La'grimas

La'grimas
69


__ADS_3



Yoona berpamitan pada Salia dan Tama. Dia berpapasan dengan Michael dan Renata di depan gerbang mansion.



Michael dan Renata segera menghampiri Tama dan Salia yang berada di depan mansion.



"Ini orang-orang mu? " tanya Michael sambil melihat satu persatu penjaga mansion Tama.



"Iya" jawab Tama.



"Papa" Salia memeluk Michael.



"Hai sayang.. Kamu gapapa? " tanya Michael. Salia menggeleng-gelengkan kepalanya.



"Tadi aku melihat Yoona di depan" kata Renata.



"Iya mungkin dia menunggu taxi.. Tadi dia dari sini" jawab Salia.



Renata tampak berpikir.



Sebuah mobil hitam terhenti di depan mansion.



Mereka berempat menoleh.



Keluarlah seorang pria berjas hitam dengan kacamata hitam.



"Bagaimana Henry? " tanya Tama.



Pria itu membungkukkan badannya.



"Saya sudah mencari informasi lewat rekaman telepon itu.. Mari kita ke kantor polisi untuk melihat hasilnya" kata Henry.



Tama tampak berpikir. Dia menatap Salia.



"Pergi dan dapatkan penjahat itu.. Biar aku yang menjaga Salia" kata Michael.



Salia memeluk Tama. "Kembali dengan cepat ya" kata Salia.



Salia merasa sangat cemas. Tama membalas pelukan Salia.



"Aku akan segera kembali.. Aku janji" kata Tama kemudian mencium Puncak kepala Salia.



Tama dan Henry berlalu. Sebelum memasuki mobil, Tama menatap Michael.



"Tolong jaga Salia, Papa" kata Tama. Michael mengangguk.



Tama pun memasuki mobil. Mobil hitam itu melaju pergi meninggalkan mansion Tama.



"Ayo masuk sayang" kata Michael sambil merangkul kedua putrinya.



"Ah ayah dan Salia duluan, aku mau bicara dulu dengan Yoona. Semoga dia masih disana" kata Renata.



"Baiklah, hati-hati sayang " kata Michael. Renata mengangguk kemudian berlalu.



♡♥♡♥♡♥♡



Yoona duduk di bangku taman. Dia masih berada di sekitar kawasan mansion Tama.



Dia menunggu taxi yang tak kunjung lewat. Seseorang menepuk bahu nya.



Yoona menoleh ternyata Renata. "Renata? Apa kabar? " tanya Yoona.



"Aku baik.. Aku belum sempat mengatakan terimakasih kepada mu.. Terimakasih ya kau sudah menjadikan ku druckless" kata Renata.


__ADS_1


Yoona tersenyum. "Sama-sama.. " jawab Yoona.



"Aku sangat bahagia karena bisa bertemu keluarga ku.. Mereka menyayangi ku meskipun mereka tidak mengerti kenapa aku masih hidup " kata Renata.



Yoona tersenyum. "Aku juga punya keluarga.. Meskipun kami tidak tinggal bersama.. Jadi aku senang karena kau bisa bersama keluarga mu" kata Yoona.



"Kau menunggu siapa? " tanya Renata.



"Aku menunggu taxi" jawab Yoona.



"Kemana tunangan mu? " tanya Renata.



Wajah Yoona berubah sendu. "Dia.. Dia.. Ada di rumah sakit " jawab Yoona pelan.



"Apa? Apa yang terjadi padanya? " tanya Renata.



"Tidak apa-apa.. Dia pasti akan segera sembuh" jawab Yoona sambil tersenyum getir.



Renata mengerutkan keningnya.



Pandangan Yoona tertuju ke beberapa mobil yang memasuki kawasan mansion Tama.



Renata menoleh kearah yang di lihat Yoona.



"Siapa mereka? " gumam Renata.



"Apa kau merasa curiga? " tanya Yoona.



"Maksudmu? " tanya Renata.



"Mobil mereka tidak ada plat nomornya. Artinya mereka.. Ayo cepat!! Salia dalam bahaya!! " kata Yoona sambil menarik tangan Renata dan berlari ke mansion Tama.



♡♥♡♥♡♥♡




"Teh ini manis sekali" kata Michael.



"Aku belajar membuat teh dari Oma" jawab Salia.



Tiba-tiba terdengar tembakan. Michael dan Salia terkejut.



Tembakan itu di sertai teriakan yang memilukan.



Beberapa pria berbaju serba hitam dengan masker dan kaca mata hitam memasuki mansion.



Michael menarik Salia ke belakang nya.



Mereka membentuk sebuah formasi barisan. Dan kini mereka berdiri menatap kearah Salia dan Michael.



Mereka banyak sekali. Para pelayan pria menghalangi Michael dan Salia.



Tembakan terjadi Salia berteriak ketakutan sambil meremas jas ayahnya. Tembakan itu menumbangkan mereka semua.



"Siapa kalian? Apa masalah kalian? " tanya Michael.



Terdengar suara ketukan high heels pada lantai mansion. Seorang wanita berpakaian serba hitam dengan kacamata hitam pula memasuki mansion.



Michael menautkan alisnya. Wanita itu dengan gayanya menghisap rokok dan membawa revolver di tangan kirinya.



"Kebetulan yang Bagus bukan, Mike? " tanya wanita itu.



Michael mengerutkan keningnya. Dia mengenali suara itu. Suara dari wanita yang tidak mungkin dia lupakan.



♡♥♡♥♡♥♡

__ADS_1



Yoona dan Renata menghentikan langkah mereka karena melihat beberapa orang berpakaian serba hitam dan bermasker yang berdiri di depan pintu mansion.



"Tadi aku tidak melihat mereka.. Siapa mereka? " tanya Renata.



"Mereka pasti penjahat. Ayo kita harus menolong Salia" kata Yoona sambil berjalan lebih dulu.



Orang-orang itu menoleh.



"Siapa kau! " bentak salah satu dari mereka.



Renata menyusul Yoona.



"Anggap saja kami malaikat maut yang akan mencabut nyawa kalian" kata Renata sambil mengepalkan tangannya.



Terjadi perkelahian. Namun mereka bukanlah tandingan kedua druckless itu meskipun mereka bersenjata.



Mereka semua kalah. Yoona dan Renata memasuki mansion, tapi baru saja di ambang pintu, mereka berteriak kepanasan.



Mereka berdua terpental jauh.



"Sialan apa itu? " geram Renata.



"Ada kekai penghalang.. Siapa yang memasang kekai itu? " geram Yoona.



"Apa itu kekai? " tanya Renata.



"Sejenis pelindung yang digunakan seseorang untuk melindungi mansion dari makhluk seperti kita.. Sebelum nya tidak ada kekai disini" kata Yoona.



"Siapa yang memasangnya? " tanya Renata.



"Aku"



Renata dan Yoona berbalik. Seorang pria tua berpakaian ala dukun berdiri dengan melipat kedua tangannya di depan dada.



"Siluman naga seperti kalian tidak akan bisa memasuki penghalang yang ku buat ini" kata dukun itu dengan bangga nya.



"Aku baru tahu ada dukun yang bisa bahasa Inggris " kata Renata.



♡♥♡♥♡♥♡



Tama melihat polisi yang sedang melihat data-data kecil yang berasal dari rekaman yang sengaja Tama lakukan saat di penelepon berbicara.



"Aku menemukannya" kata polisi itu sambil meng-klik sebuah data dari seorang wanita.



Tama terbelalak. Henry menautkan alisnya.



Foto wanita yang tidak mungkin Tama lupakan. Wanita yang hampir mencelakai Salia dan kedua mertua nya di sidang itu.



"Astaga.. Kenapa aku terlambat mengetahuinya.. Henry! Cepat kita ke mansion.. Pak tolong ikuti kami.. " kata Tama kemudian berlalu.



"Henry, panggil Refaldo" kata Tama.



"Tapi kenapa dia? " tanya Henry.



"Karena hanya dia yang tahu tentang wanita terkutuk itu dan dia pasti bisa menolong kita" kata Tama.



"Baik, Tn"



♡♥♡♥♡♥♡




By


__ADS_1


Ucu Irna Marhamah


__ADS_2