelan jas yang rapi. Dia melihat Salia masih tertidur.
Tama pun memasuki dapur untuk memasak. Salia mencium aroma bumbu yang begitu wangi.
Perlahan, dia membuka matanya dan dia bangkit dari tidurnya. Salia berlalu menuju dapur. Yang dia lihat, adalah Tama memegang wajan dan spatula.
Salia menghampiri nya kemudian mengambil spatula di tangan Tama dan mengambil alih pekerjaan dapur.
"Kalo kamu masih ngantuk, tidur aja" kata Tama.
"Aku gapapa, kamu duduk aja" kata Salia.
Tama pun menurut. Salia memasak telur dadar dan nasi goreng karena bahan makanan nya juga terbatas.
Selesai memasak, Salia menyajikan makanan yang sudah matang tersebut.
"Maaf aku bangun kesiangan" kata Salia pelan sambil menunduk.
Tama tersenyum. "Kenapa sikap mu itu sering berubah-ubah? Kadang kamu jutek, kadang perhatian, kadang dingin kadang hangat"
Salia menatap Tama. "Ku pikir kamu tahu semuanya tentang aku, lagian kamu pernah bilang kan kalo kamu udah memata-matai aku selama 4 tahun? "
Tama menatap Salia. "Mungkin ini salah satu fakta yang terlewatkan"
"Aku bipolar "
Tama terlihat cukup terkejut walau sebelum nya dia sudah menduga itu.
"Kamu mau kemana dengan setelan jas itu? " tanya Salia.
"Aku mau ada urusan sebentar" jawab Tama sambil menyantap makanan nya.
Salia mengerutkan keningnya. Bukankah mereka ke Perancis untuk berbulan madu? Lalu kenapa Tama mau pergi ?
"Makanlah " kata Tama.
"Emm.. Iya" Salia pun memakan makanan nya.
Sunyi
Yang terdengar hanya suara khas ketukan sendok dan garpu dengan piring.
__ADS_1
"Salia"
Salia mendongak menatap Tama. "Kenapa? " tanya Salia.
"Aku lebih suka kau yang seperti ini, gadis yang baik dan peduli seperti yang selama ini aku kenal" kata Tama.
Salia tertunduk. Dia tidak bisa memungkiri kalau sekarang dia adalah istrinya Aryatama yang harus menunaikan kewajibannya dan melaksanakan janji suci yang telah dia ucapkan saat menikah.
"Aku kan istri kamu " kata Salia dengan polosnya tanpa berpikir dulu sama sekali.
Tama terharu mendengar nya. Dia memeluk Salia. Salia terkejut.
"Terimakasih, istriku sayang.. Aku sangat mencintai mu.. Sangat.. Aku tidak peduli meski kau tidak mencintai ku" kata Tama.
Salia terlihat sedih. Apa dia harus mengakui kebesaran hati Tama yang mau mencintai nya meski Tama tahu kalau Salia hanya mencintai Refa.
Tidak!
Tama sudah merenggut semuanya. Hidupnya, kariernya, keperawanan nya dan statusnya dengan paksa dan semuanya menyakitkan. Sangat menyakiti nya.
"Emm.. Tama.. Apa sekarang kamu bisa melepaskan pelukan mu? Rasanya sesak sekali" kata Salia.
"Oh, maaf sayang " kata Tama kemudian melepaskan pelukannya.
Tama bangkit dari duduknya kemudian membenarkan dasinya.
Salia mengalihkan pandangannya karena tidak berniat membantu. Namun Tama tampak kesulitan.
Salia merasa tidak tega. Oh sungguh jiwa dokter nya tidak bisa lepas dari kepribadian nya.
"Aku sering pakein papa dasi.. Karena papa gak pernah rapi kalo pake dasi.. Mama juga jarang pakein papa dasi" kata Salia dengan tatapan kosong meski kedua tangan lentik nya itu masih bergerak.
Tama menggenggam kedua tangan Salia. Dia menatap Salia. Salia juga menatap Tama.
Tama mendekatkan wajahnya kemudian mecium bibir Salia dengan lembut.
Salia terkejut, namun dia tidak menolak dan tidak juga membalas ciuman Tama.
Tama menyesap bagian bawah bibir Salia. Salia merasakan sensasi aneh.
Tama memeluk pinggang Salia. Tiba-tiba, ponsel Salia berdering. Mereka terhenyak dan seketika Tama menghentikan aksinya.
Salia mengambil ponselnya yang berada di atas meja makan. Dia pun duduk kemudian melihat nama Daddy♡ di layar ponsel nya.
Salia melirik Tama yang terlihat salah tingkah. Salia mengangkat panggilan dari ayahnya itu.
"Halo Pa? "
"Sayang? Bagaimana keadaanmu? Kenapa kamu nggak bilang kalo kamu udah nyampe? " tanya Michael dari sebrang sana memberondong berbagai pertanyaan untuk putri tercinta nya.
"Papa, aku baik-baik aja kok, emm.. Maaf ya pa, aku kecapean jadinya ketiduran deh " kata Salia.
"Tapi kamu nyampe dengan selamat kan? Gak terjadi sesuatu kan? "
Salia tersenyum. "Iya Pa, aku gapapa kok" kata Salia.
__ADS_1
Tama menghela napas dalam-dalam kemudian duduk disamping Salia.
"Lalu dimana suami kamu yang alisnya tebal itu? Papa mau bicara" kata Michael.
Salia melirik Tama. Tama memperlihatkan mimik bertanya pada Salia.
Salia memberikan kode bahwa Michael ingin bicara dengan Tama. Tama menganggukkan kepalanya.
"Sayang? Kamu masih disana? "
"Iya pa, ini Tama ada katanya Papa mau ngomong " kata Salia sambil memberikan ponselnya pada Tama.
Tama menerimanya kemudian meletakkan benda pipih itu ke telinganya.
"Hei Aryatama? "
"Iya Pa? " tanya Tama terlihat malas.
"Hei Papa papa, gw bukan bokap lu"
Tama melirik Salia. Salia mengerutkan keningnya. Tama tersenyum kemudian menggeleng.
"Aku mau keluar dulu ya ngomong sama Papa kamu" kata Tama.
Salia mengangguk.
Tama berlalu kemudian berbicara di luar apartemen. "Ada apa Michael? " tanya Tama.
"Dengar baik-baik, jangan sampai kau berpikir untuk menjadikan putriku sebagai budak seks mu hanya karena sekarang dia menjadi istrimu"
Tama tersenyum sinis. "Memangnya kenapa? Itu hak ku, lagian Salia gak keberatan "
"Jangan berbuat laknat pada putriku atau kau akan tahu akibatnya "
Tama tersenyum. "Semalam saat kami sampai, aku meminta hak ku pada Salia. Dia tidak keberatan dan kami bermain sampai pagi, dia begitu kelelahan tapi seperti nya dia menikmati perbuatan ku "
"Bedebah kau!! "
"Itulah sebabnya dia tidak mengabari mu"
"Sialan!! kurang ajar!!! "
Tama tersenyum kemudian mengakhiri panggilan nya.
Terdengar langkah kaki menghampiri nya. Tama berbalik ternyata Salia.
Tama memberikan ponsel milik Salia. Salia menerimanya.
"Aku pergi dulu ya, nanti aku cepet pulang kok" kata Tama kemudian mencium pipi Salia sekejap dan berlalu pergi.
♡♥♡♥♡♥♡
By
__ADS_1
Ucu Irna Marhamah