
Tiba-tiba Renata muncul di belakang Yoona dan berkata :
"Salia.. Dia bukan manusia.. Dia.. Dia.. "
Salia mengerutkan keningnya. Dia menatap Renata yang memperhatikan tubuh Yoona.
"Dok? " Yoona memanggil Salia. Seketika Salia berpaling dari Renata dan menatap Yoona.
"Iya dok? " tanya Salia.
"Ah kenapa melamun.. Mari kita bisa mengelilingi rumah sakit ini, biar aku yang menemanimu" kata Yoona.
"Ah, baiklah terimakasih " kata Salia.
Mereka pun berjalan beriringan mengelilingi koridor rumah sakit. Yoona menjelaskan setiap peraturan dan setiap ruangan yang ada di rumah sakit tersebut.
Salia mendengarkannya. Namun di sisi lain, Salia juga masih memikirkan ucapan Renata yang mengatakan kalau Yoona bukan manusia.
Apa mungkin Renata bercanda?
Tapi Renata tidak pernah bercanda.
"Renata? Apa kau di sekitar sini ?" batin Salia.
Yoona menoleh kearah Salia. Dia tampak bingung.
"Renata? Ah seperti nya dia tidak ada di sini" dalam hati Salia memanggil nama Renata.
"Emm.. Apa kau baik-baik saja? " tanya Yoona.
Salia menatap Yoona kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Yoona tersenyum hangat.
Tiba-tiba mereka berdua berpapasan dengan Ryuuga.
Yoona dan Ryuuga saling menatap cukup lama. Salia melirik Ryuuga dan Yoona bergantian.
Yoona memilih memutuskan kontak mata antara mereka dengan mengalihkan pandangannya.
"Oh hai, Ny. Adiwijaya kita bertemu lagi" kata Ryuuga mengalihkan pandangannya dari Yoona.
Salia tersenyum. "Iya "
"Oh ya kenalkan, dokter cantik ini dokter baru disini seorang ahli otopsi " kata Ryuuga pada Yoona.
"Kami sudah berkenalan Tn. Immamura" kata Yoona dengan tatapan dingin pada Ryuuga.
Salia menangkap itu dan dia tampak bingung dengan sikap kedua orang di depan nya.
"Ah dan ya, Ny. Adiwijaya, dokter muda ini bernama Yoona Lee.. " kata Ryuuga.
Salia mengangguk.
"Emm.. Maaf Tn. Immamura, kami sedang berbicara penting, permisi" kata Yoona sambil merangkul Salia dan meninggalkan Ryuuga yang tersenyum sinis.
Salia semakin bingung dengan Yoona yang menurutnya agak kurang sopan meninggalkan pemilik rumah sakit begitu saja.
"Emm.. Ada apa dokter Yoona? " tanya Salia kebingungan.
"Ah tidak.. " jawab Yoona.
"Emm.. Dokter Yoona menghindari Tn. Immamura?" tanya Salia.
__ADS_1
Yoona mengangguk pelan.
"Emm.. Maaf.. Kalau boleh tahu, kenapa? " tanya Salia.
"Sebenarnya.. Dia mantan kekasih ku"
Deg
Patas saja Salia bisa melihat Cinta dimata Ryuuga untuk Yoona berbanding terbalik dengan Yoona yang menatap Ryuuga penuh kekesalan.
Yoona menatap Salia. "Maaf.. Aku malah bicara yang tidak -tidak ya" kata Yoona.
"Ah tidak, jika ingin mengatakan sesuatu katakan saja, jangan sungkan" kata Salia sambil tersenyum hangat.
"Terimakasih dokter Salia" kata Yoona.
Salia tersenyum lembut. "Seperti nya dokter Yoona tertekan.. Tapi apa mungkin ada hubungannya dengan Tn. Ryuuga? " batin Salia.
Tiba-tiba Renata muncul lagi dan berkata :
"Salia hati-hati jangan berpikiran buruk.. Makhluk itu bisa membaca pikiran mu.. Kau tidak perlu menjawab ku"
Deg
Salia mengalihkan pandangannya. Dia berusaha tidak berpikir apapun tentang Yoona yang kata Renata bisa membaca pikiran nya.
"Dia bukan manusia.. Dia.. Dia apa ya.. Dia sejenis siluman kalo di Indonesia di sebutnya begitu.. Lebih baik kau menjauhi nya " kata Renata.
Salia tampak diam. Dia berusaha tidak berpikir sedikitpun.
"Salia kendalikan dirimu " kata Renata lagi.
Yoona menatap Salia dengan keningnya berkerut tanda heran.
"Apa kau baik-baik saja? " tanya Yoona.
"Ah? Iya" jawab Salia.
Hening
Yoona berlarut dengan pikiran nya sendiri. Sementara Salia masih mengosongkan pikiran nya.
Renata menatap tajam Yoona.
"Boleh aku bertanya? " tanya Yoona memecahkan kesunyian diantara mereka.
Salia menatap Yoona. "Emm.. Ya.. Tentu saja " jawab Salia sambil tersenyum kikuk.
"Emm.. siapa Renata? "
Deg
Padahal Salia yakin tidak pernah menyebutkan nama Renata dari tadi. Berarti benar Yoona bisa membaca pikiran nya.
"Iya, kau benar.. Aku bisa membaca pikiran mu" kata Yoona tiba-tiba.
Deg
Salia menatap Yoona dengan ekspresi takut.
"Ah jangan takut.. Aku ini.. Memang bukan sepenuhnya manusia.. Aku tahu kau berusaha menyembunyikan pikiran mu.. Tapi aku tahu juga isi hatimu.. Jangan takut aku tidak pernah menyakiti siapapun " kata Yoona.
__ADS_1
Renata menatap tidak percaya pada Yoona.
"Lalu siapa Renata? " tanya Yoona.
Salia menatap Renata seolah bertanya apa boleh dia mengatakannya?
Renata mengangguk.
"Dia.. Dia saudari kembarku yang meninggal di dalam kandungan.. Arwahnya masih terjebak bersama ku yang masih berada di dalam perut ibuku.. Dan lahir bersamaku.. Dia lahir dewasa" kata Salia.
Yoona terlihat sedih. "Apa dia sekarang disini? " tanya Yoona.
"I.. Iya.. Dia di belakang mu" kata Salia.
Yoona memegang tengkuknya pelan.
"Jadi dia selalu menemanimu selama ini? " tanya Yoona.
"Iya.. Dia selalu membantuku " jawab Salia.
"Sungguh saudari yang baik.. Aku jadi merindukan kak Alex" gumam Yoona.
"Ah? Siapa kak Alex? " tanya Salia.
"Dia kakakku.. Aku sangat menyayangi nya.. Meskipun dia dingin tidak seperti adikku Samuel yang hangat dan suka bercanda" kata Yoona.
Salia tersenyum. "Kau pasti bahagia memiliki kakak dan adik yang menyayangi mu.. Aku juga punya seorang adik, namanya Marchel.. Dia juga suka bercanda.. Tapi hanya bercanda padaku.. Dia tidak pernah bercanda pada orang lain " kata Salia.
"Lalu kenapa saudari kembar mu tidak kembali pada Tuhan? Apa dia memiliki keinginan yang belum tuntas? " tanya Yoona.
"Entahlah.. Aku tidak tahu " jawab Salia.
Hening
"Ehmm.. Maaf kalau boleh aku bertanya, kau ini.. Emm.. Apa? " tanya Salia.
"Aku.. Seorang Druckless" jawab Yoona.
"Emm.. Apa itu? " tanya Salia.
"Aku keturunan naga.. "
Deg
Salia menelan salivanya. Dia pikir naga itu hanya mitos di Indonesia. Tapi nyatanya ada dan bahkan naga itu berwujud manusia cantik di depan nya.
"Ayahku naga biru penguasa kerajaan Diamond dan ibuku manusia biasa.. Ya cerita nya panjang. Mungkin bagi mu ini tidak masuk akal" kata Yoona.
"Emm aku.. Aku sedikit merinding " kata Salia.
"Ahaha.. Jangan takut.. Kami tidak memakan manusia "
"Ehehe.. Apa kau bisa menceritakan nya? " tanya Salia.
"Cerita nya sangat panjang.. Biar aku singkat ya"
♡♥♡♥♡♥♡
By
__ADS_1
Ucu Irna Marhamah