
Meisalia*
Aku tidak mengerti kenapa Tama memilih meja yang sudah ada orang nya.
Dan yang lebih parahnya lagi, wanita itu malah beradu pipi dengan suamiku.
Menyebalkan sekali.
Aku terkejut melihat keberadaan Renata yang duduk di samping wanita berpakaian kekurangan bahan itu.
Kemudian Renata berkata "Bersiaplah, Salia.. Rumah tangga mu akan menghadapi guncangan"
Sejenak aku berpikir.
Guncangan?
Tama sudah berjanji untuk bertanggung jawab menjadi suami dan ayah yang baik bagi ku dan anak-anakku nanti.
Aku yakin, Tama tidak akan mengingkari janjinya.
"Bagaimana kabarmu Bano? " tanya wanita itu pada Tama.
Bano? Apa itu panggilan sayang nya untuk Tama?
Ck
"Aku baik, oh ya ini istriku, Meisalia Michelle Adiwijaya" kata Tama sambil merangkul pinggang ku.
Wanita itu tersenyum ramah padaku dia mengulurkan tangannya padaku. Aku menerima uluran tangannya.
"Melani Indira Permatasari" kata dia wanita bernama Melani itu.
"Meisalia Adiwijaya" kataku menekan kata Adiwijaya. Ku lihat Tama tersenyum.
"Ah iya.. " kata Mela. Renata yang duduk di samping Mela tertawa.
Aku menatap dia kesal. "Kenapa kau tertawa? " batin ku.
"Kau terlihat begitu cemburu, Salia.. Kau lihat wanita di samping ku begitu cantik, lembut dan.. Ya panas sekali.. " kata Renata dengan gaya meniru Mela.
"Sebenarnya kau itu di pihak siapa? " batin ku menggerutu.
"Aku di pihakmu adikku sayang " kata Renata sambil memainkan rambut Mela.
Mela terlihat terganggu. Dia menyentuh rambutnya.
"Jangan ganggu dia, nanti kamu ketahuan " batinku.
"Aku udah bilang, cuma kamu yang bisa liat aku" kata Renata sambil melipat kaki kanannya diatas kaki kirinya.
"Oh ya, makasih kalian udah mau kesini nemuin aku.. Aku seneng banget.. " kata Mela.
Aku mengerutkan keningku. Mau kesini? Tama tidak bilang padaku, apa mungkin Tama dan Mela berhubungan tanpa sepengetahuan ku?
__ADS_1
Seperti nya aku harus menarik kata-kata ku. Bagaimana jika Tama mengingkari janjinya pada ku?
"Emm.. Iya.. Aku kemari dengan istriku karena mu" jawab Tama.
Apa?
Karena wanita itu?
Demi dia, Tama mengganggu mimpi indahku untuk menemui dia?
"Terimakasih, istrimu cantik sekali.. Ku dengar dia Putri sulung dr. Michael Danuarga" kata Mela.
Aku melirik Tama. Dia menatap ku. "Iya, cantik sekali.. Sampai-sampai aku gila karena nya.. " kata Tama dengan tatapan begitu dalam menenggelamkan mataku.
Ku lihat melalui sudut mataku, ekspresi Mela sendu.
"Iya, aku bisa melihat nya " kata Mela sambil tersenyum ceria.
Uh, pandai sekali dia menyembunyikan kesedihan.
"Dan.. Saat ini, istriku sedang mengandung anak kami.. Anak kembar kami" kata Tama sambil menyentuh perutku.
Ku lihat Mela terbelalak. "Emm.. Be.. Benarkah? Oh aku turut bahagia untuk kalian" katanya.
Jelas terlihat dia menahan bendungan air mata nya yang bisa saja lolos membasahi pipinya.
Oh.. Aku tidak tega melihat nya.
Tama mendekati nya. "Kenapa? " tanya Tama.
Aku kesal sekali melihat Tama begitu memperhatikan Mela.
"Ah tidak apa-apa.. Aku sudah terbiasa dengan satu ginjal ku" jawab Mela.
Apa? Wanita itu hidup dengan satu ginjal?
Aku menatap Tama meminta penjelasan nya.
Seperti nya Tama membaca ekspresi ku. "Mela mendonorkan ginjalnya padaku.. Saat itu hidupku di ambang kematian karena gagal ginjal dan aku satu-satunya penerus keluarga Adiwijaya.. Mela rela mendonorkan satu ginjal nya untuk ku" kata Tama.
Aku shock mendengar nya..
Kenapa aku baru tahu?
Kenapa Tama tidak bilang?
Aku jadi kasihan pada wanita itu..
Orang yang hidup dengan satu ginjal tidak akan bisa hidup normal dan ya, bahkan banyak para pendonor ginjal yang meninggal karena ia hanya bisa bertahan hidup menggunakan satu ginjal.
Kalian lupa, aku ini dokter..
__ADS_1
"Emm.. Apa kamu sering cek ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan satu ginjal mu itu? " tanya ku.
"Emm.. Iya.. Tentu saja" jawab nya.
"Jika kamu butuh bantuan, kamu hubungi saya saja, saya bisa merawat ginjalmu yang tinggal satu itu " kata ku.
Mela tampak terkejut.
"Oh iya, aku lupa tidak memberitahu mu kalau Salia ini seorang dokter kesehatan.. Dia dulu bekerja di Kepolisian Amerika sebagai dokter ahli otopsi " kata Tama.
"Be.. Benarkah? Wah.. Bano kau begitu beruntung memiliki seorang wanita yang sempurna " kata Mela sambil menatap sungkan padaku.
"Jangan bilang begitu.. Aku melakukan nya karena aku Putri seorang dokter jadi.. Aku terbiasa dengan ilmu kedokteran yang sering ayahku ajarkan " kata ku merendah.
Mela tersenyum.
"Baiklah.. Ini sudah malam.. Kami harus pulang.. Salia harus menjaga kesehatan janinnya" kata Tama.
♡♥♡♥♡♥♡
Selama di perjalanan, kami terdiam. Aku ingin sekali mengatakan dan memberondong suami ter-sialan ini berbagai jenis pertanyaan.
Namun itu malah membuat ku terlihat cemburu kali ya?
"Kamu ingin bilang sesuatu? " tanya Tama seolah bisa membaca pikiran ku.
Ku dengar Renata yang duduk di kursi belakang tertawa. Aku menoleh kearahnya.
"Katakan semuanya, Salia bahwa kau cemburu padanya" ledek Renata.
Ya, dia sudah berjanji untuk tidak akan berada di dalam tubuhku lagi selama aku tidak dalam keadaan bahaya.
Lagian selama ini sebelum aku menyadari keberadaan nya, dia jarang berada di tubuhku. Dia berada di tubuhku apabila ada bahaya mengintai ku.
"Salia? Kamu mau bilang sesuatu? " tanya Tama mengejutkan lamunan ku.
"Ah? Iya, emm.. Itu.. Tadi wanita itu siapa? " tanya ku agak ragu. Namun ku lihat Tama tersenyum sesaat mendengar pertanyaan ku itu. Dia pikir pertanyaan ku itu lucu apa?
"Dia temanku" jawab Tama..
"Teman? Baik sekali temanmu itu mendonorkan ginjalnya untuk mu" kataku agak sarkas.
"Dia pernah menjadi kekasihku "
Sesuai dugaan ku.
"Apa.. Kau pernah memakainya?"
♡♥♡♥♡♥♡
By
Ucu Irna Marhamah
__ADS_1