
Ny. Adiwijaya yang melihat putranya menarik lengan Salia, segera menghampiri mereka dengan kursi roda nya.
"Tama!!!! Apa yang kau lakukan pada istrimu!! " bentak Ny. Adiwijaya.
"Ini urusanku sama Salia" kata Tama sambil membawa Salia ke kamarnya.
"Tama jangan lupakan kalau istrimu sedang mengandung!! " teriak Ny. Adiwijaya marah.
Namun Tama dan Salia sudah pergi ke kamar.
♡♥♡♥♡♥♡
Salia duduk di tepi ranjang dengan kepala tertunduk dalam. Sementara Tama bergerak mondar-mandir di depan Salia.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan mu!! Banyak sekali orang yang mengincar keluarga kita!! " bentak Tama.
"Maafkan aku" kata Salia pelan karena takut akan kemarahan Tama yang biasanya tidak seperti itu.
Renata yang berdiri di dekat Tama mengepalkan tangannya kesal.
"Aku begini karena aku mengkhawatirkan mu, Salia. Lain kali jangan ulangi.. Atau aku akan sangat marah" geram Tama.
"Maaf.. Maafkan aku" tangis Salia.
Renata tidak terima adiknya di marahi seperti itu. Dia bergerak mendekati Tama kemudian mendorong dadanya ke dinding dengan cukup keras.
Salia terkejut melihat itu. Tama sendiri merasakan angin kencang menyerobot tubuhnya dan menghentakkan nya ke dinding.
Tama meringis kesakitan.
"Jangan! Tidak! " teriak Salia pada Renata.
Renata yang kalap dengan kemarahan, mencekik leher Tama hingga kedua kakinya bergelantungan bebas dari lantai.
"Jangan!!! Tama!!! " teriak Salia panik.
"Pria kasar ini harus di berikan pelajaran.. " geram Renata yang ternyata bisa di dengar Tama.
Tama terbelalak melihat Renata yang pertama kalinya menampakkan diri di depan orang lain selain adiknya. Renata melayang di udara tanpa melepaskan cekikannya.
"Tekejut melihat ku, Aryatama... Selama ini aku sabar dengan tindakkan mu pada adikku.. Tapi sekarang tidak.. " geram Renata.
"Kakak hentikan! Kau bisa membunuhnya!! " teriak Salia.
"Tidak akan.. Dia harus mati.. Dia telah menyakitimu!! Tidak ada untungnya kau hidup dengan pria laknat seperti dia!! "
__ADS_1
"Tidak kakak! Demi aku!! " teriak Salia. Renata menatap Salia yang terlihat begitu kacau. Renata terlihat sedih.
Dia pun melepaskan Tama. Tubuh Tama tersungkur ke lantai.
Salia menghampiri Tama dan memeluk Tama dengan erat.
Renata menautkan alisnya tidak suka.
"Jika bukan karena adikku, akan ku kirim kau menemui ayah dan adikmu! " bentak Renata.
Semua cermin di kamar itu memantulkan bayangan Renata yang tampak begitu marah.
Angin juga berhembus begitu kencangnya menerbangkan benda-benda di kamar itu. Padahal pintu dan jendela di kamar tertutup rapat.
Renata pun menghilang dari pandangan mereka. Semua kaca dan cermin di kamar mereka pecah berserakan ke lantai.
Salia terkejut tidak mengira dengan kekuatan kakaknya yang begitu dasyat.
Setelah semuanya kembali normal, Salia memeluk Tama dengan tangisan yang tidak berhenti dari tadi.
"Maafkan aku.. Tama.. Ini salahku.. Harusnya aku bilang dulu padamu" tangis Salia.
Tama membelai lembut rambut Salia. "Lain kali.. Jangan lakukan lagi.. Aku tidak mau kamu kenapa-napa.. Aku tidak mau kehilangan kamu dan anak-anak kita" kata Tama sambil memeluk erat Salia.
"Jadi kepribadian gandamu itu adalah kakakmu? " tanya Tama.
Salia mengangguk.
♡♥♡♥♡♥♡
Ny. Adiwijaya menggedor pintu kamar putranya. "Tama!!! Buka pintunya!! Jangan sakiti menantu ku dasar bedebah!! " bentak nya yang berada di ambang kemarahan.
Pintu kamar terbuka. Ternyata Salia yang membuka pintu. Ny. Adiwijaya segera memeluk menantu kesayangan nya itu.
"Kamu gapapa, sayang? Mana yang sakit? Apa yang di lakukan si brengsek Tama?" tanya Ny. Adiwijaya sambil menelisik sekujur tubuh Salia.
"Tama!!! " teriak Ny. Adiwijaya setelah melihat lengan Salia yang memerah.
Tama keluar dari kamar menemui ibunya.
Tanpa ba bi bu, Ny. Adiwijaya menarik daun telinga putranya.
"Kau mau ku laporkan pada polisi huh!! Dia istrimu!! " bentak Ny. Adiwijaya.
Salia tertawa melihat Tama yang kalah di bawah kuasa ibunya.
__ADS_1
"Aduh maaf bu"
"Maaf maaf.. Minta maaf pada istrimu" gerutu Ny. Adiwijaya.
"Aku sudah minta maaf " kata Tama.
"Aku mau melihat nya secara langsung! " gerutu Ny. Adiwijaya.
"Iya.. Baik-baik bu " kata Tama.
Ny. Adiwijaya melepaskan jewerannya.
"Maafkan aku sayang " kata Tama sambil memegang kedua tangan Salia.
Salia tersenyum sambil mengangguk.
"Maafin dia ya, sayang.. Dia memang seperti ayahnya.. Keras kepala, kejam, tidak punya telinga " gerutu Ny. Adiwijaya.
"Tapi ibu mencintai ayah kan?" gerutu Tama.
"Itu karena kau!!! "
♡♥♡♥♡♥♡
Salia sedang makan malam bersama Tama. Tiba-tiba, terdengar suara teriakan Ny. Adiwijaya.
Mereka berdua segera pergi menuju sumber suara itu.
Ny. Adiwijaya berdiri di depan kamar mereka berdua.
"Kenapa banyak pecahan kaca? Siapa yang melakukan ini? Apa kau mau menyakiti Salia dengan pecahan kaca itu? " tanya Ny. Adiwijaya dengan tatapan tertuju pada Tama.
Tama menggeleng-gelengkan kepalanya karena memang bukan dia yang melakukan nya.
"Tadi ada angin besar bu" kata Salia.
"Jangan membela suamimu " kata Ny. Adiwijaya.
"Tapi.. Itu.. "
♡♥♡♥♡♥♡
By
UCU IRNA MARHAMAH
__ADS_1