La'grimas

La'grimas
27


__ADS_3


Salia sudah di perbolehkan pulang. Saat ini dia sedang duduk santai di balkon kamarnya. Menikmati sore yang cerah.



Sesekali dia tersenyum melihat burung-burung yang bertengger di dahan pohon cemara di depan balkon kamar nya.



Terdengar suara pertengkaran di luar mansion. Dia terkejut dan segera turun melihat  situasi. Ternyata Refa sedang bertengkar dengan para penjaga.



"Meisa, aku hanya ingin menjengukmu, tapi para pengawal ayahmu melarangku bertemu dengan mu"



Salia mendekat, tapi di halangi oleh 2 orang bodyguard.



"Kenapa kalian menghalangi ku? Dia hanya sahabatku, bukan musuhku" kata Salia kesal.



"Maaf, Nn. Tapi Tn. Besar melarang siapapun menemui anda meski itu perempuan, apalagi laki-laki "



Salia mendengus kesal. "Baiklah, lain kali saja Refa"



Refa menghela napas berat. Salia kembali ke kamarnya. Dia sangat bosan seharian di mansion. Tidak ada teman. Megan juga tidak bisa bertemu dengan Salia meski para bodyguard tahu kalau Megan adalah sepupu Salia.



"Ah kenapa Papa jadi over protektif gini" gerutu Salia.



Dia menghubungi Refa melalui ponselnya.



"Refa? Kita emang gak bisa ketemu secara langsung, tapi kalo kamu emang ada yang mau di omongin, omongin aja sekarang "



"Iya, Meisa.. Aryatama itu seorang pengusaha sukses yang memiliki banyak perusahaan dari mendiang ayahnya. Sebagai seorang pengusaha, dia memiliki banyak saingan.. Salah satu nya ayahmu dan Tn. Roberto.. Kejadiannya pada 11 Juni tahun 2002 lalu.. Adiknya yang bernama Aryani meninggal diduga kasus pembunuhan.. Dan Tn. Michael yang menjadi tersangka karena pada saat itu, dialah saingan besar perusahaan Adiwijaya milik Aryatama.. "



Deg



Salia tahu ayahnya memang seorang psikopat yang bisa saja membunuh siapapun. Tapi dia tidak percaya jika ayahnya tega membunuh seorang gadis tanpa sebab.



".. Namun pengacara Tn. Michael menyangkalnya. Dia bilang waktu kejadian adiknya tewas, Tn. Michael sedang merawat mu yang memiliki riwayat penyakit asma turunan.. "



Salia ingat itu. Usianya baru 2 tahun. Neneknya pernah menceritakan penuduhan itu. Tapi neneknya tidak mengatakan kasus ini.



".. Jadi seseorang yang telah membunuh Aryani itu bukan ayahmu, sampai sekarang belum di temukan pembunuhnya. Namun Aryatama masih menuduh ayahmu sampai saat ini.. "



Salia terlihat kecewa. "Kenapa harus ayahku yang di tuduh? Kenapa waktu itu polisi tidak bisa membuktikan kalau ayah ku tidak bersalah"



".. Dan aku sudah menyelidikinya, aku tahu siapa pembunuhnya"



Deg

__ADS_1



"Siapa? Katakan "



".. Cecillia Danuarga, bibi mu"



Deg



"Dia kan gila? Dia kan sedang ada di rumah sakit jiwa saat itu " kata Salia.



"Dan tampaknya, rumah sakit jiwa itu membiarkan Cecilia berkeliaran bebas karena mereka mungkin dibayar untuk itu "



"Kurasa kita harus mengajukan ini ke pengadilan, ayahku tidak bersalah.. Dengan begitu, Aryatama tidak akan balas dendam lagi pada keluarga ku.. "



"Ku pikir kau akan mengajukan kasus mu sendiri yang di lecehkan oleh dia, dengan begitu, dia akan masuk penjara dan mendapatkan hukuman yang setimpal"



Salia tampak berpikir. "Itu tidak perlu.. Yang penting keluargaku, tapi.. Mau bagaimana kita ke persidangan jika aku saja di sekap di mansion ku sendiri oleh ayahku"



"Bagaimana kalau kita kabur saja, lewat belakang? "



"Iya, tapi... "



"Nn. Meisa"




Salia terkejut belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya , seorang bodyguard mengetuk pintu kamar nya sambil memanggil namanya.



"Sebentar, Refa"



"Ada apa Roger? " Salia membuka pintu kamar nya. Bodyguard bernama Roger itu memberikan sebuket bunga tulip merah yang masih sangat segar.



"Dari siapa ini? "



"Ini untuk Nn. Dari seorang pengirim"



"Emm.. Terimakasih Roger, kau bisa kembali "



Roger membungkukkan badannya kemudian berlalu.



Salia membaca note yang tertera disana.



Bunga yang segar bukan? Aku memetiknya dari taman di mansion ku, sebenarnya pelayan ku yang melakukan nya hehe.. Semoga kau suka tulip merah ini.. Karena aku juga menyukainya


__ADS_1


Lágrimas



Salia mengerutkan dahinya. Namun dia tersenyum mendapatkan bunga kesukaannya itu. Sungguh romantis.



"Refa? Kau masih disana? " tanya Salia sambil mengarahkan ponselnya ke telinga.



"Iya, aku masih disini "



"Apa kau mengirimkan sebuket tulip untuk ku? "



"Tulip? Tidak.. Bunga nya masih ada pada tangan ku.. Tadinya akan ku berikan langsung padamu waktu aku mengunjungi mu"



Deg



"Lalu, tulip ini.. Apa kau juga yang mengirimkan sebuket bunga tulip merah di rumah sakit waktu itu? "



"Seperti yang kau ketahui.. Aku memberimu tulip secara langsung kan? "



Salia masih terlihat bingung. Jadi selama ini yang mengirimnya sebuket bunga tulip itu bukan Refa. Jangan-jangan...



˝Salia? Apa kau masih disana? "



"Ah? Iya, Refa.. Kurasa kita harus ke persidangan besok.. Ini penting.. Aku akan menghubungi pengacara Charlie.. Dia akan membela ayahku di depan hakim"



"Iya, aku akan datang sebagai saksi dan membawa bukti.. Termasuk saksi mata "



"Terimakasih, Refa"



"Iya, sampai jumpa besok"



"Sampai jumpa "



Salia menatap sebuket bunga tulip di tangannya itu. Dia menghela napas dalam-dalam.



"Bunga yang Indah... Aryatama.. "



♡♥♡♥♡♥♡





By


__ADS_1


Ucu Irna Marhamah


__ADS_2