La'grimas

La'grimas
28


__ADS_3


Michael mendapatkan telepon dari pengacara lama nya.



"Ada apa Charlie? Aku sedang sibuk"



"Maaf Pak, tapi putri anda ingin mengajukan persidangan lama yang ditutup untuk di buka kembali "



"Meisa? Hmm.. Aku pasti akan bertemu Aryatama.. Baiklah, aku akan segera ke persidangan "



♡♥♡♥♡♥♡



Refa memperlihatkan bukti-bukti pada Salia. Salia mengangguk-angguk mengerti.



"Sebenarnya, berapa tahun usia Aryani saat dia di bunuh? "



"Usianya 8 tahun"



Deg



"Pantas saja, Aryatama begitu dendam pada Papa dan keluarga kami.. Jadi.. Adiknya masih sangatlah muda.. "



"Baiklah, Refa.. Ayo kita pergi"



Refa mengangguk.



Di persidangan



"Dimana terpidana yang di tuduh membunuh Nn. Aryani? "



"Saya disini, yang mulia" kata Michael. "Dan saya sebagai pembela Tn. Danuarga" kata Charlie yang duduk berdampingan dengan Michael.



Meina terlihat cemas. Dia selalu berdoa dalam hati untuk kemenangan persidangan ini.



"Dan saya polisi yang membawa bukti-bukti yang menguatkan kalau Tn. Michael sama sekali tidak bersalah " kata Refa. Dia duduk berdampingan dengan Salia.



"Lalu dimana yang mengajukan kasus ini? "



Para juri berbisik. Mereka saling memberikan pendapat.



"Kemana Aryatama? Padahal aku sudah mengundang nya kemarin untuk persidangan ini" gerutu Refa.



Salia terlihat berpikir.



"Apa mungkin Aryatama tidak akan datang? "



"Saya disini, yang mulia"



Semua pandangan tertuju pada seseorang berpakaian casual. Itu Aryatama dengan kedua pengacaranya. Dan Adi pamannya.



Pengacara yang satu bernama Alex dan yang satunya lagi bernama Daniel. Mereka memasuki ruang persidangan.

__ADS_1



Salia melihat  Aryatama yang menatap nya penuh misteri. Salia segera mengalihkan pandangannya karena dengan dia menatap Tama, dia malah mengingat kejadian buruk itu lagi.



"Aku yakin, Salia ingin mengajukan kasus kami.. Dia ingin aku bertanggung jawab atas perbuatanku.. Uh senangnya.. Dengan senang hati aku akan bertanggung jawab "



"Silakan, Tn. Adiwijaya untuk duduk dikursi sebelah sana" kata hakim.



"Silakan Tn. Charlie selaku saksi dari tertuduh untuk menyampaikan kesaksian nya " kata hakim.



Charlie pun bangkit dan berdiri di mimbar kesaksian. Dia mulai berbicara.



"Ini kasus yang cukup lama dan saya ingin mengajukan kembali sidang yang dianggap tidak adil ini. Tn. Adiwijaya dengan bukti tidak jelas nya menuduh Tn. Danuarga sebagai seorang pembunuh yang telah membunuh adiknya... "



Tama mengerutkan dahinya. "Ini kan kasus yang sudah lama berlalu.. Kenapa di ungkit-ungkit lagi? Ku kira mereka mengajukan kasus tentang Salia"



".. Dengan kesaksian Tn. Refaldo selaku polisi yang baru-baru ini melakukan penyelidikan bahwa yang membunuh Nn. Aryani adalah Nn. Cecillia, adiknya Tn. Danuarga"



Deg



Michael yang tidak tahu kalau mereka tahu pembunuhnya tampak terkejut mendengar nya. Dia melirik kearah Salia dan Refa.



"Kalian tidak bilang kalau kalian tahu.. " bisiknya.



Refa dan Salia saling pandang kemudian mengendikkan bahu mereka berbarengan.



"Jadi pembunuh yang sebenarnya adalah Nn. Cecillia"




"Ya? Silakan " kata Hakim.



"Bukti yang di dapatkan team otopsi kami membuktikan ada DNA Tn. Danuarga di pergelangan tangan korban, selain itu, Nn. Aryani sering membahas tentang Tn. Danuarga sebelum meninggal " kata Daniel.



"Izin berbicara, yang mulia" kata Refa.



"Ya, silakan "



"Saya membawa bukti-bukti yang memberatkan penuduh, dokumen-dokumen penting nya "



Kedua pengacara Tama mengerutkan dahinya.



Hakim dan penyelidik memeriksa dokumen-dokumen serta barang-barang bukti yang di bawa Refa.



"Izin berbicara yang mulia, tapi berkas-berkas itu bisa saja di palsukan karena cukup lama terjadinya pembunuhan itu " kata Alex.



Refa tersenyum sinis. "Tapi saya membawa saksi yang tidak akan bisa di palsukan.. Dia tersangka nya.. Ya, saya membawa tersangka sesungguhnya "



Deg



Michael mengerutkan dahinya.


__ADS_1


Terdengar langkah kaki memasuki ruang persidangan.



Semua mata tertuju kesana. Mereka melihat  seorang wanita dengan di kawal 2 orang perawat memasuki ruang persidangan.



"Cecil" gumam Meina.



Cecil menatap Meina dengan tajam. Salia tidak mengira dengan pembelaan Refa yang mati-matian.



"Silakan Nn. Cecil.. Katakan yang sebenarnya " kata Hakim.



Cecil mengepalkan tangannya. Dia berjalan ke samping Refa.



"Iya, saya yang telah membunuh anak kecil itu "



Para juri berbisik-bisik. Mereka tidak mengira semua itu benar-benar diluar dugaan mereka.



Hakim mengetuk-ngetuk palu nya. "Hadirin harap tenang "



Sunyi.



"Kenapa anda mau membunuh anak kecil yang tidak berdosa itu? " Hakim bertanya pada Cecillia.



"Perusahaan Adiwijaya menyaingi perusahaan Danuarga, tidak ada pilihan lain, jika gadis kecil si pewaris itu mati, maka seluruh perusahaan nya akan jadi milik pria itu dan dia tidak akan mampu mengurus semuanya..." kata Cecillia sambil menunjuk Aryatama.



Tama mengepalkan tangannya. Adi menggenggam tangan Tama. Tama menatap Adi. Adi menggeleng.



"...Jika perusahaan Danuarga tidak ada saingannya, maka aku dan Michael tidak akan menjadi penerus perusahaan itu karena aku dan Michael ingin menjadi seorang dokter, bukan pengusaha.. "



"Lalu, apa Tn. Michael terlibat dalam pembunuhan itu?" tanya Hakim.



Cecillia menatap Michael dengan penuh luka. Cecillia menggeleng.



"Tidak, dia tidak ada hubungannya dengan pembunuhan itu " kata Cecil.



Aryatama menggebrak meja dengan cukup keras. Semua pandangan tertuju pada Tama.



Adi berusaha menenangkan Tama.



Cecil tersenyum sinis. Dia mengambil pistol di sabuk Refa kemudian menodongkan nya ke kepala hakim. Refa kalah cepat.



"Jangan bergerak, atau ku pecahkan kepala tua bangka ini "



♡♥♡♥♡♥♡





By




Ucu Irna Marhamah

__ADS_1


__ADS_2