La'grimas

La'grimas
9


__ADS_3


4 tahun kemudian



Seorang gadis cantik dengan jas putih dan kacamata hitam membawa map kuning di tangannya memasuki lift.



Dia membuka kacamata hitam nya. Terlihat manik hazel menenangkan itu melihat sebuket bunga yang dia bawa. Semuanya tulip berwarna merah.



Sejenak dia menghirup aroma bunga itu. Lift berbunyi tanda dia sudah sampai di lantai yang dia tuju. Dengan langkah gegas namun cukup berkelas, dia memasuki salah satu ruang rawat.



Kreeekk



Dia membuka pintu nya. Seorang pria tua yang terbaring di ranjang menoleh.



"Meisa"



Ya, gadis itu adalah Meisalia.



"Selamat pagi, Opa" Salia duduk di kursi yang sudah tersedia di samping ranjang dimana seorang John Lopard Danuarga terbaring.



"Selamat pagi, sayang "



Salia mencium kening kakek nya. "Salia bawain bunga tulip buat Opa"  Salia memberikan buket itu.



John menerima nya. "Terimakasih.. Tulip merah.. Seperti biasa"



"Tulip merah memiliki arti Cinta , sama seperti Mawar merah "kata Salia.



"Apa kau sudah siap untuk dikirim ke New York? "



Deg



"Iya, aku selalu siap.. Tapi Opa boleh aku bertanya? "



"Tanyakan"



"Kenapa Opa mengirim ku ke luar negeri? Padahal aku mau bekerja disini, di rumah sakit milik Opa"



"Karena kemampuan mu sangat baik, sehingga polisi Amerika sendiri yang meminta mu untuk menjadi dokter otopsi"



Salia terlihat sedih.



"Opa tahu apa yang sedang kamu pikirkan, Meisa.. Opa sudah mempertimbangkan segalanya.. Kamu sama seperti Mike yang memiliki bakat mengoperasi mayat.. Indonesia sudah cukup memiliki banyak generasi baik dan mungkin kau salah satu yang terbaik"



"Baiklah, terimakasih Opa.. Atas semuanya.. Aku sayang Opa" kata Meisa kemudian memeluk John.



"Aku harus bersiap" kata Salia. John mengangguk. Salia tersenyum.



"Sampai jumpa " Salia pun berlalu.



Seorang pria berjas bertopeng berdiri di ambang pintu. Dia tersenyum melihat kepergian Salia. Dia memasuki ruang rawat John.

__ADS_1



John terkejut melihat keberadaan pria asing itu. "Si.. Siapa kau? "



"Ah? Kau lupa? Aku adalah seseorang yang kehilangan adik.. Karena kau menghabisi nya hanya karena ingin menyingkirkan saingan mu.. "



Deg



John sangat terkejut. "Adi.. Adiwijaya"



"Akhirnya kau ingat.. Maaf.. Kau sudah terlalu tua untuk hidup.. Orang yang harus membayar kejahatan mu, adalah.. Michael.. Roberto.. Dan.. Cucu cantik mu.. Meisalia.. " kata Adi sambil mengeluarkan sebuah jarum suntik.



"Tidak! Kau tidak boleh menyakiti Meisa!! Dia tidak tahu apa-apa! "



"Tapi keponakan ku tertarik padanya.. Mungkin dia akan menjadikan dokter cantik itu sebagai salah satu koleksi jalang nya " kata Adi sambil menyuntikkan cairan merah ke lengan John.



"Nikmati kematian mu.. Danuarga " kata Adi kemudian berlalu.



John merasakan tubuh nya terbakar dan dia pun berteriak minta tolong. Namun tidak ada yang datang.



♡♥♡♥♡♥♡



Salia membawa data-data nya di kumpulan berkas kepegawaian rumah sakit.



"Hai"



Salia menoleh ternyata Megan yang juga memakai jas putih seperti nya.




"Iya, aku harus pergi.. Terimakasih sudah menjadi rekanku selama ini, Megan " kata Salia sambil memeluk Megan.



Megan membalas pelukan Salia. "Terimakasih juga, Meisa"



"Baiklah, sampai jumpa.. Jangan lupa hubungi aku yaa.. Jangan telat makan dan jangan cari laki-laki nakal yaa" kata Megan.



Salia tertawa. "Iya, Megan .. Bye" Salia pun berlalu. Dia keluar dari rumah sakit menuju mobil putih nya.



Tanpa dia sadari, seorang pria berjas hitam dengan kacamata hitam pula memperhatikan nya dari dalam mobil hitam yang terparkir beberapa meter dari mobil nya.



Tatapan pria itu tidak lepas dari Salia.



Salia melajukan mobilnya menjauhi rumah sakit tersebut.



Pria itu mengikuti Salia. "Selama 4 tahun ini aku memperhatikan mu, kau tidak buruk juga.. Kau membuat ku tertarik "



Pria itu melepaskan kacamata nya. Manik abu-abunya terlihat begitu mempesona.



Siapa lagi kalau bukan Aryatama Arbano Adiwijaya putra dari mantan pengusaha sukses Hermantyo Brama Adiwijaya.



Meskipun Hermantyo sudah tiada, perusahaan turun temurun Adiwijaya di kuasai oleh Aryatama.


__ADS_1


Sementara itu, Aditya Sukma Adiwijaya kakak dari Hermantyo mendukung keponakannya itu dari belakang.



Mobil Salia terhenti di bandara. Dia keluar dari mobil dan menghubungi seseorang melalui ponsel nya.



Mobil Tama di parkir di parkiran umum. Dia memperhatikan Salia dari jauh.



"Dia menunggu siapa? " gumam Tama.



Sebuah mobil sport biru terhenti di depan Salia.



2 orang pria tampan keluar dari mobil tersebut.



"Marcell, Bastian.. Kalian darimana saja? Padahal aku nungguin kalian di rumah sakit tadi.. Tapi kalian malah minta ketemuan di bandara" gerutu Salia.



Pria berambut kriting terkekeh. "Maaf, Meisa.. Adikmu ini tadi bertemu kekasih nya, jika dia tidak berhenti, bagaimana riwayat hubungan nya " kata Bastian.



Salia tertawa. Sementara Marcell terlihat kesal.



"Kakak mau ke Amerika sekarang? " tanya Marcell.



"Iya, Oma udah beliin kakak tiket " jawab Salia.



"Tunggu, ada telepon" kata Bastian sambil mengangkat panggilan nya. Dia melenggang pergi menjauh untuk membuat jarak antara mereka bertiga.



"Padahal lusa aku juga pergi ke New York, kenapa kita tidak pergi bersama? " gerutu Marcell.



"Karena aku mau membereskan apartemen baru ku nanti nya " jawab Salia.



"Kakak tidak akan tinggal di mansion kita? "



"Enggak, kakak mau mandiri"



"Ah, kakak pasti mau move on dari kak Refaldo" batin Marcell.



Bastian selesai menelepon. Dia menghampiri Marcell dan Salia.



"Ada kabar buruk.. Tn. Besar Danuarga.. Meninggal dunia" kata Bastian.



Deg



Salia dan Marcell terbelalak.



"Opa.. "



♡♥♡♥♡♥♡





By


__ADS_1


Ucu Irna Marhamah


__ADS_2